Perkembangan umat beragama, baik Islam, Katolik, Kristen, ataupun Hindu dan Buddha di Indonesia pesat sekali. Namun, ironisnya semakin banyak pula manusianya yang menyeleweng. Dalam kaitan itu, mantan Menteri Negara Pembedayaan Aparatur Negara (Menneg PAN) Letjen (Purn) Dr TB Silalahi mengimbau umat Katolik di Nias yang tengah merayakan Jubileum 50 Tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga, agar membahas masalah tersebut, sehingga ajaran agama masuk pada umatnya, supaya Indonesia tidak makin terpuruk yang mengakibatkan negeri kita terpecah-belah.

Penasihat Presiden, TB Silalahi yang juga warga/tokoh kehormatan Nias yang selama ini banyak memberi perhatian dalam pembangunan Nias, terutama melalui mengalirnya bantuan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) dari pemerintah setelah peristiwa tsunami dan gempa, mengatakan hal tersebut dalam pembukaan jubileum bertema Jadilah Saksi Kristus, Marilah Kita Membangun Gereja yang Mandiri dan Solider di Gunung Sitoli, Nias, baru-baru ini.

Hadir pada acara itu Bupati Nias Binahati B Baeha, tokoh-tokoh agama dan masyarakat, pastor, dan suster, serta ratusan umat Katolik. Menurut TB Silalahi, supaya kompetitif, rakyat harus cerdas secara intelektual (IQ) dan memiliki keahlian tertentu, cerdas secara emosional (EQ), jujur dan memiliki nurani yang mantap, dan cerdas secara agama. “Di sinilah peranan gereja itu untuk membuat Nias lebih maju dan sejajar dengan daerah lain yang maju,” ujarnya.

Silalahi sangat terharu sekaligus bangga melihat upaya gereja Katolik dan masyarakat Nias yang mau melestarikan budaya, mandiri, dan hidup berdampingan dalam perbedaan, serta saling membangun di berbagai bidang. Dia juga bangga melihat perkembangan Nias saat ini, melalui dana bantuan dari berbagai pihak pascabencana, jalan sudah mulus, kota dan pasar di Gunung Sitoli yang hancur sudah berdiri kembali.

Ketika gempa, dia langsung menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar pukul 03.00 WIB, dan melaporkan kondisi Nias yang porak poranda, rumah-rumah hancur dan di sana-sini tubuh tak bernyawa bergelimpangan. Dia minta izin Presiden agar membolehkan pesawat-pesawat asing langsung terbang ke Nias dari Singapura.

“Sekarang, tinggal bagaimana saudara-saudara memelihara ini semua. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Ke depan, Nias bisa lebih maju, bersatulah membangun. Jangan pertengkarkan adat dan agama. Sinergikan sejauh itu tidak melanggar doktrin gereja,” tandasnya pula.

Prefektur Apostolik

Tahun 2009, Keuskupan Sibolga genap berusia 50 tahun sejak penetapan sebagai Prefektur Apostolik 1958, tiga tahun setelah misionaris Capusin Asal Jerman yang pertama sampai di Nias. Dua puluh tahun kemudian, barulah status tersebut diangkat menjadi keuskupan.

Dalam rangka perayaan ini, Uskup menginginkan digelarnya satu tahun persiapan jubileum, yang pembukaannya pada Selasa (18/11) di Paroki St Maria, Gunung Sitoli. Tahun 2008, dibuat penelitian yang akan menjadi bahan Keuskupan untuk menyusun rencana strategis, tim di bawah pimpinan P Huber SVD.

Dalam rangka jubileum, digelar juga Tahun Pertobatan Santo Paulus, yang diisi dengan seminar tentang Rasul Paulus. Dua doktor Kitab Suci, P Paulus Toni OFM Cap dari STFT Siantar dan Rm Indra dari Yogyakarta, memaparkan ceramah tentang teologi dan surat-surat St Paulus.

Umat Katolik di Paroki Gunung Sitoli (kota) terdiri dari berbagai varian suku, antara lain Nias (yang terdiri dari berbagai marga), Tionghoa, Batak, dan Jawa. Jumlah umat Katolik di paroki kota sekitar 3.436. Mata pencaharian mereka, pegawai pemerintahan, guru, tukang becak, tukang bangunan, dan pelajar/mahasiswa. Paroki distrik Gunung Sitoli memiliki 48 stasi yang tersebar di desa-desa di berbagai kecamatan. [SP/Rina Ginting]

Sumber: Suara Pembaruan

Facebook Comments