Jamin Aktivitas Belajar di STT Setia

Wednesday, July 30, 2008
By nias

*Copot Wali Kota Jaktim

[JAKARTA] Pengelola yayasan dan Rektor Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT Setia) meminta jaminan aparat keamanan dan pemerintah setempat agar aktivitas belajar-mengajar di kampus tersebut dapat berlangsung kembali. Permintaan itu menyusul insiden konflik dengan warga sekitar, yang berujung pada evakuasi mahasiswa STT Setia dari asrama mereka, akhir pekan lalu.

Rektor STT Setia, Pendeta Matheus Mangentang, bersama Ketua Umum Yayasan Bina Setia Indonesia, Sukowaluyo Mintohardjo, Selasa (29/7) menjelaskan, permintaan tersebut mengingat mahasiswa sedang mengikuti ujian negara.

“STT tidak melanggar hak-hak warga sekitar dan tidak ada pelanggaran administrasi, seperti izin mendirikan bangunan (IMB), sehingga aparat dan pemerintah harus menjamin keberadaan kami,” kata Matheus.

Kampus berikut asrama yang terletak di Kampung Pulo No 33 RT 01/05, Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur itu, telah beroperasi sejak Desember 1989 di atas lahan seluas 6.700 meter persegi. Berdekatan dengan bangunan sekolah terdapat lahan yang sudah dibebaskan oleh pengembang Palm Estate, yang salah satu pemegang sahamnya bernama Surasa, eks Direktur Bank Bumi Daya (BBD).

Menurut rektor, pihak pengembang tersebut pernah menyampaikan keinginannya untuk membeli lahan milik STT kepada salah seorang staf yayasan sekitar 10 tahun lalu.

Sementara itu, Sukowaluyo berharap, pemerintah menjamin keamanan dan kebebasan menjalankan aktivitas semua warga negara. Apalagi, kasus di STT Setia yang berawal teriakan warga menuding mahasiswa maling, tidak terbukti, seperti disampaikan Kapolres Jakarta Timur, Kombes Polisi Hasanuddin. “Jadi,mahasiswa yang dituduh maling tidak terbukti,” katanya.

Secara terpisah, sekitar 1.600 mahasiswa STT Setia mendatangi DPR, mengadukan pengusiran secara paksa oleh warga di sekitar kampusnya.

Berdasarkan pantauan Selasa pagi, kampus dan asrama STT masih disegel dan dijaga aparat keamanan.

Copot Wali Kota
Sementara itu, pernyataan Wali Kota Jakarta Timur (Jaktim), H Murdhani yang meminta warga minoritas menyadari keberadaannya, dinilai tidak patut diucapkan se- orang wali kota. Dua mantan Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Anas Urbaningrum mengimbau, jangan ada pihak yang menggunakan isu mayoritas untuk berlaku tidak adil.

Terkait hal itu, Wakil Sekretaris FPDS Arisman Jagoto mendesak Gubernur DKI Jakarta mencopot Murdhani dari jabatannya, karena mengeluarkan pernyataan provokatif. [B-15/Ant/VL/RRS/A-17] (Suara Pembaruan, 29/07/08)

9 Responses to “Jamin Aktivitas Belajar di STT Setia”

  1. 1
    A.Calvin Zagoto Says:

    Hendaknya seorang pejabat publik berpikirnya universal, tolong walikota ini dibimbing lagi ya pak Gubernur?….Bukan sekali ini aja peristiwa itu terjadi, Aneh memang sementara pemerintah memikirkan bagaimana semua warga negara berpendidikan tapi yang terjadi di STT maunya orang melarang, aneh ya? ngga percaya tanya saja pada rumput yang bergoyang

  2. 2
    Aktivitas Sarumaha Says:

    Mayoritas vs Minoritas

    “Wali Kota Jakarta Timur (Jaktim), H. Murdhani meminta warga minoritas menyadari keberadaannya”

    Pembukaan UUD RI 1945 beserta pasal-pasalnya sangat jelas menjamin kemerdekaan tiap-tiap warga negara bukan hanya kemerdekaan bagi sebagian besar orang. Pernyataan bahwa kelompok minoritas harus menyadari keberadaannya bukan hanya tidak patut diucapkan oleh seorang pemimpin tapi juga mencerminkan sikap seseorang yang sangat jauh dari peradaban.

    Minoritas diminta untuk menyadari keberadaannya secara tidak langsung berimplikasi ganda. Pertama, minoritas harus tahu diri. Sadar bahwa mereka adalah kelompok yang tak berdaya, sadar bahwa mereka adalah kelompok yang tak diperhitungkan, sadar bahwa mereka adalah kelompok kelas dua, sadar bahwa mereka adalah kelompok yang harus tunduk pada kekuatan mayoritas sekalipun mereka dilecehkan, dimarginalkan, ditiadakan, ditekan dan ditindas.

    Implikasi kedua, kelompok mayoritas punya hak untuk bertindak semena-mena terhadap kelompok minoritas. Kelompok mayoritas bebas untuk berlaku tidak adil terhadap mereka yang kecil wong pemimpinnya saja bukan hanya bersikap permisif dengan hal ini tapi justru malah memprovokasi kelompok kebanyakan untuk memperlihatkan taringnya terhadap kelompok pinggiran (minoritas diminta menyadari keberadaannya).

    Pernyataan bahwa minoritas diminta menyadari keberadaanya tidak hanya bernada menggugat UUD 1945 tapi juga secara tidak langsung berusaha memproklamirkan ideologi baru yakni ideologi mayoritas. Kemerdekaan untuk beribadah, kemerdekaan untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan diperlakukan adil, kemerdekaan untuk mendapatkan perlindungan hukum serta kemerdekaan untuk berpendapat tidak lagi dilihat sebagai kebebasan untuk seluruh warga (siapa pun dia tanpa memandang statusnya) Kebebasan seolah diartikan sebagai hak yang hanya dimiliki oleh kelompok mayoritas. Sementara itu hak minoritas diartikan sebagai sesuatu yang mau tidak mau harus tahu diri.

