Oleh Hari Gunarto

JAKARTA, Investor Daily — Resesi terus menjalar ke seantero dunia. Setelah Amerika Serikat, giliran ekonomi Eropa terperosok ke jurang resesi untuk pertama kalinya dalam 15 tahun. Di Asia, Hong Kong bergabung dengan Singapura dalam satu gerbong resesi. Resesi di Eropa bakal mendorong pemangkasan suku bunga dan pajak di kawasan ekonomi makmur tersebut. Produk Domestik Bruto kuartal III-2008 di 15 negara euro menciut 0,2% dibanding kuartal sebelumnya, yang juga terkontraksi 0,2%.

Kontraksi dua kuartal berturut-turut ini merupakan dampak dari kenaikan biaya kredit, menguatnya euro, dan kenaikan harga minyak tahun ini. Demikian laporan kantor statistik Uni Eropa yang berbasis di Luxembourg, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (14/11).

Perusahaan-perusahaan di Eropa terpukul oleh penjualan dan laba yang memburuk. Kondisi ini memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga utama tercepat dalam sejarah dan pemerintah harus menggelontorkan stimulus fiskal. Resesi di Eropa kemungkinan akan lebih lama dibanding di Amerika Serikat (AS) dan Asia.

“Tidak akan ada pemulihan yang berarti sebelum 2010,” kata Nick Kounis, ekonom Fortis di Amsterdam. Namun, inflasi Eropa sepanjang Oktober turun menjadi 3,2% dari 3,5% pada September. Menurut Dewan Anggota ECB Ewald Nowotny, turunnya inflasi memberi ruang ECB untuk mengendurkan likuiditas dan lebih ekspansif.

Para investor berharap ECB menurunkan lagi suku bunga setidaknya 0,5% pada pertemuan 4 Desember, setelah pekan lalu memangkas 0,5% ke posisi 3,25%.

Jerman, ekonomi terbesar sehari sebelumnya telah mengumumkan terjadinya resesi, menyusul PDB kuartal III yang mengalami kontraksi 0,5%. Kontraksi tersebut lebih besar dari prediksi, menyusul kemerosotan ekonomi yang direvisi menjadi 0,4% pada kuartal II-208. Pemerintah Jerman memangkas prediksi pertumbuhan sepanjang 2009 menjadi 0,2%.

Eksportir terkemuka di dunia itu telah dihantam pelemahan permintaan dari berbagai pasar utama sementara konsumsi domestik terus bertahan di level terendah. Investasi korporasi telah terpuruk akibat kemerosotan tajam kepercayaan bisnis.

Sementara itu, Irlandia dan Italia telah terjatuh ke resesi keempat dalam satu dekade terakhir. Sedangkan Spanyol kontraksi untuk pertama kali dalam 15 tahun. Pertumbuhan Belanda mandek dalam dua kuartal berturut-turut. Hanya Prancis yang beruntung, karena PDB-nya secara tidak terduga melonjak 0,1% dari kuartal II-2008 yang merosot 0,3%.
Penjualan mobil di Eropa turun 15% pada Oktober, penurunan berturut-turut selama enam bulan. Di Asia, Hong Kong dipastikan resesi. PDB kuartal III turun 0,5% dari kuartal sebelumnya, menyusul kemerosotan 1,4% pada kuartal II.

“Ekonomi Hong Kong melamban karena ekonomi global memburuk sehingga memangkas pertumbuhan. Permintaan domestik pun merosot,” kata ekonom pemerintah Helen Chan.

Hong Kong akan bergabung dengan Singapura untuk memasuki ‘gerbong resesi’. Selandia Baru juga telah mengumumkan adanya resesi di negeri itu.

Sedangkan AS terus didera data-data ekonomi yang memburuk. Setelah kabar buruk lonjakan PHK dan pengangguran, penjualan ritel di AS selama Oktober anjlok paling dalam sejak 1992. Menurut Departemen Perdagangan, penjualan ritel merosot 2,8%, turun untuk keempat kalinya.

Departemen Tenaga Kerja AS sebelumnya mengumumkan tingkat pengangguran di AS per Oktober 2008 tercatat 6,5%, tertinggi dalam 14 tahun terakhir. Jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan tercatat 240.000, jauh lebih buruk dari prediksi ekonom. Total pekerja yang kena PHK di AS tahun ini sekitar 1,2 juta, separo lebih terjadi dalam tiga bulan terakhir.

