Kampanye dan Tarian Pengkhianatan Rakyat

Sunday, April 5, 2009
By susuwongi

Oleh Etis Nehe

Konvoi sambil melabrak aturan berlalu lintas, perkelahian dan pengerahan anak-anak adalah beberapa cuplikan tampilan biasa pelanggaran aturan kampanye di negeri ini. Namun, kali ini berbeda dengan kampanye 2004 atau sejumlah kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) sebelumnya.

Sejak awal kampanye pada 16 Maret 2009, hampir setiap hari media massa, terutama TV, ramai memberitakan adegan-adegan erotis di atas panggung sebagai senjata pamungkas oleh partai dan calon legislatif (caleg)-nya untuk menarik sebanyak mungkin massa.

Meski kualitas suara tidak seberapa, para penyanyi wanita yang ditampilkan selalu punya ciri yang relatif sama. Berpakaian minim, seksi, ketat, menonjolkan bagian dada, sebagian perut, dan celana sependek atau seketat mungkin. Kekurangan kualitas suara biasanya ditutupi dengan penampilan seperti itu dan gerakan-gerakan yang memberi pesan yang sama dengan penampilan berpakaiannya.

Nah, biasanya, penonton pria atau pun para caleg di atas panggung mengimbanginya dengan yang menyesuaikan dengan tidak kalah erotisnya. Bahkan ada yang melakukan gerakan yang menggambarkan persenggamaan di atas panggung. Namun, yang memprihatinkan adalah, dari sekian banyak penampilan berhasil direkam televisi, mayoritas penonton yang betah dan berada di barisan depan adalah anak-anak kecil. Menonton keseronokkan, oleh para caleg itu telah dianggap sebagai hal yang wajar dan patut bagi anak-anak itu untuk menontonnya.

Mengapa hal itu jadi perhatian saat ini? Sebab, masih hangat di benak rakyat negeri ini hasil karya para partai, anggota DPR dan pejabat pemerintah yang menghasilkan rumusan batas-batas tindakan yang pantas dan tidak pantas, bermoral dan tidak bermoral bagi seluruh rakyat negeri dengan segala kemajemukannya ini. Rumusan itu mewujud dalam UU Pornografi yang di dalamnya mencakup sanksi hukum atas tindakan pornoaksi. Sayang, sejauh ini, tanggapan media belum sampai pada sebentuk tamparan dan penelanjangan atas pengkhianatan atas UU itu sendiri oleh para pembuatnya.

UU Pornografi mencapai bentuk akhirnya setelah melalui masa-masa menegangkan dan sampai saat ini oleh beberapa pihak menilai UU itu potensial memecahbelah negara ini. UU itu semacam pupuk baru untuk mempercepat perpecahan itu, setelah banyaknya aturan yang tidak mencerminkan penghargaan kemajemukan telah berhasil diberlakukan di negeri ini. Menurut beberapa sumber, saat ini setumpuk embrio regulasi dengan semangat serupa telah disiapkan untuk dikerjakan para peserta yang memenangkan kampanye kali ini.

Dari awalnya, RUU tersebut telah memicu kontroversi dan mengkristal terutama selama 2007-2008 hingga disahkan menjadi UU. RUU yang sudah lama ‘digudangkan’ itu tiba-tiba menjadi barang mewah yang diperebutkan untuk digolkan menjadi norma umum. Salah satu pemicunya adalah, kehebohan goyangan yang dipopulerkan Inul Daratista yang kemudian dikenal sebagai “Ratu Ngebor.” Goyangan yang sangat kental dengan tampilan sensual dan gerakan yang memancing birahi tersebut sempat memunculkan keresahan dan pencekalan di sana-sini, bahkan hingga di Malaysia. Tidak berhenti, malah generasi baru penyanyi dengan varian gerakan erotis baru bermunculan. Masyarakat pun memiliki koleksi kosakata tentang tarian erotis, di antaranya, goyang gergaji dan goyang patah-patah.

Kembali ke soal pengesahan UU Pornografi yang sampai sekarang tidak jelas realisasinya itu. Pengesahan UU itu sendiri sangat kental nuansa kompromi politis dibanding pertimbangan kemanfaatannya. Pada awalnya, banyak partai atau fraksi sebagai perwakilannya di DPR menolak membahas dan mengesahkan UU. Perlahan namun pasti, mulai ada penerimaan. Kalau pun ada yang menolak, yang konsisten hanya dua partai, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Damai Sejahtera (PDS).

Kini kenyataannya, beberapa bulan setelah UU tersebut disahkan, baik oleh DPR mau pun pemerintah SBY, sejak kampanye hari pertama pada 16 Maret 2008, tiada hari tanpa adegan nyanyi disertai gerakan erotis di panggung kampanye. Apakah partai sekuler, nasionalis mau pun berlatarbelakang agama, hampir semuanya melakukan hal yang sama.

