Pangkas Mata Rantai Korupsi di Senayan

Monday, March 9, 2009
By susuwongi

Penangkapan Abdul Hadi Djamal, anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, awal pekan ini, menambah daftar panjang wakil rakyat yang tersangkut kasus uang haram. Terungkapnya kasus ini juga sekaligus membuka secara telanjang potret “rumah rakyat” kita di Senayan yang terbukti lebih banyak dihuni oleh para anggota dewan bermental pecundang, calo atau para penjaja proyek, dan tukang nyolong uang rakyat.

Sangat memprihatin. Dengan terus bertambahnya jumlah anggota DPR yang tertangkap karena terlibat kasus korupsi, semakin rontok pula citra parlemen sebagai lembaga hati nurani rakyat. Ia tidak lagi berfungsi sebagai institusi politik untuk mengabdi pada kepentingan bangsa.

Sebaliknya, lembaga ini lebih menjadi lahan mata pencaharian atau tempat cari makan sebagian elite politik. Tepatnya, tempatnya para wakil rakyat menikmati pekerjaannya sebagai calo proyek selama ini. Akibatnya, tugas-tugas mendengarkan dan membawa aspirasi rakyat pun terabaikan. Yang paling tampak adalah syahwat memenuhi kepuasan materi untuk diri sendiri.

Sialnya, praktis busuk seperti itu sudah sangat sistemik dan berlangsung amat lama. Terungkapnya kasus Abdul Hadi Djamal hanyalah satu riak yang kelihatan dari berbagai permainan jahat yang dilakukan para politikus busuk di balik tembok-tembok bisu Senayan.

Karena itu, percayalah, Abdul Hadi Djamal bukanlah pemain tunggal di balik tembok gedung parlemen. Ia hanya satu dari segerombolan politikus busuk di Senayan yang setiap saat begitu asyik menjadi pemburu fulus.

Gerombolan-gerombolan politikus busuk ini pun bukan sendirian. Di luar tembok Senayan, mereka “bermitra” dengan para pemain dari institusi lain yang berwatak sama: sama-sama rakus, dan sama-sama haus kekuasaan. Mereka adalah oknum yang ada di pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat, pengusaha lokal, serta para penjaja proyek dari kalangan orang-orang dekat di lingkaran kekuasaan.

Makanya, terbongkarnya kasus suap Abdul Hadi Djamal haruslah menjadi momentum kita untuk melihat dengan jujur sebuah mata rantai korupsi yang sudah teramat sistemik. Tidak cukup KPK menangkap, memproses hukum, dan menjeblos si tertangkap ke penjara. DPR dalam kaitan ini adalah bagian aktif dari mata rantai korupsi selama ini.

Korupsi anggota DPR merupakan representasi hubungan segitiga kekuasaan: DPR, pemerintah (pusat dan daerah), dan kelompok pebisnis. Dalam sebuah permainan proyek, ketiganya saling membutuhkan, saling membantu, dan melindungi. Pebisnis membutuhkan kontrak-kontrak dari proyek yang didanai uang publik, sehingga mereka mendekati eksekutif dan legislatif untuk mendapatkan proyek tersebut.

Untuk mendapatkan proyek dari pemerintah pusat, pemerintah daerah membutuhkan jaringan yang bisa melempangkan usulan proyeknya itu. DPR di sini menjadi perantara untuk bisa menggolkan proposal yang diajukan daerah. Jelas, DPR memperoleh bagian rupiah atasnya jasanya itu.

Karena itu, jika ingin menghapus suap dan korupsi di DPR, kita harus berani memutus mata rantai ini. Tak ada gunanya menangkap dan memproses hukum seorang Abdul Hadi Djamal dan anggota DPR lainnya yang diduga korupsi tanpa memutus mata rantai korupsi yang selama ini terjadi.

Buatlah sistem yang menutup kemungkinan seorang anggota DPR begitu mudah tergelincir dalam praktik korupsi. Untuk mendapatkan dana untuk sebuah proyek pembangunan, pimpinan daerah harus bisa membuat proposal yang bagus dengan melibatkan ahli di dalamnya. Proposal tersebut dinilai oleh sebuah tim khusus. Tim inilah yang merekomendasikan layak-tidaknya usulan proyek tersebut. Dengan cara ini, kolusi besar terhindarkan, dan sebuah proyek dikerjakan dengan tetap mengutamakan mutu pekerjaannya.

Selama ini, kerap terjadi proyek dikerjakan asal-asalan, karena sebagian dana habis dibagi-bagi untuk jasa bupati, jasa anggota DPR. Saatnya praktik busuk seperti itu harus dihentikan.

Mumpung menjelang pemilihan anggota legislatif, rakyat mendapat kesempatan terbaik menggunakan mata hati untuk memilih wakil-wakilnya yang bermutu, bermoral, berintegritas. Penangkapan anggota DPR yang tersangkut kasus uang haram haruslah menjadi pelajaran bagi kita semua. ***

Sumber: Investor Daily

3 Responses to “Pangkas Mata Rantai Korupsi di Senayan”

  1. 1
    Berkat Jaya Lase Says:

    Topik yang bagus.Tapi menurut pendapat saya di indonesia ini mulai dari pusat hingga daerah bagi oknum2 yang melakukan KKN kalau bisa hukumannya jangan cmn penjara beberapa tahun aja,tetapi lebih bagus penjara seumur hidup tanpa alasan apapun.dan kalau KKNnya tinggi kalau bisa Hukuman Mati.biar jera para oknum2 tersebut.emang sich gak segampang itu melakukan hukuman atau menjantuhkan hukuman bagi mereka2 yang melakukan korupsi harus di dasarkan dengan bukti2 yang kuat,tetapi apasalanya di buat peraturan oleh KPK dalam hal ini.Terima kasih KPK telah bekerja dengan baik dan ini juga berkat Pemerintahan SBY dalam negeri ini yang sangat bagus.Kita berharap semoga pemilu tahun ini SBY dapat memenangkan pemilihan presiden untuk melanjutkan lagi program2 yang masih belom terealisasi.Terima kasih Pak SBY maju terus.saya pribadi mendukung Bapak.
    terima kasih.

  2. 2
    Zendrato Says:

    Setuju sekali, bos 1#

  3. 3
    Aron /Ronald Says:

    apa benar di gunug sitoli banyak budaya-budaya yang kurang baik disebabkan orang luar yang masuk ke Nias?

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031