Menggairahkan Kembali Wisata Bahari Pulau Nias

Wednesday, April 29, 2009
By susuwongi

Oleh: James Pardede

Jika melihat keberadaan wisata bahari di Nias dan Nias Selatan, pemerintah setempat belum serius dalam mengembangkannya menjadi salah satu daerah tujuan wisata andalan. Sejak gempa dan tsunami melanda Nias dan Nias Selatan, banyak perubahan telah terjadi di dua kabupaten ini. Jalan sudah mulus, jarak tempuh dari Nias ke Nias Selatan sudah semakin singkat.

Masalahnya adalah, paket-paket wisata yang ada belum dikemas sedemikian rupa, upaya pemerintah setempat untuk menjual keindahan alam Pantai Lagundri Sorake, pulau-pulau Batu atau tepian pantai di Teluk Dalam yang tak kalah dengan keindahan pemandangannya belum maksimal.

Menurut Wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha, Pemkab Nisel sebenarnya sangat peduli dalam pengembangan kawasan wisata baharinya. Masalahnya adalah, belum ada investor yang benar-benar serius untuk menanamkan investasinya di sektor kepariwisataan.

Untuk menjangkau kawasan wisata di Pulau Nias, wisatawan bisa memilih jalur laut dan udara. Kalau jalur udara, penerbangan ke Nias saat ini sudah lumayan banyak. Ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute Medan – Nias dan Nias – Medan.

Lama penerbangan Medan – Nias setelah berangkat dari Bandara Polonia dan mendarat di Bandara Binaka Gunung Sitoli sekitar 55 menit. Demikian sebaliknya dari Binaka ke Polonia jarak tempuhnya juga 55 menit. Penerbangan bisa berjalan sesuai jadwal jika cuaca mendukung. Kalau cuaca tidak mendukung penerbangan bisa tertunda sampai beberapa menit atau jam.
Kalau memilih transportasi laut, bisa dilakukan dengan menumpang KMP dari Sibolga ke Gunung Sitoli. Kalau tujuan ke Nisel berarti harus menempuh perjalanan lagi lewat perjalanan darat dengan jarak tempuh 2 sampai 3 jam.

Dalam hal transportasi laut ini, masyarakat di Nisel sangat mengharapkan adanya keseriusan pemerintah untuk mengaktifkan kembali Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Pulau Telo dari Sibolga-Teluk Dalam-Pulau Telo seperti pernah diaktifkan sebelumnya.

Kepala Kantor Pelabuhan (Kakanpel) Teluk Dalam Takem Harita mengungkapkan bahwa Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) KMP Pulau Telo sebenarnya sudah pernah beroperasi di Teluk Dalam, masalahnya adalah penumpang sepi. Sekarang, setelah perekonomian masyarakat semakin membaik volume keberangkatan masyarakat Teluk Dalam untuk menyeberang ke Sibolga semakin banyak.

Dengan semakin banyaknya masyarakat Teluk Dalam yang berangkat ke Sibolga atau keluar dari Nisel, seperti disampaikan Ketua DPK Apindo Nisel Teddi Hendra ini menandakan roda perekonomian di Nisel semakin membaik dan bergairah. “Harusnya, ini menjadi kesempatan bagi pemerintah kabupaten Nisel untuk memanfaatkan peluang masuknya wisatawan asing dan lokal lewat pengangkutan laut,” paparnya.

VIY 2009

Kita semua tahu, bahwa Indonesia memiliki setidaknya 90 objek kawasan wisata bahari menawarkan sebanyak 20 jenis atraksi berbasis marine pada program Visit Indonesia Year 2009 (VIY 2009).
Menurut Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar yang dilansir dari beragam media telah menyiapkan objek yang siap dijual dan ditawarkan kepada wisatawan untuk menikmati wisata bahari di Indonesia.

Sebanyak 20 jenis atraksi yang ditawarkan dalam wisata bahari tersebut adalah 11 obyek berupa diving, 5 obyek untuk surfing, selancar angin 2 objek, dan sebanyak 2 objek lainnya mancing.
Wisata bahari di Indonesia didukung oleh 75.000 km2 laut dengan 81.000 km garis pantai. Di dalamnya terdapat setidaknya 950 spesies terumbu karang, 8.500 spesies ikan tropis, 555 spesies rumput laut, dan 18 spesies padang lamun.

“Ada prasyarat khusus bagi obyek wisata bahari, di antaranya harus mudah dijangkau aksesibilitasnya baik melalui darat, laut, maupun udara,” katanya. Selain itu, fasilitas infratsruktur mendukung seperti tersedianya hotel atau penginapan yang layak. Di samping itu juga menjamin safety dan security pengunjung yang juga didukung sepenuhnya oleh kesiapan masyarakat sekitar kawasan wisata bahari.

Sebaran titik diving di Indonesia di antaranya di Pulau Bali, Selayar, Wakatobi, Banda, dan lain-lain. Sementara titik sebaran surfing di antaranya di Bali, Lombok, Labuhan, Mentawai, dan Pelabuhan Ratu. Sebaran lokasi selancar angin di antaranya di Kepulauan Natuna, Siberut, Enggano, Ujung Kulon, Karimun Jawa, dan Bali.

Sedangkan sebaran kawasan wisata memancing berada di sejumlah tempat seperti Pulau Krakatau, Manado, Pulau Roti, Pulau Banyak, dan lain-lain. Taman Wisata Bahari juga tersebar di berbagai tempat misalnya di Pulau Banda, Tanjung Keluang, Pulau Sangalaki, dan Pulau We.

Tahun ini juga diselenggarakan even wisata bahari yaitu Toba Lake Festival pada Juli 2009 dan Marintek 2009 pada November 2009 di Surabaya. Pemerintah sangat mendukung melalui sejumlah program pemasaran seperti iklan dan bahan promosi, partisipasi pada bursa pariwisata, dan melakukan road show.

Sesuai dengan program pemerintah yang menjadikan tahun ini sebagai VIY 2009 menjadi satu peluang bagi daerah-daerah tujuan wisata di Indonesia. Dalam konteks ini, Sumatera Utara sebagai salah satu daerah yang memiliki kawasan wisata bahari yang bisa diandalkan harus melirik peluang ini untuk kembali menggairahkan sektor kepariwisataan yang bisa menambah pundi-pundi APBD.

Wisata bahari Pulau Nias pun sebenarnya harus bangkit dan memanfaatkan peluang ini. Dari kunjungan ke Nias dan Nias Selatan beberapa waktu lalu, ada banyak kawasan wisata yang bisa
digairahkan untuk menarik minat wisatawan datang ke Nias dan Nias Selatan. Ada Gomo tempat peninggalan barang-barang bersejarah (megalitikum), ada pantai Teluk Dalam dengan keberadaan The Heritage (Howu-Howu Cafe), Pantai Lagundri Sorake, Hombo Batu di Bawomataluo, pulau-pulau Batu, pulau Telo dan tempat wisata andalan lainnya. Ayo majukan sektor pariwisata, khususnya sektor wisata bahari. •••

Sumber: Analisa Daily

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2009
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930