Hari ini (8 Juli 2009) rakyat Indonesia kembali memilih pemimpin bangsa ini untuk periode 2009 – 2014 dalam suatu pemilihan yang langsung, bebas, rahasia dalam suasana yang semakin demokratis.

Era reformasi yang tercetus pada tahun 1998 secara pelan tetapi pasti mulai membuahkan hasil yang nyata: demokratisasi dalam berbagai bidang kehidupan. Suasana demokrasi kelihatan sekali dari cara para calon pemimpin kita itu ‘berhadapan’ dengan rakyat. Dulu, di zaman pra-reformasi, para calon pemimpin bangsa itu tidak terlalu peduli dengan rakyat, baik di masa pemilu, apalagi di masa normal. Mesin partai yang ditolong oleh ‘pola demokrasi’ yang kita anut saat itu sedemikian efektifnya meredam suara dari bawah, sehingga praktis suara rakyat tak pernah sampai ke atas.

Kini, para calon pemimpin itu, dalam hal ini para calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) dan mesin partai yang kita kenal sebagi tim sukses – karena suasana yang telah berubah apakah dengan rela atau karena terpaksa – turun ke bawah, datang menghampiri, mendengar dan berusaha memahami suara rakyat.

Mereka – para calon pemimpin itu – melemparkan senyum, berjabat tangan, bahkan membungkuk untuk meraih simpati rakyat kecil, yang selama ini hanya menjadi objek. Kini rakyat, dari segala lapisan, sungguh-sungguh memiliki hak yang sama untuk menentukan siapa yang akan mereka dudukkan di singgasana kekuasaan untuk menuntun dan mengarahkan masa depan mereka.

Memang, masih saja terdapat di sana-sini oknum-oknum yang secara sadar atau tidak merampas hak itu dari mereka melalui keteledoran atau unsur kesengajaan. Masih saja terdapat rakyat yang tak mendapat kesempatan memilih karena prosedur yang tidak wajar. Atau, seperti yang terjadi di Nias Selatan baru-baru ini, suara rakyat itu dipermainkan dengan penggelembungan dan pemalsuan suara sehingga pada akhirnya pemilu terpaksa diulang.

Akan tetapi secara umum kita boleh mengatakan bangsa Indonesia sudah berada di atas rel yang benar, kita boleh bangga atas prestasi kita dalam bidang demokrasi – Indonesia kini diakui sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Diharapkan, pasangan pemimpin pilihan rakyat hari ini (atau pada pemilihan ronde kedua nanti kalau hal itu harus terjadi) akan memiliki legitimasi yang tinggi karena rakyat langsunglah yang memilih mereka. Besarnya perolehan suara pemenang memang akan berpengaruh pada kinerja pemerintahan yang akan mereka bentuk. Semakin besar perolehan suara, semakin mulus merealisasikan segala program yang akan mereka canangkan. Kemenangan tipis akan memaksa mereka mengajak pihak lain untuk bergabung – hal yang kita kenal sebagai koalisi.

Kemenangan mutlak atau kemenangan tipis selalu memiliki sisi-sisi negatif. Kemenangan mutlak – walau baik untuk kestabilan suatu pemerintahan – bisa memunculkan arogansi dan kepercayaan diri berlebihan yang pada akhirnya bisa menciptakan pemerintahan yang tidak lagi peka akan suara dari bawah. Sebaliknya, kemenangan tipis memaksa pembentukan koalisi, yang kalau tidak dikelola dengan baik melalui kecerdasan bermanuver politik bisa membuat pemerintahan tak efektif. Dagang sapi politik umumnya mengurangi efektifitas pemerintahan karena kerap kepentingan-kepentingan sempit dijadikan bahan tawar-menawar oleh pihak-pihak yang diajak berkoalisi.
Untuk menghindari dua ekstrim di atas, ada dua pihak yang memegang peran penting – rakyat sebagai pemilik hak pilih dan mesin partai sebagai penjual berbagai program. Kampanye pemilu dan pilpress merupakan ajang pertemuan dua kubu itu: kubu massa yang ingin melihat dagangan politik partai-partai di satu pihak dan mesin partai yang menjual program-program partai kepada rakyat calon pemilih di pihak lain.

Di negara-negara yang sudah sangat matang demokrasinya, kemenangan mutlak sebuah partai jarang terjadi, kecuali apabila kinerja pihak lawan sedemikian buruknya sehingga para pemilih terpaksa menghukum dalam bentuk pemberian mandat yang sangat besar kepada partai pemenang.

