Oleh Mathias J. Daeli

Sadar atau tidak sadar, bahwa kita berhadapan melalui tulisan ini adalah produk pergumulan dengan dengan hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Mustahil kita berkomunikasi melalui tulisan ini tanpa informasi yang memadai dan teknologi komunikasi (komputer, internet) canggih. Informasi yang bersumber dari pengalaman, buku, dunia maya, dan media komunikasi lainnya.

Diolah secara ekploratif dengan komputer sampai terwujud seperti ini.
Dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang teknologi informasi dan teknologi transportasi yang dicapai manusia pada unjung pertengahan kedua abad ke XX, memungkinkan arus informasi menjadi serba cepat: apa dan oleh siapa dari seluruh muka bumi (bahkan sebagian jagat raya) – menembus ke seluruh lapisan masyarakat dengan bebas tanpa membedakan siapa dia si penerima. Tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Bukan masalah, apakah masyarakat tersebut suka atau tidak suka mau atau tidak mau, arus informasi tidak dapat di bendung. Bukan masalah, apakah informasi itu berdampak positif atau pun negatif bagi masyarakat tersebut. Dunia menjadi seumpama jaring laba-laba saling terhubung. Kehidupan menjadi serba berbasis elektronik dikenal dengan “e-life”. Keadaan ini yang dikenal dengan sebutan globalisasi atau mendunia dan telah menjadi bahasa gaul.

Akan tetapi tulisan ini tidak membahas luas kemajuan IPTEK sebab tulisan ini bukan bertujuan untuk itu dan memang saya tidak memiliki kemampuan cukup. Saya hanya berupaya mengajak mengingatkan kita semua betapa penting dan strategis peranan informasi untuk peningkatan mutu hidup dan kehidupan di abad XXI ini dan masa-masa yang akan datang.

Dengan sifat informasi seperti itu, maka yang menjadi pertanyaan utama dan dijawab sendiri oleh masyarakat itu bukan: mau atau tidak mau informasi ? atau : siap atau tidak siap menerima informasi ? melainkan: apakah sadar atau tidak sadar menjalani hidup ? Sebab tidak ada yang pasti di dunia selain “perubahan”.

Tuntutan dan kebutuhan perkembangan kehidupan di dunia menuju ke arah semakin baik mengharuskan tersedianya prasarana, sarana, dan kemampuan untuk mencari, memperoleh, dan mengolah informasi. Sekaligus dituntut kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan jenis – jenis informasi yang ada. Jadi informasi seberapa pun jumlah (kuantitatif) dan mutu (kualitatif) merupakan kemestian bagi perubahan dan upaya mengembangkan kualitas hidup dan kehidupan. Karena itu mau tidak mau suka tidak suka, masyarakat dan anggotanya yang bertekad maju dituntut kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi dan jenis – jenis informasi yang ada.

Masyarakat di negara berkembang harus menyadari masalah kebutaan baru – dampak gobalisasi informasi yaitu kebutaan informasi. Kesadaran mengenai hal itu menuntut perhatian lebih karena masyarakat negara berkembang belum tentu telah lolos dari buta huruf dan sekarang dilanda informasi dengan dampak yang tidak terduga. Kalau pada buta huruf hanya dibutuhkan peningkatan kemampuan mengenal bentuk huruf sedangkan pada buta informasi memerlukan lompatan perubahan mental dan lompatan perubahan daya pikir. Lompatan dari mental agraris tradisional ke mental e-life dan lompatan dari cara pikir serba tergantung alam, lisan, dan (mungkin) takhyul ke cara berpikir eksploratif kreatif.

Informasi dapat dilihat dari segi tingkat bentuk dan sifat informasi (level) dan fungsinya. Tingkat yang terendah dari informasi ialah berupa data yang sifatnya kuantitatif. Disusul tingkat berikutnya yang lebih tinggi ialah informasi artinya sejumlah satuan data telah diolah dan disajikan secara berarti dan bermanfaat untuk pengambilan keputusan. Kemudian tingkat yang lebih tinggi dari informasi ialah pengetahuan (knowledge) yang sifatnya lebih kualitatif. Tingkat yang tertinggi ialah kecerdasan (intelligence) yang sifatnya lebih kualitatif – tidak sekedar pengetahuan melainkan hasil olahan otak. Sedangkan dari segi fungsi, informasi paling sedikit menyangkut lima tahap yaitu produksi ( production ), penyimpanan (storage), pengolahan (processing), penerapan (application), dan penyampaian (transmission). Masing – masing dari kelima fungsi dasar ini terdapat pada setiap tingkat informasi di atas.