Mereka yang dulu setuju untuk merumuskan nilai-nilai moralitas kehidupan setiap orang di negeri ini dengan sebagian besar mengacu pada nilai-nilai agama, sekarang dengan tanpa tedeng aling-aling, tanpa malu mempertontonkan gairah permesuman (menurut cara pandang UU itu) secara terbuka. Justru di depan masyarakat yang menurut semangat UU itu, kehidupan moralnya harus diperbaiki dan semakin hari harus semakin agamis.

Mereka dulu bersuara lantang bahwa satu-satunya cara menyelamatkan negara ini adalah dengan menyelamatkan moralitasnya, meski saat itu dan sampai saat ini rakyat negeri ini lebih butuh makan dan pekerjaan. Pada saat itu, bahkan, mereka tanpa malu dengan irasionalitas logikanya dalam mempersiapkan UU itu menyalahkan sekularisme, kapitalisme, Yahudi, Amerika, dan masih banyak lagi sebagai biang kerok kerusakan moral generasi bangsa.

Tapi, kini mereka sendiri yang melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka anggap sebagai tiket yang cukup untuk mengantar setiap warga negara ke pengadilan moral, penjara, bahkan ke neraka.
Jadi, sebenarnya, apa sih yang waktu lalu mereka berikan kepada rakyat negeri ini, atas nama demokrasi, atas nama agama, atas nama komitmen kehidupan yang lebih baik dan atas nama perlindungan generasi dan moralitas bangsa dengan menghadirkan dan mendukung terbitnya UU kontroversial itu? UU yang saat ini mereka injak-injak bahkan mereka kencingi sendiri.

Mereka menipu habis-habisan rakyat negeri ini. Rakyat yang memang sebenarnya sudah tahu batas-batas yang bermoral dan tidak bermoral tanpa perlu kehadiran formalisasi dalam bentuk UU seperti itu. Mereka dipaksa menerima realita kehidupan dimana etika dan moralitasnya dapat diukur dan diadili, bahkan oleh pengadilan jalanan dengan hakim para preman berjubah agama. Sebelumnya, para penggede partai meyakinkan habis-habisan seluruh rakyat bahwa UU itu diperlukan bahkan oleh mereka yang dianggap tidak normal dan tidak layak hidup di negeri ini hanya karena merasa UU itu tidak perlu.

Tindakan partai-partai itu selama kampanye tidak dapat dibenarkan hanya karena alasan spontanitas dan konteks, “Maklum kampanye. Maklum ini politik. Harus pintar-pintar menarik perhatian masyarakat.” Tulisan ini pun bukan untuk menunjukkan bahwa yang tidak melakukannya pasti lebih baik. Tetapi, ada kontrak yang harus dipenuhi bagi mereka yang merupakan penggagas utama, pendukung setia dan penandatangan pengesahan aturan yang mengikat seluruh rakyat negeri yang lebih butuh makan dibanding aturan tentang kepantasan dan ketidakpantasan moralitas pribadi tersebut.

Sekarang, bersediakah para partai itu diadili berdasarkan UU yang mereka buat itu? Siapkah mereka dituntut oleh para penolak UU itu yang selama ini dianggap sebagai pecundang hanya karena berbeda pendapat soal defenisi moralitas? Dituntut kejujuran atas kesalahan dengan menyetujui perlu adanya UU itu. Bukan karena UU itu sendiri, tapi karena mereka telah mengkhianati rakyat dengan menyusun, mengesahkan dan memaksakan nilai-nilai hidup setiap orang tunduk pada apa yang mereka anggap benar, namun mereka sendiri tidak setuju bahwa mereka perlu hidup sesuai dengan pengaturan itu sendiri. Mereka telah menjebak rakyat pada apa yang mereka anggap perlu untuk rakyat dan mereka sendiri merasa tidak perlu takluk di dalamnya.

Lebih dari itu, kemana para pendemo besar-besaran yang memperjuangkan pengesahan UU itu? Kenapa kali ini mereka diam ketika semuanya jelas-jelas di depan mata bahkan setelah UU itu sendiri disahkan? Ada apa sih, kok sekarang semuanya bungkam?

Ah, saya jadi bertanya-tanya kembali. Siapakah yang lebih bermoral? Siapakah yang butuh UU Pornografi? Siapakah yang perlu selalu merujuk pada ‘kitab suci’? Siapakah yang perlu penyaringan secara spiritual dan moral untuk layak menentukan aturan spiritualitas dan moralitas orang lain? Siapakah yang bejat moralitasnya? Siapakah yang bisa mengukur moralitas? Rakyat atau yang membuat UU tentang pengaturan moralitas itu? Sebenarnya, siapa mengkhianati siapa? (JKT, 02/04/09)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2009
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930