Oleh Mathias J. Daeli

Di atas saya singgung bahwa saya bukan ahli dan juga bukan pengguna waktu yang baik. Namun salah satu pendorong menulis artikel ini ialah yang berseliweran di otak saya kerugian bangsa kita akibat waktu tidak termanfaatkan dengan baik.

Misalnya. Data BKN (Badan Kepegawaian Negara) per 15 Januari 2008 jumlah pegawai negeri sipil (pns) 4.083.362 orang. Berhitung sederhana saja PNS memiliki jam kerja 40 jam dalam 1 minggu. Satu tahun kerja 50 minggu. Berarti setiap PNS memiliki 2.000 jam kerja/ tahun.

Kita sederhanakan juga gaji seorang PNS kita rata-ratakan Rp. 15 juta setahun (gaji PNS sebenarnya berkisar antara Rp. 1 juta lebih yang terendah dan ada PNS yang bergaji (take home pay) sampai 150 juta per bulan), maka gaji PNS per jam adalah Rp.15 juta : 2.000 jam = Rp 7.500/jam. Kita sederhanakan lagi setiap PNS tidak memanfaatkan waktu untuk melaksanakan tugas kewajibannya sesuai sumpah yang diucapkan ketika diangkat sebagai PNS – rata-rata 1 jam sehari. Kerugian yang dialami bangsa ini dalam rupiah sebesar: 1 (hari kerja) x 4.083.362/pns x Rp. 7.500/1jam kerja = Rp. 30.625.215.000/hari. Kalau PNS kerja 5 hari dalam seminggu, kerugian bangsa ini kalau dinilai rupiah menjadi: 5 (hari kerja) x Rp. 30.625.215.000/kerugian per jam hari = Rp. 153. 126. 075. 000/kerugian per minggu. Setahun menjadi: 50/minggu kerja x Rp. 153.126.075.000/kerugian per minggu = Rp. 7.656.303.750.000/tahun. Perhitungan ini paling diminimalkan karena ada pegawai yang datang ke kantor hanya baca koran dan ngobrol dikantor atau mengurus kepentingan peribadi atau kelompoknya. Kerugian sesungguhnya jauh lebih besar lagi karena terhambatnya pelayanan yang seharusnya diberikan kepada masyarakat dan ini menimbulkan efek kerugian berantai. Lebih parah lagi apabila si PNS jang bersangkutan datang kekantor hanya untuk merencanakan melakukan korupsi uang negara atau barang inventaris kantor.

Korupsi waktu terjadi juga di lingkungan lembaga negara. TV mempertontonkan anggota DPR yang bolos menghadiri sidang atau tertidur di ruang sidang. Bukan berita aneh quorum rapat Komisi atau Panitia Ad Hoc DPR tidak terpenuhi. Pimpinan rapat mengumumkan rapat ditunda, yang berarti tugas kewajiban Komisi atau Panitia Ad hoc DPR itu membuat UU tertentu, tertunda. Dan tidak jarang UU yang dimaksud tidak terwujud sampai masa jabatan keanggotaan DPR berakhir. Berapa kerugian rupiah, kerugian sosiologis-psikologis, dan kerugian konstitusional akibat tidak termanfaatkan waktu dengan baik (disebut “korupsi waktu” terserah pembaca) oleh anggota DPR itu ?

Di lembaga-lembaga negara lainya juga terjadi ketidak memanfaatkan waktu dengan baik. Ada berita di surat kabar bahwa ada angota lembaga negara yang mengutamakan pergi main golf ke luar negeri dari pada menyelesaikan tugas yang bertumpuk di kantornya. Di sektor swasta juga terjadi hal serupa, hanya tidak terpublikasi dan pasti tidak separah di lingkungan pmerintahan. Sekali lagi mari kita bertanya: Berapa kerugian bangsa dan masyarakat kita akibat tidak menggunakan waktu dengan baik di lingkungan pemerintahan, perusahaan negara, dan perusahaan swasta ?

