Oleh Wa’özisökhi Nazara*

3.2. Proses morfofonemik yang terjadi pada verba
Perubahan bunyi pada verba bahasa Nias tergolong asimilasi progresif, yakni perubahan bunyi karena bunyi yang mendahului bunyi itu. Bunyi yang mengalami asimilasi ketika bertemu dengan morfem terikat itu disajikan berikut ini.

Jika morfem bebas (verba) yang mulai dengan bunyi konsonan bilabial bersuara [b] bergabung dengan morfem terikat (prefiks) ma-, bunyi konsonan bilabial bersuara [b] yang berada di awal verba itu berubah menjadi bunyi konsonan bilabial nasal [m]. Data berikut menunjukkan hal ini.
ma + badu → mamadu ‘meminum’
ma + böbö → mamöbö ‘mengikat’

Jika morfem bebas (verba) yang mulai dengan bunyi konsonan labio-dental tidak bersuara [f] bergabung dengan morfem terikat (prefiks) ma-, bunyi konsonan labio-dental tidak bersuara [f] yang berada di awal verba itu berubah menjadi bunyi konsonan bilabial nasal [m]. Data berikut menunjukkan hal ini.
ma + femondi → mamemondri ‘memandikan’
ma + fahö → mamahö ‘menikam’

Jika morfem bebas (verba) yang mulai dengan bunyi konsonan alveolar hambat tidak bersuara [t] bergabung dengan morfem terikat (prefiks) ma-, bunyi konsonan alveolar hambat tidak bersuara [t] yang berada di awal verba itu berubah menjadi bunyi konsonan alveolar nasal [n]. Proses morfofonemik ini juga terjadi pada verba yang mulai dengan bunyi konsonan alveolar frikatif [s]. Data berikut menunjukkan hal ini.
ma + sasai → manasai ‘mencuci’
ma + tutu → manutu ‘menumbuk’

Jika morfem bebas (verba) yang mulai dengan bunyi konsonan alveolar hambat bersuara [d] bergabung dengan morfem terikat (prefiks) ma-, bunyi konsonan alveolar hambat bersuara [d] yang berada di awal verba itu berubah menjadi bunyi konsonan dento-alveolar getar [ndr], sedangkan bunyi vokal pada prefiks ma- berubah menjadi vokal [o]. Proses morfofonemik ini juga terjadi pada verba yang mulai dengan bunyi konsonan alveolar getar [r]. Data berikut menunjukkan hal ini.
ma + döni → mondröni ‘menarik’
ma + rörö → mondrörö ‘menenangkan’

Jika morfem bebas (verba) yang mulai dengan bunyi konsonan velar hambat tidak bersuara [k] bergabung dengan morfem terikat (prefiks) ma-, bunyi konsonan velar hambat tidak bersuara [k] yang berada di awal verba itu berubah menjadi bunyi konsonan velar hambat bersuara [g], sedangkan bunyi vokal pada prefiks ma- berubah menjadi vokal [o]. Proses morfofonemik ini juga terjadi pada verba yang mulai dengan bunyi konsonan velar frikatif tidak bersuara [kh]. Data berikut menunjukkan hal ini.
ma + kaoni → mogaoni ‘memanggil’
ma + khoi → mogoi ‘membedah’

Simpulan
Proses morfofonemik dalam bahasa Nias terjadi pada nomina dan verba. Morfofonemik yang terjadi pada nomina terbagi atas dua jenis. Kedua jenis itu adalah perubahan bunyi konsonan dan penambahan bunyi konsonan. Perubahan bunyi konsonan terjadi jika sebuah nomina mulai dengan bunyi konsonan. Perubahan itu ada dua macam: perubahan konsonan tidak bersuara menjadi konsonan bersuara dan perubahan konsonan bersuara menjadi konsonan bersuara lain. Penambahan bunyi konsonan terjadi pada nomina yang mulai dengan bunyi vokal.

Proses morfofonemik yang terjadi pada verba pada hakikatnya berupa asimilasi nasal. Asimilasi terjadi ketika morfem terikat (prefiks) ma- bergabung dengan morfem bebas (verba) yang mulai dengan bunyi konsonan tertentu. Bunyi konsonan tertentu itu adalah bunyi konsonan bilabial bersuara [b], bunyi konsonan labio-dental tidak bersuara [f], bunyi konsonan alveolar hambat tidak bersuara [t], bunyi konsonan alveolar hambat bersuara [d], bunyi konsonan alveolar getar [r], bunyi konsonan velar hambat tidak bersuara [k], atau bunyi konsonan velar frikatif tidak bersuara [kh].
Proses morfofonemik, baik mutasi yang terjadi pada nomina maupun asimilasi nasal yang terjadi pada verba, umumnya menunjukkan suatu pola/kaidah yang bisa dipreksi secara logis. Hubungan tempat artikulasi (place of articulation), kesamaan cara artikulasi (manner of articulation), dan kesamaan dalam hal kebersuaraan memegang peranan penting dalam proses morfofonemik dalam bahasa Nias.

