Oleh: Mathias J. Daeli

Ketika memulai membaca tulisan ini, anda sekali gus siap melakukan pertemuan dengan saya. Meskipun pertemuan dalam alam pikir. Saya menyampaikan: pengetahuan yang saya miliki, pendapat-pendapat orang lain – terutama para ahli yang menunjang melancarkan penjelasan makna judul. Dan anda – setuju atau tidak setuju yang saya sampaikan, melakukan olah pikir. Meskipun tidak setuju tetap menjadi informasi bagi anda. Kalau setuju maka lebih lanjut daya pikir anda melakukan eksploratif (penjelazahan) analitis dengan segala pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Lebih positf apabila penjelazahan mengarah pada kreativitas (mencipta) sintetis, dan hal ini hanya mungkin lewat pengakuan akan perlunya fungsi segala bentuk antitesis tanpa harus berprinsip “konflik selaku syarat mutlak keniscayaan praktis”.

Dari gambaran kegiatan di atas nampak efek positif dari membaca buku, antara lain :

  1. bertemu dengan orang (si penulis) lain meskipun dalam alam pikir
  2. memperluas wawasan cakwarala
  3. menambah kebahagian apabila senang pada isi tulisan
  4. menghilangkan kesusahan – setidaknya ketika sedang membaca
  5. menambah pengetahuan dengan biaya murah
  6. menarik hikmah – kebijaksana dari isi tulisan
  7. melatih berkhayal ekploratif – kreatif untuk masa depan
  8. mengetahui peristwa-peristiwa masa lalu
  9. merupakan latihan baik untuk memperkuat otak
  10. kebutuhan kejiwaan manusia sadar

Dapat ditambahkan lagi yang lain dan semuanya dikendalikan oleh otak .

Otak manusia adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem syaraf. Dalam otak terdapat lebih dari 100 miliar syaraf yang terhubung dengan 10.000 sistem syaraf lainya di seluruh tubuh. Otak mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya. Sungguh tugas yang sangat rumit dan banyak. Karena itu otak harus dijaga supaya tidak lemah. Sama dengan organ tubuh lainnya, otak yang sering digunakan merupakan latihan untuk menjadi kuat. Jadi kebiasaan sikap dan perbuatan seseorang menentukan arah pengendalian otak. Ke arah yang baik atau ke arah yang buruk. Membaca merupakan latihan olah otak yang baik.

Membaca dan buku seumpama dua sisi mata uang. Buku tanpa dibaca maka bukan buku. Sebelum mengenal tulisan manusia mewariskan informasi dari generasi ke generasi berikutnya dengan lisan. Setelah mengenal tulisan maka pewarisan informasi dilakukan dengan menggoreskan di di batu-batu atau ditulis pada daun (misalnya: papirus, lontar) dan setelah manusia mampu membuat kertas ditulis pada lembaran-lembaran kertas yang dikumpulkan menjadi buku.

Dengan buku – pengumpulan dan penyebaran informasi peristiwa sejarah, pendapat-pendapat para ahli, dan informasi lainnya lebih cepat. Yang berarti bahan untuk dieksplorasi guna kreatifitas selanjutnya menjadi bertambah banyak dan luas. Karena itu, dengan adanya buku peradaban manusia menjadi maju pesat, sehingga para intektual dunia memberi komentar yang fanatik terhadap buku disertai aktifitas membaca.

Tolle, lege, tolle, lege (ambil dan bacalah, ambil dan bacalah) demikian bisikan yang didengar dan dilaksanakan oleh St. Agustinus sehingga dia memperoleh keyakinan yang kuat. Barbara Tuchman berkata: “Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuh, serta pikiran dan spekulasi mandeg”, sebab menurut dia buku adalah pengusung peradaban. Senada dengan itu Voltaire berkomentar bawa “Semua bangsa yang berbudaya, dibimbing oleh pustaka (buku).” Bahkan dengan nada ekstrim Jean Paul Sartre berteriak lantang. “Telah kutemukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadah!”

Komentar fanatik seperti itu timbul karena memang membaca buku – apa dan bagaimana pun sifat isinya memiliki fungsi positif seperti tersebut di atas. Hakekat manusia adalah bebas. Dan justru karena kebebasan ini manusia tidak pernah puas dengan ”ada” nya kini. Manusia mencari dan selalu mencari sesuatu yang merangsang daya pikirnya menjelazah untuk merubah masa kini. Membaca buku yang berisi informasi misalnya : peristiwa sejarah kehidupan, mengenai pengetahuan dari para ahli, dan informasi lainnya merupakan jawaban yang memadai kebutuhan pencarian itu. Dengan perkataan lain otak yang sehat selalu menjelazah (eksplorasi) bebas dan membaca buku merupakan bahan dan wahana yang baik dan memadai untuk itu sekaligus menjadi latihan otak supaya sehat. Para intelektual wajar berterima kasih kepada buku yang menolong daya pikir mereka bereksploratif memperluas cakrawala guna berkreatif. Dan menurut saya sesungguhnya bukan hanya kaum intelektual melainkan setiap orang harus sadar membaca buku sebagai kebutuhan kejiwaan.

