Calon Kalah Harus Siap Ucapkan Selamat

Thursday, July 2, 2009
By borokoa

Pasangan capres dan cawapres yang kalah dalam Pilpres 2009 nanti harus berbesar hati dan mau mengucapkan selamat kepada lawannya yang menang. Sebaliknya pasangan capres dan cawapres yang menang juga harus menyadari kalau mereka akan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia, termasuk pendukung dari capres dan cawapres yang kalah.

Demikian disampaikan oleh Prof M Alwi Dahlan, PhD dalam acara “Dialog Ilmiah Pilpres 2009, Siap Kalah Siap Menang, Tinjauan Etika Komunikasi Politik” di LIPI Gatot Subroto, Rabu (1/7). Menurutnya, mental pasangan capres dan cawapres lebih siap untuk menerima kekalahan daripada pendukungnya.

Pasangan capres dan cawapres yang kalah perlu menenangkan pendukungnya. Misalnya dengan mengatakan kalau capres dan cawapres yang menang juga akan memerhatikan pendukung capres dan cawapres yang kalah.

“Mantan presiden Megawati pada Pilpres 2004 pernah mengatakan pada pendukungnya ‘kita sebetulnya menang, tetapi hanya kurang suara’. Ini menjadi salah satu quote of the year yang dimuat di majalah Time tahun 2004,” kata Prof M Alwi Dahlan, PhD.

Pernyataan Megawati tersebut menjadi perdebatan dan dianggap sebagai ketidaksiapan untuk menerima kekalahan. Padahal jika dilihat lagi, pernyataan Ketua Umum PDI-P itu justru bukti dari ‘siap kalah’. Ia berusaha untuk menenangkan pendukungnya yang kecewa karena kalah dalam Pilpres 2004.

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Dr Suprawito, MSi yang juga hadir dalam acara tersebut menambahkan di Amerika Serikat, lawan Obama yang kalah John McCain dalam pemilihan presiden mau memberi selamat dan menyatakan kalau Obama adalah presidennya. “Ini perlu dicontoh oleh pasangan calon di Indonesia,” katanya.

Dialog yang berlangsung selama 3 jam tersebut juga menghadirkan Komisaris Trans TV Dr Ishadi SK, MSc; dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Haryatmoko, PhD; dan dosen Universitas Diponegoro Dr Turnomo Rahardjo sebagai pembicara. Ketiganya membahas etika komunikasi politik yang diabaikan dalam kampanye yang dilakukan oleh pasangan capres dan cawapres di media massa serta kampanye hitam yang dilakukan oleh tim sukses.

Menurut Dr Ishadi SK, etika menjadi tidak penting dalam bisnis. Dunia bisnis hanya menuntut keuntungan yang sebesar-besarnya. Pilpres 2009 merupakan bagian dari bisnis karena pasangan calon dengan biaya minimal Rp 1 triliun menyewa tim sukses yang profesional, mencari dana untuk kampanye, memilih sutradara terbaik untuk iklan, dan memilih jam-jam dengan rating tertinggi di stasiun televisi hanya untuk mendapatkan keuntungan.

Keuntungan yang dimaksud adalah suara yang paling banyak untuk memenangkan Pilpres 2009. “Sebaiknya penyelenggaraan pilpres dievaluasi lagi. Kalau mungkin dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif untuk dijadikan acuan pada pemilu berikutnya,” pungkasnya. (Kompas, 1 Juli 2009)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2009
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031