Selanjutnya. Di masyarakat kita yang masih bertahan pada budaya agraris tradisional, apalagi apabila budaya takhyul dan pikiran irrasional lainnya masih merajalela, ketidak memanfaatkan waktu dengan baik – tinggi. Masih kita menjumpai dalam masyarakat apabila melakukan kegiatan dengan cara-cara yang sulit dicerna akal sehat biasa. Misalnya: dalam masyarakat tradisional tertentu memiliki kepercayaan bahwa kalau tokek berbunyi sekitar rumah pertanda buruk bagi yang melakukan perjalanan. Karena itu kalau ada anggota keluarga yang seharusnya melakukan perjalanan harus ditunda dan menunggu hari baik yang akan datang. Berapa lama ditunda tidak ada kepastian, sebab bisa-bisa si tokek masih nongkrong dekat rumah menunggui anaknya. Berapa kerugian waktu karena tindakan – penundaan itu ?

Di Niasisland.com pernah saya menulis mengenai Ono Niha dan Waktu. Dalam tulisan itu saya mencoba mengingatkan kerugian waktu akibat “huhuo hada” (musyawarah adat). Dalam huhuo hada, setiap peserta dapat secara bebas waktu menyampaikan pendapatnya dengan gaya bahasa masing-masing yang khas, disertai amaedola (peribahasa) yang sesuai. Peserta huhuo hada memperlihatkan kemahiran masing-masing bertutur kata. Memang, warga yang memiliki kemahiran bertutur kata memiliki nilai lebih di mata warga kelompoknya yang dikenal dengan sebutan: niha hada atau ono hada atau si’ila mbanua yang mempunyai pengertian sama yaitu orang yang memahami dan mahir berbicara mengenai adat-istiadat (hada).

Kebebasan waktu berbicara dalam huhuo hada seperti itu mengakibatkan waktu hampir tak bernilai. Meskipun sebelumnya sudah diketahui atau sedikitnya sudah dapat diduga keputusan yang akan diambil, huhuo hada (musyawarah adat) tetap diselenggarakan. Misalnya mengenai: bõwõ wangowalu (mas kawin) yang sudah ditetapkan besarnya dalam Fondrakõ (Musyawarah Besar Adat) dalam satu Õri (Pemerintahan Adat). Seharusnya keputusan dapat ditetapkan cepat, tetapi huhuo hada tetap dilaksanakan secara panjang lebar. Seakan-akan tidak ada urusan lain – urusan pribadi atau pun urusan keluarga yang butuh waktu pengerjaan. Falsafah hidup yang terkandung dalam huhuo hada bahwa melalui kebebasan bertutur kata dalam musyawarah adat, terjadi fa’ilasa gera’era (komunikasi batin) antara para peserta (lihat: “Bangun Rasa Percaya Diri dan Jangan Sia-Siakan Waktumu!” di Niasisland.com oleh oleh Mathias J. Daeli).

Fa’ilasa gera’era (komunikasi batin) melalui saling silang komunikasi tutur kata – baik, untuk memelihara keharmonisan kelompok. Demikian juga fakese-fabude penting untuk rekreasi – menghilangkan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi hendaknya waktu yang digunakan untuk “fa’ilasa gera-era” dan “fakese-fabude” itu harus tidak menyebabkan kegiatan lain yang penting untuk meningkatkan mutu kehidupan terabaikan. Tentu kalau ada kesadaran menghargai waktu, huhuo hada tetap dilakukan tetapi dengan pemanfaatan waktu. “Tia-tia hada” (prinsip pola adat istiadat) yang sudah pasti jangan dibicarakan lagi secara huhuo hada. Ketentuan yang sudah pasti dalam Fondakõ dan masih diterima oleh masyarakat supaya dilakasanakan tanpa memerlukan pembicaraan panjang lebar lagi. Saya percaya bahwa seiring dengan kemajuan dan keterbukaan informasi, telah terjadi perubahan pemanfaatan waktu yang lebih rasional dalam huhuo hada (musyawarah adat) di Nias.

