Ilmu Selamat vs Tuntutan Mengajar

Monday, March 2, 2009
By nias

Oleh: Joni Arianto Nazara*

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Untuk saat ini, tidak ada satu sekolah pun di Pulau Nias yang berani menyatakan bahwa sekolah mereka sekolah yang ramah terhadap anak dan bebas dari kekerasan. Sekolah dalam hal ini bukan hanya bangunannya saja tetapi semua warga sekolah, mulai dari murid, guru dan kepala sekolah, penjaga sekolah sampai petugas kantin. Check saja di lapangan, pasti kita masih menemukan beberapa persoalan yang berdampak kepada anak, baik kepada masalah kesehatannya, pendidikan baik secara fisik dan psikis.

Tidak heran kalaulah kita masih berputar-putar pada masalah perlindungan anak salah satunya dari tindakan kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah. Sekolah bukanlah tempat bagi pendidikan kekerasan. Secara tidak langsung ketika kekerasan menjadi salah satu bentuk hukuman, kita sedang mengajarkan bagaimana menyelesaikan persoalan dan masalah dengan cara menampar, memukul, menendang kepada siswa-siswi. Ini bukan basa-basi tentunya, ini persoalan serius yang perlu mendapat perhatian serius dari setiap para pengajar di sekolah-sekolah.

Dalam beberapa kasus yang terjadi di lingkungan sekolah di Nias, beberapa di antaranya ada yang sudah dilaporkan dan masih banyak yang lainnya didiamkan ataupun sebagian pihak korban memilih untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan. Diperlukan suatu sikap yang berani untuk melaporkan kekerasan yang dialami korban anak di lingkungan sekolah. Karena biasanya orang yang melakukannya adalah orang yang seharusnya melindungi dan mendidik siswa/i misalnya oknum gurunya sendiri seperti pada contoh kasus yang terjadi di Desa Somi Kec. Gido dimana salah satu oknum guru melakukan perbuatan cabul kepada salah seorang muridnya. Kasus yang satu ini mendapat simpati dari banyak orang karena menurut mereka perbuatan tersebut sudah fatal sekali dan sudah menghancurkan masa depan korban.

Tapi, rasa simpati tersebut tidak ditujukan untuk kasus kekerasan misalnya seorang guru memukul anak muridnya tetapi tidak sampai luka, patah tulang atau meninggalkan bekas. Menurut mereka itu biasa saja, wajar dipukul kalau memang salah, dan tidak fatal sekalilah. Tetapi jikalau sudah fatal sekali maka barulah kejadian tersebut dilaporkan seperti yang terjadi di salah satu sekolah di Kec. Mandrehe yang pernah dilaporkan kepada Child Center Pusaka Indonesia – UNICEF dimana seorang pelajar dipukul pada bagian wajahnya oleh seorang oknum guru dan hingga beberapa hari masih mengalami pendaharan pada bagian telinga dan baru ditanggapi serius oleh orangtua korban.

Sebutan guru killer (guru pembunuh) sering dipakai secara guyon untuk merujuk kepada seorang guru ataupun dosen yang memiliki kebiasaan memukul muridnya atau tidak segan-segan memberikan nilai kecil kepada muridnya. Mungkin saja guru-guru yang dimaksudkan sebagai guru killer tidak menyangka dengan perbuatan tersebut memang benar-benar membunuh atau mematikan karakter seorang anak. Saya ambil contoh, saya pernah menemukan seorang anak bersekolah di salah satu sekolah SD di Gunungsitoli, Ianya pernah tinggal kelas di Kelas 2 dan 3. sewaktu tidak naik kelas 3 anak tersebut meminta kalau Ianya ingin dipindahkan saja dari sekolah tersebut, tetapi orangtuanya saat itu tidak mengizinkan, alasan sianak karena tidak senang dengan perlakuan para guru yang tidak ramah terhadapnya. Akhirnya barulah sianak dipindahkan orangtuanya ke salah satu SD lainnya ketika dinyatakan anaknya tidak naik kelas dan tinggal di kelas III. Orangtua anak merasa sedih, karena menurut mereka berdasarkan pengamatan sehari-hari anaknya sudah belajar di rumah. Tetapi anehnya ketika anak tersebut sudah dipindahkan sejak saat itu anaknya tersebut tidak lagi tinggal kelas dan saat ini sudah tamat SMA. Anak tersebut merupakan saksi hidup bagi kita, bagaimana rasa takut dan cap sebagai pemalas dan bodoh yang diberikan kepadanya mampu mematikan karakter dan semangat seorang anak.

