Oleh Wa’özisökhi Nazara*

Catatan Redaksi: Karena tulisan ini relatif panjang, maka kami menampilkannya dalam tiga bagian.

ABSTRACT

This is a morphophonemic analysis on Nias, an Austronesian language spoken by about 700,000 people. Most of them live on the island of Nias. Morphophonemic processes in the vocalic language occur in nouns and verbs. Morphophonemic processes which occur in nouns are of two types: (1) addition of a certain sound to the beginning of the host and (2) change of the initial sound of the host. The function of the noun/host in the clause subcategorizes for the addition of a certain sound to the beginning of the host and change of the initial sound of the host. The first morphophonemic process occurs to the noun beginning with vowel. The latter occurs to the noun initiating with consonant.

Morphophonemic process, which occurs to verbs, is nasal assimilation in nature. Nasal assimilation particularly occurs when bound morpheme ma- is attached to a verb beginning with voiced bilabial stop consonant, voiceless labio-dental consonant, both voiceless and voiced alveolar stop consonants, alveolar trill, voiceless velar stop consonant, and voiceless velar fricative consonant. The morphophonemic processes in Nias correlate with place of articulation, manner of articulation, and voicing.

1. Pendahuluan
Bahasa Nias, merupakan bahasa vokalik dengan jumlah penutur sekitar 700.000 orang, tergolong bahasa daerah yang yang jumlah penuturnya kurang dari satu juta. Keadaan ini jelas kurang kondusif bagi kelestarian bahasa Nias. Bahasa daerah yang jumlah penuturnya sedikit cenderung merupakan bahasa yang tidak mempunyai tulisan (Lauder 2005). Oleh sebab itu, tulisan ini diharapkan bisa memberi kontribusi terhadap pelestarian bahasa daerah Nias.

Ada beberapa tulisan mengenai bahasa Nias. Akan tetapi jumlahnya sangat terbatas dan tidak ada yang khusus mengenai morfofonemik. Terbatasnya jumlah tulisan mengenai bahasa Nias tersebut, antara lain, disebabkan oleh kurangnya perhatian para linguis terhadap bahasa Nias. Halawa dkk (1983) menegaskan, “Bahasa Nias adalah salah satu dari sekian banyak bahasa daerah di Indonesia yang kurang mendapat perhatian ahli-ahli bahasa.” Tulisan bertajuk “Morfofonemik Bahasa Nias” ini adalah salah satu wujud perhatian dan kepedulian penulis sebagai linguis dan penutur bahasa Nias untuk mengisi “kelangkaan” tulisan yang khusus mengenai morfofonemik bahasa Nias.

2. Kerangka Teori
Ada tiga istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan interaksi antara morfologi dan fonologi. Interaksi antara morfologi dan fonologi tersebut di kalangan para linguis Amerika umumnya disebut morfofonemik. Akan tetapi, para linguis Eropa lebih menggandrungi istilah morfofonologi atau morfonologi (Crystal 1991). Dalam tulisan ini digunakan istilah morfofonemik, sejalan dengan judulnya “Morfofonemik Bahasa Nias”.

Definisi morfofonemik tidak seragam di kalangan para linguis. Beberapa linguis mendefinisikan morfofonemik secara luas, sebagian lainnya memberi definisi yang lebih sempit. Dalam arti luas, morfofonemik adalah kajian mengenai struktur fonologis morfem, variasi fonemis yang dialami oleh morfem ketika bergabung dengan morfem lain, dan kajian mengenai rangkaian perubahan (McCarthy 1991). Struktur fonologis morfem berkenaan dengan kombinasi fonem yang diperbolehkan dalam suatu bahasa. Variasi fonem menyangkut alomorf. Rangkaian perubahan menyangkut perubahan berulang fonem sebelum afiks tertentu. Perubahan fonem yang dimaksud dalam pengertian ini mencakup perubahan dari satu fonem ke fonem lain, tidak hanya antara alofon.

Definisi morfofonemik dalam arti luas juga dikemukakan oleh Kridalaksana (1993). Menurut Kridalaksana, morfofonemik atau morfofonologi tidak hanya mengacu pada analisis dan klasifikasi pelbagai ujud atau realisasi yang menggambarkan morfem. Morfofonemik juga mengacu pada struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dari morfem. Penambahan, pengurangan, penggantian fonem, atau perubahan tekanan yang menentukan bangun morfem termasuk di dalam struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dimaksud.

