Oleh: Victor Zebua

Salah seorang putra Sirao bernama Latura Danö, karena terlalu berat tubuhnya sewaktu ladada (diturunkan), terus menembus bumi dan menjelma menjadi ular besar. Jika timbul perang, dan ada darah manusia merembes ke dalam tanah sehingga mengenai tubuhnya, maka ular besar itu marah dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Terjadilah gempa bumi.

Hal tersebut diungkapkan Pramudianto dalam artikel “Penderitaan dan Pemulihan Nias” (Kompas, 2005) dan buku “Nias Rescuing and Empowering Authority” (2005). Hal yang sama diceritakan J. Drias di Radio Nederland. Selanjutnya diceritakan, untuk menghentikan gempa itu, orang Nias berseru, “Biha Tuha! Biha Tuha!” (Sudah Nenek! Sudah Nenek!). Ucapan itu diserukan sebagai tanda insaf dan tidak membunuh lagi.

Cerita di atas diperoleh Pramudianto dan Drias dari buku “Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi” (2001) karya Johannes Maria Hämmerle. Hämmerle ‘menulis ulang’ artikel “Mite Nias dalam Buku Danandjaja” (1999) oleh Victor Zebua (Ama Angelin) di buletin Jikan (Jaringan Informasi Kaji Nias). Zebua sendiri, dengan memberi pengantar, ‘menulis ulang’ folklor (berkatagori mite) Nias dari buku “Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain” (1984) karya James Danandjaja. Folklor itu ditulis Danandjaja berdasarkan penuturan Fa’anö Daéli (Ama Nifili) pada tahun 1968.

Itulah sebagian riwayat penyebaran satu folklor Nias. Folklor yang berasal dari peredaran lisan sampai pada Daéli, kemudian beredar di ranah tulisan sejak buku Danandjaja terbit. Menurut Danandjaja (1984: 5), suatu folklor tetap memiliki identitas folklor (cerita rakyat) selama diketahui berasal dari peredaran lisan. Demikian pula mite Nias yang ditranskripsi ke dalam buku Danandjaja, tidak berhenti sebagai cerita rakyat Nias meski telah diterbitkan berbentuk cetakan.

Mite versi Daéli (Danandjaja, 1984: 62-4) berisi kisah raja Sirao dan sembilan putranya di kerajaan Teteholi Ana’a. Teteholi Ana’a ada di ‘satu lapis langit’ di atas Tanö Niha (bumi Nias). Ketika pergantian raja, Sirao mengadakan sayembara ketangkasan menari di atas mata sembilan tombak yang dipancang di halaman depan istana. Sayembara dimenangkan putra bungsu bernama Luo Mewöna, sehingga Luo Mewöna berhak menggantikan Sirao.

Usai sayembara, Sirao menurunkan putra lainnya ke bumi Nias. Empat orang selamat tiba di bumi Nias. Mereka adalah: Hiawalangi Sinada, Gözö Hélahéla Danö, Daéli Bagambolangi, dan Hulu Börödanö. Keempatnya menjadi leluhur para mado (marga) orang Nias sekarang. Empat putra lainnya tidak dapat mendarat di bumi Nias. Rantai Gözö Tuhazangaröfa putus saat diturunkan, dia tercebur ke sungai dan menjadi dewa sungai. Lakindrölai Sitambalina melayang-layang terbawa angin dan tersangkut di pohon, dia menjadi béla hogugéu (dewa hutan). Sifusö Kara jatuh di kawasan berbatu-batu, dia menjadi makhluk gaib berkesaktian kebal.

Sedang Bauwadanö Hia alias Latura Danö, sebagaimana diungkapkan di paragraf pertama, menjelma menjadi ular besar yang dalam hoho (puisi) disebut Da’ö Zanaya Tanö Sisagörö, Da’ö Zanaya Tanö Sébolo (dialah yang menjadi penadah bumi).

Belakangan, Luo Mewöna ikut menurunkan putranya bernama Silögu. Silögu selamat tiba di bumi Nias, dia juga menjadi leluhur orang Nias. Dengan demikian, dalam mite versi Daéli ada lima orang leluhur Ono Niha (orang Nias), yaitu: Hia, Gözö, Daéli, Hulu, dan Silögu. Mereka disebut si lima börö danömö (lima induk puak) orang Nias (Zebua, 1996: 3; Zebua, 2006: 62).

Versi Mendröfa
Penurunan Bauwadanö Hia juga diceritakan Sökhiaro Welther Mendröfa (Ama Rozaman) berbentuk hoho. Isi mite versi Mendröfa sedikit berbeda. Menurut versi Daéli, Bauwadanö Hia menembus bumi karena tubuhnya terlalu berat, kemudian menjelma menjadi ular besar. Sedang menurut versi Mendröfa, Bauwadanö Hia diturunkan ke fusö danö (pusat bumi) oleh Sirao dalam rangka mengemban tugas memikul bumi, agar bumi tidak bergoyang.

Dalam hoho Mendröfa tidak disebutkan Bauwadanö Hia menjelma menjadi ular, namun dia dapat menimbulkan gempa bumi. Pada saat perilaku manusia sesat, Bauwadanö Hia marah. Kemarahannya ditunjukkan dengan menggoncang bumi (Mendröfa, 1981: 129).

