Penelitian PKPA: 20 Persen Anak Nias Nikah Usia Dini

Monday, November 3, 2008
By nias

Medan – Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) di Nias, lebih dari 20 persen masyarakatnya menikahkan anak-anaknya dalam usia dini (pernikahan dini).

Rata-rata anak yang dinikahkan dini itu berusia antara 10-18 tahun dan didominasi perempuan. Perbandingan jumlah angkanya bisa mencapai tiga kali lipat dari jumlah anak lelaki yang dinikahkan dini. Sebab, data statistik tahun 2005, jumlah perempuan yang menikah usia dini mencapai 1600 orang sedangkan lelaki sekitar sekitar 500 orang.

Persentasi ini membuktikan masih sangat banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai dampak dan sebab akibat pernikahan dini tersebut. Kemungkinan lain, informasi mengenai kesehatan reproduksi masih sangat kurang disosialisasikan terutama di pedesaan.

Hal itu dikatakan Misran Lubis selaku Area Manager PKPA Nias didampingi Koordinator Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi dan Gender (Pikir), Camelia Nasution, kepada Analisa, Sabtu (1/11) malam usai berlangsungnya pemilihan Duta Remaja Penolakan Pernikahan Usia Dini, di Hotel Garuda Plaza Medan.

Dari penelitian yang dilakukan sejak awal tahun 2008 dan berawal dari penelitian tentang kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Nias, persoalan pernikahan dini di Nias juga berkaitan dengan budaya.

“Ada beberapa permasalahan budaya yang sudah mengakar, sehingga masyarakat Nias mempercepat pernikahan anaknya padahal umur belum mencukupi, namun bagi mereka hal itu bukan persoalan,” sebutnya.

Salah satunya, lanjut Misran, para orangtua mempercepat pernikahan anaknya untuk melepaskan beban ekonomi, dimana rata-rata satu keluarga memiliki banyak anak (keluarga besar). Sehingga tak heran jika masih ada para orangtua sudah saling menjodohkan anak-anaknya sejak masih balita.

Permasalahan kedua berkaitan dengan rumpun keluarga, dimana masyarakat Nias menikahkan dini anaknya untuk tidak menghilangkan silsilah keluarga. “Persoalan kedua dengan menikahkan dini anak-anaknya, para orangtua takut silsilah keluarga hilang jika anaknya lama menikah sehingga menikah dengan orang lain,” jelas Misran.

Adapun upaya PKPA bekerja sama dengan Pikir dalam menekan atau menurunkan jumlah anak yang dinikahkan dini di Nias, salah satunya melalui terpilihnya para Duta Remaja Penolakan Pernikahan Usia Dini.

Camelia Nasution menambahkan, direncanakan 5 November 2008 para Duta Remaja terpilih akan diberangkatkan ke Nias untuk menyuarakan menolak pernikahan dini, apa sebab dan alasannya.

Dalam acara penganugerahan Duta Remaja ini, sebelumnya panitia melakukan audisi di berbagai lokasi bahkan di Nias dan LP Klas II Anak Tanjung Gusta Medan.

Adapun para pemenang Duta Remaja Penolakan Pernikahan Usia Dini yang baru pertama kali digelar di Sumut, yakni pasangan Sokhifao Waruwu dan Siti O Malikah sebagai pemenang pertama, disusul Runner Up I Kristiandi dan Putri Dhinin, Runner Up II Topandi dan Firza Isnaini, dan juara favorit diraih Sopan S Halawa dan Lidya Salini.

Dari LP Anak Medan
Yang membanggakan, kata Camelia, pemenang Duta Remaja ini salah satunya berasal dari binaan LP Anak Tanjung Gusta Medan yakni Topandi. “Dalam pemilihan ini kami tidak membeda-bedakan, siapa saja bisa jadi duta termasuk anak LP,” sebutnya.

Topandi (19) yang ketika ditemui malam itu mengaku sangat senang walau penampilannya malam itu tidak diketahui orangtuanya. “Saya ingin buat surprise sama orangtua,” sebut Topandi yang datang bersama Kepala LP Klas II Anak Tanjung Gusta Medan, Siswanto BcIP SH.

Walau masih berstatus anak binaan LP, Topandi mengaku tidak malu atau minder dengan peserta lain. “Saya ingin menunjukkan kalau penjara bukan sesuatu yang menakutkan, di sana kita bisa berkreasi. Buktinya malam ini saya berhasil membawa pulang piala,” ucap Topandi dengan penuh semangat. (Analisa Online: www.analisadaily.com, 3 November 2008)

8 Responses to “Penelitian PKPA: 20 Persen Anak Nias Nikah Usia Dini”

  1. 1
    Buala Says:

    Agak rancu news ini. Penelitian PKPA: “20 persen anak Nias nikah usia dini” atau “(lebih dari) 20 persen masyarakatnya menikahkan anak-anaknya dalam usia dini”. Persentase anak versus persentase masyarakat adalah data statistik berbeda.

