Potret Semangat Putri Nias

Friday, January 9, 2009
By Moyo

Kampung Lölömoyo sekitar delapan kilometer dari Gunungsitoli. Dua putri kampung itu menuntut ilmu di Gunungsitoli. Untuk mencapai sekolah, saban hari keduanya bersepeda, kadangkala berjalan-kaki, 16 km pergi-pulang. Tahun 2006 keduanya bertolak menuju Tanjungpriok, tentunya naik kapal, tidak bersepeda seperti kebiasaan mereka. Seterusnya mereka melanjutkan perjalanan menuju kota pelajar. Kini, dari rumah kontrakan, mereka cukup berjalan-kaki ke tempat kuliah. Namun kampus mereka relatif jauh, lebih seribu kilometer dari kampung halaman, lokasinya di Yogyakarta.

Helmi Zebua lulusan SMK BNKP Gunungsitoli, telah lima semester kuliah di FE-Ukrim (Universitas Kristen Immanuel). “Saya ingin belajar hal yang baru, mencari pengalaman-pengalaman baru. Saya ingin mandiri”, kata Helmi Zebua. “Saya ingin membuktikan segala sesuatu itu bisa diraih kalau ada usaha, mau menerima resiko, serta dilalui dengan penuh perjuangan. Misalnya, dulu waktu di Nias kalau saya ke sekolah naik sepeda dari kampung. Itulah harga dan perjuangan yang harus saya bayar”, lanjut putri kampung Lölömoyo yang kuliah di jurusan Akuntansi ini. “Kuliah di sini harus berjuang, misalnya melawan rasa cengeng, siap mengatur diri sendiri, mandiri, sabar pada kiriman terlambat atau tidak ada, dan lain-lain”, ungkap putri Nias yang siap ‘menerima resiko’ ini.

Sepupu Helmi yang sama-sama bersepeda ketika di Nias, Rostuti Zebua, alumni SMA Negeri 1 Gunungsitoli. Dia telah lima semester kuliah di F-MIPA Fisika. Motivasinya kuliah di Yogya senada dengan Helmi. “Saya ingin belajar mandiri dengan lebih banyak tahu, mencari pengalaman, pengen suasana baru, teman baru, dan menimba ilmu dengan harapan pengen lebih baik”, kata Rostuti Zebua yang aktif sebagai ketua KEMASIKA (Keluarga Mahasiswa Fisika) Ukrim. Selain itu, dia anggota PJO (Pengembangan Jaringan Organisasi) senat mahasiswa F-MIPA, dan delegasi kampus FBMF (Forum Bersama Mahasiswa Fisika) se-DIY. Luar biasa putri kampung yang satu ini. Rostuti Zebua berhasil membuktikan, meski asalnya dari kampung dia tidak bercitra ‘kampungan’ di kalangan aktivis mahasiswa, bahkan di level provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) sekalipun.

Kemandirian juga dipunyai Rantimas Restuti Duha, alumni SMA Negeri 1 Telukdalam. “Saya memilih kuliah di luar Nias supaya punya banyak pengalaman. Saya ingin menjadi orang berhasil, tidak bergantung sama orangtua, bisa berguna buat diri sendiri, keluarga dan orang lain”, kata Restuti Duha. “Setelah selesai kuliah di Ukrim, kalau Tuhan kasih berkat, saya mau meneruskan kuliah S-2, tetapi kalau belum dapat berkat saya mau cari kerja”, lanjut mahasiswi yang telah tiga semester kuliah di F-MIPA Komputer.

“Saya ingin membuktikan kepada para orangtua yang ada di Nias, yang masih punya pikiran bahwa perempuan tidak boleh bersekolah, apalagi di luar Nias, perempuan juga memiliki semangat seperti laki-laki dalam bersekolah”, kata Suniman Laoli, alumni SMA Negeri 1 Gidö. “Saya mau mengangkat derajad keluarga melalui keberhasilan saya”, lanjut mahasiswi F-MIPA Fisika yang akan masuk semester-4. Restuti Duha dan Suniman Laoli aktif bermain bolavoli. Tim mereka, Bunga Club, baru saja merebut dua trofi, juara-1 turnamen P-SKAN dan juara-2 IKN-Cup, berikut sejumlah uang pembinaan tentunya.

