Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd*

Pada 26 Januari 2009, masyarakat Tionghoa menyambut sekaligus merayakan Tahun Baru Imlek 2560. Layaknya tahun baru, Imlek kini juga dirayakan seperti Natal dan Idul Fitri atau hari-hari besar lainnya. Secara terbuka dan meriah tentunya.

Tahun Baru Imlek merupakan salah satu hari raya Tionghoa tradisional, yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender Tionghoa. Namun, jika ada bulan kabisat kesebelas atau kedua belas menuju tahun baru, maka Imlek akan jatuh pada bulan ketiga setelah hari terpendek. Ini pernah terjadi tahun 2005 dan baru akan terjadi lagi pada tahun 2033.

Sejarah mencatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Ketika ini, penetapan tahun baru berperan amat penting, karena menjadi pedoman mempersiapkan segala pekerjaan untuk tahun yang berjalan.

Penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Dihitung berdasarkan kelahiran Nabi Khongcu pada tahun 551 sebelum masehi. Makanya, tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek. Jadi, jika tahun masehi saat ini 2009, maka tahun Imleknya menjadi 2009 + 551 = 2560.

Sejatinya, orang Cina menyebut tahun baru ini adalah Sin Cia Imlek. Im berarti bulan, sedangkan lek bermakna penanggalan. Perayaan yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama ini bermula dari sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari semuanya itu tak lain sebagai wujud syukur dan doa harapan rezeki di tahun akan datang lebih banyak. Juga sebagai ajang silaturahmi.

Setiap acara sembahyang Imlek, minimal disajikan 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Kue yang dihidangkan biasanya lebih manis. Ini harapan agar kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Ada pula kue lapis sebagai lambang rezeki yang berlapis-lapis. Sedangkan kue mangkok berwarna merah dan kue keranjang biasanya disusun ke atas. Ini simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Di Indonesia, selama 1965-1998, tahun baru Imlek haram dirayakan di depan umum. Rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi, selama tiga generasi, etnis yang mengenal 12 shio ini merasakan pahit dan sakitnya diskriminasi serta terpinggirkan dari arena kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untunglah reformasi bergulir dan angin segar itu berimbas juga pada etnis Tionghoa. Orde Baru runtuh dan hampir seluruh peraturan yang mendiskriminasi, perlahan dieliminasi. Perayaan tahun baru Imlek secara Nasional pertama kali dilaksanakan oleh Majelis Agama Konghucu Indonesia (Matakin) tanggal 17 Februari 2000.

Ketika Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI, terbit Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Kemudian Presiden Megawati Soekarno Putri mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu, Imlek bebas dirayakan secara terbuka dan hingga kini masa pemerintahan Presiden SBY, Imlek diakui sebagai salah satu keragaman yang ada di Indonesia.

Kita hendaknya tidak atau jangan melihat lagi bahwa orang Tionghoa adalah ”orang lain” dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Juga jangan ada lagi dikotomi kami, yang ada adalah kita.

Tahun Kerbau
Apa yang membedakan Tahun Baru Imlek dengan tahun baru lainnya? Yang paling mudah ditandai adalah perlambangan shio yang menyertainya. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, shio mengandung makna sekaligus peringatan bagaimana berbuat dan bersikap menjalankan kegiatan selama berlangsungnya tahun tersebut. Sesuai tradisi, Tahun Baru 2560 termasuk Tahun Kerbau. Sang kerbau digambarkan sedang dalam perjalanan.

Kerbau dikenal jenis hewan pekerja keras, rendah hati, sabar dan cinta damai. Ditarik sisi positifnya, maka pada tahun 2009 ini kita dituntut tidak leha-leha atau diam berpangku tangan. Kerja, kerja, kerja, tak kenal lelah seperti kerbau, itulah yang harus dilakukan jika ingin mencapai keberhasilan. Logika memang, pesan ini cukup relevan dengan kehidupan saat krisis global melanda dunia.

Kita tentu berharap bahwa tahun baru akan menjadi babak baru kesuksesan serta berbagai harapan lain untuk kita semua lebih maju, lebih baik. Oleh karena itu, perlu tindakan-tindakan nyata yang baru pula. Sebab, jika hanya mengharap dan mengharap, maka semua harapan akan sia-sia belaka.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, hendaknya pesan Imlek ini dapat dijadikan momentum perubahan agar setiap kebijakan pemerintah lebih berpihak pada rakyat. Apalagi bangsa ini akan menghadapi hajatan besar yakni Pemilu 2009. Keterlibatan aktif masyarakat Tionghoa untuk menggunakan hak pilihnya jangan di sia-siakan karena masa-masa diskriminasi telah berakhir.

Kini saatnya kita berbenah, introspeksi diri, dan lebih peduli dengan sesama. Keyakinan bahwa setiap tantangan sesungguhnya di balik itu ada peluang, harus diyakini. Hanya orang-orang positif yang akan melihat peluang meskipun itu di antara himpitan, cobaan atau hambatan sekalipun. Sedangkan orang yang berpikiran negatif selalu hanya melihat ancaman meskipun peluang itu ada di depan mata. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Sebagai warga negara yang sah dan mendapatkan kedudukan sama di Republik ini, masyarakat Tionghoa juga wajib memiliki nilai-nilai yang bisa disumbangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Barangkali perlu juga diingat, ditengah kondisi krisis global saat ini, perayaan Tahun Baru Imlek janganlah hanya mengedepankan pesta pora dan hura-hura. Sebab, selain kurang etis, berpesta pora saat krisis juga bisa menambah berat beban perekonomian karena secara tak langsung bisa memancing kenaikan harga. Semoga Tahun Baru Imlek 2560 membawa harapan baru untuk perbaikan yang nyata dan lebih merekatkan kebersamaan dalam masyarakat.

Gong Xi Fa Cai.

*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Pulau Bintan – Kepulauan Riau

Facebook Comments