Medan (SIB)
Tokoh masyarakat Sumatera Utara, DR GM Panggabean didampingi istri R. Br Hutagalung, telah dinobatkan sebagai Tuha Samaeni Tano Raya yang artinya kira-kira Raja Pelindung/Pemelihara/Pengayom Tanah Nias Selatan, pada suatu acara pagelaran budaya tradisional Nias Selatan yang cukup meriah dan semarak di Hotel berbintang Arya Duta Palladium Medan, Senin malam (1/12-08). Acara budaya “Friends of Nias” tersebut, diwarnai penuh tari-tarian dan nyanyian Nias serta ceremony khusus penobatan.
Mewakili keluarganya, acara itu turut disaksikan menantu dan putrinya Pak GM, Madja Hutapea dan Gelora Marintan Sia Br Panggabean (Intan).
Acara pagelaran budaya yang diselenggarakan Lembaga Budaya Nias Selatan FURAI diketuai Aliozisokhi Fau SPd itu, turut dihadiri dan disaksikan Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin SE, Kapoldasu Irjen Pol Nanan Sukarna, anggota-anggota DPR-RI yang datang dari Jakarta Yasona Laoly PhD, Drs Arisman Zagoto, anggota DPD-RI Parlindungan Purba SH, MM, beberapa Konsul negara sahabat antara lain DR Rachmad Syah (Turki), Van Diemen (Belanda), Ketua DPRD Nias Selatan DR (HC) Hadirat Manao, Wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha, Plt Sekda Nisel Henkie Yusuf Fao, tokoh-tokoh agama antara lain Pendeta S Lase dari Nias dan Pdt Paul Wakkary (Medan), tokoh-tokoh budayawan dan banyak lainnya.
Sejumlah warga asing juga kelihatan hadir seperti warga Jerman Pastor Johannes Hammerle yang pengelola Museum Pusaka Nias dan Fani Pucali dari Italia.
Pada acara itu, diberikan juga penghargaan Furai Award kepada Pastor Johannes Hammerle yang sudah puluhan tahun mengabdi di Nias dan penghargaan kepada Kepala Perwakilan BRR di Nias William Sahbandar.
Pastor Johannes pada acara itu menyampaikan orasi Budaya, dipandu oleh Ben Pasaribu.
Tokoh-tokoh lainnya yang ikut mendapat penghargaan, yakni DR Rachmad Syah.
Kepada Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin SE sendiri dipakaikan pakaian adat kebesaran Nias Selatan.
Khusus untuk acara kepada Gubsu itu, dilakukan ceremony tersendiri yang dipimpin oleh Plt Sekda Nias Selatan Henkie Yusuf Fao.
DR GM Panggabean yang baru dinobatkan diberi kehormatan untuk memakaikan pakaian adat kebesaran kepada Gubsu H Syamsul Arifin SE, kemudian kelihatan Gubsu dan Pak GM berpelukan, disambut tepuk tangan seluruh hadirin yang terdiri dari ratusan masyarakat yang datang dari Nias Selatan maupun dari Medan sendiri.

Indah Sekali
Dalam kata sambutan penerimaan penobatannya sebagai TUHA SAMAENI TANO RAYA (atau Raja Pelindung/Pemelihara/Pengayom Tanah Nias Selatan), DR GM Panggabean mengatakan, acara ini indah sekali.
“Saya merasa penghargaan ini sebagai anugerah,” kata Pak GM.
“Bukan karena saya gila hormat, atau ingin disanjung-sanjung, bukan! Tetapi ini tidak terlepas dari dukungan saya kepada perjuangan FURAI untuk melestarikan budaya Nias Selatan, dan saya berpendapat, perjuangan serta usaha-usaha mereka itu harus diteruskan, dengan dukungan saya dan dengan dukungan kita semua,” kata Pak GM.
Menurut Pak GM, berdasarkan hal itulah, dirinya tidak mempertanyakan kenapa dia diberikan anugerah penghargaan ini, tapi saya syukuri saja.
Lebih lanjut Pak GM berkata: “Sudah menjadi prinsip saya, kita akan merasa lebih kuat dan lebih berguna, apabila kita dapat berbuat sesuatu untuk orang lain, bukan hanya untuk diri kita sendiri.”
“Keterbelakangan di Nias Selatan dan di Tapanuli umumnya, saya rasakan adalah keterbelakangan saya.”
“Kemiskinan di Nias Selatan dan di Tapanuli umumnya, saya rasakan adalah kemiskinan saya.”
“Itulah dasar pertimbangan saya, maka penghargaan adat ini saya terima dengan tulus dan rendah hati,” jelas Pak GM.