Bagaimana di Indonesia ? Rakyat kita sudah semakin melek berpolitik, walau memang harus diakui masih banyak saudara-saudari kita yang mengandalkan penilaian saudara, atau tetangga atau orang yang kebetulan lewat, atau bahkan sms yang tidak bisa dilacak sumbernya sebagai dasar penentuan pilihannya sebelum menuju bilik pemberian suara. Akan tetapi secara umum, seperti dikatakan di depan, rakyat kita memiliki akal sehat, jeli dan pintar mengartikan senyum yang terpancar dari wajah para tokoh itu. Rakyat bisa membedakan antara keaslian dan kepalsuan, kesungguhan dan main-main, kebenaran dan kebohongan. Rakyat sudah semakin diperkaya oleh pengalaman pemilu-pemilu di masa lalu untuk membuat pilihan kali ini lebih didasari oleh pertimbangan yang lebih berbobot.

Di sisi lain, mesin politik partai-partai di Indonesia juga sudah semakin canggih, meniru modus operandi mesin politik partai di negara-negara maju. Pola debat capres dan cawapres sama halnya. Ini suatu perkembangan yang baik, namun dengan beberapa catatan.

Pertama, mesin politik partai-partai itu ternyata juga tergoda mempraktekkan kampanye hitam dan kampanye negatif yang di Amerika sana ternyata menjadi bumerang bagi pelakunya. Modus ini kelihatannya efektif, tetapi sebenarnya hanya menghabiskan energi dan menambah antipati calon pemilih. Bahkan ketika kampanye hitam itu berbuahkan kemenangan bagi perancangnya, rakyat toh masih memiliki kesempatan menghakimi dalam pemilu-pemilu berikutnya. Dengan kata lain, ketidakjujuran, kepura-puraan dan segala macam trik lain yang negatif, hasilnya tidak akan berkelanjutan (sustainable). Ia akan dihakimi oleh rakyat pada kesempatan berikutnya.

Kedua, mengikuti debat capres yang berlangsung beberapa hari menjelang hari-H memberi kesan kepada kita bahwa para calon pemimpin bangsa itu belum sepenuhnya mampu merumuskan permasalahan bangsa secara jelas. Dan karena mereka kesulitan merumuskan secara jernih permasalahan yang dihadapi bangsa, mereka juga, dalam jawaban-jawabannya terkesan tak sanggup menawarkan solusi yang meyakinkan atas masalah-masalah itu.

Kita tidak perlu kecewa apalagi berputus harap. Bangsa ini baru saja memulai tradisi buka mulut, bersuara, berdebat, berbeda pendapat dan kritis sejak 1998. Sebelumnya, kita semua – termasuk para calon pemimpin yang sedang dinilai oleh rakyat hari ini – seakan sakit gigi sehingga tidak bisa buka mulut, bersuara, berdebat, berbeda pendapat dan kritis memikirkan, membicarakan dan memperdebatkan masalah-masalah bangsa.

Ketiga, para pemimpin itu harus juga siap menerima hasil pilihan rakyat. Sangat menyedihkan apabila nanti pihak yang kalah tidak berjiwa besar dan mengucapkan selamat kepada pasangan yang keluar sebagai pemenang. Sangat disayangkan kalau pasangan pemenang lupa memberikan kredit kepada kedua pasangan lain dalam bentuk ucapan terima kasih karena kehadiran kedua pasangan itu dalam kompetisi jelas memberikan andil dalam mempertajam prioritas program-program yang mereka jual kepada calon pemilih.

Akan sangat memalukan bagi bangsa ini apabila pada pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih nanti, kedua pasangan yang kalah lebih memilih tinggal di kediaman masing-masing ketimbang ikut memeriahkan hasil pesta demokrasi di gedung rakyat di Jakarta sana.

Kalau bangsa ini mau menjadi bangsa yang sungguh-sungguh besar, maka para pemimpin bangsa ini sudah harus belajar berjiwa besar, menerima kemenangan dan kekalahan sebagai sesuatu yang wajar sifatnya, dan memberikan sinyal yang sangat jelas kepada rakyat bahwa pesta demokrasi yang sedang berlangsung hari ini adalah pesta kita semua, pesta bangsa Indonesia. (eh*)

Facebook Comments