Oleh: Victor Zebua

Lawaendröna resah. Dia ingin terus hidup, tidak mau mati. Dia bertanya kepada semua orang perihal sebuah tempat di mana dia tidak bisa mati. Bahkan dia juga bertanya kepada pohon-pohon, sungai dan mata air. Kalau kematian tidak ada di situ, dia ingin tinggal bersama mereka. Lawaendröna mencari dan bertanya ke seluruh dunia, namun dia tidak menemukan satu tempat pun di mana tidak ada kematian.

Itulah secuplik kisah Lawaendröna dalam catatan kaki artikel “Ein Totengesang von der insel Nias” (Nyanyian Kematian dari pulau Nias) karya Martin Thomsen. Thomsen mengutip narasi kisah Lawaendröna dari kumpulan tulisan Pandita Josefo Dawölö yang dibuat tahun 1930. Tulisan Dawölö yang berjudul “Nidunödunö Zatua Föna ba Danö Niha” berisi baris-baris nyanyian hoho dan legenda dari mitologi dan kosmologi Nias, serta peraturan hukum Nias. Tulisan itu tersebar di seluruh Nias melalui eksemplar-eksemplar yang ditulis-tangan (Thomsen, 1981: 454).

Artikel “Ein Totengesang von der insel Nias” ditulis tahun 1978 dalam bahasa Jerman. Isinya perihal syair hoho yang disebut hoho ba zi mate. Hoho ini dinyanyikan ere hoho saat upacara ritual kematian orang Nias, khususnya kepala suku, untuk menghibur kesedihan. Kisah Lawaendröna ada di dalam teks hoho ini. Thomsen menyajikan syair hoho ba zi mate (gesang für einen toten) yang ditulis Lagemann tahun 1906 dalam buku Realiënboek, buku bacaan berbahasa Nias Utara yang diperuntukkan bagi anak sekolah menengah tingkat lanjut (Thomsen, 1981: 443). Teks hoho ditulis dalam dua bahasa, Nias dan Jerman. Akan halnya tulisan Dawölö dalam catatan kaki dimaksudkan sebagai penjelasan agar teks hoho mudah dipahami pembaca.

Kisah Lawaendröna merupakan sebuah dongeng (folktale) yang berisi perumpamaan untuk melukiskan kematian adalah kodrat yang tidak bisa dihindari manusia. Thomsen (1981: 447) menyajikan bait pembuka cerita yang dinyanyikan seorang ere hoho.

Hadia manö uhalö manömanö
hadia manö uhalö famaedo?
Ha Lawaendröna Baho Dema
ha Lawaendröna Defaoso

Tokoh cerita Lawaendröna Baho Dema, Lawaendröna Defaoso inilah yang kemudian dikisahkan mencari ‘tempat yang tidak ada kematian’. Lawaendröna bertanya, “He ‘ndre zi lö amate niha, he ‘ndre zi lö asao zato?” (Thomsen 1981: 449). Dia sangat berambisi menemukan tempat manusia dapat hidup sepanjang segala abad, di mana manusia punya ‘usia harapan hidup’ tanpa batas. Kalau ada tempat seperti itu, Lawaendröna akan pindah ke sana, karena dia, sebagaimana sajak penyair Chairil Anwar, ‘ingin hidup seribu tahun lagi’.

Kisah Lawaendröna juga terdapat dalam tulisan Petrus Fati’aro Waruwu (Ama Waogö) yang berbentuk syair hoho di buku “Hikaya Nadu” karya (editor) Johannes M. Hämmerle (1995: 604-14). Ama Waogö menulis nama tokoh ceritanya sedikit berbeda, yaitu Laowendröna (Laowendröna Bahodema, Laowendröna Defaoso). Ama Waogö berasal dari So’i’iwa, Lölöfitu Moi, tahun 1982 dan 1993 menulis dua versi hoho ba zi mate yang berisi kisah Laowendröna (Hämmerle, 1995: 425-6).

Manusia Bulan
Karena Lawaendröna tidak menemukan ‘tempat yang tidak ada kematian’ di dunia (bumi) ini, maka dia bertanya kepada bulan. Thomsen (1981: 454) menulis episode terakhir dari kisah Lawaendröna versi Dawölö dalam bahasa Jerman.

