Medan – Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) di Nias, lebih dari 20 persen masyarakatnya menikahkan anak-anaknya dalam usia dini (pernikahan dini).

Rata-rata anak yang dinikahkan dini itu berusia antara 10-18 tahun dan didominasi perempuan. Perbandingan jumlah angkanya bisa mencapai tiga kali lipat dari jumlah anak lelaki yang dinikahkan dini. Sebab, data statistik tahun 2005, jumlah perempuan yang menikah usia dini mencapai 1600 orang sedangkan lelaki sekitar sekitar 500 orang.

Persentasi ini membuktikan masih sangat banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai dampak dan sebab akibat pernikahan dini tersebut. Kemungkinan lain, informasi mengenai kesehatan reproduksi masih sangat kurang disosialisasikan terutama di pedesaan.

Hal itu dikatakan Misran Lubis selaku Area Manager PKPA Nias didampingi Koordinator Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi dan Gender (Pikir), Camelia Nasution, kepada Analisa, Sabtu (1/11) malam usai berlangsungnya pemilihan Duta Remaja Penolakan Pernikahan Usia Dini, di Hotel Garuda Plaza Medan.

Dari penelitian yang dilakukan sejak awal tahun 2008 dan berawal dari penelitian tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Nias, persoalan pernikahan dini di Nias juga berkaitan dengan budaya.

“Ada beberapa permasalahan budaya yang sudah mengakar, sehingga masyarakat Nias mempercepat pernikahan anaknya padahal umur belum mencukupi, namun bagi mereka hal itu bukan persoalan,” sebutnya.

Salah satunya, lanjut Misran, para orangtua mempercepat pernikahan anaknya untuk melepaskan beban ekonomi, dimana rata-rata satu keluarga memiliki banyak anak (keluarga besar). Sehingga tak heran jika masih ada para orangtua sudah saling menjodohkan anak-anaknya sejak masih balita.

Permasalahan kedua berkaitan dengan rumpun keluarga, dimana masyarakat Nias menikahkan dini anaknya untuk tidak menghilangkan silsilah keluarga. “Persoalan kedua dengan menikahkan dini anak-anaknya, para orangtua takut silsilah keluarga hilang jika anaknya lama menikah sehingga menikah dengan orang lain,” jelas Misran.

Adapun upaya PKPA bekerja sama dengan Pikir dalam menekan atau menurunkan jumlah anak yang dinikahkan dini di Nias, salah satunya melalui terpilihnya para Duta Remaja Penolakan Pernikahan Usia Dini.

Camelia Nasution menambahkan, direncanakan 5 November 2008 para Duta Remaja terpilih akan diberangkatkan ke Nias untuk menyuarakan menolak pernikahan dini, apa sebab dan alasannya.

Dalam acara penganugerahan Duta Remaja ini, sebelumnya panitia melakukan audisi di berbagai lokasi bahkan di Nias dan LP Klas II Anak Tanjung Gusta Medan.

Adapun para pemenang Duta Remaja Penolakan Pernikahan Usia Dini yang baru pertama kali digelar di Sumut, yakni pasangan Sokhifao Waruwu dan Siti O Malikah sebagai pemenang pertama, disusul Runner Up I Kristiandi dan Putri Dhinin, Runner Up II Topandi dan Firza Isnaini, dan juara favorit diraih Sopan S Halawa dan Lidya Salini.

Dari LP Anak Medan
Yang membanggakan, kata Camelia, pemenang Duta Remaja ini salah satunya berasal dari binaan LP Anak Tanjung Gusta Medan yakni Topandi. “Dalam pemilihan ini kami tidak membeda-bedakan, siapa saja bisa jadi duta termasuk anak LP,” sebutnya.

Topandi (19) yang ketika ditemui malam itu mengaku sangat senang walau penampilannya malam itu tidak diketahui orangtuanya. “Saya ingin buat surprise sama orangtua,” sebut Topandi yang datang bersama Kepala LP Klas II Anak Tanjung Gusta Medan, Siswanto BcIP SH.

Walau masih berstatus anak binaan LP, Topandi mengaku tidak malu atau minder dengan peserta lain. “Saya ingin menunjukkan kalau penjara bukan sesuatu yang menakutkan, di sana kita bisa berkreasi. Buktinya malam ini saya berhasil membawa pulang piala,” ucap Topandi dengan penuh semangat. (Analisa Online: www.analisadaily.com, 3 November 2008)

Facebook Comments