Ba mofönu Mba’uwa Dano Hia,
mofönu Zimayamaya Rao.
Ifadögö danö ifahisi,
ifadögö ifaosofaoso.” [sic]

(Marahlah Bauwadanö Hia,
marahlah Simayamaya Rao.
Bumi digoncangnya diayun-ayun,
bumi dibuai digoyang-goyang)

Bumi diciptakan Sirao dari segenggam tanömö danö (biji bibit tanah bumi) yang didapatnya dari Ndrudru Tanö Langi. Penciptaan bumi dilakukan Tulimomböi Sila’uma atas perintah Sirao (Mendröfa, 1981: 120).

Demikianlah Tulimomboi Sila’Uma lebih duhulu memasang tiang-tiang batu, baik tiang berkeliling maupun di tengah-tengah. Kemudian diletakkan seekor ular sawah raksasa, menggelungkan seluruh tiang-tiang tadi agar jangan rubuh atau jangan sampai miring. Ular sawah inilah yang disebut: “SAWA O’Ö DANO” (ular sawah pelingkar bumi), barulah Tulimomböi Sila’uma, menempa bibit tanah bumi (tanömö danö) tadi dengan godam yang besar…” [sic]

Cerita ular pelingkar bumi selaras dengan pengamatan Thomsen (1981: 454), “Nach der niassischen Mythologie ist die ‘Erde’ eine Scheibe, die von einer zum Ring geschlungenen Riesenschlange getragen wird.” (Menurut mitologi Nias bumi adalah sebuah piringan yang dilingkari dan dibawa seekor ular raksasa.)

Bila ular sawah pelingkar bumi merasa manusia melanggar hukum, gelungannya digerakkan sehingga bumi bergoyang, terjadilah gempa bumi. Agar gempa berhenti, manusia berteriak, “Biha Tuha, Biha Tuha”, seraya membunyikan segala macam benda. Pada saat itu, manusia menelusuri pelanggaran hukum, lalu melakukan pertobatan dan reformasi di bidang hukum (Mendröfa, 1981: 121).

Mendröfa tidak menjelaskan hubungan antara Bauwadanö Hia dan ‘ular sawah pelingkar bumi’. Apakah keduanya berbeda atau identik? Keduanya dapat menimbulkan gempa bumi, namun isi cerita tampak berbeda. Selain itu, penciptaan bumi terjadi jauh sebelum perebutan kekuasaan (sayembara) dan penurunan para putra Sirao (Mendröfa, 1981: 105). Artinya, saat peletakkan seekor ular sawah raksasa pada konstruksi bumi (oleh Tulimomböi Sila’uma) berbeda ketimbang penurunan Bauwadanö Hia ke pusat bumi (oleh Sirao). Boleh dikatakan, Bauwadanö Hia tidak sama dengan ‘ular sawah pelingkar bumi’ dalam versi Mendröfa

Beberapa Versi
Cerita gempa bumi versi Mendröfa ternyata mengandung dua versi mite; satu ditimbulkan Bauwadanö Hia dan satu lagi ditimbulkan ‘ular sawah pelingkar bumi’. Dalam versi Daéli, kedua versi mite tersebut terkesan diramu menjadi satu dengan menyebutkan ‘Bauwadanö Hia menjelma menjadi ular besar’. Nama lain Bauwadanö Hia menurut versi Daéli adalah Latura Danö.

Cerita Latura Danö ditemukan juga di kawasan selatan Nias. Menurut A.F. Hondrö (Ama Waigi) dari Maenamölö, Nias Selatan, kuasa untuk mendatangkan gempa bumi ada pada Latura Danö (Hämmerle, 1996: 80-1). Bila terjadi gempa bumi, orang berseru kepada Latura Danö, “Awuyu nama, awuyu nama, awuyu nama. Yamuhuku ndra’ugö Lowalangi na löna öböhöli.” [sic] (Bapak masih muda, bapak masih muda, bapak masih muda. Semoga Lowalangi menghukum dikau kalau engkau tidak berhenti.) Gempa bumi cepat berhenti bila disebut nama Lowalangi (Lowalani), karena Latura (Lature) Danö takut pada Lowalangi.

Mite ‘asal-usul manusia’ di Maenamölö berisi cerita penurunan tiga putra Salaŵa Holia (yaitu: Hia, Gözö, dan Ho) ke Tanö Niha (Hämmerle, 1986: 84). Informan mite ini juga A.F. Hondrö. Mite ini merupakan mite si tölu börö danömö (tiga induk puak) orang Nias (Zebua, 2006: 65), salah satu versi mite asal-usul dalam mitologi Nias. Karena isi mite si tölu börö danömö berbeda dengan mite si lima börö danömö, tentu Latura Danö (versi Hondrö) tidak dapat disamakan dengan Bauwadanö Hia (versi Mendröfa). Dengan demikian, cerita Latura Danö versi Hondrö merupakan satu mite gempa bumi yang lain lagi.

