Rahasia di balik sukses pemekaran Nias

Monday, November 17, 2008
By nias

Setiap suksesnya suatu perjuangan, tentu menimbulkan keingintahuan disertai berbagai pertanyaan dari masyarakat yang perlu dijawab siapa sebenarnya tokoh yang ada di balik keberhasilan itu.

Demikian juga halnya dalam pertarungan untuk memperjuangkan dan mewujudkan pemekaran tiga daerah otonom baru di Kabupaten Nias yakni Kab. Nias Utara, Kab. Nias Barat dan Kota Gunungsitoli.

Dengan tidak mengenyampingkan upaya dan usaha dari berbagai elemen masyarakat dalam memperjuangkan pemekaran tersebut, ternyata sosok seorang Bupati Nias, Binahati B. Baeha, SH yang menjadi tokoh dibalik suskesnya pengesahan tiga daerah otonom baru di Kabupaten Nias.

Bahkan keberhasilan pemekaran ini merupakan peristiwa yang sangat luar biasa dan jarang terjadi dimana satu-satunya kabupaten yang mendapat pengesahan pemekaran tiga daerah otonom baru sekaligus.

Betapa tidak, pengalaman diberbagai daerah yang sudah dimekarkan di Indonesia, beberapa kepala daerah sangat jarang yang rela wilayah kekuasaannya berkurang hanya karena aspirasi masyarakat untuk membentuk daerah otonom baru.

Namun, lain halnya dengan Bupati Nias, Binahati B. Baeha, SH yang mampu membuang jauh rasa keegoisan pribadinya dan justru tokoh inilah yang tampil ngotot untuk segera mewujudkan pemekaran daerahnya.

Bupati Nias, Binahati B. Baeha, SH saat ditemui Waspada belum lama ini membuka rahasia suksesnya pemekaran tiga daerah otonom baru di Kabupaten Nias.

Pria yang memiliki postur tubuh sedang dengan nada merendah mengungkapkan, keberhasilan pemekaran merupakan hasil perjuangan semua elemen masyarakat Nias dan didukung mulai dari DPRD Nias, DPRD Sumut, Gubernur Sumut, Depdagri dan DPR RI.

Dia tidak menganggap bahkan tidak pernah berharap menerima penghargaan spontanitas dari masyarakat Nias bahwa dirinya didaulat sebagai Panglima Pemekaran.

Dituturkan, dalam memperjuangkan pemekaran Nias, dia dengan modal pengalaman selama 30 tahun bertugas di Depdagri membidangi otonomi daerah mengetahui sedikit banyak bagaimana cara dan prosedur agar suatu daerah memenuhi syarat menjadi daerah otonom baru.

“Pengalaman selama bertugas di Depdagri itulah saya terapkan dalam proses pemekaran tiga daerah otonom baru di Kabupaten Nias sehingga dapat terwujud,” ungkapnya.

Dilihat dari kenyataan, beberapa tahun ke belakang ketika pada tahun 2003 Kabupaten Nias Selatan resmi menjadi daerah otonom baru dan berpisah dengan Kabupaten Nias. Wilayah Kabupaten Nias saat itu hanya tinggal 14 kecamatan, sehingga membuat Binahati B. Baeha harus berpikir keras bagaimana ke depan daerah itu dapat terus dimekarkan.

Binahati mengungkapkan, dulu tidak banyak yang tahu bahkan tidak sedikit yang menentang saat dirinya mulai memprogramkan pemekaran desa di 14 kecamatan tersisa.

Menurutnya, beberapa tokoh masyarakat Nias justru berpandangan negatif soal pemekaran desa tersebut. Mereka menilai, pemekaran yang diprogramkan pemerintah daerah memiliki nuansa kepentingan politik sang bupati apalagi program tersebut terus berlanjut hingga menjelang masa pelaksanaan Pilkada.