Penyampaian sekilas gambaran teori “tingkat dan fungsi informasi” di atas, hanya untuk menunjukkan betapa “penting” informasi untuk menentukan arah kebijakan yang baik demi pertumbuhan dan perkembangan pribadi atau suatu organisasi.

Hasil olahan otak manusia itu, ilmu pengetahuan dan teknologi, berdampak luas pada semua matra kehidupan manusia (moral, intelektual, religius, relasional, afektif, kultural) di mana nilai manusia dipertaruhkan, maka kita mesti menekankan bahwa tidak semua yang dimungkinkan secara teknis juga diperbolehkan secara etis. Oleh karena itu pengaruh media komunikasi dalam kehidupan modern mendatangkan berbagai pertanyaan yang tak dapat dielakkan yang menuntut pilihan dan jalan keluar yang tidak dapat ditunda.

Apakah dengan teknologi informasi yang semakin canggih dan informasi yang dihasilkan melimpah ruah dan mudah diakses menjadikan manusia lebih baik ? Dalam pengertian manusia peribadi menghargai, menghormati, dan mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri (Mat. 22 : 39). Sulit untuk menjawab secara tuntas.

Banyak pengaruh yang ditumbuhkan oleh perubahan dan perkembangan media ini, baik dampak negatif maupun positif telah kita rasakan dalam hidup sehari-hari. Manusia boleh bangga bahwa pengetahuan manusia berkembang sangat cepat sehingga sesuatu yang tadinya dianggap di luar jangkauan manusia menjadi mungkin dengan diketemukan alat-alat mutakhir. Naluri manusia untuk berubah dan berkembang, menuntun manusia untuk tidak puas akan sesuatu penyelidikan dan penelitian. Masalah timbul apabila pelaku penyelidikan dan penelitian itu berpandangan bahwa “ilmu untuk ilmu” sehingga membuat moral, etika, dan estetika dalam kehidupan tekesampingkan dan malah terancam hancur.

Kemajuan-kemajuan memungkinkan banyaknya pilihan (multiple options) dan membuka kesempatan tumbuhnya materialisme, sekularisme dan rasionalisme dengan luar biasa. Tuntutan hidup begitu tinggi. Kemakmuran yang dicapai tidak terkendali, gaya hidup menjadi konsumtif dan hedonistik. Manusia peribadi yang menjadi begitu sibuk untuk mempertahankan hidup menyuburkan sosok individualistik. Kaya dan sukses dari segi materi jadi satu-satunya tujuan hidup. Masyarakat dan bangsa sebagai tatanan kosmis mulai memudar rohnya. Persaingan demikian ketat, sehingga penghargaan manusia terhadap waktu mencapai titik tertinggi dibandingkan masa sebelumnya. Dalam istilah Weber, dunia jadi “mengecewakan” (disenchanted). Yang tersisa hanya wajah kehidupan tidak manusiawi. Senafas dengan yang dikatakan oleh Erich Fromm bahwa bahaya masa depan ialah manusia menjadi robot karena terjadi alienasi diri (kemanusiaan) yang schizoid.

Paus Benediktus XVI mencermati hal ini. Pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-42 (tanggal 4 Mei 2008) beliau menyampaikan pesan: “… betapa penting peranan media dalam kehidupan perorangan dan masyarakat. Sesungguhnya, dengan meluasnya pengaruh globalisasi, tak ada satupun ruang lingkup dalam pengalaman hidup manusia yang lolos dari pengaruh media “. Dan dalam pesannya untuk Hari Perdamaian Sedunia 1 Januari 2008, Paus Benediktus menegaskan bahwa: “media komunikasi sosial terutama oleh kemampuannya untuk mendidik, ia memiliki tanggung jawab istimewa untuk memajukan rasa hormat terhadap keluarga, menguraikan secara jelas harapan-harapan dan hak-hak keluarga serta menghadirkan segala keelokannya”.