PDB Memburuk

Ramalan sejumlah lembaga internasional tentang prospek ekonomi global memang cukup mencemaskan. Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) di Paris mengumumkan bahwa negara-negara maju sudah jatuh ke resesi.

Tahun depan, Produk Domestik Bruto 30 anggota OECD akan terkontraksi 0,3%. Ekonomi AS akan kontraksi 0,9%, Jepang 0,1%, dan kawasan euro 0,5%.

Prediksi ini merevisi ramalan Juni lalu ketika OECD optimistis bahwa tahun depan PDB anggota itu bakal tumbuh 1,7%. Sedangkan untuk kuartal IV ini, ekonomi OECD akan menciut 1,4% (year-on-year).

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi (PDB) global sebesar 0,8% pada 2009 menjadi 2,2%. Sementara itu, PDB negara-negara industri maju direvisi menjadi minus 0,3%, dengan rician AS (-0,7%), Jepang (-0,2%), Eropa (-0,5%), Inggris (-1,3%), Prancis (-0,8%).

Untuk negara-negara emerging market, IMF memprediksi pertumbuhannya kontraksi 1%, tetapi masih positif menjadi 5.1% pada 2009.

Upaya Penyelamatan

Resesi yang melanda berbagai negara menuntut adanya kerja sama di tingkat global agar resesi tidak berkepanjangan. Agenda inilah yang akan dibahas pada pertemuan puncak negara-negara G-20 di Washington yang dimulai Jumat kemarin.

Sejauh ini, sejumlah negara telah menempuh berbagai upaya penyelamatan, baik di bidang moneter maupun fiskal. Di bidang moneter, bank-bank sentral utama dunia secara agresif terus memangkas suku bunga.

Program penyelamatan (rescue plan) diluncurkan, dimotori oleh Amerika Serikat dengan dana talangan senilai US$ 700 miliar. Kebijakan ini disusul sejumlah negara, antara lain Jerman senilai US$ 664 miliar, Inggris US$ 656 miliar, Irlandia 624 miliar, Prancis US$ 463 miliar, Rusia US$ 210 miliar, dan Korea Selatan US$ 130 miliar.

Ada puluhan negara yang mengumumkan paket penyelamatan dan hingga kini di seluruh dunia tercatat lebih dari US$ 5 triliun dikucurkan untuk mendukung lembaga keuangan dan mengatasi kredit macet.

Beberapa negara juga memberikan penjaminan penuh terhadap simpanan nasabah bank dan sebagian lagi menaikkan batas maksimum penjaminan, termasuk Indonesia yang menaikkan batas penjaminan dari Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar.

Selain paket penyelamatan untuk lembaga keuangan, sejumlah negara merancang paket stimulus. Tercatat sudah US$ 1,2 triliun komitmen stimulus fiskal yang diumumkan sejumlah negara. Paket terbesar diajukan Tiongkok sebesar US$ 586 miliar, disusul Jepang US$ 272 miliar, dan AS US$ 168 miliar. AS juga sedang mengajukan paket stimulus tahap kedua.

Di lain pihak, banyak kalangan pesimistis pertemuan G-20 akan membawa langkah konkret untuk menyelamatkan resesi ekonomi global. Para pemimpin Eropa akan mendesak kontrol pemerintah yang lebih besar terhadap pasar keuangan.

Mereka juga akan mendorong pemberian paket stimulus lebih besar lagi. Jepang berkomitmen memberi pinjaman senilai US$ 100 miliar kepada IMF untuk membantu negara-negara berkembang.

Menjelang pertemuan G-20, Chairman Bank Sentral AS Ben S Bernanke menegaskan, bank-bank sentral dunia siap menempuh aksi tambahan guna mencairkan kebekuan pasar kredit. Dalam diskusi yang diprakarsasi ECB di Frankfurt, dia menyatakan, para pembuat kebijakan akan bekerja sama lebih erat, memantau cermat perkembangan global, dan siap mengambil aksi tambahan. (c 116)

Sumber: Investor Daily, 15/11/2008

Facebook Comments