Sebuah Eksperimentasi Kehidupan Bersama
Lebih lanjut pada bagian lain dalam kata sambutannya, DR GM Panggabean yang juga Ketua Umum Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII itu, berkata, meski saya sekarang menjadi warga kehormatan Nias Selatan bukan karena kelahiran, tetapi kami bangga karena dengan demikian, kita bisa membuktikan kepada orang lain, bahwa kita adalah warga Sumatera Utara yang saling berbagi budaya dengan orang lain, mendukung kemajuan suku lain, mendorong menjadikan budaya lain lebih baik, meski kita tidak berasal dari mereka.
“Ini adalah sebuah contoh yang sangat indah untuk kita jadikan sebuah eksperimentasi kehidupan bersama dalam skala yang lebih luas di Sumatera Utara dan Indonesia pada umumnya,” kata Pak GM.

Posisi Nias Selatan
Dalam kata sambutannya, Pak GM juga menyinggung masalah pembangunan di Nias Selatan.
Berkata Pak GM : “Secara jujur harus kita akui, bahwa Nias Selatan harus banyak berbenah. Perjalanan panjang pasca pemekaran di masa lalu masih belum memberikan hasil yang signifikan.
“Dalam catatan kita, posisi Nias Selatan masih lebih sering berada di urutan bagian terakhir dalam berbagai indikator, baik pendidikan, kesehatan, kesejahteraan bahkan indeks mutu hidup manusia (Human Development Indeks). Tetapi hal itu hendaknya tidak menjadi alasan bagi kita di Nias Selatan untuk berputus asa. Kita harus berjuang untuk bisa maju,” kata Pak GM.
Selanjutnya, Pak GM menyerukan seharusnya semua pihak bekerjasama dalam membangun Nias Selatan.
Bupati di sana, haruslah melakukan hal yang benar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mau mendengar aspirasi rakyat.
Artinya, kata Pak GM, bahwa tanpa ada kerjasama yang baik di antara kita, maka Nias Selatan tetap akan berada pada posisi tertinggal. Tidak mungkin warga dari luar Nias Selatan yang memajukan Nias Selatan. Harus ada inisiatif dan kehendak untuk mau bekerja dengan sungguh-sungguh dari seluruh warga Nias Selatan sendiri,” kata Pak GM. (Isi selengkapnya kata sambutan DR GM Panggabean, dapat dibaca di halaman 13).

Gubsu Bangga
Gubsu H Syamsul Arifin dalam kata sambutannya menyatakan, Pemprovsu menyambut positif penyelenggaraan Friend of Nias yang bernilai strategis sekaligus menggali nilai-nilai budaya daerah. Karena di Nias terdapat beberapa hal menarik antara lain adat istiadat, tari-tarian tradisional, cagar budaya serta memiliki panorama indah.
Gubsu berkata, Pemprovsu bangga atas pertunjukan Friends of Nias yang akan konsisten dan teragenda di tingkat nasional bahkan hingga ke mancanegara karena ini membuktikan Sumut daerah yang heterogen tapi mampu memperlihatkan kesatuan dalam keanekaragaman budaya, agama dan adat istiadat. Kegiatan ini diharapkan menjadi daya tarik wisatawan mancanegara mengunjungi Nias dan Sumut.