Dalam setiap catatan yang saya buat, bukannya dengan maksud menyudutkan, menjelekkan satu pihak dan menonjolkan satu pihak karena saya tahu itu tidak ada artinya. Yang ingin saya katakan dan tanyakan adalah mampukah kita memastikan bahwa sekolah sudah ramah terhadap anak. Peran ini bukanlah hanya tugas para kepala sekolah tetapi juga semua masyarakat sekolah termasuk orangtua siswa/i.

Saya bisa memastikan bahwa kasus-kasus fatal yang terjadi berupa pemukulan terhadap anak yang menyebabkan anak hingga mengalami luka secara fisik dan psikis seperti pada beberapa kasus yang terjadi merupakan akumulasi dari kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh pelaku. Kalau kita melihat dari psikologinya, biasanya jika frekuensi melakukan kekerasan lebih sering dilakukan maka konsekuensi logisnya bukan hanya pada meningkatnya frekuensi melakukan tetapi pada tekanan dan dampak yang akan dialami oleh korban khususnya jika dilakukan pada korban yang sama.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut ini :

Frekuensi (aksi) Akumulasi Tunggal (dampak/ jumlah tekanan) Akumulasi Ganda (dampak/ jumlah tekanan)
1 1 2
1 2 4
1 3 6
1 4 8
1 100 100

Saat seorang pelaku pertama kali melakukan (aksi) kekerasan, dampak terhadap korban adalah 1, kemudian pelaku melakukannya untuk yang kedua kalinya (aksi = 1) lagi maka dampaknya bukan lagi 1 melainkan 2 dan begitu seterusnya, hingga puncaknya bisa berakibat fatal kepada korban (kritis bahkan sampai meninggal dunia). Bisa saja ketika melakukan kekerasan pada frekuensi ke 5 dampaknya bisa 100% artinya bisa luka berat, cacat, meninggal dunia. Biasanya frekuensi dihitung dalam deret 1,2,3,4,5 dst tetapi dalam kasus ini frekuensi dituliskan dalam angka 1 dan untuk memperoleh totalnya cukup menjumlahkannya saja (jika diperlukan).

Artinya ada kecenderungan pelaku merasa tidak puas jikalau aksi pertamanya tidak membuat jera korban sehingga sewaktu melakukannya kembali maka pelaku biasanya akan melakukan kekerasan lebih dari yang sebelumnya, bisa saja pada korban yang sama atau kepada yang korban baru lainnya.

Saya menyadari betul bahwa memang suatu angin perubahan yang sedang bergulir di tengah-tengah dunia pendidikan saat ini khususnya tenang isu stop kekerasan terhadap anak di sekolah harus disikapi secara bijak dan dengan kepala dingin oleh semua pihak. Yang diperlukan adalah usaha untuk mewujudkannya bukan memperdebatkannya.

Tunduk dan taat kepada suatu peraturan yang berlaku adalah suatu kewajiban bagi kita semua yang berada dalam ruang lingkup hukum peraturan tersebut. Ketika UU Perlindungan Anak disahkan tahun 2002 yang lalu menjadi momentum dimana segala bentuk kekerasan terhadap anak harus dihentikan termasuk yang terjadi di lingkungan sekolah. Namun, oleh sebagian warga sekolah khususnya para oknum guru tidak bisa menerima hal ini, sangat sulit diterapkan menurut pemikiran mereka. Sehingga ilmu selamat pun mulai dipakai, lebih baik membiarkan anak melakukan semaunya ketimbang melanggar UU Perlindungan Anak dan harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Akankah dunia pendidikan kita akan seperti ini jadinya; guru tidak mau tahu dan anak bebas melakukan semaunya?