Walau kebijakannya banyak mendapat tantangan, Binahati terus melakukan pemekaran desa dan kecamatan yang saat ini sudah mencapai 34 kecamatan.

Baru belakangan masyarakat menyadari arti kebijakan dari Bupati Nias rupanya bukan untuk kepentingan pribadi melainkan memiliki tujuan mulia.

Menurut Binahati, salah satu solusi daerah ini dapat mengejar ketertinggalan dari berbagai aspek pembangunan tentunya pemekaran daerah otonom baru.

Dijelaskan, selain tujuan pemekaran tersebut untuk memperpendek rentang kendali pelayanan pemerintahan kepada masyarakat, juga sekaligus membuka peluang investasi dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia disetiap daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemekaran juga tentunya membuka peluang lowongan kerja yang sangat luas bagi generasi berikutnya dan mengambil bagian dalam pelaksanaan pembangunan.

“Kalau mengutamakan egois dan tidak mau memikirkan masa depan generasi berikutnya, tentunya pemekaran tidak saya usulkan dan tidak saya rekomendasikan karena hal itu tentunya mengurangi jumlah materi yang saya dapatkan selama menjadi bupati,” ungkap Binahati. Namun, menurut pria yang memiliki hobi tenis meja dirinya mempunyai tanggung jawab dan beban moral bagaimana generasi berikutnya mendapatkan kehidupan yang layak sehingga dengan getol memperjuangkan pemekaran dimaksud.

Setelah pemekaran tiga daerah otonom baru tersebut terwujud dan disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada 2008 lalu, Pemkab Nias sebagai kabupaten induk mempunyai tugas berat dalam mengusulkan pejabat kepala daerah di tiga daerah pemekaran kepada pemerintah pusat.

Bupati Nias berkeinginan agar pejabat kepala daerah pemekaran baru tersebut ke depan lebih mengutamakan putra daerah setempat karena hal ini sangat berpengaruh dalam persiapan daerah otonom baru menjadi definitif.

Untuk itu Binahati berharap, kepada seluruh elemen masyarakat Nias untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam menyongsong definitifnya tiga daerah otonom baru tersebut sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan dapat dicapai.

Sementara, sangat disesalkan beberapa tanggapan segelintir orang soal penghargaan yang diberikan secara spontanitas oleh tokoh-tokoh masyarakat kepada Bupati Nias sebagai Panglima Pemekaran.

Segelintir orang Nias justru hanya melihat keburukan yang ditudingkan kepada Binahati yang kebenarannya belum bisa dipastikan dan dipertanggungjawabkan.

Kelompok ini sepertinya menutup mata dan mengabaikan upaya dan hasil kerja keras yang ditunjukkan dan diberikan oleh Bupati Nias dalam membangun dan mengejar ketertinggalan daerah itu. (Waspada – www.waspada.co.id, 17 November 2008)

Tags:

6 Responses to “Rahasia di balik sukses pemekaran Nias”

  1. 1
    Jurnalis Says:

    Catatan untuk penulis : Ada baiknya ketika menulis berita, cobalah untuk menggunakan prinsip penulisan jurnalitik yang ketat. Berita adalah berita. Fakta adalah Fakta, dan bukan opini. Berita harus covering both side (balance). kalimat seperti dibawah ini:

    “Sementara, sangat disesalkan beberapa tanggapan segelintir orang soal penghargaan yang diberikan secara spontanitas oleh tokoh-tokoh masyarakat kepada Bupati Nias sebagai Panglima Pemekaran.

    Segelintir orang Nias justru hanya melihat keburukan yang ditudingkan kepada Binahati yang kebenarannya belum bisa dipastikan dan dipertanggungjawabkan.”

    Tidak boleh ditulis. Itu jelas opini si wartawan. Bukan kutipan langsung dari narasumber. Jika wartawan ingin mengguatkan pendapatnya, seharusnya dia mencari narasumber yang mendukung apa yang dia pikirkan, tanpa rekayasa. Semakin wartawan bisa menulis tanpa memasukkan opininya, maka semakin profesionalah wartawan itu..