… Darum stieg er auch hinauf, um den Mond am Himmelsgewölbe zu fragen. Der Mond sagte: ‘Ich werde nicht sterben. Du darfst bei mir bleiben, doch dann darfst du nicht mehr essen (damit der Mond nicht bechmutzt wird). Damit du es aushalten kannst ohne Essen, musst du deine Eingeweide entfernen. Gib einen tiefen Teller an die Stelle deines Magens und ersetze den Darmknäuel durch Rollen von Seidenstoff.’…

[Karenanya dia naik ke langit untuk bertanya kepada bulan. Bulan berkata, “Aku tidak bisa mati. Kau boleh tinggal bersamaku tetapi kau tidak boleh makan lagi (agar bulan tidak terkena kotorannya). Supaya kau kuat tanpa makanan kau harus menghilangkan organ dalam di perutmu. Kemudian masukkan sebuah mangkuk ke perutmu dan gantilah ususmu dengan gulungan sutra”.]

Selanjutnya diceritakan, Lawaendröna menuruti perintah sang bulan dan menyuruh istrinya yang bernama Siwaria (Siwaria Lacha zi Hönö, Siwaria Lacha Zato) melakukan hal yang sama. Namun Siwaria menolak, sehingga Lawaendröna marah dan berkata, “Aku akan mengikat tali ke pusat bumi agar bumi terbalik”. Lawaendröna mengambil sebatang bambu, kemudian merangkai seutas tali yang sangat panjang di dalamnya. Tali itu akan digunakan untuk mengikat pusat bumi. Melihat perbuatan suaminya, Siwaria memasukkan gumpalan sirih-pinang yang sudah dikunyah ke dalam batang bambu itu. Gumpalan sirih-pinang itu menjelma menjadi tikus kecil yang menggerogoti tali, sehingga rangkaian tali Lawaendröna tidak pernah bisa cukup panjang untuk mencapai pusat bumi. Itulah sebabnya maka sampai hari ini bumi belum terbalik dan kiamat (Thomsen, 1981: 454).

Lawaendröna akhirnya menemukan ‘tempat yang tidak ada kematian’, bukan di bumi ini melainkan di bulan. Dia pindah ke sana menjadi ‘manusia bulan’, sementara istrinya tetap tinggal di bumi. Selama manusia masih berdomisili di bumi, kematian merupakan kodrat yang tidak bisa dihindari. Diharapkan, orang-orang yang tengah bersedih dapat merasa lega menerima kematian orang yang mereka cintai dan hormati sebagai kenyataan manusiawi. Inilah aspek pelipur lara yang terkandung dalam kisah Lawaendröna.

Meski konon di bulan manusia dapat hidup selama-lamanya, dalam hoho ba zimate tidak terdapat syair yang eksplisit mengindikasikan bahwa bulan dipahami sebagai Dewi. Di bulan Lawaendröna tidak bersua dengan Siléwé Nazarata yang menurut Suzuki (1959: 15) dan Hadiwijono (1977: 88-89) adalah sang Dewi Bulan orang Nias. Atau, dia tidak bertemu dengan Inada Simadulo Hösi yang menurut Münsterberger (Hämmerle, 1996: 69) adalah sosok Dewi Bulan. Artinya, kolektif (masyarakat) pendukung kisah Lawaendröna, berbeda dengan, kalau memang ada, kolektif pendukung mitos Dewi Bulan.

Kolektif pendukung kisah Lawaendröna memandang bulan menurut logika yang polos saja, yaitu suatu tempat yang lazim dilihat manusia dalam kehidupan nyata sehari-hari, terutama ketika bulan sedang purnama di malam hari. Agaknya, bagi mereka pertemuan dengan sang Dewi Bulan yang menurut para peneliti bernama Siléwé Nazarata atau Inada Simadulo Hösi bagaikan ‘pungguk nan merindukan bulan’. Sejauh ini, belum terdeteksi apakah kolektif pendukung kisah Lawaendröna maupun kalangan peneliti telah sampai pada tafsir yang lebih jauh dan rumit bahwa Lawaendröna adalah Dewa Bulan orang Nias. Semoga pula tidak memicu pertanyaan penelitian ‘mengapa ketika tiba di bulan Neil Armstrong tidak bertemu dengan Lawaendröna?’, karena kisah Lawaendröna hanyalah nyanyian pelipur lara.

Di lain pihak, hampir dapat dipastikan kisah Lawaendröna bukan milik kolektif pendukung upacara famaoso döla. Kolektif pendukung upacara famaoso döla berharap orang mati akan bangkit atau lahir kembali (Harefa, 1939: 96; Suzuki, 1959: 126; Laiya, 1980: 56; Zebua: 2008). Sementara Lawaendröna justru resah menghadapi kematian, dia tidak punya harapan setelah mati dapat hidup kembali, sehingga dia berupaya mengelak dari ancaman kematian. Bila demikian adanya, siapakah kolektif pendukung kisah Lawaendröna ini?