Dari awal saya sudah mengatakan bahwa kemajuan pendidikan anak-anak tergantung kepada peran dan keterlibatan seluruh warga sekolah, khususnya guru di sekolah dan orangtua di rumah. Guru memiliki beban dan tanggung jawab moral untuk menciptakan manusia dan generasi yang berkualitas, intelektual, dan memiliki kompetensi yang baik, namun tidak akan terwujud bila anak-anak didik tersebut tidak diarahkan dan tanpa tujuan yang jelas. Peran orangtua juga tidak kalah pentingnya dengan guru di sekolah, mengapa tidak, Anda bisa menghitung berapa jam anak Anda di sekolah dan berapa lama anak Anda berada di rumah. Lebih banyak anak Anda berada di rumah daripada di sekolah bukan. Kebanyakan orangtua tidak mengetahui apa yang anaknya lakukan di sekolah dan begitu juga guru tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh anak didiknya di rumah atau di luar sekolah. Saya menyatakan ini, bukan dalam arti memperluas tanggung jawab guru selain di sekolah. Pada suatu kesempatan saya bersama beberapa anggota tim lainnya berkesempatan bertemu dengan anak-anak di beberapa sekolah. Kami membagikan kepada anak-anak tersebut 2 buah potongan kertas lingkaran kepada masing-masing anak. Kami meminta agar pada kedua kertas tersebut mereka mau mengambarkan ekspresi wajah mereka ketika berada di sekolah dan sewaktu berada di rumah. Dari 157 orang murid dari 6 sekolah mulai dari kelas V dan VI SD serta kelas 1 SMP diperoleh gambaran bahwa terdapat 61% anak-anak merasa sedih/ marah sewaktu berada di rumah dan 53% sewaktu berada di sekolah. Bukankah sekolah dan rumah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan buat anak-anak?

IS atau ilmu selamat dengan pembiaran perilaku anak-anak bukanlah jawaban. Dalam hal ini diperlukan sikap profesional dan kreatifitas dari para guru-guru dalam mendidik anak-anak. Mau tidak mau sebagai insan pendidik kita harus meningkatkan kapasitas lebih lagi dalam menciptakan suatu kondisi baik konstruktif dalam mendidik. Mungkin kita pernah mendengar iklan Mizone berkata ”be 100%”, setiap orang itu maksimal 100 persen tetapi anak-anak masihlah 50%. Bagaimana agar mereka menjadi 100% maka kita sebagai orang dewasa harus meningkatkan kapasitas kita menjadi 150% bisa = M150 bisa!!. 50% tersebutlah yang akan kita berikan kepada anak-anak didik kita selama proses pendidikan berlangsung baik di sekolah maupun di rumah. Dilatar belakangi dari pemikiran tersebut, maka sangat arogan sekali jika kita menganggap anak-anak sama dengan orang dewasa, pemikiran anak dengan orang dewasa sangat jauh berbeda. Apakah mereka bisa melakukan kesalahan, tentu saja bisa dan itu lah yang menyebabkan sebagaian orang berkata mereka harus didisiplin tetapi dengan perlakuan pemberian hukuman.