Dari uraian di atas dapat diketahui, cerita yang berhubungan dengan terjadinya gempa bumi ada empat versi, yaitu: dua versi Mendröfa, satu versi Daéli, dan satu versi Hondrö. Bila ditelusuri lebih jauh, boleh jadi dapat ditemukan beberapa versi lain. Pelbagai versi tersebut mencerminkan kemajemukan kolektif (masyarakat) pendukungnya. Folklor yang dihasilkan bernuansa, isinya tidak persis sama, meski hidup dalam satu kesatuan etnis Ono Niha.

Gempa Nias
Ketika terjadi gempa bumi, respon orang Nias jadul (jaman dulu) sesuai folklor dan latar-belakang mitologis masing-masing. Ada yang berpikir, “Bauwadanö Hia marah”. Ada yang berpendapat “ular sawah pelingkar bumi marah”. Ada yang berpandangan, “ular jelmaan Bauwadanö Hia marah”. Ada pula yang berkata, “Latura Danö marah”. Karena kerapnya terjadi gempa bumi di kawasan Nias, fenomena alam ini mendapat perhatian dan tempat dalam folklor ciptaan masyarakat Nias.

Menurut Rastogi & Jaiswal (2006: 130-1), Nias dilanda gempa bumi berkekuatan relatif besar empat kali, yaitu: 5-6 Januari 1843 (7,2 SR), 16 Februari 1861 (8,5 SR), 4 Januari 1907 (7,6 SR), dan 28 Maret 2005 (8,7 SR), di samping gempa-gempa kecil. Data ini agak berbeda dibanding data yang disajikan Fries.

Menurut Fries (1919:12), gempa bumi di Nias terjadi pada bulan Maret 1843, 10 Februari 1861, dan 4 Januari 1907. Besar kemungkinan Fries silaf mencatat data gempa pertama. Situasi dan kondisi kota Goenong Sie Foli [sic] usai gempa selama enam menit tanpa henti, pada tanggal 5 Januari 1843, diberitakan Javasche Courant (Baird, 1843). Berita tersebut dimuat tanggal 23 Maret 1843. Fries agaknya mengacu bulan pemuatan berita, bukan pada tanggal kejadian gempa yang diberitakan.

Kesilafan Fries pada data gempa kedua belum jelas, mungkin karena salah ketik (tanggal 16 menjadi 10). Sedang data gempa ketiga versi Fries, pascok (pasti cocok) dengan data versi Rastogi & Jaiswal. Fries menjadi misionaris di Nias tahun 1904-1920, kemungkinan besar dia mengalami sendiri gempa 4 Januari 1907 itu. Dua belas tahun setelah gempa itu, Fries (1919: 12) menulis, “I’otarai da’ö, ba no ahono sa’ae, gasagasa, ba lö moe’ila ginötö wa’atesao ndroeroe si manö….” (Sejak itu, untuk sementara tenang, dan tidak diketahui kapan terjadi lagi gempa seperti itu…).

Seolah menjawab tulisan Fries, hampir seabad kemudian sang ‘ular sawah pelingkar bumi’ kembali menggerakkan gelungannya. Itulah gempa Nias 28 Maret 2005. Meski gempa saat itu berstatus ‘bencana daerah’, namun solidaritas masyarakat lokal hingga internasional tumbuh dan berkembang untuk meringankan derita para pihak yang mengalami dampak yang ditimbulkannya.

Bacaan

  1. Baird, R., Register of Indian and Asiatic Earthquakes for the year 1843, Jour Asiatic Soc. 14 (604-619), 1843
  2. Danandjaja, James, Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain, Grafiti Pers, 1984
  3. Drias, J., Tanö Niha: Pulau Seribu Bencana, Radio Nederland Wereldomroep, 15 April 2005
  4. Fries, E., Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha, Zendingsdrukkery, 1919
  5. Hämmerle, Johannes M., Famatö Harimao, Yayasan Pusaka Nias, 1986
  6. Hämmerle, Johannes M., Ritus Patung Harimau dan Pemahaman tentang Arti Lowalangi di Nias Masa Agama Purba, Yayasan Pusaka Nias, 1996
  7. Hämmerle, Johannes Maria, Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias, 2001
  8. Mendröfa, Sökhiaro Welther, Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat – Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, Inkultra Fondation Inc, 1981
  9. Pramudianto, Nias Rescuing and Empowering Authority, Sirao Credentia Center, 2005
  10. Pramudianto, Penderitaan dan Pemulihan Nias, Kompas, 2 April 2005
  11. Rastogi, B.K. & Jaiswal, R.K., A Catalog of Tsunamis in the Indian Ocean, The International Journal of The Tsunami Society 25/3 (128-143), 2006
  12. Thomsen, Martin, Ein Totengesang von der insel Nias, Bijdragen tot de Taal-, Lan- en Volkenkunde 137 (443-455), 1981
  13. Zebua, Faondragö, Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  14. Zebua, Victor, Mite Nias dalam Buku Dananjaya, Buletin Jikan 1/1 (4-5), Juli 1999
  15. Zebua, Victor, Ho Jendela Nias Kuno Sebuah Kajian Kritis Mitologis, Pustaka Pelajar, 2006