Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd*

Seminar Nasional Kesinambungan Percepatan Rekonstruksi Nias Pasca BRR tanggal 6 Desember 2008 itu seolah memunculkan cemas dan bimbang bagi sebagian pihak. Ditaja oleh DPP Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI), ruangan Grand Menza Jakarta dipenuhi tokoh masyarakat dari berbagai kalangan. Antaranya, Kepala Bappenas, Paskah Suzetta, Letjen TNI (purn) DR. TB Silalahi, Hekenus Manao M.Acc.PhD (Irjen Depkeu), Binahati Baeha, SH (Bupati Nias), Herman Laia, SH (mewakili Bupati Nias Selatan), Ir.Ichtiar Nduru (Ketua Umum DPP HIMNI) serta perwakilan dari Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT).

Intinya, seminar itu membahas nasib Nias setelah ditinggal BRR yang masa tugasnya berakhir April 2009. Saya rasa, wajar timbul kecemasan dan beragam sikap lainnya. Sebab, setelah diluluhlantakkan bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004, disusul pula gempa bumi pada 28 Maret 2005 (saya berada di Nias ketika itu dan mengalami langsung kejadian ini), pembangunan fisik yang kini ada tak bisa lepas dari peran keberadaan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi).

Dalam tulisan ini, sengaja saya batasi hanya membahas keberadaan BRR di Nias. Sebenarnya, kiprah lembaga yang ditunjuk pemerintah ini juga ada di Aceh. Tapi, sebagai masyarakat Nias, rasanya tentu lebih baik saya mengomentari keberadaannya di tanah kelahiran saya. Walau saya tak mengikuti secara detil pekembangannya, saya pastikan, lewat tulisan inil setidak-tidaknya bisa memberikan manfaat. Barangkali juga sebagai salah satu bakti yang dapat saya berikan.

Secara harfiah, rehabilitasi dan rekonstruksi bisa dianggap sebagai upaya penyembuhan bagi mereka yang tertimpa musibah agar kembali pada kondisi yang mendekati semula. Artinya, rehabilitasi dan rekonstruksi tak hanya pada tataran fisik, tapi mencakup pembangunan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan hidup. Dari definisi itu jelas bahwa BRR adalah sebagai wadah untuk memfasilitasi masyarakat agar dapat mandiri sehingga mampu menjalankan fungsi kehidupannya kembali.

BRR hadir di Nias sejak tahun 2005. Sepanjang kiprahnya, secara kasat mata dapat dilihat, pembangunan fisik yang dilakukan sangat terasa. Bahkan, bukan hendak membandingkan, jauh lebih maju ketika sebelum Nias ditimpa musibah. Masa kerja BRR di Nias terbagi menjadi dua tahap, yaitu rehabilitasi (April 2005 – Desember 2006) dan rekonstruksi (Juli 2006 – Desember 2008). Sesuai keputusan pemerintah, masa kerja BRR berakhir April 2009. Makanya, seminar nasional yang digelar itu tak lain bertujuan mencari formula antisipasi setelah pembangunan di Nias setelah tak lagi di-handle BRR.

Bagaimana pembangunan Nias selanjutnya? Apakah Nias akan kiamat ditinggalkan BRR? Inilah pertanyaan yang banyak muncul ditengah masyarakat Nias.

Bagi saya, pertanyaan demikian hanya ada satu jawaban, yakni tidak. Justru kepergian BRR harus dijadikan modal pemacu semangat oleh Pemerintah Daerah di Nias. Berkaca dari pola yang dilakukan BRR, Pemda setempat dituntut lebih inovatif dan kreatif menciptakan hal-hal baru untuk memacu daerah agar semakin baik dan lebih maju.

Hemat saya, pembangunan Nias ke depan akan lebih mudah dari membangun Nias sebelum gempa. Pasalnya, kondisi Nias sebelum gempa sangat jauh tertinggal dan hanya ditangani dua kabupaten. Kini, di Pulau Nias sudah ada lima daerah otonom, 4 kabupaten dan 1 kota. Rasanya mustahil kalau Nias tidak maju, terkecuali pemerintah yang ada tidak tau apa yang hendak mereka buat.

Tentu banyak yang sependapat dengan saya. Bahwa ada rasa khawatir dan bimbang pada masyarakat Nias ditinggalkan BRR, saya menilai itu wajar. Malah ada yang pesimis pun, itu sesuatu yang sangat manusiawi. ”Kelak, jangankan pembangunan seperti yang dilakukan BRR, biaya pemeliharaan bangunan-bangunan yang telah dibangun BRR saja akan kesulitan,” begitu salah satu komentar yang saya tangkap.

Nah, soal ini, tentu pemerintah tak tinggal diam. Dalam seminar tersebut terungkap Pemerintah Pusat tetap akan meneruskan pemberian bantuan ke Nias dengan wadah lain dan dananya disalurkan melalui Menteri Negara PDT. Jadi, pembangunan di Nias masih tetap berlangsung walaupun tentunya tidak sebesar dana yang diberikan selama ini melalui BRR.

Kepergian BRR memang banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun, terlepas dari itu semua, suatu hal yang wajar jika kepada semua yang sudah terlibat dalam kegiatan BRR kita apresiasikan terima kasih setulus-tulusnya. Meski banyak kekurangan dan dituding banyak pula kecurangan, itu masalah lain. Yang jelas, setelah Nias remuk dihantam bencana, keadaan suram yang dulu kini mulai memancarkan sinar cerah.

Biar lebih objektif, selain memuji, kritik terhadap BRR juga harus dikemukakan. Selama menjalankan mandatnya, BRR terkesan kurang berkoordinasi dengan Pemda setempat. Malah indikasinya, kebijakan yang ada seperti berjalan masing-masing. BRR hanya fokus pada pembangunan fisik, sedangkan pembangunan SDM dan pemberdayaan masyarakat tidak dilakukan sama sekali. Padahal, visi BRR adalah mewujudkan masyarakat yang Amanah, Bermartabat, Sejahtera, dan Demokratis.

Realita ini tak dapat dipungkiri. Masyarakat sendiri yang merasakan bahwa kinerja BRR kurang baik walaupun BRR mengklaim mereka sudah melakukan tugasnya semaksimal mungkin. Buktinya, kondisi ekonomi masyarakat tetap pada posisi tidak mampu atau tetap seperti sebelum adanya BRR.

Ah, tapi sudahlah. BRR pergi jangan dipermasalahkan. Beberapa program rehabilitasi dan rekonstruksi yang belum dilaksanakan saat mandat BRR berakhir, keberlanjutannya menjadi tanggungjawab bersama dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta kita, masyarakat yang cinta Nias.

Ke depan, yang penting adalah bagaimana merencanakan pembangunan agar lebih tertata, terkoordinasi dan bermanfaat. Untuk itu dibutuhkan strategi yang baik dan tepat sasaran.

Saya harap, kita semua harus tanamkan sikap optimis. Sebab, memperhatikan kondisi Nias ke depan maka tidak mungkin Nias akan kiamat setelah ditinggal BRR. Mudah-mudahan.

* Penulis adalah Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau

Facebook Comments