Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd*

Tiba-tiba saya teringat e-mail yang datang dari Medan itu. Isinya begini; Adakah menurut Anda nilai positif dari pernyataan Gubsu yang saya kirim? Lama saya mencari jawaban dan sempat terabaikan.

Teman saya itu mengirimkan berita yang ia kutip dari media massa tentang Gubsu (Gubernur Sumatera Utara) H Syamsul Arifin SE saat menerima Pengurus DPP Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) di kantornya, penghujung tahun 2008. Dalam kesempatan pertemuan, banyak hal terkait pembangunan dan kemajuan Nias yang menjadi topik pembahasan.

Intinya, ada janji dan keinginan yang terlontar dari mulut Gubsu bahwa niatnya membangun Nias cukup besar, terutama meningkatkan perekonomian masyarakat. Dia juga berharap masyarakat Nias menghimpun kekuatan guna membangun Nias kedepan sehingga dapat mengejar ketertinggalannya dari daerah kabupaten/kota yang ada di Sumut.

Saya sangat konsen dengan pembangunan daerah Nias. Untuk itu masyarakat Nias harus bersatu. Dengan potensi pariwisata, kekayaan alam dan laut yang dimiliki sangat besar, yakinklah, Nias bisa mensejajarkan diri dengan daerah lain,” ujar Gubsu seperti dikutip media massa.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bermacam tafsir. Pertama, mengandung optimisme walau kalimat demikian merupakan hal klise dan sering diucapkan para pemimpin. Kedua, tersirat bahwa Nias memang belum maju dan ekonomi masyarakatnya lemah. Terakhir, pernyataan itu mengandung kekhawatiran bahwa tanpa bersatu, Nias mustahil bisa bangkit dari keterpurukan keadaan yang menimpanya.

Menurut Gubsu, pembangunan di Nias sudah mengalami banyak perkembangan hingga saat ini. Namun dia tak menyangkal, arah kebijakan kurang menyentuh peningkatan ekonomi rakyat. Soal ini saya sepakat dengan beliau. Bahwa sejak gempa melanda Nias, pembangunan fisik yang ada memang nyata. Hanya sayangnya, yang benar-benar dibutuhkan masyarakat soal peningkatan kesejahteraan dan ekonomi seolah terabaikan.

Adakah hal positif dari pernyataan Gubsu itu? Tentu saya bilang ada. Minimal, sebagai pemimpin tertinggi di Provinsi Sumatera Utara, Syamsul Arifin sudah mengobarkan semangat bagi Ono Niha di manapun berada. Pernyataan itu juga dapat diartikan Gubsu tak tinggal diam terhadap Nias. Saya yakin, meski baru sebatas pernyataan, semangat tinggi masyarakat Nias untuk maju semakin mendapat laluan besar. Tinggal bagaimana aplikasinya dan diharapkan masyarakat Nias mampu membaca situasi.

Tapi yang kita harapkan tentu bukan hanya pernyataan dan menggugah semangat masyarakat Nias saja. Yang sesungguhnya penting adalah bagaimana komitmen Gubsu ini bisa selaras antara pernyataan dan tindakan nyata.

Tiba soal sejalan antara pernyataan dan tindakan ini saya semula agak pesimis. Alasannya, sudah berkali-kali saya dengar pernyataan serupa oleh gubernur-gubernur yang pernah berkuasa di Sumatera Utara sebelum Gubernur Syamsul Arifin. Barangkali wajar rasa tidak percaya itu muncul. Barangkali juga, bukan hanya saya yang punya pikiran begitu. Tapi saya mencoba menganalisa bagaimana dan siapa sosok Syamsul Arifin sebenarnya.

Dari berbagai penelusuran yang saya lakukan, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Gubsu yang satu ini memang lain daripada Gubsu-Gubsu sebelumnya. Banyak perbedaan mendasar antara Syamsul dengan para pendahulunya. Yang mencolok, dia adalah Gubsu pertama dipilih secara langsung rakyat Sumut. Selain itu, dari segi kepemimpinan, dia tak diragukan, karena dia mantan Bupati Langkat.

Soal kedekatannya dengan rakyat, Syamsul tak basa-basi. Dia memegang teguh prinsip pemimpin bukan dilayani tapi harus siap melayani karena masyarakat telah memilih. Gubsu juga mengangkat dirinya sebagai sahabat semua suku yang ada di Sumut. Ini berarti, dia benar-benar memahami posisi pemimpin yang memang dituntut bisa diterima kalangan mana saja.

