Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd*

Termasuklah saya, walau sebagai orang Nias di perantauan, saya tetap selalu memantau perkembangan dan kemajuan apa yang sedang dan telah terjadi di Tano Niha yang kita cintai. Mimpi saya tak muluk, barangkali ini juga mimpi banuada fefu semua. Apalagi kini setelah ada lima daerah otonom yang akan membangun Nias ke depan. Ibaratnya, dengan lima mesin sekaligus, kapal yang bernama Nias ini akan lebih cepat sampai di tujuan. Bukankah demikian logikanya?

Tapi tentu lima mesin saja bukan jaminan utama untuk segera tiba meraih harapan itu. Di depan, akan banyak ombak dan angin kencang bakal menerpa haluan dan seisi kapal. Dalam situasi demikian, penumpang pastinya ingin selamat. Dan, mau tak mau harapan keselamatan itu ditumpu pada sang nakhoda.

Nakhoda punya kuasa penuh, apakah membiarkan kapal itu karam atau dengan berbagai upaya menyelamatkan kapal berikut penumpangnya? Untuk menjawab ini, terpulanglah pada sang nakhoda. Apakah dia akan jadi pahlawan? Kita semua berharap demikian.

Ilustrasi diatas saya paparkan bukan untuk mengajak pembaca berimajinasi. Lebih dari itu, barangkali bisa membuat tulisan ini jadi lebih menarik dan mudah-mudahan bisa menjadi bahan perenungan kita bersama, Ono Niha dimanapun berada. Saya punya harapan, Anda punya harapan, anak cucu kita pun demikian. Kita semua punya harapan.

Dalam tulisan ini, saya memfokuskan pembahasan tentang mengelola potensi yang ada di Nias. Tujuannnya, kelak, potensi yang saat ini terbiar bisa menjadi primadona Nias, bahkan primadona Indonesia. Bagaimana caranya?

Saya mulai dengan kutipan kalimat; ”Jika Anda tidak tahu kemana Anda akan pergi, maka Anda bisa berhenti dimana saja (Yogi Berra)”. Kalimat yang sederhana, namun memberi inspirasi besar bagi saya. Inspirasi saya, tentu juga saya harap bisa menjadi inspirasi bagi Nias, tanah kelahiran saya.

Kira-kira, makna yang saya tangkap dari kalimat itu begini; dalam hidup, apapun yang hendak kita gapai, tentunya kita harus punya patokan, ukuran ataupun sasaran. Sehingga walaupun jalan yang dihadapi berliku, kita bisa berhenti pada tempat yang pas untuk memulai jalan berikutnya.

Dalam kaitan ini, saya coba tarik semangat sekaligus memotivasi Nias yang kini dibidani lima daerah otonom baru. Tentu, sebagai daerah yang baru, banyak hal yang harus dipelajari demi menjalankan amanat pemekaran, yakni mensejahterakan masyarakat Nias.

Belajar dari daerah yang lebih maju tentu akan memberikan dorongan bagi kita untuk memajukan daerah kita sendiri.

****
Setahun silam, ketika membaca Majalah HORAS Edisi No 90/05-31 Desember 2007, ada satu berita menarik perhatian. Judulnya seingat saya, ”Bupati Tobasa Kembali Menerima Penghargaan”.

Bukan soal penghargaan itu sisi menariknya. Tapi, sebab ia menerima penghargaan itulah magnet dari berita tersebut bagi saya. Monang Sitorus, demikian nama bupati Tobasa yang menerima penghargaan tersebut. Selama memimpin Tobasa, dia dinilai berhasil menggali potensi daerah hingga menjadi unggulan dan kebanggaan masyarakat.

Tahun 2008, masih di Majalah HORAS, tepatnya edisi 103, 11-31 Desember, kembali saya temui sosok beliau dalam salah satu rubrik. Kali ini judul beritanya ”PT Hutahean Group Tanam Jagung 100 Hektar di Tobasa”. Lalu, pada Majalah HORAS Edisi 104/10-25 Januari 2009, di cover majalah dwimingguan ini, poto Monang Sitorus terpampang sedang bersalaman dengan Presiden SBY. Judulnya, ”Tobasa Memang Hebat”. Kabupaten Tobasa berhasil mencapai target produktivitas beras nasional diatas 5 persen.

Membaca berita ini mendorong saya untuk mencari makna dibalik pemberitaan tersebut sehingga saya tak sekedar membaca. Yang pasti, sebagai pemimpin, upaya Monang Sitorus mensejahterakan masyarakatnya pantas dicontoh.

Dia mulai dari hal sederhana, yakni menggalakkan masyarakatnya menanam pada lahan-lahan yang terbiar. Memang awalnya sulit, namun karena komitmennya sangat kuat untuk melakukan swasembada pangan dan benar-benar berniat mensejahterakan rakyatnya, Monang bahkan menjadi ”pengemis”. Dia antusias mengajak dan melibatkan masyarakat serta para stakeholders pertanian agar memberikan bantuan.