    Kata Misran Lubis: pernikahan dini karna permasalahan budaya yg sudah mengakar, yaitu melepaskan beban ekonomi dan takut silsilah keluarga hilang. Lubis tak mengkaitkan “permasalahan budaya” dgn tradisi jujuran. Kata Adelina R. Simatupang (“Perempuan Nias Menuju Sebuah Peradaban”): pada usia 14 anak perempuan mulai dijodohkan dgn harga mahar atau jujuran yg tinggi. Ukuran wanita biasa yg tak memiliki pendidikan harga jujuran 25 juta, di tambah 20 ekor babi.

    Bila mahalnya jujuran tak jadi soal lagi, berarti sudah kaya utk menikah atau dinikah usia dini. Pameo perempuan Nias yg banyak jadi perawan tua tergusur. Atau mungkin adat sudah erosi, karna desakan “beban ekonomi dan ancaman silsilah keluarga hilang”. Perlu penjelasan isu pernikahan dini ini dlm konteks adat perkawinan Nias.

    Lubis mulai isu “kekerasan berbasis gender”: kekerasan terhadap perempuan, child abuse, kekerasan dlm rumah-tangga, dan perkosaan (“Gambaran Situasi Perempuan Nias” di Kongres Perempuan Nias, 14-15 Maret 2008). Kekerasan ini backgroundnya gemar mabuk-mabukan, bila dicari solusinya cukup menolong mengangkat martabat perempuan Nias.

  2. 2
    Sumange Says:

    “Sehingga tak heran jika masih ada para orangtua sudah saling menjodohkan anak-anaknya sejak masih balita.”

    Saya Ono Niha, hidup di Nias. Saya tak pernah mengalami atau mendengar Ono Niha menjodohkan anak sejak masih balita. Ngarang aja nih Pak Misran.

    Sumange

  3. 3
    m. giawa Says:

    Sebelum lahir ada jg dijodohkan, tp gak dikawinkan… yach gak bs lah yaw… tunangan ama kawin beda lah bang Lubis!!!

  4. 4
    S.G Says:

    Setahu saya, perjodohan sebelum lahir itu memang ada tetapi bukan tradisi yang meluas, dan tak pernah kudengar terjadi di Ori saya. Di Ori lain, saya pernah dengar, tetapi itu pun di zaman dulu, melibatkan tokoh dengan tokoh (lebih tepat: melibatkan anak-anak mereka yang masih dalam kandungan, kalau kebetulan berbeda jenis kelamin). Karena ini melibatkan tokoh jauhlah itu dari soal kemiskinan. Dan perjodohan sebelum lahir itu tidak serta merta kelak menghasilkan pernikahan dini. Ingat, mereka ini tokoh, jadi tahulah juga mereka bahwa pernikahan dini itu kurang baik. Untuk itu, perjodohan sebelum lahir itu tidak bisa menjadi bagian penjelasan pernikahan dini di Nias. Untungnya Pak Misran tidak memasukkana faktor ini dalam analisisnya.

    ***
    Soal menjodohkan anak sejak masih balita. Ini terjadi memang, dan biasanya dikaitkan dengan masalah ekonomi. Artinya, orang tua yang memiliki anak gadis membiarkan anak-anaknya semacam ‘dipinang muda’ oleh anak laki-laki dari keluarga kaya (lebih sering atau lebih tepat: keluarga yang memiliki piutang pada pihak anak gadis tadi). Tetapi perjodohan ini tidak otomatis menjadi pernikahan (dini atau normal). Sering terjadi, anak laki-laki tadi sewaktu telah dewasa justru memilih gadis lain, dan dengan demikian “perjodohan dini” itu dengan sendirinya batal.

    ***
    Analisis sebab musabab pernikahan dini di Nias barangkali bisa kita juga dikaitkan dengan analisis sebab musabab kemiskinan di Nias.

    Semoga pihak Redaksi mempertimbangkan diskusi baru tentang ini.

    S.G.

  5. 5
    Yohanes Fau Says:

    Sebagai Anak Nias, saya sangat prihatin dengan masalah pernikahan dini. mungkin sebagian kita masih beda pemahan degan yang dikatakan pernikahan dini agar informasi yang kami dapatkan lebih akurat sehingga kedepan bisa dibahas langkah-langkah penyelesaian dan pencegahaanya sebaiknya di berikan kepada kami hasil penelitiannya secara lengkap.

    Terima kasih Pak Lubis dan PKPA yang sudah peduli dengan masyarakat di Nias

    Salom

  6. 6
    Redaksi Says:

    Para pengunjung, khususnya pemberi komentar pada berita ini. Redaksi telah menghubungi Bapak Misran Lubis untuk suatu wawancara dengan situs ini; kita berterima kasih kepada Pak Lubis yang telah menyatakan kesediaan untuk diwawancarai secara tertulis.

    Untuk itu, mohon bersabar, menunggu hasil wawancara kami dengan beliau.

    Redaksi

  7. 7
    delon sitanggang Says:

    Mainkan wawancara itu sama kita Bang Redaktur… biar kita tau sampai seberapa gawat pernikahan dini itu… 🙂 Horas, Yaahowu!!

  8. 8
    Redaksi Says:

    Horas Lae Tanggang,

    Mudah-mudahan Pak Misran Lubis mau membantu kita …

    Redaksi

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Kalender Berita

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930