Dari semua perbedaan itu, ada satu lagi sisi menarik yang dapat dicermati pada sosok Syamsul. Ternyata, selama 38 tahun, baru Syamsul lah Gubsu pertama yang bukan dari kalangan militer. Kita yakin, gaya kepemimpinannya jelas diwarnai latar belakangnya. Maka, berdasarkan fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa dia adalah pemimpin yang mampu merasakan denyut jantung rakyatnya.

Dan tentunya, pernyataan keinginan Gubsu membangun Nias yang fokus pada pembangunan ekonomi kerakyatan adalah suatu pemikiran yang sangat positif. Sejalan dengan pemikiran saya. Membangun Nias harus dimulai dari pemberdayaan masyarakat dengan mendorong berkembangnya usaha-usaha yang dimiliki dan dikelola masyarakat. Lalu disejalankan dengan pengembangan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi. Sebab, pertumbuhan ekonomi tanpa dikelola sumber daya manusia yang bagus, hasilnya tidak akan maksimal dan tidak bertahan lama.

Misalnya untuk mengelola pertanian, tekonologi sederhana saja belum dikenal masyarakat Nias. Sektor lainnya tak jauh beda. Menurut saya, jika keinginan Gubsu betul-betul mau diwujudkan, ada baiknya dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana ini.

Pada dasarnya masyarakat Nias adalah masyarakat yang mau menerima dan punya keinginan untuk berubah asal jelas arah perubahannya ke mana. Masyarakat Nias juga dikenal sebagai pekerja ulet dan tekun. Namun karena daerah ini jauh dan terpencil sehingga selalu tertinggal dalam memperoleh hal-hal yang baru.

Oleh karena itu, kalau betul Gubsu memiliki keinginan membangun Nias dan tidak hanya keinginan basa-basi, saya menyarankan empat tujuan utama yang perlu dilakukan dalam berbagai program pembangunan ekonomi daerah tertinggal. Yakni:

  1. Pola penganggaran yang terfokus.
  2. Membangun sektor pertanian modern secara bertahap dengan orientasi peningkatan nilai tambah produk.
  3. Program pendampingan yang konsisten, terpadu dan berkelanjutan.
  4. Membangun infrastruktur dasar.

***
Membangun daerah tertinggal seperti Nias memang butuh biaya tak sedikit. Terutama dalam hal pembangunan infrastruktur. Jadi, komitmen pembiayaan dari APBD menjadi hal yang utama. Nah, karena Nias merupakan daerah perbatasan dan berada pada posisi terluar wilayah NKRI, seharusnya memerlukan perhatian yang ekstra.. Makanya sistem penganggaran yang berbasis kinerja perlu disertai pola pembiayaan yang terintegrasi.

Berkaca dari track record Gubsu Syamsul Arifin, saya optimis komitmennya membangun Nias bukan sekedar pemanis bahasa. Dan, sebagai masyarakat Nias, mari kita camkan pesan-pesan dan harapan Gubsu, bahwa Nias akan maju apabila masyarakat Nias bersatu membangun daerahnya. Dengan bersatu, segalanya mungkin dan dapat diraih dengan mudah.

Akan hal ini, teringat saya pepatah warisan leluhur masyarakat Nias, ”Nahasara khõda dõdõ, nahasambua gera era, ta’olikhe gawõni ba taolae guli nasi”.

Langkah pertama Gubsu mewujudkan keinginanya itu menurut saya sudah didepan mata. Hendaknya pada penetapan Penjabat Bupati dan Wali Kota daerah baru di Nias ke depan, dapat ditunjuk orang-orang yang mampu mewujudkan keinginan membangun Nias.

Di akhir tulisan ini, saya hendak menyingkap satu lagi hal menarik tentang Syamsul Arifin. Yaitu makna nama pemberian ayahnya itu. Syamsul Arifin berarti Matahari Kebijaksanaan. Dan, Sang Matahari Kebijaksanaan itu telah berucap janji sangat ingin membangun Nias dan masyarakatnya.

Tentulah kita sambut ini dengan sukacita. Jika tidak, meminjam ucapan Naga Bonar, nanti, apa kata dunia? Lakhõmi sebua wahasara dõdõ. Jayalah Niasku.

* Penulis adalah Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau

Facebook Comments