Dan kini, upaya itu berbuah manis. Produksi jagung Tobasa mencapai 14-15 ton per hektar dan melampaui produksi rata-rata jagung nasional, 8 ton per hektar. Demikian juga produksi beras, Tobasa malah melewati produktivitas beras nasional. ”Memang hebat dia,” ujar seorang teman diskusi saya.

Sepertinya gampang, namun proses waktu yang dijalani tak semudah itu. Pertama-tama Pemkab Tobasa bekerjasama dengan ilmuwan melakukan kajian untuk mengetahui tanaman apa yang cocok dikembangkan dan sesuai dengan kondisi Tobasa.

Misalnya ketika tanaman jagung yang direkomendasikan, Pemkab Tobasa lalu membuat kebijakan serta mempersiapkan program-program penunjang. Salah satunya, APBD Tobasa disisihkan untuk mengantisipasi fluktuasi pasar. Jadi, dengan demikian, masyarakat yang menanam jagung semakin termotivasi dan berlomba-lomba karena walaupun harga jagung anjlok, petani jagung Tobasa tak terkena imbas. Pemkab akan membeli jagung sesuai harga standar.

Makanya dengan komitmen seperti itu, tak heran jika kini jagung merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Tobasa. Dan, melihat fakta yang ada, investor seolah berlomba menanamkan investasinya. Terakhir saya ketahui, Singapura dan China mulai menjajaki peluang bisnis lainnya di Tobasa.

Karena keberhasilannya ini, Monang Sitorus dijuluki Bupati Jagung. Tak hanya itu, tahun 2008, kabupaten yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang No 12. Tahun 1998 ini menempati posisi teratas (PDRB/Kapita tertinggi di Sumatera Utara). Sebuah prestasi luar biasa untuk daerah yang berusia relatif muda.

****
Pemberitaan diatas jika kita selami maknanya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bupati Tobasa, Monang Sitorus sangat berhasil membangun daerahnya melalui tanaman jagung, lalu beras. Dan, keputusannya menyediakan dana penyanggah dalam APBD, sungguh satu kebijakan yang benar-benar pro rakyat.

Hal lain yang membuat saya salut dengan Monang, dia memiliki inovasi dan kreativitas serta sensitifitas memunculkan potensi unggulan daerahnya demi kesejahteraan masyarakat Tobasa. Saya tak sungkan memujinya, bahwa tipe pemimpin seperti inilah yang diharapkan oleh otonomi daerah.

Maaf, bukan maksud saya membandingkan atau berpikir negatif. Saat ini fakta yang tersaji masih banyak pemimpin daerah yang hanya mampu mengelola apa yang sudah ada sambil mengharapkan bantuan dari pusat sehingga daerah yang dipimpinnya stagnan dalam berbagai hal.

Ini bukan berarti mengharamkan untuk tidak mencari bantuan dari pusat. Tapi harusnya potensi daerah juga digali dan dikembangkan menjadi kekuatan daerah itu sendiri sehingga kelak bisa mandiri tanpa bergantung kepada siapapun.

Bercermin dari keberhasilan Bupati Jagung ini, barangkali tak ada salahnya pimpinan-pimpinan daerah lain juga berpikir hal yang sama di daerah yang dipimpinnya sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada. Bahwa yang perlu dicatat, keberhasilan bukan datang begitu saja tanpa kerja keras dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Artinya, berbagai program yang dicanangkan jangan hanya diatas kertas atau hanya untuk dibahas dalam rapat-rapat. Ajak semua elemen masyarakat melakukan pengawasan dan berpartisipasi dalam pembangunan.

Sebagai putra Nias, saya, Anda, dan kita semua tentu punya harapan agar pimpinan daerah yang ada di Nias bisa melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Bupati Jagung, Monang Sitorus. Saya yakin, apabila lima daerah otonom di Nias memiliki kreativitas dalam menggali potensi daerah, kembali saya katakan mustahil Nias tidak maju dan mampu bersaing dengan daerah-daerah lain di Republik ini.

Nias harus bangkit, harus sadar dan harus maju. Selanjutnya, berlari dengan beragam potensi yang belum tergarap maksimal. Oleh karena itu, kebersamaan dalam segala hal mutlak menjadi syaratnya. Sebab, dengan kebersamaan, segala yang dikerjakan akan lebih memuaskan.

Harus diingat, sebagai kapal yang baru berlayar, pemimpin-pemimpin di Nias sebagai nakhoda harus tau kemana arah yang dituju. Sebab, hanya dengan arah yang pasti, kita akan bisa berhenti ditempat yang pas, bukan dimana saja. Mudah-mudahan.

* Penulis adalah Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau

Facebook Comments