Putri Nias sekarang lebih hebat, kesempatan terbuka, saya bangga! Demikian diungkapkan Dr. Linny Niaty Daely, M.Kes. melihat banyaknya putri Nias kuliah di fakultas kedokteran. Dalam catatan Nias Online, dari 18 orang bibit unggul penerima beasiswa BRR di FK-UGM, ada 11 putri (mahasiswi). Selain itu, sejumlah putri Nias lulus seleksi penerimaan mahasiswa jalur umum, saat ini mereka menekuni studi kedokteran dengan biaya mandiri di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Hal ini membuktikan putri Nias bisa sekolah, tidak cepat-cepat kawin”, kata Dr. Linny Niaty Daely, M.Kes. yang bertugas di Puskesmas Medan Deli, Kota Medan.

Pernyataan bangga juga disampaikan Sri Madala Asni Zebua yang tanggal 23 Desember 2008 dilantik menjadi dokter gigi oleh FKG-UGM. “Dengan demikian, para putri Nias juga punya tanggung jawab untuk membangun Nias”, kata Asni Zebua. Konsisten dengan pendapatnya, setelah dilantik Asni Zebua berencana mengabdi di Tanö Niha sebagai dokter gigi PTT. Drg. Sri Madala Asni Zebua berasal dari SMA Negeri 1 Wonosobo.

Perasaan senada diungkapkan Dr. Tatik Ziliwu. “Selama ini putri Nias terbelakang, kalau tidak disekolahkan harkatnya tidak naik. Maka saya senang sekali putri Nias bisa kuliah di kedokteran, tidak hanya di UGM, juga di perguruan tinggi di seluruh Indonesia”, kata Dr. Tatik Ziliwu yang kini mengikuti pendidikan dokter spesialis anak di FK-UGM. “Dulu kita kenal hanya dua putri Nias jadi dokter, Dr. Erika Mendröfa dan Dr. Yulina Zebua. Sekarang banyak putri Nias mengikuti jejak mereka berdua”, lanjut Dr. Tatik Ziliwu. Dr. Tatik Ziliwu berasal dari SMA Negeri 2 Gunungsitoli, masuk FK-USU pada tahun 2002 melalui jalur pemanduan bakat PMDK.

Sementara itu, dari Pematangsiantar Dr. Ria N. Telaumbanua, M.Kes., Direktur RSUD Dr. Djasimen Saragih, menyambut positif atas besarnya minat para putri Nias melanjutkan studi di kedokteran, mereka bisa tersalurkan lewat penjaringan bibit unggul di FK-UGM. “Bagus, banyak putri Nias kuliah di kedokteran. Zaman dulu persaingan amat ketat, kita bersaing dengan calon mahasiswa daerah lain. Mereka tidak bersaing seperti itu, hanya dengan sesama orang Nias”, kata Dr. Ria Telaumbanua yang baru meluncurkan bukunya Reforming a Ghost Hospital to a Loving One.

Boleh dikatakan, ketika Dr. Ria Telaumbanua dan sejawatnya Dr. Linny Daely masuk FK-USU tahun 1980, prosesnya relatif sulit. Saat itu mereka harus bersaing dengan para calon mahasiswa dari seluruh penjuru Tanah Air lewat PP-1 (Proyek Perintis 1). Hal serupa dialami Drg. Asni Zebua yang diterima FKG-UGM lewat UMPTN.

Menurut pengamatan Nias Online, beberapa tahun terakhir pun sejatinya persaingan masuk fakultas kedokteran masih amat ketat. Masuk perguruan tinggi di Indonesia sekarang bahkan disertai biaya jauh lebih banyak ketimbang tahun 80-an. Namun, kini kesempatan terkuak bagi para putri Nias, baik dengan adanya beasiswa BRR, kebijakan FK-UGM menerima bibit unggul, maupun kemampuan finansial sejumlah keluarga Nias menyekolahkan putrinya yang berbakat. Sehingga sekarang banyak dijumpai putri Nias yang kuliah di fakultas kedokteran.

Lewat jalur SPMB, Eunike Amelina Lahagu diterima di FK-UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) Solo. Eunike Lahagu berasal dari SMA Negeri 3 Yogyakarta, sekarang kuliah di semester-5. Eunike merasa bangga, tidak hanya melihat putri Nias, juga putra Nias, kini banyak yang kuliah di fakultas kedokteran. Eunike berharap mereka, termasuk Eunike sendiri tentunya, bisa survive (bertahan) dan menyelesaikan kuliah. Nike yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak ini berpesan kepada para temannya, “Tetap berjuang, selesaikan hingga akhir menjadi dokter.” Setelah lulus dari FK-UNS, Eunike Lahagu ingin mengabdi sebagai dokter PTT, alternatif pilihannya antara di Nias atau di Irian.

