Medan (SIB) – Letjend (Purn) Dr TB Silalahi SH meresmikan pengoperasian Museum Pustaka Nias, Selasa (18/1) di Desa Iraono Geba, Gunung Sitoli yang pembangunannya telah dirampungkan akhir tahun ini. Peristiwa itu momentum penting dan bersejarah bagi masyarakat Nias karena baru kali ini perkakas, patung (megalit) dari berbagai masa dan tulisan sejarah suku bangsa Nias dikumpul dari dalam dan luar negeri untuk dilestarikan guna menginspirasi generasi muda Nias.

Peresmian dilakukan TB Silalahi dengan memukul gong dan memotong pita menggunakan parang tradisional Nias didampingi Direktur Museum Pustaka Nias Pastor Yohanes Hammerle,OFM Cap, Ketua Yayasan Pusaka Nias Pastor Paskalis Pasaribu, Pdt Saripati Gea, Bupati Binahati, anggota DPD RI asal Sumut Parlindungan Purba,SH, Dirut PT KIM Drs Gandhi Tambunan, Anggota DPR RI Arisman Zagoto, Kepala Perwakilan BRR Nias William Sabandar, Wakil Kabainprom Sumut yang juga Ketua Pemekaran Kotamadya Gunung Sitoli Martin Lase.

Peristiwa bersejarah itu juga disaksikan sejumlah pemerhati budaya nasional dan Eropa dan aktivis NGO luar negeri yang ikut membantu rehabilitasi pasca gempa serta ratusan tokoh adat dan masyarakat. Peresmian itu dirangkaikan sekaligus dengan pameran tetap dengan thema Menelusuri Kehidupan Masa Lampau Ono Niha.

Direktur Museum Pusaka Nias, Pastor Yohanes Hammerle asal Jerman dalam sambutannya menjelaskan, pembangunan museum itu memakan waktu cukup lama akibat kendala dana. Insiatif dimulai dari instruksi Ordo Kapusin Keuskupan Sibolga tahun 1990 yang disusul pembentukan Yayasan Pusaka Nias. Kemudian 10 November 1995. Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Nias Larosa.

Saat proses perampungan bangunan, peresmian museum itu kata Yohannes ditunda karena beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan akibat gempa Nias tahun 2005 lalu. “Atas bantuan beberapa donatur individu dan lembaga di antaranya Yayasan Prints Clous Fond for Culture & Development, Yayasan Help Amerika Serikat, Unesco, BRR Nias, Pemda Nias dan beberapa NGO asing lainnya, gedung itu bisa dirampungkan. Lebih kurang 14 tahun sejak peletakan batu pertama museum ini baru bisa diresmikan hari ini,” katanya.

Menurut Pastor Yohannes, selain membangun gedung, Yayasan Pusaka Nias juga bekerja keras mengumpulkan peninggalan-peninggalan budaya Nias asli yang usianya ratusan tahun yang kebanyakan berada di luar negeri terutama di Jerman dan negeri Belanda. “Museum ini dikerjakan bersama oleh masyarakat Nias dan untuk generasi muda Nias agar mengetahui sejarah kebudayaannya,” katanya.

Namun, untuk peresmian bersejarah itu dipercayakan kepada Letjend (Purn) TB Silalahi karena dianggap pejabat tinggi sekaligus tokoh yang selama ini banyak memberi perhatian membangun Nias terutama melalui mengalirnya bantuan BRR dari pemerintah.

TB Silalahi yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau popular disebut Penasehat Presiden saat didaulat memberi sambutan mengatakan, dirinya sangat terharu sekaligus bangga melihat upaya Keuskupan gereja Katholik dan masyarakat Nias yang mau melestarikan budaya. Ia mengaku sangat miris dan sedih mengenang kondisi daerah dan kehidupan masyarakat Nias saat datang saat sehari setelah bencana tsunami.

Saat terjadinya gempa bumi, TB mengatakan dirinya menelepon Presiden SBY jam 03.00 WIB dinihari melaporkan kondisi Nias yang sangat memilukan dimana rumah-rumah rata dengan tanah dan mayat-mayat terkubur direruntuhan. “Saya minta ijin Presiden agar memberi ijin bagi pesawat-pesawat asing langsung terbang ke Nias dari Singapura. Presiden pun memerintahkan Menteri Luar Negeri,” kenangnya.

Nias Tertinggal Jauh
Dunia mengenal kondisi phisik daerah dan masyarakat Nias katanya tertinggal jauh dibanding Kabupaten Kota lainnya. “Masyarakat Nias secara keseluruhan Nias bisa dikatakan tertinggal jauh dalam pendidikan, ekonomi katakanlah dibanding orang Batak. Saat saya pertama kali ke Nias saya jumpai Dandim, Kapolres, Kajarinya orang Batak. Kemana semua orang Nias?” katanya.

Menurut TB Silalahi, orang Batak saja saat ini ada 150 jenderal di Angkatan Darat dan orang Nias sejauh yang diketahuinya saat itu pangkat yang paling tinggi hanyalah Kolonel Angkatan Darat dan belum ada Jenderal. “Saya cari-cari ternyata ada orang Nias berpangkat Kolonel bernama Kristian Zebua, dia saya panggil dan ngobrol-ngobrol. Baru-baru ini saya dengar dia sudah naik pangkat jadi Brigadir Jenderal,” ujarnya.

Pasca gempa TB Silalahi mengajak Presiden SBY hingga dua kali berkunjung ke Nias sekaligus mencatat sejarah Indonesia. Pasca gempa itulah menurutnya, ada hikmah dibalik kepedihan dimana kondisi Nias sekarang sudah jauh berubah akibat dibangun BRR dengan dana hamper Rp 6 Triliun dari APBN dan NGO. “Sekarang jalan-jalan sudah mulus bahkan kalau saya lihat di Tobasa saja tidak secantik di Nias ini. Rumah Sakit sudah bagus, Pasar Yahowu sudah dibangun dan lain-lain,” ujarnya.

Kembali menilik keberadaan Museum Pusaka Nias, TB mengaku bangga dan mengatakan, museum berisi peningalan budaya itu sangat penting menginspirasi dan memotivasi generasi muda bagaimana leluhurnya memiliki jiwa kesatria dan jago berperang untuk digunakan ke hal positif. “Tapi jago berperang itu jangan ditiru untuk perang antar kampong atau tawuran, bisa berabe,” katanya membuat masyarakat tertawa.

TB Silalahi dengan bercanda mengatakan, dirinya iri melihat Museum Pusaka Nias yang dibangun dengan bantuan banyak pihak. Sementara museum budaya Batak yang dibangunnya di kompleks TBS Center saja hanya dipikirkan dan dikerjakan sendiri. “Meski TB Center lebih megah, tapi perkakas kebudayaannya masih kalah dibanding Museum Pustaka Nias ini dan kita masih terus mengumpulkan peninggalan bersejarah,” kata TB.

Memasuki ruang demi ruang dalam museum itu, TB Silalahi dan rombongan melihat baju-baju keseharian dan alat perang, perkakas hingga patung-patung megalit yang cukup eksotik. (SIB, 20/11/2008)

Facebook Comments