Manati Zega, S.Th, MA.

Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.
(Ibrani 11:8)

Baca: Ibrani 11:1-8.

Paku, barang yang mudah kita temui. Apalagi kita sedang membangun. Membangun rumah, membangun jembatan atau sedang membangun kandang ayam. Paku adalah benda yang sangat kita butuhkan dalam semua urusan pembangunan. Pernahkah Anda belajar sesuatu dari benda ini? Mudah-mudahan Anda pernah belajar darinya. Tahukah Anda bahwa, paku, benda yang satu ini, semakin ditekan—dipukul semakin menancap kuat. Akibatnya, ia semakin dekat dengan sumber kekuatan, yakni kayu atau tembok di mana ia menempel. Tidak berlebihan jika kita menggambarkan iman Kristen demikian adanya. Iman Kristen seharusnya semakin ditekan semakin menempel kuat. Semakin dibabat semakin merambat. Itulah yang dialami oleh para martir sepanjang zaman. Polikarpus, dibakar hidup-hidup, namun imannya tetap teguh di dalam Yesus. Ia tidak menyangkal Yesus sedikit pun. Ketika peristiwa Ambon meledak beberapa tahun lalu, Roy Pontoh, seorang remaja, tidak goyah menghadapi para perusuh. “Beta laskar Kristus,” ujarnya. Melalui pernyataan itu, akhirnya ia ditebas dan meninggal dunia. Penderitaan, rupanya tidak akan menghilangkan iman Kristen yang sejati.

Kisah Abraham mengingatkan kita. Ia sungguh taat pada panggilan Tuhan. Ia rela meninggalkan kemapanannya, walau hal itu sukar. Tidak mudah baginya untuk meninggalkan zona kenyamanan itu. Ini sebuah tekanan yang luar biasa! Namun, karena imannya yang melekat kuat kepada Tuhan, ia rela meninggalkan semua itu. Baginya bukan masalah jika ia harus berpisah dengan kenikmatan hidup yang sudah lama dikecapnya. Kekayaan, kemegahan dan segala kelimpahan ia tinggalkan. Tidak heran jika Alkitab memasukkannya sebagai pahlawan iman yang gagah perkasa.

Masalah demi masalah nampaknya sulit meninggalkan hidup orang beriman. Apa yang harus kita lakukan? Mengeluh? Atau, menghujat Allah? Pasti, ini bukan tindakan dewasa dari seorang beriman. Pilihlah seperti paku yang menancap kuat justru di bawah tekanan dan pukulan keras. Pilihlah seperti Abraham yang setia beriman kepada Allah walau zona nyamannya terganggu. Bagaimana dengan Anda?
________________
* Ditulis sebagai bahan refleksi. Disampaikan dalam siaran di Radio Impact Yogyakarta, 15 November 2008.

Facebook Comments