WASHINGTON, JUMAT — Meski tak dapat memastikan secara pasti kapan akan terjadi, gempa besar Sumatera yang selama ini diwaspadai mungkin akan terjadi dalam beberapa puluh tahun ke depan. Artinya, ancaman tersebut patut diwaspadai setidaknya bagi generasi masyarakat yang hidup saat ini, hingga anak dan cucunya.

Hal tersebut merupakan inti penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science terbaru. Harapannya tentu jangan sampai korban lebih dari 200.000 orang kembali terulang seperti saat gempa dan tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004 karena tidak ada peringatan dini waktu itu. “Bagaimanapun, siapapun yang tinggal di daerah rawan sepanjang pantai barat Sumatera harus tahu bahwa gempa besar dan tsunami kemungkinan besar akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan, termasuk anak-anaknya,” ujar Kerry Sieh dari Institut Teknologi California (Caltech), penulis utama penelitian yang dipublikasikan jurnal Science edisi Jumat (12/12).

Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan sejarah kegempaan di sekitar Kepulauan Mentawai. Salah satunya dari rekaman perubahan muka air laut yang terekam dalam pertumbuhan karang. Sieh dan timnya telah mempelajari karang yang tumbuh di sepanjang 700 kilometer di sebelah selatan pusat gempa Aceh, terutama di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Dari catatan alam tersebut, para peneliti menemukan empat siklus tsunami selama 700 tahun terakhir, yakni peristiwa tahun 1350 ke 1380, tahun 1606 ke 1685, dan tahun 1797 ke 1833.

Setelah gempa Aceh tahun 2004, kawasan tersebut juga diguncang gempa dengan skala 8,4 tahun 2007. Sesuai siklus tersebut, para peneliti memprediksi gempa tahun 2007 itu akan diikuti gempa besar yang berpeluang mencapai skala 8,8. Perkiraan Sieh memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang dimuat dalam jurnal Nature minggu lalu.

Energi yang tersimpan di bawah Kepulauan Mentawai akibat desakan lempeng samudera kepada lempeng benua yang dikumpulkan sejak gempa besar terakhir tahun 1883 masih sangat besar. Hal tersebut dilihat dari data pengukuran GPS di sejumlah tempat yang menunjukkan tidak ada pergeseran berarti di daratan sekitar Kepulauan Mentawai.

Menurut Danny Hilman Natawidjaja, pakar gempa LIPI yang turut dalam penelitian di Mentawai temuan ini bukan sesuatu yang baru. Namun, publikasi di jurnal ilmiah telah dievaluasi lebih komprehensif dengan mengintegrasikan banyak data dari pengukuran GPS, pengamatan koral, dan sejarah kegempaan di kawasan tersebut.

Namun, mengingat banyak variabel yang menentukan besar gempa, sejauh ini mustahil memastikan perkiraan dengan pasti. Jika benar gempa sebesar 8,8 yang terjadi, gelombang tsunami dapat menghantam Padang dengan ketinggian minimal 5 meter. Gempa Aceh yang berskala 9,2 sebagai perbandingan menghasilkan gelombang antara 5-12 meter. “Korban dan kerusakan material bisa setara dengan yang terjadi di Provinsi Aceh tahun 2004,” ujar Sieh. Namun, dengan kesiagaan masyarakat seperti tanggap bencana di Padang, jumlah korban dapat ditekan.

Tri Wahono
Sumber : AP

Sumber: Kompas.com

Facebook Comments