Sebuah Perenungan

Oleh Etis Nehe

Krisis ini diembeli dengan kata sifat global. Artinya, mendunia, dimana-mana, dan tak terhindarkan, semua terdampak. Respons yang diberikan bermacam-macam. Ada yang ‘menggampangkan’, juga ada yang mengesankannya seolah kiamat sudah di depan mata.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, tidak ada yang perlu dikuatirkan karena fundamental ekonomi nasional kuat. Sebab, menurut dia, berbeda dengan krisis ekonomi pada 1997, ‘tempat kejadian perkara’ (TKP) atau locus delicti-nya bukan di Indonesia tapi di Amerika Serikat. Simpelnya, krisis ini di sana, bukan di sini, di Indonesia. Atau secara psikologis, krisis itu jauh dari Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, krisis ini akan berlangsung, atau berdampak hingga dua tahun mendatang. SBY mengakui bahwa Indonesia tidak akan terbebas dari krisis ini. Dia menyebut krisis ini sebagai tsunami ekonomi namun lokasinya di Amerika Serikat. Indonesia pasti terkena namun tidak berada pada pusat episentrum.

Para pengamat dan pelaku ekonomi sepakat satu hal, krisis saat ini baru tahap inkubasi. Artinya, dampak sebenarnya belum terasa sekarang, tapi, pada tahun-tahun mendatang, mulai pertengahan 2009. Pada saat itulah sebenarnya ketakutan itu berada dan harusnya sedapat mungkin diminimalisir saat ini. Tapi, sayangnya, semua pemikiran dan solusi tetap diselubungi pesimisme. Baik oleh kondisi ril, maupun ketidakyakinan pada cara pemerintah menangani krisis ini.

Pesimisme itu bukan tanpa dasar. Meski SBY-JK berusaha meyakinkan bahwa everything is Ok, namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Korban PHK mulai berjatuhan bahkan hingga puluhan ribu orang, seperti diungkapkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno minggu lalu. Angka yang lebih tinggi justru diungkapkan oleh asosiasi pelaku usaha yang diwakili Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Potensi PHK mencapai jutaan orang. Alhasil, dalam Musyawarah Nasional Kadin minggu lalu, SBY pun ‘merayu’ dunia usaha agar tidak gampang mem-PHK dan menawarkan konsultasi dengan pemerintah untuk mencari jalan keluar.

Jadi, bagaimana sebenarnya kehidupan mendatang, setidaknya pada 2009, semua sudah begitu jelas di depan mata. Bukan hanya bisa diprediksi. Indonesia tidak bisa merasa percaya diri dengan bersikap seolah-olah tidak sedang dalam krisis. Indonesia belum sepenuhnya keluar dari krisis yang lahir pada 1997, namun kini harus menggandakannya dengan dampak krisis 2008. Satu hal yang paling penting, seburuk-buruknya dampak ‘batuk’ ekonomi bagi rakyat Amerika Serikat, mereka akan tetap lebih kuat di banding Indonesia. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, walau Indonesia hanya terkena ‘demam’ dampaknya, bila tidak arif, akibatnya bisa ‘mematikan’. Amerika Serikat krisis tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia krisis. Indonesia bukan Amerika Serikat atau sebaliknya.

Sekali lagi, Indonesia belum sepenuhnya pulih dari krisis dan sekarang harus menghadapi ‘dampak’ krisis baru. Sedihnya, selain harus menghadapi krisis ekonomi babak ke-2 ini, Indonesia masih berhutang banyak dalam mengatasi krisis domestik yang potensial menggerogoti kekuatan untuk keluar dengan gemilang melewati krisis ini. Korupsi dan mentalitas koruptif dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) hanyalah segelintir contoh krusial yang berpotensi mengancam keutuhan negara ini.

Pengharapan

Lalu, apakah kita akan lantang menyimpulkan bahwa kehidupan mendatang pasti suram dan masa depan sudah sirna?

Tentu tidak demikian. Masih ada faktor variabel lain yang sangat menentukan kondisi itu bagi setiap orang. Salah satunya, kearifan untuk berkreasi positif untuk bertahan hidup. Tapi, bagi mereka yang berpikir semuanya terkendali, maka bersiaplah untuk kondisi terburuk.

Krisis kali ini, memberi pelajaran lebih dalam mengenai arti hidup, walau sering tampil dengan balutan kritisisme terhadap kapitalisme, liberalisme dan keangkuhan dunia barat dalam mengelola ekonomi. Ternyata, sang raksasa yang selama ini mengesankan/terkesan tidak akan pernah kalah, akhirnya ambruk juga. Setidaknya, ini memberi kesadaran baru bagi setiap negara dan setiap orang untuk berpikir bijak, mandiri dan tentu saja, tidak ada yang abadi kokoh selama itu masih sebagai bagian dari urusan manusia yang ternyata sangat rapuh.

Juga masih ada variabel non-material yang tak lekang dimakan waktu. Yakni cara pandang setiap orang tentang kehidupan itu sendiri. Hidup ini datang darimana dan akan kemana, inisiatif dan kepentingan siapa dan atas dasar apa harus tetap bertahan hidup adalah beberapa acuan pemikiran dasarnya.