Angelin Utami Cahyani Zebua berasal dari SMA Negeri 8 Yogyakarta, sekarang kuliah di semester-3 FK-Unair (Universitas Airlangga) Surabaya. Angelin Zebua diterima lewat jalur PMDK Umum, dia bangga melihat kemampuan para putri Nias yang diterima di FK-UGM dan perguruan tinggi lain sekarang ini. Angelin Zebua berharap, “Teman-teman, ayo belajar tekun, berjuang terus, semoga berhasil. Setelah lulus kembali mengabdi ke Nias, ya…”. Angelin Zebua sendiri ingin menjadi dokter spesialis penyakit dalam.

Rasa bangga tentu juga menyelimuti hati para putri penerima beasiswa di FK-UGM. Yeni Lestaria Lase yang berasal dari SMA Negeri 1 Lahewa, kini semester-3 di FK-UGM, merasa senang dan bangga mendapat kesempatan sekolah. Demikian pula teman seangkatannya, Lely Ester Juniana Harefa, “Puji Tuhan bisa diterima kuliah FK-UGM. Pastinya saya bangga melihat teman-teman putri Nias dapat kuliah di UGM dan di universitas lain. Semoga berhasil dan pulang mengabdi ke Nias.”

Secara umum Yeni Lase berpesan kepada para temannya, “Mari belajar, tunjukkan bahwa orang Nias bukan orang yang gak bisa, tapi orang Nias punya potensi kalau difasilitasi.” Sementara Ester Harefa berpesan kepada para putri Nias penerima beasiswa asal Nias dan Nias Selatan, “Meskipun kita cewek, tetap berjuang, lakukan yang terbaik, jaga diri, jaga nama baik Nias, jaga nama keluarga. Kita ke sini bukan karena kita sendiri, tapi karena Nias. Semoga harapan Nias bisa kita wujudkan.”

Itulah harapan beberapa putri Nias yang kini kuliah di fakultas kedokteran. Harapan senior mereka yang telah menjadi dokter dan dokter gigi ada juga. Dr. Linny Daely mengharapkan, semakin banyak putri Nias masuk fakultas kedokteran, dan setelah lulus agar mengabdi di Nias, menjadi motivator dan dokter profesional di Nias. Drg. Asni Zebua mengharapkan hal senada, agar para putri Nias dapat meyakinkan para saudara kita di Nias bisa seperti para putri Nias yang kuliah, dan berhasil lulus dari fakultas kedokteran.

Dr. Linny Daely melanjutkan, “Saat ini banyak dokter putri pakai nama suaminya di papan prakteknya. Buat putri Nias, kalau sudah jadi dokter, gak usah malu pakai nama marga Nias sesuai ijazah, walau nikah dengan orang manapun”. Khusus soal pernikahan ini, disorot agak tajam oleh Dr. Tatik Ziliwu.

Dr. Tatik Ziliwu berpesan kepada para putri Nias yang mendapat beasiswa, agar setelah lulus melaksanakan pengabdian ke Nias sesuai perjanjian beasiswa. “Jangan lari dari Nias. Sekarang baru aja kenal, koq sudah mulai pacaran, kan mungkin kawin dengan bukan orang Nias. Akibatnya bisa tidak kembali ke Nias. Program beasiswa ini jangan dijadikan batu loncatan untuk bekerja di luar Nias. Nias sangat membutuhkan anda!”, kata Dr. Tatik Ziliwu mengingatkan. Beasiswa BRR ini memang mempersyaratkan pengabdian di wilayah kepulauan Nias selama sekitar 20 tahun setelah lulus, atau dengan “rumus 3N + 1” (N = masa studi).

Lepas dari kritik membangun Dr. Tatik Ziliwu, semangat agar putri Nias semakin maju dipacu Dr. Ria Telaumbanua. “Para putri Nias yang kuliah di kedokteran jangan cuma jadi dokter doang, tapi berkarya! Tunjukkan bahwa putri Nias itu ada. Belajarlah tekun agar kelak bermanfaat bagi masyarakat, sehingga sosok pribadinya di kenal oleh masyarakat”, kata Dr. Ria Telaumbanua. Begitulah ekspresi kebanggaan Dr. Ria Telaumbanua, sekaligus memotivasi para putri Nias juniornya.

Kebanggaan dan kebahagiaan berkenaan banyaknya putri Nias menjadi dokter dan kuliah di fakultas kedokteran pun disampaikan Dr. Erika Mendröfa. Dr. Erika Mendröfa lulus dari SMA Tapak Tuan, masuk FK-USU tahun 1963 melalui jalur testing. Dokter putri Nias pertama ini berpesan kepada para juniornya, yang terhitung generasi cucunya, yang lagi kuliah di fakultas kedokteran di mana saja, “Belajarlah sungguh-sungguh, jangan menyia-nyiakan apa yang telah didapatkan sekarang sebagai mahasiswa fakultas kedokteran”. (moyo).
v

Facebook Comments