Disiplin dengan hukuman sangat jauh berbeda. Kalau hukuman berasal dari kata punishment yang artinya hukuman, sedangkan disiplin berasal discipline dan kata discipline berasal dari kata diciple yang artinya murid. Jadi kata disiplin itu artinya memuridkan atau mengajarkan. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia kata disiplin artinya tata tertib atau kepatuhan, sehingga dapat disimpulkan bahwa disiplin bukan menghukum. Trend yang sedang berkembang di Nias saat ini adanya disiplin positif yang mulai diterapkan kurang lebih di 169 sekolah dasar di 10 kecamatan. Istilah hukuman tidak lagi dipakai tetapi memakai istilah disiplin positif dengan tidak menggunakan kekerasan. Disarankan untuk untuk menerapkan disiplin positif yang mengarah kepada kewajiban anak sebagaimana yang ada pada UU PA Pasal 19 No. 23 Thn 2002. sebagai contoh seorang anak pada saat upacara berlangsung kedapatan tidak memakai topi atau menganggu temannya, disiplin positif yang diberikan kepadanya bisa saja memberikan tugas untuk upacara berikutnya mungkin sebagai pemimpin barisannya atau pembawa bendera sehingga mau tidak mau si anak akan memakai topi atau tidak akan menganggu temannya, dan itu juga bisa menumbuhkan kewajibannya untuk mencintai tanah air, bangsa, dan negara (pasal 19 ayat (c) UU PA)

Ada banyak metode dan cara yang dapat ditempuh untuk memberikan pembelajaran kepada anak didik dan tidak harus dengan kekerasan. Kekerasan hanya akan menciptakan seseorang untuk takut berbuat pelanggaran/ kenakalan tetapi pesan positif yang diberikan kepadanya terabaikan, itu artinya tinggal menunggu saatnya ketika seseorang itu tidak memiliki rasa takut dan akan berbuat hal yang serupa. Atau kita lebih memilihi disiplin positif dan anak memahami bahwa apa yang dilakukannya salah dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi bukan karena rasa takut akan dipukul tetapi dengan kesadaran dirnya sendiri.

*Penulis adalah Koordinator Child Center Pusaka Indonesia Gunungsitoli

2 Responses to “Ilmu Selamat vs Tuntutan Mengajar”

  1. 1
    YAKIN RAHMAT ZEBUA Says:

    Syalom buat Niasku..
    Saya sangat senang membaca tulisan saudara diatas karena saudara berani memunculkan tema yang selama ini agak tabu untuk dibicarakan karena selama ini masyarakat memiliki pandangan bahwa guru merupakan pahlawan yang patut dihargai.
    Memang benar guru adalah pahlawan yang patut dihargai karena mereka yang telah membimbing dan mengajar kita. Namun timbul pertanyaan,apakah dengan sikap guru dewasa ini yang telah kehilangan sosok seorang pahlawan masih patut untuk dihargai? Apakah guru yang telah berinkarnasi dari seorang pahlawan menjadi seorang penjajah masih bisa dihormati? Mari kita lihat kembali Pembukaan UUD 1945 kita yang mengatakan bahwa : “Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemakmuran dan prikeadilan.”
    Apakah kita masih tidak menyadari bahwa guru itu telah menjadi penjajah bagi para siswa/i? Apakah kita masih menutup mata dan tidak tergerak untuk mengubah sikap para guru yang demikian? Guru bukan hanya menjajah dengan cara melakukan kekerasan dalam mendidik siswa/i seperti menampar, menendang dll tetapi sebagian guru juga telah berinkarnasi menjadi perampok bagi para siswa/i. Mereka mengutip banyak biaya di luar kebijakan yang telah ditetapkan.
    Kembali saya menekankan isi pembukaan UUD 1945 bahwa “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Maka saatnya pemerintah untuk mengeluarkan kebijAkan kepada guru untuk tidak melakukan kekerasan bagi para siswa/i dan bagi guru yang melanggar harus ditindak keras. Saatnya mengembalikan citra guru sebagai pahlawan yang patut diteladani karena sikap guru sangat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM)yang sangat penting dalam proses pembangunan.

    Tuhan Yesus Memberkati kita semua..Ya’ahowu

    YAKIN RAHMAT ZEBUA
    MAHASISWA USU – MEDAN

  2. 2
    Jo PI Says:

    Sekarang ini banyak sekolah2 yang meminta untuk dilakukan sosialisasi perlindungan anak. mudah-mudahan ini akan menjadi awal perubahan wajah pendidikan di Nias yang lebih ramah anak

    semoga

    salam
    Jo PI

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031