Oleh Andar Ismail*

Sambil berjalan termiring-miring, Rupalee mengangkat ember penuh pakaian yang baru dicucinya. Pekerjaannya sebagai binatu terasa berat sejak ia mengandung dan kemudian melahirkan si Chotee, tiga minggu lalu. Rupalee bergegas pulang. Si Chotee sedang sakit. Ia dijaga oleh kedua anak Rupalee lainnya, yaitu Gopal, putra berusia hampir tiga tahun, dan Leela, putri berusia satu tahun lebih. Suami Rupalee, yang bekerja di pertambangan Bihar, India Timur, sekitar empat hari perjalanan dengan kereta api, pulang hanya beberapa bulan sekali.

Rupalee menanggung beban hidup yang berat. Persediaan berasnya hampir habis. Terutama Gopal yang sering merengek lapar. Tambahan pula, si Chotee setiap hari demam. Beberapa hari kemudian, si Chotee makin lemah sampai tidak terdengar lagi tangisannya. Rupalee mempunyai firasat bahwa bayi ini tidak akan hidup lama lagi. Benarlah, pada suatu malam ia berhenti bernapas dalam pelukan Rupalee.

Sesuai adat, para tetangga dan kerabat mengirim tanda sungkawa berupa makanan. Meja makan di rumah Rupalee menjadi penuh dengan puree, yaitu roti pipih yang empuk dan gurih, karee yaitu sayur kuah, dan laddu, semacam onde goreng yang manis. Makanan itu bisa tahan sampai satu minggu. Gopal menjadi sangat senang. Dengan lahap dijejalnya puree ke dalam mulutnya. Lalu ia makan karee sepuasnya. Sesudah itu, diambilnya beberapa laddu. Juga Leela makan dengan cukup lahap. Namun, Rupalee hanya mengambil sedikit. Ia makan dengan kepala tertunduk. Sebentar-bentar air matanya menitik. Kadang-kadang air matanya menetes, jatuh ke atas piring makanannya.

Seminggu kemudian, makanan itu tinggal sedikit. Akhirnya, puree dan laddu yang terakhir itu, betul-betul habis dimakan si Gopal. Besoknya kembali Gopal merengek lapar.

Beberapa minggu kemudian, Leela sakit perut dan demam. Ia pucat dan makin kurus. Sudah beberapa hari ia hanya terbaring dan merintih. Setiap hari Gopal memandangi adiknya dengan rasa iba. Dielusnya tangan adiknya itu. Diurainya rambut Leela yang panjang itu.

Lalu, pada suatu malam, Gopal mendekati ibunya dan bertanya dengan lirih, “Mama, kapan Leela akan mati?” Rupalee terkejut dan tersentak, “Kenapa kamu bertanya begitu?” Gopal menjawab, “Supaya kita dapat puree lagi, Mama”.

Berbuat Mukjizat

Inti cerita itu saya baca dulu ketika masih remaja dan baru berkenalan dengan novel berbahasa Inggris. Namun, cerita itu masih saya ingat sampai sekarang. Tentu banyak detail dari cerita itu sudah saya lupa, apalagi nama para pelaku, jenis makanan dan segala rincian teknis lainnya. Baru-baru ini dengan bantuan seorang teman dari Delhi University di India saya menyusun kembali jalinan cerita dengan alur cerita seperti tertulis di atas.

Sudah sekian puluh tahun yang lalu, namun inti cerita itu masih saya ingat terus. Mengapa? Mungkin karena saya juga tersentak dengan pertanyaan Gopal yang polos itu. Dulu saya menempatkan diri sebagai Gopal. Kini saya juga menempatkan diri sebagai Rupalee. Saya jadi termenung.

Kemudian ketika membaca cerita tentang janda Sarfat pada 1 Raja-raja 17:8-16 saya jadi melihat kaitannya dengan cerita Rupalee. Sama seperti Rupalee, janda Sarfat itu juga kehabisan persediaan tepung. Sama seperti Rupalee, janda Sarfat itu juga mempunyai seorang bocah.

Mungkin bocah itu seumur dengan Gopal. Yang pasti, bocah itu juga lapar seperti Gopal. Lalu, datanglah Nabi Elia. Ia membuat mukjizat: walaupun setiap hari janda Sarfat ini mengambil tepung terigu, namun tempayan tepung terigunya tidak akan habis “sampai pada waktu Tuhan memberi hujan” (Ayat.14).

Kita bukan Nabi Elia. Kita tidak bisa berbuat mukjizat dengan cara Nabi Elia. Tetapi, sebenarnya kita dapat berbuat sesuatu yang merupakan mukjizat bagi keluarga, seperti janda Sarfat. Kebutuhan mereka adalah agar setiap hari ada persediaan beras di tempayan. Bukankah kita dapat melakukan itu, yaitu mengupayakan agar di tempayan selalu ada beras.

Beras itu belum ada di tempayan. Keluarga janda Sarfat baru mempunyai makanan ketika seorang nabi datang. Keluarga Rupalee baru mempunyai makanan ketika bayinya meninggal.

Untuk bisa makan, perlukah bocah Sarfat itu menunggu sampai ada nabi datang? Perlukah Gopal menunggu sampai Leela mati, “…supaya kita dapat puree lagi, Mama?”

Penulis adalah pengarang buku-buku renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia

Sumber: Suara Pembaruan

Facebook Comments