Atlit Bunga Club lainnya, Sejah Febi Zaya Harefa, alumni SMA Xaverius Gunungsitoli, ingin mengangkat harkat dan martabat keluarga khususnya, dan nama Nias secara umum. “Saya mendapat dorongan dari kedua orangtua dan saudara untuk menggali ilmu di luar Nias. Kuliah di Yogya lebih menemukan banyak pengalaman hidup dibanding di daerah sendiri”, kata mahasiswi F-MIPA Komputer ini. “Di manapun kita berada, kita pasti berhasil, asal kita berjuang menggapai tujuan kita. Yang pasti kita harus mengandalkan Tuhan Yesus Kristus, karena yang memberikan masa depan adalah Tuhan. Buktikan kita bisa!”, kata Zaya yang telah tiga semester kuliah di Ukrim.

Teman seangkatan Zaya, Teti Zebua, melihat sarana dan prasarana perkuliahan di Yogya jauh lebih baik dibanding Nias. “Saya pengen mencoba memahami kebudayaan dan adat istiadat di sini yang pastinya berbeda dari pola pikir dan kebiasaan masyarakat Nias”, kata Teti Zebua, alumni SMA Negeri 1 Gunungsitoli. “Izin orangtua untuk sekolah ke Yogya hanya masalah waktu. Di awal mereka tidak beri izin, tapi saat hari berangkat dekat mereka mengizinkan. Kecuali, uang kiriman tiap bulan agak dipres. Mereka memberi pengertian bahwa kuliah di perantauan bukanlah masalah gampang. Intinya kalau pulang kampung harus bawa keberhasilan”, lanjut putri Nias anggota Bunga Club ini. Selesai kuliah, Teti Zebua berencana membuka usaha sendiri di Nias.

Rencana Teti Zebua didukung Swasti Elisabeth Duha. “Kita jangan hanya mengharapkan jadi PNS. Belajarlah yang tekun. Kalau sudah berhasil, finansial nanti mengikuti, gak akan kemana”, kata lulusan Akper Gunungsitoli tahun 2005 yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Nias. Swasti Duha telah tiga semester kuliah di Prodi Ilmu Keperawatan UGM, targetnya selesai lima semester. “Putri Nias sekarang kuliah, nanti kembali ke Nias bisa berusaha memajukan dan mengembangkan Nias”, kata Swasti Duha yang masuk UGM lewat program beasiswa BRR tahun 2007.

Keinginan untuk memahami budaya daerah lain juga dimiliki Krismawati Laia, alumni SMA Swasta Pemda Gunungsitoli. “Saya ingin mencari pengalaman dan menambah pengetahuan yang saya miliki baik dalam segi pendidikan maupun dalam segi budaya. Karena saya tahu bahwa pendidikan dan budaya masing-masing daerah berbeda, makanya saya juga ingin tahu perbedaan dan persamaannya”, kata mahasiswi Pendidikan Agama Kristen, juga anggota Bunga Club, ini. “Saya pengen berhasil meraih masa depan, pengen berguna bagi bangsa, masyarakat, keluarga, terlebih-lebih buat Tuhan. Pengen menjadi manusia yang berharga di mata Tuhan. Pengen membahagiakan keluarga dan pengen mandiri”, lanjut Krismawati Laia yang telah tiga semester kuliah di Ukrim.

“Saya ingin mengubah nasib. Sejak kecil saya bercita-cita setelah lulus SMA saya kuliah di luar daerah. Saya melihat dan mendengar orang yang kuliah di luar daerah ilmunya sangat lumayan tinggi”, kata Lis Arniat Batee, alumni SMA Negeri 1 Gidö. “Saya ingin hidup mandiri, tidak bergantung pada keluarga terus-menerus. Sejak kecil saya mendengar Yogya kota pelajar, untuk itu saya pingin kuliah di Yogya”, lanjut mahasiswi semester-3 jurusan Manajemen FE-Ukrim yang juga atlit Bunga Club.