    Salam,

    Jurnalis

  2. 2
    Jurnalis Says:

    Catatan untuk si wartawan :

    Cobalah dalam menulis berita dengan mengukuti standart jurnalistik secara ketat. Anda harus bisa memisahkan fakta lapangan dan opini Anda sendiri.

    Penulis diatas, tidak menulis berita jurnalistik. Tapi dia menulis opini pribadinya dengan mendompleng wawancara. Tindakan seperti ini, haram dilakukan oleh wartawan profesional..

    Saya sarankan, jika si wartawan tertarik menulis kisah sukses pemekaran Kabupaten/kota di Nias, baiknya dia menggunakan model penulisan deep news. Lebih dalam, panjang dan terasa. Akan menarik, jika ada wartawan yang mampu memotret kisah dibalik pemekaran itu secara utuh. Sebagai referensi, cobalah baca tulisan-tulisan di The New Yorker atau Tempo…

    Salam,

    Jurnalis

  3. 3
    S.G. Says:

    Boro-boro baca the New Yorker atau Tempo, membedakan fakta dengan opini saja menjadi masalah besar bagi sebagian jurnalis kita. Akibatnya pesan beritanya menjadi sulit kita tangkap secara jernih. Sebaliknya, para pembaca juga terperangkap ke dalam hal yang sama: menyamakan fakta dan opini. Artinya apa? Ya sama-sama bego 🙂

    Sayang sekali ya, karena sebenarnya beritanya cukup menarik …

    Kalau bang jurnalis baca judul-judul berita media massa kita, terutama yang di daerah, maka anda akan geleng-geleng kepala.

    Ngomong-ngomong nih, bang jurnalis dari koran mana ya (The New Yorker atau dari Tempo) 🙂

    S.G.

  4. 4
    Alang Says:

    Bang Jurnalis, 5W+1H aja kagak bisa, lha si wartawan koq disuruh indepth… he9X… pening dia nanti. Belon lagi klo investigasi… kan butuh ongkos… 🙂

  5. 5
    Wiem Hoerst Says:

    S.G., apa boleh langsung berkata ‘ya’ dengan paparan sang jurnalis? Jurnalis mengemas kalimat-kalimatnya sedemikian sehingga sebenarnya menjadi sulit memilah mana fakta dan mana opini sang jurnalis. Jangan-jangan jurnalis berlindung dibalik ungkapan bernada ‘faktual’ tetapi sebenarnya menyuntikkan opininya?

    Saya menulis ini sebagai ungkapan bentuk kehati-hatian saja. Soalnya apabila seseorang sudah berbicara tentang fakta dan opini versi New Yorker, saya pikir ia sudah pada tingkat bisa bermain-main dengan fakta dan opini … Ini opini saya lho, bisa juga kelak jadi fakta.

    Wim Hoerst

  6. 6
    Jurnalis Says:

    Kawan-kawan,

    Banyak orang yang memilih jadi wartawan tanpa background pendidikan jurnalistik yang baik. Kadang kala perusahan pers tidak memberikan pendidikan internal yang cukup bagi wartawan nya. Ini dilema..

    Nah, sebenarnya ada pihak lain yang bisa mengontrol wartawan agar menjadi profesional. Siapakah pihak lain itu ? jawabnya : pembaca..

    Pembaca bisa menjadi motor kritik kepada wartawan yang tidak becus menurunkan berita. UU 40 tahun 1999 tentang pers memberikan ruang kepada siapa saja yang merasa dirugikan oleh pemberitaan media masa untuk memberikan hak jawab. Nah, gunakan hak itu untuk mengawasi si wartawan. Dengan kontrol yang baik dari pembaca, si wartawan akan semakin berhati-hati menulis, itu artinya tanda disadari kemampuan si wartawan pun akan meningkat..

    Bagaimana.??

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

November 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930