* DPRD Medan Segera Panggil Direktur Yayasan RSU Hisarma

Medan – Puluhan mahasiswa asal Pulau Nias yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Pemuda Kepulauan Nias (Formappnis), berunjuk rasa di Gedung DPRD Medan, Jumat (26/6), menuntut Yayasan RSU Hisarma mengembalikan ijazah SMA asli mereka yang ditahan.

Menurut pendemo, yayasan RSU Hisarma merekrut mahasiswa tahun ajaran 2008/2009 dari daerah-daerah terpencil dan miskin dengan iming-iming kuliah gratis. Selain itu, pihak yayasan menjanjikan asuransi kesehatan untuk mahasiswa yang sakit atau yang mengalami duka cita. Pihak yayasan pun menjanjikan fasilitas kampus yang lengkap dan izin kampus yang jelas.

Dengan iming-iming tersebut, menurut pendemo, pihak yayasan berhasil mengikat para mahasiswa dalam ikatan dinas yang tidak jelas dengan jaminan menahan ijazah asli SMA mereka. “Setelah masuk asrama yang terlintas di benak kami adalah dapat belajar dengan tenang dan aman, tapi apa yang terjadi di luar dugaan kami,” ujar Fa’ahakhõ D Telaumbanua yang dipanggil Fakha, pimpinan aksi.

Menurut dia, pihak yayasan mengikat mereka untuk membayar kembali biaya pendidikan setelah tamat dengan bekerja di yayasan selama tiga tahun dengan nasib yang tidak jelas. Bukan itu saja, katanya, yayasan juga meminta uang lauk sebesar Rp 20.000 per orang dan uang Lab Rp 50.000 per bulan per orang.

“Kampus dan asrama Akper dan Akbid RSU Hisarma juga tidak selengkap seperti dijanjikan. Perpustakaan tidak ada dan air tersendat-sendat,” tambahnya.

Fakha juga mengatakan, system perkuliahan antara Akper dan Akbid tidak jelas. Mahasiswa Akper dan Akbid, katanya, belajar dalam satu ruangan kelas tanpa pemisahan antar jurusan. Mahasiswa pun tidak pernah mengisi Kartu Rencana Studi dan Kartu Hasil Studi (KRS/KHS). Mahasiswa juga belajar tanpa jadwal (roster) yang jelas, tidak pernah ada libur semester dan minggu tenang dan tidak pernah ada izin bermalam.

“Belajar malam diberlakukan sampai jam 12 malam, mahasiswa tidak diizinkan bertemu dengan keluarganya, menu dan porsi makanan tidak sesuai perikemanusiaan. Pendeknya, asrama Yayasan RSU Hisarma melebihi penjara zaman Jepang,” kata Fakha.

Fakha juga mengungkapkan, hampir setiap hari mahasiswa mengalami kekerasan, intimidasi dan penghinaan. “Kekerasan yang dialami Maria Lili Gulõ dan Resmi Gulõ sangatlah tidak pantas dilakukan di era reformasi ini,” ujarnya.

Dengan berbagai alasan itu, pendemo menuntut pihak terkait termasuk aparat penegak hukum untuk menindak Yayasan RSU Hisarma, menuntut Kopertis Wilayah I Sumut-NAD menindak tegas Akper dan Akbid Yayasan RSU Hisarma.

Aspirasi mahasiswa Akper dan Akbid Yayasan RSU Hisarma tersebut, diterima anggota Komisi B DPRD Medan Jusmar Effendi. Kepada pendemo, Jusmar menjanjikan segera memanggil Direktur Yayasan RSU Hisarma untuk memberikan penjelasan. “Kami akan panggil direktur yayasan itu, percayalah sama saya,” kata Jusmar.

UNJUKRASA KE DPRDSU
Formappnis juga unjukrasa ke DPRD Sumut meminta kepolisian, kopertis dan Dinas Kesehatan Sumut memeriksa Yayasan dan Direktur Akper (Akademi Keperawatan) RSU Hisarma Medan, karena telah merugikan mahasiswa.

Dalam pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua Umum DPP LSM Formappnis selaku pimpinan aksi Fa’ahakhõ D Telaumbanua minta hentikan berbagai bentuk penipuan, kekerasan, penghinaan, pembodohan, intimidasi dalam dunia pendidikan.

Adili yayasan RSU Hisarma dan kembalikan semua ijazah asli mahasiswa/mahasiswi Akper dan Akbid YRSU yang telah disita yayasan RSU Hisarma.

Oleh karena, tegas mereka, kami dari LSM Formappnis dan mahasiswa/i Akademi Perawatan dan Kebidanan Yayasan RSU HS Medan meminta kepada DPRD Sumut dan semua instansi terkait seperti kepolisian, Kopertis, Diknas dan Dinas Kesehatan secepatnya memanggil dan memeriksa YRSU HS Medan untuk diproses hukum.

Menyikapi aspirasi itu, anggota Komisi E DPRD Sumut Aliozisokhi Fau dan Muhammad Nuh berjanji aspirasi akan diperjuangkan dan mengagendakan memanggil pihak yayasan 1 Juli 2009.  (SIB, 27 Juni 2009)

Facebook Comments