Sulit membayangkan suatu konteks yang lebih menjanjikan antara kaum Muslim dan Kristen dari pada suatu minggu pada mana warga Amerika memilih presiden mereka seorang Kristen yang memiliki banyak kerabat Islam dan yang dulu pernah tinggal di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kelihatannya “efek Obama” telah memainkan perannya dalam pembicaraan yang berlangsung 3 hari di dan sekitar Vatikan minggu lalu (4-6 November), yang dianggap oleh delegasi Islam sebagai suatu inisiatif yang produktif.

Sebelum forum dimulai, para anggota delegasi Islam memiliki ekspektasi rendah. Dalam pembicaraan pendahuluan awal tahun ini (baca artikel: Vatikan dan Islam akan Membangun Dialog Tetap) para anggota delegasi Islam memiliki keraguan besar.

“Terus terang kami kuatir,” kata salah seorang anggota delgasi. “Kami pikir bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diharapkan dalam forum ini kelak”.

Ternyata tidak. Deklarasi mengatakan suasana forum “hangat dan bersahabat” dan bahasa tubuh Paus ketika bertemu dengan para perutusan Islam sebelum penutupan forum kelihatan lain dari biasanya. Paus yang dikenal pemalu, merangkul kedua pemimpin delegasi Muslim, Mustafa Ceric, Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina dan Seyyed Hossein Nasr, profesor Kajian Islam di Universitas George Washington.

Yang lebih penting lagi, untuk jangka panjang, kedua pihak sepakat deklarasi bersama yang substansial. Deklarasi berisi lebih dari seribu kata dan mencakup lebih dari selusin butir di mana kedua pihak saling ‘menatap’ langsung. Beberapa dari butir kesepakatan ini memiliki efek yang besar. Salah satu butir menolak “terorisme, khususnya yang dilakukan dalam nama agama.”

Deklarasi juga menyatakan bahwa umat Katolik dan Muslim sepakat bahwa “Kehidupan manusia haruslah … dilestarikan dan dihargai dalam seluruh tahapan-tahapannya”. Deklarasi mengikat para peserta “secara bersama-sama mengusahakan agar martabat dan penghargaan manusia diperluas mencakup laki-laki dan perempuan atas dasar kesamaan.”. Deklarasi menegaskan bahwa “cinta terhadap sesama … mencakup hak individu dan masyarakat untuk mempraktekkan agama mereka secara pribadi maupun secara terbuka”. Dan ditegaskan bahwa “pengikut agama minoritas berhak … atas tempat-tempat peribadatan mereka”.

Butir-butir terakhir akan menjadi alunan musik di telinga Gereja Katolik dan Gereja Kristen yang lain yang prihatin dengan pembatasan bagi umatnya di, misalnya, Saudi Arabia, (yang, menariknya, tidak memiliki perutuasn dalam forum itu, meskipun Raja Abdullah sedang merintis inisiatif terpisah untuk menjembatani komunikasi).

Juga sangat penting dicatat, dalam kaitannya dengan kartun Nabi Muhammad dari Denmark dan pernyataan Paus sendiri di Regensburg, Jerman, tahun 2006, kedua pihak sepakat bahwa “para tokoh pendiri kedua agama dan simbol-simbol yang mereka anggap suci tidak seharusnya menjadi bahan ejekan atau tertawaan’.

Pihak Muslim berharap sebelumnya bahwa pertemuan itu dapat meletakkan landasan untuk suatu prosedur “manajemen krisis” untuk menyelesaikan perselisihan atau yang dianggap perselisihan antara kedua agama. Deklarasi tidak sampai sejauh itu, namun menyatakan kedua pihak sepakat “mengeksplorasi kemungkinan membentuk komite tetap Katolik-Islam untuk mengkordinasikan respons-respons terhadap konflik dan situasi-situasi darurat lain.”

Melihat kondisi hubungan Islam-Kristen dua tahun lalu, sebelum ke 138 tokoh intelektual Islam mengeluarkan surat “Common Word”, hasil forum ini sungguh merupakan kemajuan yang sangat mengesankan. Dalam pidatonya di depan para tamunya, Paus menyampaikan persyaratannya yang sudah umum dikenal bahwa tindakan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa “perkembangan-perkembangan positif” perlu dibagikan ke dunia yang lebih luas. Paus mungkin tidak menyatakannya dengan banyak kata, tetapi yang dia pikirkan secara jelas adalah tokoh–tokoh Islam yang memberikan restu mereka pada tindakan kekerasan. Poin ini sebelumnya telah disinggung oleh Nasr yang mencatat bahwa:

… sejarah kedua agama kita telah dibumbui dengan periode-periode kekerasan, dan ketika agama menguat dalam masyarakat kita berbagai kekuatan politik melakukan kekerasan dalam nama agama.”

Vatikan sangat hati-hati menganggap kelompok “Common Word” sebagai suara tunggal Islam, yang jelas tidak. Paus menyebut forum tersebut “sebuah langkah lagi di jalan ke arah pemahaman yang lebih besar … dalam kerangka pertemuan-pertemuan reguler yang dipromosikan Takhta Suci dengan berbagai kelompok Islam.”

Tetapi bukan seperti itu yang terlihat pada waktu pertemuan berakhir Kamis minggu lalu. Delegasi “Common Word” adalah kelompok paling senior dan paling berpengaruh yang pernah berkumpul dalam dunia Islam. Dan para anggotanya meninggalkan Vatikan dengan pernyataan prinsip-prinsip yang bisa menjadi basis dari suatu relasi yang jauh lebih substansial dari pada di masa lalu.

Ada kesan kuat, dialog Muslim – Katolik telah diangkat ke suatu level yang sangat berbeda dan lebih tinggi. (The Guardian – 7 November 2008) 

 

Keterangan Gambar: Panel yang bertemu bulan Maret 2008 untuk menggagas Forum Katolik-Islam November 2008 . Dari kiri ke kanan: Mr. Sohail NAKHOODA, Msgr. Khaled Akasheh, Fr. Miguel Ángel Ayuso Guixot, His Excellency Archbishop Pier Luigi Celata, Sheikh Professor Abdal Hakim Murad, His Eminence Cardinal Jean-Louis Tauran, Prof. Dr. Aref Ali Nayed, Dr. Ibrahim Kalin, Prof. Dr. Christian W. Troll,  Imam Yahya pallavicini – Sumber: Situs A Common Word – www.acommonword.com

Facebook Comments