Juga. Di lingkungan kita (netters) kadang-kadang tidak menyadari, waktu yang kita gunakan berselancar di dunia maya belum termanfaatkan secara optimal. Sesungguhnya sisi menarik berselancar di dunia maya seirama dengan kelebihan manusia yang hakiki – saling berkomunikasi. Dunia maya sarana yang baik untuk pengayaan pengetahuan baik peribadi maupun bersama. Lihat: repetisi, sekuel, mengopi, dan otomasi kini semua cenderung bebas biaya, gratis, sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya. Kesempatan yang baik untuk bersumbang-sadap-saran demi pengayaan pengetahuan baik peribadi maupun bersama.

Akan tetapi kenyataan, sementara (c.q. di lingkungan Ono Niha) yang nampak kadang-kadang komunikasi tidak sekuel antara satu dengan yang lain. Misalnya: Ada peserta diskusi mempertahankan kebenaran yang dimiliki dengan alasan bersumber dari yang layak dipercaya dan tak dapat dibantah. Pada hal kalau kita sadari bahwa hanya satu kebenaran mutlak, maka kita dapat memahami pertanyaan Pilatus: Apa itu kebenaran ? Yaitu: kebenaran manusia masih memerlukan penjelasan makna. Kini, manusia (misalnya: di Indonesia) lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar lebih berdimensi pikiran dan kecerdasan, sedangkan benar bertitik berat pada dimensi nurani. Bisakah manusia mencapai kebenaran mutlak ? (bahan pembanding renungan : “Dilema Usaha Manusia Rasional Apa itu Kebenaran” oleh Mathias J. Daeli , Nias Online). Di sisi lain ada penanggap yang: bukan mengajukan argumen bantahan atau memberi bahan pengayaan materi diskusi melainkan mengajukan pertanyaan lain yang memang terkait dengan tema diskusi tetapi tidak mungkin dijawab. Yang terjadi jelas bukan saling memperkaya pengetahuan menuju ilmu melainkan “kartu mati” dan kemungkinan saling menjengkelkan.

Mengapa terjadi seperti itu ? Sebabnya adalah netter kekurangan (tidak memiliki) bahan atau informasi yang memungkinan daya pikir bereksploratif analisis dalam kerangka mengarah kreatifitas. Malahan tidak jarang terjadi kelucuan, para netter saling jengkel-jengkelan satu dengan yang lain, pada hal (kemungkinan) tidak saling kenal karena pakai alamat dan nama samaran. Itu berarti, waktu yang digunakan berselancar di dunia maya tidak berdaya guna dan berhasil guna. Tidak terjadi pengayaan pengetahuan dan malahan pembicaraan bergeser dari materi tema diskusi sehingga upaya penarikan benang merah untuk “solusi” tidak bertambah jelas. Apakah dalam hal ini ada kebenaran pernyataan Hyman Rickover yang mengatakan, “Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people“. Saya sendiri tidak menyetujui pernyataan itu. Sebab sesungguhnya banyak ide-ide besar (great minds) bertumbuh dari rakyat, baru kemudian didiskusikan oleh kelompok terpelajar dan terdidik.

Dalam hubungan memanfatkan waktu ini, saya mengajak pembaca yang budiman merenungi yang dikatakan Scott Peck dalam bukunya tersebut di atas. Dikatakan bahwa: du kelemahan perennial manusia yaitu: ketakutan dan kemalasan. Rasa takut dan kemalasan membuat manusia selalu mencari jalan pintas dan jalan mudah.

