Medan – Tim VII Kunker (kunjungan kerja) DPRD Sumut menemukan, sedikitnya Rp2,297 miliar anggaran pemeliharaan jalan dan jembatan Propinsi di Kabupaten Nias dan Nisel (Nias Selatan) yang dianggarkan di APBD Sumut TA 2007 “raib” alias tidak jelas penggunaannya, sehingga sejumlah jalan propinsi di daerah itu hancur berantakan.

Temuan itu diungkapkan Ketua Tim VII Kunker DPRD Sumut Aliozisõkhi Fau SPd kepada wartawan, Senin (10/11) di DPRD Sumut seusai melakukan kunjungan ke Kabupaten Nias dan Nisel guna meninjau sejumlah proyek yang anggarannya dibiayai dari APBD Sumut TA 2007.

“Sangat disesalkan, sejumlah ruas jalan Propinsi di Nias dan Nisel hancur-berantakan. Padahal setiap tahunnya anggaran pemeliharaan rutin jalan dan jembatan dianggarkan di APBD Sumut TA 2007 Rp2,297 miliar. Kita jadi bertanya-tanya, kemana mana raibnya anggaran tersebut,” ujar Alio Fau.

Alio mencontohkan jalan propinsi yang saat ini kondisinya sangat parah, seperti Jalan Gunungsitoli – Teluk Dalam, Jalan Bawõlato dan sejumlah ruas jalan lainnya, baik yang dikerjakan BRR maupun Dinas Jalan dan Jembatan Propsu, hasilnya sangat tidak memuaskan.

“Saya melihat, Dinas Jalan dan Jembatan Sumut kurang maksimal mengawasi pemeliharaan jalan dan jembatan dimaksud, sehingga sangat rentan terjadi penyelewengan,” tambah Alio sembari mengingatkan Dinas Jalan dan Jembatan agar mengawasi kinierja bawahannya dalam mengerjakan setiap proyek.

Alio juga mengakui, ada juga proyek Dinas Jalan dan Jembatan Sumut telah selesai dikerjakan secara fisik, tetapi ada hal-hal yang perlu menjadi perhatian yakni menyangkut finishingnya yang terkesan diabaikan, sehingga daya tahan proyek tidak maksimal.

Misalnya, kata Alio, proyek penggantian jembatan Idano Baatete Link 079,1 Km di Kabupaten Nias senilai Rp1,089 miliar serta proyek penggantian jembatan Idano Nawewa di Nisel senilai Rp647 juta. Walaupun sudah selesai dikerjakan, tapi finishingnya masih meninggalkan gundukan tanah maupun tumpukan-tumpukan kayu/bahan-bahan yang mengganggu pengguna jalan.

Begitu juga kayu-kayu pancang di bawah jembatan, tambah politisi Partai Demokrat ini, pihak kontraktor tidak mencabutnya, sehingga mengganggu kelancaran air yang kerap meluap menggenangi badan jalan yang secara atomatis akan mengurangi ketahanan proyek. (SIB, 12/11/2008)

Facebook Comments