Dalam mitologi Nias ada sebuah cerita asal-mula kematian. Ketika bumi diciptakan, Sirao mengutus Lamonia meresmikan dan memberkati bumi (Mendröfa, 1981: 121-122). Lamonia diharuskan berpuasa, setelah selesai puasa dia memilih memakan buah pisang. Akibatnya setiap manusia pasti akan mati, sebagaimana pisang bila sudah tua akan ditebang (mati). Pisang tidak akan hidup lagi, namun anaknya akan tumbuh. Kematian seperti ini disebut Frazer (2006: 47) sebagai banana type (tipe pisang).

Konteks cerita kematian tipe pisang adalah kalangan penganut molohé adu. Apakah kolektif pendukung kisah Lawaendröna identik dengan penganut molohé adu? Sebuah pertanyaan yang menantang bagi para peneliti yang berminat pada kebudayaan Nias.

Warisan Cerita
Pengucapan syair hoho ba zi mate yang berisi kisah Lawaendröna dalam kurun waktu tertentu menjadi bagian integral dari upacara ritual kematian. Artinya, kisah Lawaendröna merupakan tradisi (lisan) yang disebarluaskan dalam masyarakat Nias melalui praktek kebudayaan pada zamannya. Thomsen belum pernah menyaksikan langsung upacara ritual kematian di Nias, namun menurutnya Fries menyaksikan sendiri upacara itu (Thomsen, 1981: 444).

Thomsen bekerja sebagai dokter di pulau Nias dua priode, yaitu tahun 1934-1940 dan 1951-1970 (Thomsen, 1976: I). Sedangkan Eduard Fries bekerja sebagai misionaris di pulau Nias tahun 1904-1920 (Yaahowu: 2007). Bila informasi Thomsen perihal Fries benar adanya, maka dapat dijadikan indikator bahwa upacara ritual kematian masih hidup di tengah masyarakat Nias hingga satu generasi awal abad 20. Dengan demikian, kisah Lawaendröna masih disebarluaskan melalui praktek kebudayaan hingga kurun waktu 1900-1925. Sesudah periode itu, kisah Lawaendröna tersebar melalui cerita para orangtua secara lisan maupun tertulis (misalnya tulisan Dawölö tahun 1930).

Penulis pertama kali, ketika masih duduk di bangku SD, mendengar kisah Lawaendröna, meski tidak selengkap versi Dawölö, dari penuturan nenek penulis pada suatu malam bulan purnama di Medan. Boleh jadi proses yang hampir sama dialami Ama Waogö yang menulis kisah Laowendröna di buku “Hikaya Nadu”. Tulisan Ama Waogö (lahir tahun 1922) didasarkan pada penuturan kakek beliau yang adalah seorang ere sebua (Hämmerle, 1995: 425, 428). Sebagai ere sebua tentunya kakek beliau adalah seorang pelaku upacara ritual kematian dalam masyarakat tradisional Nias.

Ama Waogö, nenek penulis, apalagi penulis sendiri, bukanlah pelaku upacara tersebut, namun bersama dengan orang Nias zaman sekarang telah diwarisi kisah Lawaendröna ini, untuk kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya.

Bacaan

  1. Frazer, Sir James George, The Belief in Immortality and the Worship of the Dead (1913), Vol. I, The Project Gutenberg eBook, 2006
  2. Hadiwijono, Harun, Religi Suku Murba di Indonesia, BPK Gunung Mulia, 1977
  3. Hämmerle, Johannes M., Hikaya Nadu, Yayasan Pusaka Nias, 1995
  4. Hämmerle, Johannes M., Ritus Patung Harimau dan Pemahaman tentang Arti Lowalangi di Nias Masa Agama Purba, Yayasan Pusaka Nias, 1996
  5. Harefa, Faogöli, Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939
  6. Laiya, Bambowo, Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, Gadjah Mada University Press, 1980
  7. Mendröfa, Sökhiaro Welther, Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat – Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, Inkultra Fondation Inc, 1981
  8. Suzuki, Peter, The Religious System and Culture of Nias, Indonesia, ‘S Gravenhage, 1959
  9. Thomsen, Martin, Ein Totengesang von der insel Nias, Bijdragen tot de Taal-, Lan- en Volkenkunde 137 (443-455), 1981
  10. Thomsen, M.G.Th., Famareso Ngawalö Huku Föna awö Gowe Nifasindro (Megalithkultur) ba Danö Nias, BNKP, 1976
  11. Yaahowu, Situs, Eduard Fries dan Karya Para Misionaris Awal di Nias: Wawancara dengan Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz, 2007
  12. Zebua, Victor, Triangulasi dalam Kisah Awuwukha, 2008
Facebook Comments