Hal senada diungkapkan Dewi Oktaviani Laoli, alumni SMK Emmanuel Gunungsitoli. “Dengan kuliah di Yogya saya bisa lebih mandiri. Saya pengen merasakan hidup tanpa orangtua atau keluarga yang berada di sekitar saya”, kata mahasiswi semester-3 FE-Ukrim jurusan Manajemen ini. Setelah selesai kuliah, Dewi Laoli yang aktif bermain di Bunga Club ingin bekerja, meskipun dia masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan studi.

Perbaikan nasib menjadi alasan Leni Time Hartati Zendratö merantau ke Yogya. “Saya pengen memperbaiki nasib. Pengen sukses, berguna buat pulau Nias tercinta”, kata atlit Bunga Club ini. “Saya ingin menambah pengalaman dalam berbagai bidang, baik dalam pengetahuan umum maupun pengenalan akan Tuhan. Karena sumber dari segala sesuatu termasuk ilmu pengetahuan asalnya dari takut akan Tuhan. Saya ingin menjadi pengusaha sukses atau pekerjaan apapun yang Tuhan izinkan. Saya juga masih ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi”, kata alumni SMA Negeri 1 Gunungsitoli yang telah tiga semester kuliah di jurusan Manajemen FE-Ukrim ini.

Kepada para putri Nias yang ada di Nias, Leni Zendratö berpesan, “Raihlah cita-citamu setinggi-tingginya semasih ada kesempatan. Kalau ingin maju keluarlah dari pulau Nias, dengan harapan jangan pulang sebelum berhasil. Kita keluar untuk mencari pengalaman dan ilmu pengetahuan, kembali untuk membangun pulau Nias”. Pesan serupa diungkapkan Restuti Duha. “Buat putri-putri Nias, belajar keras supaya dapat membangun Nias. Putri-putri Nias punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Kalau bisa, kuliah di luar pulau Nias supaya wawasan kita lebih luas dan bisa mengenal dunia luar”, kata Restuti Duha.

Itulah potret semangat putri Nias yang gigih berjuang di dunia pendidikan. Mereka pergi jauh meninggalkan orangtua, sanak-saudara, teman-teman, dan kampung halaman, untuk memperbaiki nasib. Semangat mereka, bagaikan dian yang tak pernah padam. (moyo)

24 Responses to “Potret Semangat Putri Nias”

Pages: « 1 2 [3] Show All

  1. 21
    Muza zega Says:

    For all miss Nias ,i say good luck to you…I hope you have happines..Muza zega.No.Hp:081370894513.

  2. 22
    porteli Says:

    ya’ahowu, saya mau tanya ni ama teman-teman, tanggal berapa jadwal KM Lawit ke Nias khususnya bulan september ya

  3. 23
    RANDI ZEBUA Says:

    maju Trus putri2 Nias,, kalian juga manusia yang punya hak untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi.. tapi jangan lupa klo da slesai…bangan Pulau Nias Ya…….aku dukung kalian dalam doa.

  4. 24
    Beriman T.M.J Zai Says:

    Hi………
    Teman-teman alumni SMK Pembda Gunungsitoli Angkatan 2005.Saya kangen dan rindu sama kalian smua,saya sekarang kerja di bandung.
    Cita-cita saya telah tercapai tuk jd seorang Prajurit Kostrad, skrg saya Dinas Di BATALYON ZIPUR 9/1 KOSTRAD Ujumgberung Bandung Timur.
    Bagi teman2 yg mau ngombrol ma saya Hub aja 081395334492. Saya tggu tlfnya ya teman2. Sekian Ya’ahowu.

Pages: « 1 2 [3] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

January 2009
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031