Pesan Paus Benediktus XVI itu sangat mudah dipahami – merupakan peringatan agar perkembangan teknologi yang melanda hidup manusia harus dikuasai pemanfaatannya. Jangan sampai perkembangan media menjadikan manusia sebagai objek, menyeret dan memaksanya pada model kehidupan yang menyimpang.

Dari sebab itu, masyarakat kita harus bisa membentengi diri dan menyaring media canggih ini. Di satu pihak kita tidak bisa menghentikan itu, tetapi di lain pihak kita harus bekerja keras mendorong kemajuan dalam bidang transformasi pengetahuan informatika. Kita harus akrab dengan budaya informatika seperti faximile, internet dengan imail-nya, HP dengan sms-nya, chatting, facebook yang tumbuh dan berkembang di masyarakat luas. Sebab sisi keuntungannya adalah membantu kita memperoleh informasi, tapi sisi kerugiannya membuat moral, etika, estetika dalam kehidupan terancam hancur.

Demikian pesat perkembangan teknologi, di bidang komunikasi muncul handphone yang lebih gesit (mobile) dan dilengkapi sarana penyampaian pesan singkat secara tertulis (sms = short message service). Bila internet, televisi, telepon rumahan memerlukan individu untuk menetap pada koordinat tertentu (misalnya, orang hanya bisa menerima telepon bila dia berada di rumah atau di kantor) dengan handphone tidak demikian. Handphone memiliki kelebihan : harga relatif murah, mudah dibawa, dan tidak memerlukan tiang-tiang serta kabel-kebel seperti tilpon rumah.

Sifatnya yang gesit mudah dibawa-bawa merupakan sarana komunikasi yang menarik dan baik bagi siapa saja meskipun di tengah rimba atau daerah bergunung-gunung atau di tengah samudera. Bukan hal aneh apabila penjual baso, penjual sayur , pemulung berkomunikasi dengan orang lain melalui handphone sambil keliling dari lorong ke lorong . Para petani dan nelayan pun demikian. Tentu para politisi, para gerilawan, para eskekutif perusahaan tidak kalah dalam memanfaatkan handphone ini.

Di samping dampak positif , ekses dampak kemajuan teknologi informatika dan komunikasi dalam kehidupan bukan hal yang sulit ditemukan. Begitu bebas dan permisifnya masyarakat kita, hingga banyak pelajar termasuk anak-anak di bawah umur dapat mengakses situs porno di sebuah warnet.

Akhir-akhir ini melalui media cetak maupun radio dan TV disajikan kepada kita berbagai berita yang tidak tersaring berakibat sangat buruk pada generasi muda kita seperti mengenai hubungan seks, perkelahian antara siswi, penipuan, dan sebagainya yang jauh dari baik untuk perkembangan mereka. Kecanggihan internet dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan, carding (pembobolen karti credit), dan perjudian. Si ”gesit” atau HP telah menjadi sarana baik bagi para pelaku kejahatan dan penipuan. Juga sering para peserta ujian memanfaatkan HP ini secara salah. Kejahatan melalui HP terus berkembang. Penggunaan HP dengan smsnya yang mengganggu tatanan dan ketertiban kehidupan tidak hanya dongeng dalam kehidupan sehari-hari- misalnya : pemerasan. Kenyataan : Dalam konvensi cyber-crime, nama Indonesia sudah cukup tercemar di mata dunia internasional” (Ponsel, 14-27 April 2008).

Berhadapan dengan kemajuan teknologi komunikasi informasi ini, kita laksana berada dalam ruangan penuh barang yang baik dan yang buruk. Ditawarkan dengan bebas dan (relatif) gratis kepada kita. Kita tidak dapat mengatakan : “jangan tawarkan kepada saya atau keluarga saya”. Tentu kalau kita tidak memiliki pengetahuan dan informasi mengenai yang ditawarkan itu maka dapat memilih yang merusak diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Pengetahuan dan kepemilikan informasi itulah yang merupakan saringan vital dan penting selain saringan utama : persiapan mental sendiri.
Dari mana dan bagaimana memperoleh pengetahuan dan informasi itu ? Itulah yang akan disampaikan sebagai “saran praktis” pada akhir tulisan ini, yaitu melalui “ membaca “. (bersambung)

Facebook Comments