Badan antariksa nasional AS NASA menyangkal badan itu menyembunyikan informasi terkait dengan temuan-temuan Phoenix di Mars.

NASA mengakui bahwa penyelidikan yang dilakukan pesawat antariksa Phoenix telah menemukan senyawa perkhlorat di tanah Mars tetapi mengatakan analisis belum tuntas.

Para ilmuwan NASA mengatakan mereka tidak mendiskusikan hal itu secara terbuka sebelumnya karena mereka tidak yakin akan penitngnya data yang mereka peroleh.

Mereka mengatakan bahwa temuan tersebut – bila dikonfirmasikan – sangat menarik tetapi tidak menjadikan ‘kehidupan di Mars’ lebih atau kurang dimungkinkan.
Peneliti utama Phoenix Peter Smith dari Universitas Arizona menekankan bahwa timnya akan terbuka total tentang penelitian-penelitiannya.

“Kebijakan kami dari awal adalah memperlihatkan gambar-gambar yang kami peroleh dan mencoba melibatkan dunia – bersama dengan kami – untuk mengeksplorasi Mars untuk suatu daerah yang bisa dihuni,” katanya.

“Kami sungguh-sungguh merasa sudah waktunya setiap orang tahu apa yang kami temukan dan membuka jendela bagi dunia.”

Kegusaran terjadi akhir minggu lalu ketika rumor menyebar di internet bahwa temuan-temuan penting Phoenix ditahan.

Sumber dari ‘badai’ internet ini adalah sebuah artikel dalam majalah Aviation Week yang mengklaim bahwa “Gedung Putih telah diingatkan oleh NASA tentang rencana sebuah pengumuman yang akan dikeluarkan segera mengenai temuan pendarat Phoenix yang terkait dengan ‘potensi untuk kehidupan’ di Mars.

Majalah yang terpercaya itu lebih jauh mengklaim bahwa para ilmuwan di salah satu kelompok instrumen Phoenix tidak dilibatkan dalam sebuah konferensi pers minggu lalu untuk menghindari resiko mereka harus menjawab berbagai pertanyaan tentang hal itu.

Hal itu – sekarang NASA telah mengkonfirmasikan – adalah deteksi sinyal kuat perkhlorat di tanah Mars.

Sejarah air di Mars
Perkhlorat (senyawa yang mengandung khlorin dan oksigen) adalah zat yang potensial mengoksidasi dan sering ditemukan di tanah-tanah kering di bumi, seperti di gurun Atacama di Cili.
Walau Atacama yang sangat kering sering dianggap tidak bersahabat bagi kehidupan, asumsi yang sama tidak bisa diterapkan pada keberadaan perkhlorat di Mars, kata tim Phoenix.

“Di bumi, terdapat banyak tumbuhan yang bisa mengkonsentrasi perkhlorat dan hidup dalam perkhlorat pada tingkat tertentu; terdapat berbagai spesies bakteria yang menggunakan perkhlorat sebagai substrat dalam metabolisme meeka,” kata Sam Kounaves dari Universitas Tufts– seorang ilmuwan dalam misi itu.

Sinyal perkhlorat dideteksi oleh Microscopy, Electrochemistry, and Conductivity Analyzer (MECA), tetapi NASA menekankan bahwa analisis pelengkap dibutuhkan untuk mengkonfirmasi data dan menghaluskan detail.

Di bumi perkhlorat dibentuk di atmsofir oleh interaksi partkel-partikel aerosol dan debu dalam cahaya matahari, dan diendapkan secara kering di permukaan.
Di gurun, perkhlorat tetap tinggal di permukaan tetapi di daerah-daerah basah mereka akan masuk ke dalam tanah.

“Perkhlorat akan menginformasikan kepada kita tentang sejarah air di Mars, bukan hanya di lokasi pendaratan Phoenix tetapi di bagian-bagian lain di Mars seraya kami meneruskan eksplorasi kami,” kata Richard Quinn seorang peneliti Phoenix dari pusat Ames NASA.

“Sekarang kami telah melihat perkhlorat di permukaan dan garis penelitian selanjutnya adalah melihat di mana lagi mereka berada dan apakah mobilitas air atau garam terlibat dalam perpindahan itu.”

Para ilmuwan Phoenix kini memiliki waktu tambahan untuk mempelajari temuan-temuan mereka. Baru-baru ini NASA menambah waktu 5 minggu di luar rencana awal misi yang berlangsung 90 hari. (Sumber: BBC, 6/8/08).

Foto 1: Sampel tanah digali dan di bawa ke laboratorium peswat Phoenix untuk analisis. Foto 2: Phoenix membawa 7 (tujuh) instrumen ilmiah ke Mars.

Facebook Comments