TELUK DALAM — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Cornelis Ronowidjojo meresmikan pembentukan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PIKI Nias Selatan (Nisel). Dalam sambutannya, dia mengharapkan peran nyata PIKI Nisel untuk menjadikan Pulau Nias sebagai zona damai di tengah-tengah kondisi di mana banyak pihak mempertentangkan perbedaan dengan perspektif dikotomi mayoritas-minoritas yang akan memecah belah kebersamaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya menegaskan, salah satu tugas utama pengurus DPC PIKI Nisel adalah mejadi bagian dari rencana besar untuk menjadikan wilayah ini sebagai zona damai (peace zone) yang akan menjadikan Pulau Nias sebagai pulau damai (peace island),” kata dia dalam paparannya pada pelantikan pengurus DPC PIKI Nisel di Gereja BNKP Jemaat Yohanes di Teluk Dalam, Selasa (12/08).

Dia menjelaskan, saat ini bangsa dan negara Indonesia sedang menghadapi krisis dan tugas berat. Hal itu seiring dengan munculnya berbagai persoalan, terutama persoalan yang timbul oleh kelompok-kelompok yang mengancam kebersamaan dan toleransi. Dia mencontohkannya dengan apa yang saat ini terjadi pada mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA).

Sementara itu, Ketua DPC Nisel F. L. Bidaya mengungkapkan, salah satu fokus utama yang akan
menjadi kontribusi PIKI Nisel pada kemajuan adalah menciptakan dan memelihara kerukunan yang menghargai kelompok agama minoritas di Nias Selatan. “DPC PIKI Nisel akan menjadi barisan terdepan dalam menciptakan dan memelihara kerukunan hidup umat beragama di Kabupaten Nias Selatan, dan dalam mewujudkan rasa toleransi dengan umat beragama lainnya, dengan tetap melindungi dan menghargai kelompok agama minoritas berdasarkan kasih Kristus,” kata dia.

DPC PIKI Nisel juga, tambah dia, sebagai mitra, akan memberikan pemikiran konstruktif kepada pemerintah daerah dan gereja untuk membangun Nisel. Untuk hal ini, PIKI Nisel concern dengan uapaya untuk membangun Nisel yang memiliki takut akan Tuhan, aman, tertib, bersahabat dengan lingkungan, bebas dari anarkhisme, bebas dari prostitusi, KKN, kemiskinan & ketertinggalan serta menggalang persatuan dan kesatuan.

Kebiasaan ‘tidak tepat waktu’ pada setiap kegiatan masyarakat juga disoroti dan diupayakan perbaikannya. Gerakan tepat waktu tersebut dikomitmenkan untuk dibudayakan untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas masyarakat. “Akan mendorong seluruh intelektual Nisel untuk menjadikan “gerakan tepat waktu” sebagai budaya, belajar untuk tidak menunda-nunda pekerjaan, hadir tepat waktu,” kata dia.

Sementara itu, mewakili tokoh agama, Ephorus BKPN So’ölö Manaö menegaskan agar Nisel yang bebas dari KKN menjadi prioritas PIKI Nisel. Dia mengakui, saat ini satu persoalan krusial di Nisel saat ini adalah masalah KKN. “Saat ini Nisel merupakan salah satu daerah yang kental dengan KKN. Kami berharap sebagai daerah yang mayoritas Kristen menjadi daerah yang bebas dari KKN. Apalagi para pengurus PIKI Nisel ini sebagiannya sebagai aparatur pemerintah. Dengan itu diharapkan berkontribusi menghilangkan KKN di Nisel,” kata dia.

Dia juga mengharapkan PIKI Nisel menjadi fasilitator pendidikan politik bagi masyarakat untuk menyadari tanggungjawab serta hak-haknya di negara ini. (Etis Nehe)

Facebook Comments