Daftar Pustaka

Artawa, Ketut. 2005. Tipologi Bahasa dan Komunikasi Lintas Budaya (orasi ilmiah pada upacara pengukuhan jabatan guru besar linguistik di Fakultas Sastra Universitas Udayana, 24 September 2005). Denpasar: UNUD.
BPS dan BAPPEDA Kabupaten Nias 2006. Nias dalam Angka 2005. Gunungsitoli: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat II Nias dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias.
Brown, Lea. 2001. A Grammar of Nias Selatan (disertasi). University of Sydney.
Brown, Lea. 2005a. Nias. Dalam Adelaar, Alexander, dan Himmelmann, Nikolaus P., penyunting. The Austronesian Languages of Asia and Madagascar. London and New York: Routledge. Hal. 562-589.
Brown, Lea. 2005b. “Ergative Case in Nias” (makalah disajikan pada Association for Linguistic Typology 6th Biennial Meeting, 21—25 Agustus 2005). Padang: Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, UNIKA Atmajaya, UBH.
Busenitz, Robert L, and Marilyn J. Busenitz. 1991. Balantak Phonology and Morphophonemics. Dalam Sneddon, J.N., editor. Studies in Sulawesi Linguistics: Part II. Jakarta: Lembaga Bahasa Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Hal. 29-47.
Carstairs-McCarthy, Andrew. 1992. Current Morphology. London and New York: Routledge.
Comrie, Bernard. 1989. Language Universals and Linguistic Typology (2nd ed.). Chicago: The University of Chicago Press.
Crystal, David. 1991. A Dictionary of Linguistics and Phonetics. Third Edition. Oxford: Blackwell Publishers.
Donohue, Mark. 1999. A Grammar of Tukang Besi. Berlin and New York: Mouton de Gruyter.
Dryer, Matthew. 2005. Languages of Sumatera from Geographical Perspective (makalah kunci disajikan pada Association for Linguistic Typology 6th Biennial Meeting, 21—25 Agustus 2005). Padang: Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Unika Atmajaya,UBH.
Finegan, Edward dan Niko Besnier. 1989. Language: Its Structure and Use. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Grix, Jonathan. 2004. The Foundation of Research. New York: Palgrave Macmillan.
Halaa, T., A. Harefa, dan M. Silitonga 1983. Struktur Bahasa Nias. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Katamba, Francis. 1993. Morphology. London: Macmillan Press Ltd.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik, 3rd Ed. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Lauder, Multamia RMT. 2005. Pelacakan Bahasa Minoritas dan Dinamika Multikultural. Jurnal Ilmu-ilmu Budaya Nomor 10, Agustus 2005. Hal. 150-171.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
McCarthy, Michael J. 1991. Morphology. Dalam Malmkjær, Kirsten and James M. Anderson, editors. The Linguistics Encyclopedia. London and New York: Routledge. Hal. 314-324.
Matthews, Peter 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford New York: Oxford University Press.
Nazara, Wa’özisökhi 2005a. Subjek Bahasa Nias. (makalah disajikan pada Kongres Linguistik Nasional XI, 17−21 Juli 2005). Padang: Pusat Bahasa dan MLI.
Nazara, Wa’özisökhi. 2005b. Nias in Typology Perspective (makalah disajikan pada Association for Linguistic Typology 6th Biennial Meeting, 21—25 Agustus 2005). Padang: Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, UNIKA Atmajaya, UBH.
Nazara, Wa’özisökhi. 2006. ‘Objek dalam Bahasa Nias’, Jurnal Linguistika, Vol.13 No. 24. Hal. 1-14.
Schendl, Herbert. 2001. Historical Linguistics. Oxford: Oxford University Press.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Dutawacana University Press.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Trask, R. L. 1993. A Dictionary of Grammatical Terms in Linguistics. London dan New York: Routledge.
Zendrato, Dal., STh, Pdt. 1997. Pengantar Tata Bahasa Daerah Nias Jilid II (untuk Kalangan sendiri). Manuskrip.

* Drs. Wa’özisökhi Nazara, M.Hum. adalah Dosen/Pembantu Ketua I pada STBA Prayoga Padang. Tulisan ini telah diterbitkan oleh APTISI Wilayah X-A (KOPERTIS Wilayah X) di Jurnal AKADEMIKA Volume 11 No.2: Oktober 2007

Facebook Comments