Mari kita bayangkan. Seandainya kita mempunyai bahan tertulis di perputakaan mengenai asal usul Ono Niha, nama-nama leluhur, dari benua mana datangnya, cara bagaimana para leluhur itu sampai ke Tanõ Niha (Nias), bagaiman penyebarannya – tentu kita lebih lancar (malah tidak perlu) mendiskusikannya di dunia maya ini. Seandainya kita memiliki bahan tertulis, tentu kita tidak mendapatkan kesulitan melakukan penafsiran (hermeneutika) dari legenda : “Tuada Sirao Uwu Zihỡnỡ, Tuada Sirao Uwu Zato si so ba dete Holiana’a, sabu sibai todỡ bỡrỡ me da 9 (siwa) nononia oi omasi ira tobali Ono Fangali Mbỡrỡ sisi, oi omasi ira tobali Ono Fangali Mbu’ukawono (terjemahan bebas: Leluhur Raja Sirao Uwu Zihỡnỡ, Leluhur Sirao Raja Uwu Zato yang sedang bersusah hati karena 9 putranya semua mau menjadi pewaris takhta kerajaan).

Kita dapat merasakan, apabila membaca “buku baik” maka informasi yang kita dapatkan dari buku itu merupakan hiburan yang mengasyikkan, mengajarkan kita sesuatu, dan menggerakkan kita untuk melakukan/mempraktikkan sesuatu. Daoed Joesoef (mantan Menteri Pendikan dan Kebudayaan) mengatakan bahwa “… betapa kegiatan membaca dan menulis serta kehadiran buku merupakan bagian konstitutif proses berpikir (garis miring dari saya) makhluk manusia. Dan melalui afirmasi serta harmonisasi dari keterkaitan bagian-bagian tersebut, manusia ternyata dapat mengukuhkan kehidupan bernegara (berdemokrasi), berbangsa (beradab), dan bermasyarakat (berpikir konvergen)”.

Salah satu buku yang telah saya baca, baik yang asli bahasa Inggeris maupun terjemahan bahasa Indoensia adalah buku Da Vinci Code yang dikarang oleh Dan Brown. Begitu luar biasa dan mengagumkan bagi saya. Bukan karena mengenai isinya senang atau tidak senang, melainkan mengenai hasil eksplorasi dan analisisnya terhadap informasi yang diperoleh. Begitu visioner dan melahirkan begitu banyak kontroversi. Meskipun fiksi tetapi telah menginsiparsikan suatu ideologis dengan cara yang lebih populer. Itu semua hasil ketekunan Dan Brown membaca banyak buku dokumen terkait dan mengolahnya dengan daya pikir eksploratif analisis sehingga menghasilkan karya seperti itu.

Demikian pentingnya peranan buku dalam kemajuan peradaban manusia, dan, oleh Stephen R. Covey mengatakan bahwa “habit” atau kebiasaan membaca merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),dan keinginan (desire). Tidak mengherankan kalau orang yang sadar peranan buku mengumpakan buku sebagai “jendela dunia”.

Bayangkanlah fungsi jendela. Dengan jendela kita bisa menghirup udara segar dan meluaskan pandangan. Buku merangsang otak pembaca menjelazah dunia wawasan penulisnya dan malah juga pendapat ahli yang lain yang dikutipnya. Bukan masalah: apakah isi buku itu kita setuju tau tidak setuju namun tetap merupakan informasi yang meluaskan cakrawala kita. Hanya dengan membaca buku kita dapat segera mendapatkan pengalaman pembuat sejarah manusia. Penemuan oleh peneliti yang memerlukan waktu mungkin bertahun-tahun bahkan nyawanya dipertaruhkan dapat dimanfaatkan oleh pembaca dalam beberapa jam.

Seiring dengan pesatnya kemajuan, jenis informasi bertambah banyak dan luas. Penyebebarannya tidak hanya melalui buku seperti biasa. Melalui intenet berseliweran informasi yang ditawarkan kepada siapa saja dan tentu bagi yang mampu menggunakan internet. Sekarang telah mulai ebook berisi kode-kode digital penyimpanan buku dan sangat efisien. Tetapi prinsip utama adalah sama: “harus dibaca” dan tidak hanya dikoleksi sebagai dekorasi.

Tentunya kita harus bisa memilah-milih buku mana yang harus kita baca. Kebebasan yang kita miliki memerlukan pengendalian agar dengan bijak menentukan manfaat buku yang kita baca demi peningkatan mutu hidup. Akan tetapi tentu kita mengutamakan membaca buku yang bermutu yang telah dibuktikan oleh banyak ilmuwan kebenarannya dan hendaknya kita merencanakan/menyediakan waktu untuk membaca dan jangan hanya kalau ada waktu luang.

Kalau masyarakat kita bertekad maju merangkul ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu wahana penting di luar jalur-jalur pendidikan formal dan informal, adalah menciptakan budaya membaca. Melalui budaya membaca terbina cara berpikir eksploratif dan kreatif dalam masyarakat. Jika daya pikir dan semangat eksploratif dan kreatif tidak ada atau berantakan, maka apa pun tidak akan berbobot dan situasi sosial budaya menjadi sangat rawan. Ketiadaan daya pikir eksploratif dan kreatif maka sulit diharapkan argumentasi dan sistem logika dari seseorang. Memiliki daya pikir eksploratif dan kreatif apabila memiliki informsi cukup terkait dengan ilmu pengetahuan.

Di negara maju membaca sudah membudaya. Dalam perjalanan di bus, kereta api, atau pesawat terbang, jangan heran mereka sambil digoncang bus membaca. Di taman-taman kota mereka membaca. Sambil minum kopi di cafe mereka membaca. Dengan membaca memperluas wawasan dan terhindar dari mentalita “talaho barõ ndrõgõ” (katak dalam tempurung). Kalau membaca menjadi kebiasaan , maka waktu untuk berkhayal dan berpikir negatif bisa hilang, sebab guru (yang paling murah adalah buku) ada di tangan kita.

Semoga bermanfaat. Ya’ahowu !.

Euless, 1 Mei 2009

Mathias J. Daeli

Facebook Comments