Bukan sebuah kebetulan fase krisis tahun ini ditutup dengan perayaan Hari Natal, hari kelahiran Juruselamat, Tuhan Yesus Kristus. Meski bernuansa perayaan, sejatinya Hari Natal bukanlah perayaan. Hari Natal adalah hari dimana pengharapan, kebangkitan dari keputusasaan kini menjadi nyata. Hari Natal adalah hari dimana alasan untuk hidup telah dinyatakan oleh Tuhan sendiri dengan kehadirannya di dunia yang hingga kiamat nanti sejatinya berada dalam krisis.

Kehadiran Yesus Kristus di dunia, pertama-tama untuk membawa pendamaian. Pertama-tama, perdamaian antara Tuhan sendiri dan manusia yang terus menerus melawan-Nya dengan ketidaktaklukkan pada-Nya dan memilih takluk pada keinginannya sendiri dan keinginan dosa. Jadi, persoalan utama manusia bukanlah krisis ekonomi itu sendiri dan bagaiaman bertahan menghadapinya.
Sejak zaman Raja Daud, seperti disaksikan Alkitab, dalam penilaian Tuhan, manusia “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” (Roma 3:10-18).

Itu adalah kondisi sejati manusia di dunia ini, bahkan sekalipun tidak sedang dalam krisis ekonomi. Kalau seperti itu, masa depan seperti apa yang dapat diharapkan dari manusia? Alkitab menyaksikan, tidak ada masa depan bagi manusia seperti itu (Amsal 24:10).

Namun, walau tidaklah mudah, bukan berarti harapan dan masa depan tak ada lagi. Alkitab menegaskan, masa depan itu tetap ada bagi mereka yang takut akan Tuhan (Amsal 23:17,18).
Kehadiran Tuhan Yesus Kristus di dunia bukanlah untuk meninggalkan sebuah tanggal historis untuk sebuah kebutuhan perayaan. Tetapi, untuk sebuah penyelamatan masa depan dengan menyelamatkan manusia itu sendiri dari kehidupannya yang berdosa. Tidak ada solusi lain, karena dengan hidup dalam dosa, tidak mungkin mengharapkan kebenaran dalam diri manusia. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri karena manusia itu sendiri telah ‘mati’ oleh dosanya. Hanya Tuhan yang sanggup menyelamatkannya. Untuk itulah Tuhan Yesus Kristus lahir di dunia. Dan hanya itu satu-satunya jalan untuk kembali kepada Tuhan (Kisah Para Rasul 4:12). Karena itu, percaya kepada-Nya adalah jalan untuk masa depan itu sendiri.

Pendamaian yang dibawa Kristus adalah pendamaian yang membawa kepada kehidupan, kini dan selamanya. Percaya kepada Kristus tidaklah berarti kebal terhadap semua kesulitan hidup selama hidup di dunia. Percaya kepada Kristus memberikan Anda janji keselamatan kekal dengan jaminan masuk surga. Tapi, tidak berarti dunia di mana kaki masih berpijak dengan sendirinya akan berubah menjadi surga. Namun, menegaskan bahwa, dalam krisis apa pun selalu ada harapan dan jangan putus asa. Suatu kali, ketika para murid-Nya terancam nyawanya oleh badai dalam suatu perjalanan menggunakan perahu, dengan lantang Yesus berkata kepada mereka, “Jangan takut!”

Kehidupan yang dibawa dan diberikan oleh Kristus adalah kehidupan yang jangkarnya terikat nun jauh di sana, di surga. Sehingga, kehidupan apa pun di dunia ini tidaklah bijak dilihat hanya sejauh tercukupinya kebutuhan, stabilnya ekonomi dan politik atau semacamnya tidak peduli apa pun konsekuensinya.

Kehidupan yang diberikan Kristus menuntut kerja keras dan upaya terbaik, bukan kekonyolan berpikir bahwa karena ada jaminan kekal dari Kristus maka yang terbaik adalah bekerja sekedarnya. Alkitab menyatakan, apapun yang engkau lakukan, lakukanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:21).

Krisis kehidupan dunia ini akan tetap ada hingga batas waktu yang telah ditetapkan. Semua akan menemukan akhirnya. Pertanyaannya, apakah Anda akan bekerja sendiri memikirkan dan menghadapinya dan untuk tujuan apa itu semua dilakukan. Krisis tidak hanya membalikkan kenyataan bahwa ternyata manusia itu terbatas, tetapi juga menyadarkan manusia untuk bertanya ‘untuk apa hidup ini di jalani dan bagaimana mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Sang Khalik.’ Hidup ini Tuhan yang pegang. Karena itu jangan takut.

Kristus adalah Sang Pengharapan. Kelahirannya merealisasikan pengharapan itu. Walau kelahirannya bukan untuk memberikan manusia sebuah jadwal historis, tentu saja merayakannya secara pantas bukanlah sebuah kesalahan.

Hiduplah untuk Tuhan, maka lihatlah apa yang akan terjadi.

Selamat Hari Natal
Selamat Tahun Baru 2009
Selamat Merayakan Krisis bersama Kristus

Facebook Comments