Usia 55 tahun bukanlah usia yang tidak lagi muda. Begitu pula usia perjalanan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Lembaga yang berkecimpung di ranah pekabaran Injil ini terus berbenah diri.

“Lembaga ini menabur Firman Tuhan kepada seluruh jemaat di ladang Nusantara,” kata Sekretaris Umum LAI Duta Pranowo, di sela-sela Peringatan Syukur ke-55 Tahun LAI di Jakarta, Senin (9/2).

Guna melayani kebutuhan jemaat akan Firman Tuhan, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) akan meluncurkan alkitab elektronik dalam bahasa Yunani dan Ibrani. “Ini merupakan terobosan untuk melayani jemaat yang ingin mendalami alkitab dalam dua bahasa tersebut,” katanya.

Duta mengatakan, sampai saat ini, LAI telah menerjemahkan alkitab ke dalam 26 bahasa daerah dan satu dalam bahasa Indonesia. “Kami ingin Firman Tuhan menetap di dalam hati setiap jemaat,” katanya.

Dia menambahkan, saat ini alkitab elektronik sudah diterjemahkan ke dalam tiga versi bahasa Inggris, 3 versi dalam bahasa Indonesia, dan 16 bahasa daerah.

Dia menjelaskan, pada tahun 2009, LAI akan membagikan 10.000 Alkitab dan bagian-bagiannya, khususnya kepada gereja dan umat Kristiani yang berada di pelosok dan belum memiliki Alkitab.

Dia melanjutkan, pada perayaan syukur ke-55 tahun ini, LAI mengambil tema Bersyukur, Berhimpun, dan Berbagi. Dituturkan, tantangan bagi LAI adalah memberikan pelayanan bagi jemaat yang berada di luar Pulau Jawa dan Bali.

Sebab, area yang sukar dijangkau. Karena itulah, katanya, pada saat peringatan syukur LAI ke-65 pada 2019, LAI berharap setiap keluarga sudah memiliki satu alkitab.

“Sekitar 60 persen jemaat di luar Pulau Jawa dan Bali sampai saat ini belum terlayani,” katanya.

Perjalanan sejarah LAI kaya dengan pengalaman, pergumulan, dan perjuangan, tetapi juga kaya berkat Tuhan. LAI terbentuk pada tahun 1954. Masa itu adalah awal masa kemerdekaan yang kondisi politik ekonomi negara masih sulit dan belum stabil. Namun, kesulitan itu menjadi penyemangat bagi LAI untuk terus berkembang.

Duta mengemukakan, tugas utama LAI adalah melayani semua gereja. Para penggagas menyadari betapa pentingnya peran lembaga Alkitab dalam melaksanakan fungsinya, yakni menyediakan Alkitab untuk semua gereja.

Deutrokanonika

Ditanyakan mengenai perbedaan materi dengan gereja Katolik, Duta menegaskan, hubungan keduanya sangat akrab. Apalagi, kini gereja Katolik juga mencetak Alkitab di LAI. “Gereja Katolik hanya melengkapi Alkitab Perjanjian Lama dengan Deutrokanonika (Yunani= kanon kedua),” katanya.

Dari beberapa sumber diketahui, Deutrokanonika sendiri dalam gereja Katolik merupakan bagian dari Alkitab Perjanjian Lama dan terdiri dari tujuh kitab, sama seperti yang digunakan orang Yahudi ketika Yesus mengajar di sinagoga-sinagoga. Kitab-kitab dimaksud adalah Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Putera Sirakh, Barukh, Makabe I, dan Makabe II yang banyak dikutip dalam Perjanjian Baru, mis Luk 4:16-19; Kis 13:15.

Duta melanjutkan, LAI hadir untuk menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dan bagian-bagiannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah. Dalam upayanya tersebut LAI selalu berusaha menerbitkannya dalam bahasa yang mudah dimengerti, dalam bentuk yang menarik dan disukai, serta disebarkan dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat umum.

Untuk melaksanakan tugas-tugasnya tersebut, LAI membagi tugas kerja ke dalam 7 departemen: Departemen Penerjemahan, Departemen Produksi dan Percetakan, Departemen Penyebaran, Departemen Gereja & Masyarakat, Departemen Keuangan, Departemen Administrasi Umum & SDM, dan Departemen Penelitian & Pengembangan serta ditambah Pusat Pelayanan Komputer (Puspelkom) dan Biro Informasi. Semua Departemen, Puspelkom dan Biro Informasi berkedudukan di Jalan Salemba Raya No 12, Jakarta, kecuali Departemen Penerjemahan yang berkantor di Jalan Ahmad Yani No 90, Bogor. Sedangkan, Departemen Produksi dan Percetakan berlokasi di Jalan Roda Pembangunan No 96, Nanggewer Km 49, Cibinong, Bogor. Dalam melaksanakan tugasnya di berbagai daerah, LAI ditunjang oleh kantor-kantor perwakilannya di Medan, Manado, Makassar, dan Jayapura. [W-12]

Sumber: Suara Pembaruan, 14/2/2009

Facebook Comments