Selasa, 9 Desember 2008

Wellington, Kompas – Program rehabilitasi-rekonstruksi pascatsunami yang dikoordinasikan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias terbukti menghadirkan terobosan baru dalam penanganan bencana alam, khususnya di Indonesia. BRR Aceh-Nias, misalnya, membangun sistem basis data yang memungkinkan transparansi kemajuan proyek yang berlangsung di Aceh dan Nias.

Data GIS yang akurat juga digunakan dalam manajemen aset. Sementara untuk menekan risiko korupsi, komponen BRR ”diikat” dengan Pakta Integritas dan juga diperkenalkan pada satuan antikorupsi. Bahkan kantor perwakilan Komisi Pemberantasan Korupsi di daerah untuk pertama kali didirikan di Aceh hanya karena BRR benar-benar ingin menjaga kepercayaan dari para donor.

Hal itu dipaparkan Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh-Nias Kuntoro Mangkusubroto dalam public lecture yang disampaikan di Ilot Theatre, Kantor Wali Kota Wellington, Selandia Baru, Senin (8/12) petang.

Selama satu jam, sekitar 200 orang dengan tekun menyimak paparan Kuntoro. Hadir juga dalam kesempatan itu Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Amris Hassan.

Kuntoro memaparkan fakta capaian rehabilitasi-rekonstruksi Aceh-Nias. Sampai dengan November 2008, setidaknya 124.454 rumah, 1.135 sekolah, dan 2.971 kilometer jalan sudah dibangun, serta 101.240 hektar lahan pertanian terpulihkan.

Nias yang sebelumnya tidak tersentuh pembangunan juga berkembang sangat signifikan. Jalanan membaik, jembatan yang rusak dibangun lebih baik. Selain perumahan dan infrastruktur yang dibangun, kondisi sosial-ekonomi pun berangsur pulih.

”Ketika ada kemacetan, itu tanda ekonomi mulai membaik,” kata Kuntoro.

Sejak bencana gempa dan tsunami Aceh-Nias pada Desember 2004, total 12.500 proyek dikerjakan di Aceh dan Nias oleh pemerintah, negara asing, maupun organisasi nonpemerintah.

Sebanyak lebih dari 5.000 relawan dalam negeri terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi, juga setidaknya 16.000 relawan yang berasal dari 34 negara. Program rehabilitasi-rekonstruksi Aceh-Nias juga merupakan operasi militer nonperang yang terbesar dalam 50 tahun terakhir di Indonesia.

Kepercayaan negara donor itu terbukti dengan adanya bantuan dana yang terealisasi mencapai 6,7 miliar dollar AS atau mencapai 93 persen dari yang dijanjikan. Capaian itu jauh lebih besar ketimbang bantuan kemanusiaan untuk bencana alam di negara lain.

Kuntoro meyakini kinerja BRR menjadi dasar pertimbangan para penyumbang. Kuntoro berterima kasih atas bantuan para donor, termasuk Selandia Baru, dalam pembangunan kembali Aceh dan Nias.

Hubungan

Dalam sambutannya pada awal acara, Wali Kota Wellington Kerry Predergast menyatakan pengalaman BRR di Aceh dan Nias merupakan pelajaran berharga bagi Wellington dan juga Selandia Baru. Terlebih Selandia Baru juga berada di jalur aktif cincin api.

Kehadiran Kuntoro berbagi pengalaman di BRR sekaligus merupakan upaya penguatan hubungan Indonesia dan Selandia Baru. (SIDIK PRAMONO dari Selandia Baru)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/09/02112035/terobosan.dalam. rehabilitasi, tgl. 09 Des. 2008

Facebook Comments