Pengertian morfofonemik tersebut di atas sejalan dengan pengertian morfofonemik menurut Crystal (1991) yang menyatakan bahwa morfofonemik adalah cabang linguistik mengenai pengkajian dan pengklasifikasian faktor-faktor fonologis yang mempengaruhi kemunculan morfem atau faktor-faktor gramatikal yang berperan dalam pemunculan fonem. Dalam pengertian ini, morfofonemik dianggap sebagai tataran tersendiri struktur linguistik antara gramatika dan fonologi.

Hockett (McCarthy 1991) mengemukakan definisi yang pada prinsipnya sejalan dengan pengertian morfofonemik yang dikemukakan oleh Crystal. Hockett menganggap setiap frase menyangkut bentuk fonemik morfem sebagai kajian morfofonemik. Oleh sebab itu, Hockett menekankan, morfofonemik merupakan inti kajian bahasa.

Inti kajian terhadap perubahan fonem adalah pemahaman mengenai sandhi. Sandhi berusaha menjelaskan perubahan fonologis bentuk-bentuk yang digabungkan satu sama lain. Ini sejalan dengan pendapat Trask (1993) yang menyatakan bahwa sandhi meliputi aneka fenomena mengenai bentuk kata atau morfem yang dimodifikasi oleh kehadiran kata atau morfem berdampingan. Sandhi, yang menyangkut kata atau morfem itu, bisa dibedakan atas sandhi internal dan sandhi eksternal. Modifikasi internal terjadi dalam kata, sedangkan modifikasi eksternal melintasi batas kata. Fenomen yang ditemukan dalam bahasa Latin reg- ‘raja’ (bentuk dasar) + -s (kasus nominatif) menjadi rex [reks] adalah satu contoh modifikasi internal, sedangkan fenomena bahasa Inggris would + you menjadi [‘wudju:] adalah satu contoh modifikasi eksternal.

Perubahan atau modifikasi adalah kata kunci dalam morfofonemik. Sebagaimana dikemukakan oleh Busenitz dan Busenitz (1991), morfofonemik menguraikan perubahan fonem-fonem dalam morfem tertentu yang terjadi dalam lingkungan fonologis unik. Perubahan terhadap bentuk dasar morfem menghasilkan varian atau alomorf. Dalam penelitian mereka terhadap bahasa Balantak, kedua linguis ini memaparkan morfofonemik yang meliputi perubahan konsonan, perubahan vokal, dan perubahan pronomina persona kedua tunggal. Perubahan konsonan mencakup asimilasi nasal dan pelesapan konsonan. Perubahan vokal meliputi penyesuaian vokal dan penyisipan vokal.

Dalam pengertian sempit, morfofonemik lebih dibatasi pada kajian mengenai bentuk perubahan yang terjadi pada morfem. Hocket dan Wells (McCarthy 1991), misalnya, lebih memusatkan perhatian pada perbedaan-perbedaan bentuk fonemik alternan-alternan morfem daripada struktur fonemik.

Proses morfofonemik ditemukan dalam berbagai bahasa. Proses morfofonemik tampak antara lain dalam morfem jamak, morfem lampau, morfem in-, dan morfem persona ketiga tunggal pada verba dalam bahasa Inggris (Finegan dan Besnier 1989). Perubahan bunyi yang terjadi pada masing-masing morfem terikat ini ketika bergabung dengan morfem bebas akan dikemukakan secara ringkas berikut ini.