  3. 3
    Erix Says:

    Dear all,

    Diskriminasi bukan masalah baru dimuka bumi ini. Kelompok mayoritas kerap merasa paling berhak untuk menentukan kebaikan dalam hubungan sosial masyarakat. Minoritas dipaksa untuk mengadopsi maunya mayoritas. Minoritas melawan. Tapi karena kalah jumlah, akhirnya bentuk perlawanan yang dipilih adalah dengan teror. Minoritas melakukan menebarkan rasa takut kepada kelompok mayoritas. Inilah lingkaran setan yang seolah tidak putus.

    Saya punya pengalaman dari Inggris tentang hal itu. Silahkan mengunjungin tulisan saya di : http://cefil19.blogspot.com/2007_07_01_archive.html#3656332629637007473

    Tulisan saya tujukan sebagai refleksi bagi semua kelompok mayoritas dimana pun. Tindakan semenang-menang mereka kepada kelompok minoritas hanya akan menghasilkan perlawanan yang berkepanjangan. Sadari lah itu

    salam,

    Erix

  4. 4
    edin Says:

    Itulah salah satu potret karakter/pola pikir para pejabat kita. Asal bicara tanpa mempertimbangkan statemennya itu bisa menjadi jerat atau pun pemicu tindakan sejajar oleh kelompok lain.

    Maka, sangat tepat bila anggota DPR mengritiknya. Sebab, pernyataannya itu sangat beresiko. Bisa dibayangkan apa yang terjadi, bila semua orang mengikuti logika Walikota Jakarta Timur itu. Bila umat mayoritas (yang notabene minoritas di Jawa, misalnya) di daerah-daerah lain memperlakukan umat minoritas (yang notabene mayoritas di Jawa. misalnya) secara seperti itu, maka semuanya akan runyam. Bayangkan sendiri. Tidak akan ada masa depan bagi kebersamaan di Indonesia.

    Jadi, sebaiknya, para pejabat bisa belajar bijak dalam memberi pernyataan. Masyarakat umat beragama pun juga harus melihat keberbedaan itu dalam bingkai kebersamaan dan kesamaan hak untuk berkeyakinan. Bukan, pada aspek jumlah.

    Jangan lagi terus menerus menyuburkan dikotomi mayoritas-minoritas. Kasus Ambon dan Poso sudah lebih dari cukup untuk sekedar contoh agar kita kembali menghargai keberbedaaan dan hak-hak dasar orang lain.

    Terima kasih

  5. 5
    Potifar Says:

    Kiranya Tuhan ampuni Pa Walikota suapaya kenal Tuhan Yesus dengan baik…amin

  6. 6
    Slemer Selone Says:

    Rekan2 satu bangsa yang saya hormati…Perlu kalian ketahui
    Kami tidak melakukan tindakan semena -mena kepada STT SETIA,dan kami pun tidak mau dibilang mayoritas yang menindas minoritas.
    Jumlah pemuda / i warga kami bila dibandingkan jumlah mahasiswa / i STT SETIA hampir berimbang (jadi saya rasa tidak ada kata “MAYORITAS atau MINORITAS” ).
    Kampung Pulo cuma kampung kecil,sempit dan berpemukiman padat dan kami cuma warga Kampung yang sudah habis kesabarannya melihat sepak terjang mahasiswa /i tersebut.
    Yang kalian dengar lihat dan baca dari berbagai media cuma catatan-catatan manis Mahasiswa/i & nyanyian2 merdu dari Pengurus SETIA.Tapi pernahkah catatan hitam mereka ( mahasiswa2 & pengurus SETIA )terbit diberbagai media ???…Tidak pernah,karena mereka selalu menutup – nutupi hal tersebut dari pemberitaan media dan dunia luar.
    Cuma kami Orang2 kampung yang mendengar,melihat dan ,kami merasakan sehingga betapa habisnya kesabaran kami….
    Semoga kalian semua diampuni dosa kalian oleh Tuhan kalian…Kami mohon lihatlah suatu kebenaran dari berbagai sudut,jangan cuma dari satu pihak saja.
    Mohon maaf apabila komentar ini menyinggung perasaan anda – anda sekalian ,kenyataan ini kami tulis agar kalian mengetahui & memahami dari segi pandang kami.
    Terima Kasih
    Dari
    B.J Armstrong
    Pemuda Kampung Pulo

  7. 7
    melya D. Sebayang Says:

    Mari kita mencoba untuk berbesar diri menerima uian dalam hidup kita.
    Amin

  8. 8
    Tommy Says:

    B.J Armstrong. Saya pikir perlu juga STT Setia introspeksi diri dan melakukan hubungan sosial yang lebih baik lagi. Bukan berarti saya mengajari, mungkin ada mahasiswa/mahasiswi yang melakukan pelanggaran terhadap norma masyarakat setempat. Saya juga seorang Kristen dan Lulusan STT lain. Saya pikir ada kebenaran yang dibilang Saudara B.J Armstrong dan kalaupun tidak benar saran saya adalah lakukan kontak sosial yang lebih baik lagi.

  9. 9
    warrys zebua Says:

    kepada bpk presiden RI SBY mohon perhatikan keadaan mahasiswa STT SETIA yang sampai saat ini masih berada di pengungsian. sampai sekarang STT SETIA masih berada di pengungsian. pemerintah jangan hanya mampu mengurus diri sendiri tetapi selesaikanlah masalah ini secepatnya. Warrys Zebua

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2008
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031