Nias Selatan Kehilangan 264.000 Ton Ikan per Tahun Akibat Pencurian

Thursday, July 31, 2008
By nias

Medan – Anggota DPR RI Arisman Zagötö mensinyalir, dari sedikitnya 264.000 ton kehilangan ikan per tahun, oknum nelayan Thailand yang paling banyak mencuri ikan di perairan Nias Selatan (Nisel). Dari total itu termasuk ikan tuna biru yang cuma ada di perairan Nisel, ikan curian dijual dengan harga tinggi dengan label Thailand. Ironisnya, ikan yang dijual ke Malaysia kemudian diimpor kembali ke Indonesia via Belawan dan Tanjungbalai.

Atas kenyataan itu, Rabu (29/7) di Medan, Arisman Zagötö meminta instansi terkait dan aparat terkait mengantisipasi. “Kerugian Indonesia bukan cuma kehilangan ikan, tapi marwah bangsa diinjak-injak sepertinya kita tak punya kedaulatan,” tandasnya.

Ini kali kesekian selama Juli 2008 Arisman Zagötö ke Sumut termasuk ke kampung halamannya di Nias Selatan. Soal pencurian ikan hingga mengakibatkan kerugian serta kegusaran sehubungan penerbangan ke Nias Selatan distop, sudah dibicarakannya dengan mitra kerjanya termasuk dengan gubernur. Saat itu rapat bersama Komite Kerjasama DPR RI – DPD RI asal Sumut di Balai Raya Tiara Convention Center, Medan, Kamis (24/7), anggota Komisi IX DPR RI itu sudah melaporkannya. Di rapat konsultasi tersebut hadir 36 anggota DPR R, 4 anggota DPD asal Sumut, Gubsu H Syamsul Arifin SE dan para bupati walikota se-Sumut.

Putra pasangan Ama Tasi Zagötö – Ina Tasi Zagötö kelahiran 1959 di Teluk Dalam itu bilang, data kehilangan ikan sedikitnya 264.000 ton itu dari hasil penelusuran pihaknya bersama LSM yang bergerak di bidang illegal fishing dan akumulatif data perdagangan ikan nelayan Thailand yang kemudian dilansir media terkemuka di wilayah ini. Katanya, total kerugian itu belum termasuk praktik pencurian yang kemudian di jual di tengah laut oleh nelayan asing namun berbendera Indonesia.

Arisman Zagötö bilang, bila kekayaan laut Indonesia khususnya di Nias Selatan itu dikelola maksimal, bukan saja memberi nilai tambah pada Indonesia dari segi materi tapi dari sudut lapangan kerja membuka kesempatan luas, mulai dari pekerja rendah hingga akademis. Ia menunjuk wilayah kerjanya yang mencakup tenaga kerja dan kesehatan. “Pemanfaatan tenaga kerja dari sisi kelautan di Indonesia justru masih amat minim.” tandas Arisman Zagötö. (SIB, 31/07/09)

One Response to “Nias Selatan Kehilangan 264.000 Ton Ikan per Tahun Akibat Pencurian”

  1. 1
    Imanuel Waoma, SE Says:

    …….wah ini keterlaluan. Harta kekayaan kita diambil orang. Gimana dengan bapak-Bapak yang punya wewenang menjaga kelestarian dan keamanan hasil laut di Nias. Korps marinir Indonesia Barat gimana Pak….?

    Ada banyak kantong-kantong penghasil ikan di Nias, seperti Pulau Telo, Pulau batu dan sekitarnya. Terkenal sebagai penghasil Ikan Nasional.

    Saya mengajak Bapak, Ibu dan Saudara ikut menjaga keutuhan, kelestarian hasil laut sebagai komoditi Non Migas Nonor (1) di Nias, disamping kopra, padi dan Nilam…………..

    Salam buat Saudaraku di Nias atau warga Nias yang ada di rantau …( Tuhan Yesus berkati )

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031