Teror Makanan Berbahaya

Friday, September 26, 2008
By susuwongi

TAJUK Investor Daily

Ditemukannya produk makanan yang mengandung susu melamin dari Tiongkok menambah daftar panjang makanan yang tidak layak dikonsumsi. Makanan berbahaya yang mengandung racun sepertinya telah menjadi menu sehari-hari masyarakat di negeri ini. Belum lepas dari ingatan kita ketika Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan zat formalin dalam berbagai jenis makanan, dari ikan, ayam, bakso, hingga tahu. Formalin yang seharusnya dipakai sebagai pengawet mayat, ternyata disalahgunakan oleh pedagang untuk menjaga agar makanannya tetap tampak segar, meskipun sudah basi.

Di warung-warung yang berjejer di depan sekolah anak-anak kita, banyak dijual makanan yang menggunakan zat pewarna tekstil. Padahal, zat pewarna tersebut tidak larut dalam air, sehingga mengendap dalam tubuh dan berpotensi menimbulkan kanker.

Tak hanya itu, banyak makanan kadaluwarsa tetap diperdagangkan dengan mengaburkan tanggal expired (kadaluwarsa). Bahkan, ada pabrik yang khusus mengolah makanan kadaluwarsa itu menjadi biskuit baru dan diedarkan ke pasar.

Kita makin terperanjat sekaligus merinding saat melihat sampah restoran berupa sisa-sisa ayam dan daging yang telah dikerumuni lalat dan belatung juga dipermak kembali oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk kemudian dijual ke masyarakat. Sampah daging yang seharusnya untuk makanan babi diumpankan kepada manusia. Sungguh mengerikan.

Setiap hari, semakin banyak jenis produk makanan dan minuman berbahaya beredar di pasar. Dan, jumlah anggota masyarakat yang menjadi korban juga semakin besar. Namun, perlindungan konsumen atas teror makanan berbahaya itu masih jauh panggang dari api.

Membuat, mendistribusikan, serta menjual makanan dan minuman berbahaya adalah kejahatan besar. Sebab dampak yang ditimbulkannya tidak kalah dahsyat dengan aksi terorisme, dilihat dari jumlah korbannya. Apalagi, jika makanan itu beredar lintas negara, seperti susu bermelamin dari Tiongkok yang terbukti merusak ginjal.

Rasanya sangat sulit untuk mendapatkan makanan yang bernar-benar teruji kesehatannya di negeri ini. Lemahnya perlindungan konsumen membuat peredaran makanan berbahaya makin marak.

Celakanya, pemerintah sepertinya tidak serius memberantas peredaran makanan berbahaya itu, dengan alasan bisa menyebabkan perusahaan bangkrut, pengangguran bertambah, dan sebagainya.

Kita menyadari bahwa negeri ini menghadapi masalah pengangguran yang akut, tetapi membiarkan peredaran makanan berbahaya demi kepentingan ekonomi sangatlah tidak bijaksana.

Departemen Kesehatan dan BPOM sudah saatnya melakukan upaya-upaya komprehensif untuk meminimalisasi, bahkan kalau bisa menihilkan beredarnya makanan yang membahayakan konsumen tersebut. Sidak terhadap makanan yang membahayakan tidak hanya pada hari raya, tetapi harus dilakukan setiap bulan.

BPOM diharapkan membuat laporan tentang produk makanan yang tidak layak dikonsumsi setiap bulannya sekaligus melakukan aksi penarikan produk tersebut dari pasar. Jika ini rutin dilakukan, produsen yang membuat makanan berbahaya lama-lama akan gulung tikar karena rugi.

Sementara itu, Departemen Perdagangan juga wajib mengetatkan impor makanan dan minuman. Impor susu dari Tiongkok yang ternyata mengandung melamin dan membahayakan organ tubuh, merupakan pelajaran berharga. Hal ini tidak boleh terulang lagi.

Yang tak kalah pentingnya adalah law enforcement terhadap UU perlindungan konsumen. Pelaku kejahatan yang membuat, mendistribuskan, dan mengedarkan makanan berbahaya harus dihukum seberat-beratnya agar menimbulkan efek jera.

Kredibilitas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla, tidak hanya diletakkan pada keberhasilan indikator ekonomi semata, tetapi juga kemampuan menjaga keamanan warganya, termasuk serangan teroris makanan.

Langkah-langkah proaktif dan preventif yang bertumpu pada kepentingan konsumen perlu dijunjung tinggi. Kita berharap, langkah itu bisa membebaskan negeri ini dari teror makanan berbahaya, sehingga makanan dan minuman yang beredar di masyarakat adalah produk yang 100% terjamin kesehatannya.

Sumber: www.investorindonesia.com, 26/09/2008

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930