Jika ketakutan dan kemalasan dibiarkan dan malah dipraktekkan, akan menguat dan berakar dalam diri kita. Akibat selanjutnya kita akan selalu menghindar sekuat tenaga dari tanggung-jawab yang legal maupun yang natural. Tidak akan pernah mandiri dan independen, lebih suka menerima dari memberi, selalu tergantung pada orang lain, dan bersikap parasit. Padahal untuk hidup bermartabat pada tingkat sosial, selain kemandirian, orang juga dimintai untuk berkontribusi secara nyata. Kontribusi merupakan hasil dari karakter produktif, tetapi justru karakter inilah yang tidak dimiliki oleh para penakut dan pemalas. Untuk menutupi kekurangan ini, mereka kemudian mengambil jalan manipulasi. Jalan manipulasi kini menjadi jalan selamat bagi mereka.

Dan karena jalan pintas ini umumnya memberikan hasil awal yang baik, mereka mulai ketagihan, sehingga otot malas dan takut mereka semakin menguat. Demikianlah lingkaran ini lama kelamaan semakin membelenggu dengan kuatnya. Tidak heran kalau Scott Peck menamai ketakutan dan kemalasan ini sebagai sepasang karakter maut. Lawan dari karakter maut ialah keberanian dan kerajinan. Keberanian itu tindakan menghadapi kenyataan apa adanya, dan menerima risiko kehidupan dengan jiwa besar. Sedangkan kerajinan yang dimaksud disini bukanlah kesibukan, melainkan keaktifan — didorong oleh keberanian juga.

Senafas dengan pemikiran Scott ini, Erich Fromm dalam bukunya To Have or To Be membuktikan bahwa satu-satunya modus pertumbuhan psiko-spiritual yang sehat ialah modus menjadi, sedangkan modus memiliki akan membawa orang pada pembusukan diri. Modus menjadi, yakni metoda memperoleh kesenangan/kebahagiaan/sukacita/kenikmatan melalui proses bertumbuh “menjadi”atau “to be” (misalnya menjadi: mahasiswa, sarjana, ayah, ibu, ahli). Lawannya, modus “memiliki”, yaitu metoda mencari kesenangan/kebahagiaan/sukacita/kenikmatan melalui kepemilikan benda-benda atau “to have”.

Jadi, dari pendapat kedua ahli itu disimpulkan bahwa kalau seseorang mau bertumbuh dengan sehat pada tingkat psiko-spiritual maupun etis-sosial harus mengalahkan ketakutannya dan mendisiplinkan kemalasannya. Hanya, rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas karena merasa telah aman. Ibarat bertabiat model sõkha (babi hutan atau celeng) yang ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama. Alasan babi hutan selalu lewat jalan yang sama karena demikian naluri kebinatangannya. Akan tetapi mengapa para koruptor mengulangi perbuatan serakahnya, meskipun telah menjadi jutawan atau malah milyarwan, jawabannya konsisten dengan kelemahan perennial Scott Peck, yaitu karena malas dan takut susah. Orang yang menyia-nyiakan waktu.

Sekarang, siapakah yang bertanggung jawab untuk menumbuhkan, mendewasakan, dan mencerahkan diri kita dan masyarakat ? Tentu kita sendiri. Saya dan anda. Kita sendiri yang harus mempertanggungjawabkan kebebasan yang dikaruniai Tuhan Sang Pencipta kepada kita (dipetik dari buku Jansen H. Sinamo “Mengubah Pasir Menjadi Mutiara” (Gradien, 2005).

Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia. Adalah bijak bila waktu dengan sadar kita memanfaatkan dengan optimal untuk memperoleh informasi yang membuat hidup semakin penuh gairah dan bahagia! Karenanya penguasaan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi merupakan kemestian kebutuhan bagi perkembangan peningkatan mutu hidup dan kehidupan. Tidak ada salahnya mengulangi apa yang telah tertulis di atas bahwa: Jika kesadaran tentang nilai waktu, yakni akan sisa waktu (karena semua pasti menghadapNya) yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan peran kita saat ini, di manapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai. (bersambung)

Facebook Comments