Morfem jamak dalam bahasa Inggris memiliki tiga variasi bentuk. Apabila suatu nomina berakhir dengan fonem /s, z, š, ž, č, ĵ/, yaitu bunyi konsonan yang tergolong sibilan, maka mofem jamak pada nomina itu berwujud [әz]. Kata-kata bus → buses, fuse → fuses, bush → bushes, peach → peaches, judge → judges adalah beberapa kata dalam bahasa Inggris yang morfem jamaknya adalah [әz]. Akan tetapi, jika suatu nomina berakhir dengan bunyi konsonan tidak bersuara, selain sibilan, maka morfem jamaknya berwujud [s]. Kata-kata dalam bahasa Inggris book → books, cat → cats, path → paths, tip → tips, whiff → whiffs adalah beberapa di antara kata-kata yang menunjukkan varian morfem jamak [s]. Apabila suatu nomina berakhir dengan bunyi bersuara, selain bunyi sibilan, maka morfem jamaknya berwujud [z]. Kata-kata dalam bahasa Inggris car → cars, pen → pens, day → days, bag → bags adalah beberapa di antara nomina yang menunjukkan varian morfem jamak [z].

Proses morfofonemik pada morfem lampau tampak jelas pada penggabungan morfem terikat (bound morfem) dengan morfem bebas (free morfem) pada verba beraturan (regular verbs). Morfem lampau pada verba beraturan dalam bahasa Inggris memiliki tiga varian. Ketiga varian itu adalah [t], [d], dan [әd]. Bentuk [d] bisa dianggap sebagai bentuk asal (underlying form). Distribusi bunyi [d] paling lengkap dibandingkan dengan distribusi bunyi [t] dan [әd].

Varian morfem lampau berwujud [t] apabila morfem lampau tersebut bergabung dengan morfem bebas yang berakhir dengan bunyi konsonan tidak bersuara. Bunyi-bunyi tidak bersuara dimaksud adalah /f/, /k/, /p/, /s/, /š/, dan /č/. Morfem bebas (kata) dalam bahasa Inggris puff → puffed, work → worked, stop → stopped, kiss → kissed, wish → wished, preach → preached adalah beberapa morfem bebas (kata) yang menunjukkan varian morfem lampau [t]. Morfem lampau direalisasikan [әd] apabila morfem bebas yang berakhir dengan bunyi alveolar stop. Dengan kata lain, apabila morfem lampau (past tense morpheme) mengikuti morfem bebas yang berakhir dengan bunyi [t] atau [d] maka morfem lampau itu direalisasikan dengan [∂d].

Uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa proses morfofonemik yang terjadi ketika morfem terikat bertemu dengan morfem bebas mengikuti kaidah tertentu. Hal ini sejalan dengan uraian yang dikemukan oleh Katamba (1993) mengenai morfofonemik. Katamba menyebut empat jenis distribusi alomorf. Pertama, distribusi alomorf yang ditentukan oleh kondisi fonologis (phonological conditioning). Sebagai contoh, apabila morfem jamak bertemu dengan morfem bebas yang berakhir dengan bunyi alveolar atau alveolar sibilant maka morfem jamak itu direalisasikan dengan bunyi [∂z]. Akan tetapi, jika morfem jamak bertemu dengan morfem yang berakhir dengan bunyi konsonan tidak bersuara non-strident maka morfem jamak itu direalisasikan dengan bunyi [-s], sedangkan realisasi [-z] muncul apabila morfem jamak bergabung dengan morfem yang tidak diakhiri dengan bunyi alveolar/alveolar sibilant atau bunyi konsonan tidak bersuara non-strident.

Kedua, distribusi yang ditentukan oleh kondisi gramatikal (grammatical conditioning). Sebagai contoh, kehadiran morfem lampau menentukan pilihan alomorf /wep/ dan /swep/ dari /wi:p/ dan /swi:p/. Demikian pula dalam pilihan alomorf took dan shook dari take dan shake. Pilihan alomorf took dan shook dari take dan shake ditentukan oleh kehadiran morfem lampau (past tense morpheme).

Ketiga, distribusi alomorf yang ditentukan oleh kondisi leksikal (lexical conditioning). Distribusi varian ini adalah distribusi alomorf tertentu yang terjadi pada kata tertentu. Ini tampak dalam kata oxen yang merupakan hasil penggabungan morfem jamak (-en) dengan nmorfem bebas (ox).

* Catatan: Drs. Wa’özisökhi Nazara, M.Hum. adalah Dosen/Pembantu Ketua I pada STBA Prayoga Padang. Tulisan ini telah diterbitkan oleh APTISI Wilayah X-A (KOPERTIS Wilayah X) di Jurnal AKADEMIKA Volume 11 No.2: Oktober 2007

Bersambung ke bagian 2 …..