Diawali Acara Ritual
Penobatan gelar Tuha Samaeni Tano Raya itu diawali ritual Famadaya Harimao yaitu sejumlah rombongan para pemuda berpakaian kesatria Nias memundak patung harimau memasuki ruangan diiringi dentuman musik batu dan musik adruri dana. Aksi itu dilakukan Iwan Sihura dan Komentar Zagoto serta sepuluh pemuda menari moyo. Mereka naik ke pentas yang diikuti Sogaela yaitu para penari melingkari para bangsawan dan calon penerima anugerah adat yang telah duduk di atas pentas yaitu Pak GM dan istri.
Di atas pentas, tokoh-tokoh bangsawan dan tokoh-tokoh adat duduk mengadakan rapat adat. Mereka mengapit DR GM Panggabean dan istri. Dikelilingi setengah lingkar oleh pemuda-pemuda bersenjata tradisional. Ada yang bertanya dan ada yang menjawab. Semua menggunakan bahasa Nias. Dan apabila dicapai suatu kesepakatan, semua berseru “Huuu!” Dan ini terjadi beberapa kali. Kita menjadi semangat mendengarnya. Pakaian mereka warna-warni, dengan warna-warna yang menantang, merah, kuning, dan lain-lain. Mereka juga memakai senjata tradisional, tombak dan parang. Ceremony ini sangat asyik dan memukau. Perlu dilestarikan.
Kemudian dilanjutkan dengan Orahu yakni awal dari pemberian gelar adat dengan menyematkan mahkota kebesaran, baju perang, parang dan tombak perang kepada Pak GM yang dilakukan Hikayat Manao. Kepada Ny GM Panggabean boru Hutagalung juga disematkan pakaian Nias Selatan.
Berbarengan dengan ritual penobatan gelar itu para pemuda Nias melakukan aksi lompat batu atau hombo batu diiringi musik dan tari-tarian perang yang patriotik. Malam Friends of Nias begitu apik dengan kombinasi adat tradisional Nias dipadu tari-tarian klasik yang dikemas oleh even organizer Ben M Pasaribu dan dipandu pembawa acara Drs Cosmas Harefa sehingga mengalir dengan lancar dan bermakna dalam.
Atas anugerah itu Pak GM mengatakan jauh dari lubuk hati terdalam dirinya sangat menghormati penobatan gelar kepada dirinya meskipun hal itu bukan sesuatu yang diminta. Dengan penobatan itu menurut Pak GM dirinya telah menjadi bagian dari masyarakat Nias dan akan bersama-sama membangun kebudayaan dan kesejahteraan Nias di masa-masa yang akan datang.
Pastor Johannes Hammerle dalam orasi budayanya mengungkapkan, Nias salah satu suku yang memiliki sejarah panjang namun buku-buku maupun warisan budaya yang bisa menceritakan sejarah Nias saat ini masih tetap ditelusuri. Salah satu upaya yang sudah dilakukan katanya antara lain museum pusaka Nias yang sudah diresmikan pemakaiannya oleh Letjen (Purn) DR TB Silalahi di Gunung Sitoli pada 18 November 2008 lalu.
Di museum itu telah dikumpulkan beberapa peninggalan nenek moyang Nias dalam bentuk ornament, perkakas tradisional dan berbagai ragam pustaka dalam berbagai bahasa. Di antara pustaka yang ada ditemukan di luar negeri katanya buku Famadaya Harimao yang ditulis tahum 1883 dan Tuturan Tiga Sosok Nias yang ditulis kepala negeri di Sungai Mola di Nias.
Disebutkan, ada juga buku yang mengisahkan kedatangan seorang Polandia ke Nias. Mereka datang membawa dua pucuk meriam dari Aceh dan saat ini bisa dilihat di halaman Kantor Bupati Nias dan di depan Mesjid Raya di Gunung Sitoli. Yayasan Museum Nias pun kata Pastor sudah menjalin hubungan dengan lembaga arsip Belanda di Leiden untuk membantu pemulangan kembali arsip-arsip maupun peninggalan asli Nias yang masih tersebar di Eropa.
Berbicara tentang Furai, Johannes mengatakan, di Nias ada kata Fura yang artinya emas kecil dibungkus kain. Ada juga istilah lain Fura itu berarti waspadai api agar jangan padam, karena di masa lampau di Nias itu api sulit dihidupkan. Dari penuturan para tetua di Nias kepadanya sekira 25 tahun lalu, Furai itu kata Pastor berarti memelihara sikap waspada agar api jangan sampai padam dan jangan sampai membakar kampung pula. “Memang adat jaman dulu sekarang ini dianggap ketinggalan jaman. Tapi malam ini adat itu perlu dipelihara supaya generasi muda Nias tidak kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Sementara Ben Pasaribu mengatakan, Furai sejak malam Friends of Nias akan memberikan award setiap tahunnya kepada setiap orang yang mau dan peduli dan memperjuangkan masyarakat dan kebudayaan Nias. (M-17/M3/R-10/R1/f)

Sumber:
http://hariansib.com/2008/12/15/dr-gm-panggabean-dinobatkan-sebagai-tuha-samaeni-tano-raya/,
tgl. 15 Des. 2008

Facebook Comments