Oleh Katamsi Ginano

TEMPO Interaktif, Jakarta: Wartawan pemenang Pulitzer 1998, Tim Weiner, mengguncang Indonesia. Hari-hari terakhir ini bukunya, Legacy of Ashes: The History of CIA (di Indonesia diterbitkan pada 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Membongkar Kegagalan CIA), menggerahkan banyak pihak. Penyebabnya “cuma” kurang dari lima halaman yang dimulai dengan kutipan dari mantan perwira CIA, Clyde McAvoy, yang pernah bertugas di Indonesia pada 1960-an.

Mengutip McAvoy, Wiener menulis bahwa pejabat tertinggi Indonesia yang pernah direkrut CIA adalah tokoh nasional Adam Malik (almarhum). Mantan menteri luar negeri dan wakil presiden yang bahkan telah disemati gelar Pahlawan Nasional ini diklaim menjadi salah seorang operator utama CIA berkaitan dengan penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang meletus pada 30 September 1965.

Penyesalan dan kecaman pun berhamburan. Tak kurang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono bereaksi keras (Koran Tempo, 25 November). Bahkan keluarga Adam Malik bergegas menyiapkan data-data untuk membantah klaim yang dilontarkan McAvoy (Koran Tempo, 26 November).

Mengingat ketokohan Adam Malik, wartawan andal yang ikut mendirikan kantor berita Antara dan diplomat ulung yang sejarah kepatriotannya telah ditulis dengan “P”, klaim agen CIA sungguh meresahkan. Lepas dari sumirnya klaim tersebut–karena hanya berasal dari satu sumber dan tidak didukung bukti-bukti lain, terutama yang tertulis–kita tentu tak rela bila tokoh seterhormat itu ternyata diduga tak lebih dari tukang jual negerinya ke pihak asing.

Nasionalisme masyarakat Indonesia, bukan hanya Wapres, Ketua DPR, Presiden, atau para sejarawan, pasti terluka parah. Karena itu, lebih dari pantas bila klaim tersebut ditelusuri, diverifikasi, dan kemudian diluruskan, bila memang pada akhirnya hanya sekadar kesembronoan McAvoy. Tim Weiner pun mesti bergegas merevisi bukunya demi memulihkan nama baik Adam Malik. Saya yakin, hingga di titik itu, tak ada satu pun warga negeri ini yang tidak sependapat.

Tapi benarkah nama baik Adam Malik dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap tokoh pahlawannya adalah substansi masalah? Menurut saya, tidak. Pokok soal yang sebenarnya justru terletak ketidakpedulian masyarakat Indonesia, para pemimpinnya, dan para sejarawan terhadap sejarah sendiri; serta–yang tak kurang penting–buruknya budaya baca dan riset; juga terlalu sukanya rakyat negeri ini terhadap asumsi akibat ketidaklengkapan pengetahuan dan informasi.

Pengetahuan kita terhadap sejarah Indonesia, terutama di zaman paling bergolak di akhir 1960 hingga paruh 1970-an, hingga kini boleh dibilang jauh dari lengkap. Sebagian besar diakibatkan oleh desain Orde Baru yang bertahun-tahun sukses mengintroduksi versi sejarah yang diinginkan; dan menutup rapat adanya upaya mengungkap sisi lain, termasuk warna-warni keterlibatan aktor-aktornya. Hasilnya adalah polarisasi: tokoh-tokoh sejarah hanya terdiri atas dua kutub utama, mereka yang dipersepsikan sebagai “tokoh baik” dan dengan demikian mesti tanpa cacat; dan tokoh-tokoh yang dipersepsikan buruk, yang perannya sedapat mungkin tak perlu dipercakapkan lagi karena berpotensi negatif terhadap stabilitas negara.

Tan Malaka, misalnya, tokoh yang sesungguhnya memiliki andil sejarah luar biasa terhadap proses Indonesia menuju merdeka, bertahun-tahun nyaris hanya jadi catatan kaki karena berideologi komunis. Alhasil, pengetahuan terhadap peran Tan Malaka sebagai tokoh sejarah dan aktivitas kesejarahannya justru harus dipelajari dari sejarawan asing, semisal Rudolf Mrazek atau Harry A. Poeze, yang bertahun-tahun dengan amat serius melakukan riset.

Hitam-putihnya peran tokoh-tokoh sejarah Indonesia paling nyata dibuktikan dari lemahnya tradisi mengkritik buku-buku biografi dan otobiografi para tokoh dan pelaku sejarah yang jumlahnya bejibun dan umumnya hanya berisi “hal-hal baik” belaka. Seolah-olah setelah menjadi tokoh, apalagi mendapat gelar Pahlawan Nasional, seketika pula mereka menjadi manusia setengah dewa yang tak pernah khilaf dan salah.

Dalam konteks klaim agen CIA terhadap Adam Malik tentu tidak akan terjadi bila telah ada kajian sejarah serius, mendalam, dan komprehensif sekitar peran tokoh-tokoh penting yang terlibat atau terkait dengan peristiwa yang meletus pada 30 September 1965 itu. Atau, bahkan secara lebih khusus, studi terhadap peran Adam Malik dalam sejarah Indonesia–yang harus diakui sangat luas dan berwarna; ketimbang sekadar mengecam, mengutuk, atau memperkarakan McAvoy dan Weiner. Aspek lain yang terkait dengan buku Weiner adalah buruknya budaya baca masyarakat Indonesia. Itu sebabnya, orang ramai bereaksi setelah lebih setahun Legacy of Ashes terbit; atau lebih dua bulan setelah edisi Indonesianya beredar. Itu pun karena ada media yang membawa isunya ke depan publik. Komunitas akademik, utamanya para akademisi ilmu politik dan sejarah serta ilmu sosial umumnya, yang seharusnya sangat berkepentingan terhadap buku seperti ini malah berada di pihak yang hanya diseret turut urun-rembuk.

Komplikasi dari buruknya budaya baca itu sangat terlihat dari komentar-komentar yang berhamburan, yang kurang lebih sama “asbunnya” dengan McAvoy (bila benar klaim McAvoy “asal bunyi” belaka). Bagi yang khatam membaca Membongkar Kegagalan CIA, tidak mustahil McAvoy sekadar mengklaim untuk gagah-gagahan; sebagaimana banyak dusta, halusinasi, dan spekulasi yang mengiringi sepak-terjang CIA selama 60 tahun usianya, yang dipapar Wiener sejak halaman pertama hingga akhir.

Substansi buku yang ditulis Weiner lewat riset mendalam (termasuk menelaah gunungan arsip CIA dan mewawancarai tokoh-tokoh yang terlibat): CIA tak lebih dari institusi yang mengandalkan operasinya pada dusta, halusinasi, dan spekulasi; termasuk secara terencana dan terstruktur telah membohongi para Presiden Amerika sejak era Harry S. Truman dan rakyat negeri itu.

Dengan memahami substansi keseluruhan isi Membongkar Kegagalan CIA, kita bisa menyimpulkan dua hal. Pertama, pernyataan McAvoy sejalan dengan tradisi yang diwariskan CIA sejak awal berdirinya, yaitu operasi intelijen penuh spekulasi dan kebohongan. Dan kedua, masa pancaroba Indonesia pada akhir 1960-an memang harus ditulis ulang dengan riset serius, mendalam, komprehensif, dan jujur; terutama terhadap aktor-aktor penting yang terlibat di dalamnya.

* Tulisan ini pandangan pribadi.
* Katamsi Ginano, Praktisi komunikasi dan business development

Sumber: Tempointeraktif

Facebook Comments