WASHINGTON — AS telah menepis prospek perang dengan Iran atau bahaya dekat lain sebagai akibat dari ambisi nuklir Iran. Namum AS memperingatkan bahwa dunia siap menghadapi kebijakan-kebijakan provokatif Iran.

Ujia coba misil jarak menengah Iran yang dikatakan bisa menjangkau Israel menimbulkan kemarahan di Washington tetapi Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan AS dan Iran tidak sedang menuju perang.

Ditanya apakah kedua negara sudah mendekati konfrontasi militer sebagai akibat dari retorika yang meninggi, Gates mengatakan: “Tidak, saya pikir tidak.”

“Kenyataan sekarang adalah bahwa banyak signal yang datang, tetapi setiap orang menyadari apa konsekuensi dari sebuah konflik.”

“Dan saya mau mengatakan kepada Anda bahwa pemerintahan ini (AS) sedang bekerja keras untuk memastikan bahwa pendekatan diplomatik dan ekonomi dalam berurusan dengan Iran dan usaha untuk mencoba mengubah kebijakan pemerintah Iran merupakan strategi dan pendekatan yang akan terus mendominasi,” kata Gates.

Peluncuran misil Iran pada hari Rabu berlangsung sehari setelah seorang pembantu pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa Teheran akan “membakar” armada laut Israel dan AS sebagai tanggapan atas serang AS terhadap program nuklir Iran.

“Peluncuran misil itu ‘sangat mengganggu, provokatif dan tanpa pikir panjang’,” kata William Burns, pejabat tinggi yang menangani isu Iran di Departemen Pertahanan AS.

Tetapi William Burns menepis bahaya dekat dari pengayaan uranium Iran walau ada kekuatiran dari berbagai pemimpin dunia bahwa program pengayaan ini bisa dimanfaatkan untuk membuat senjata nuklir.

“Meskipun Iran ingin menciptakan persepsi akan kemajuan program nuklirnya, kemajuan yang sesungguhnya masih sangat terbatas,” katanya pada Kongres yang bertemu untuk membahas “tantangan strategis yang datang dari Iran.”

Iran belum lagi menguasai proses pengayaan uranium, sebagai akibat dari sanksi tiga ronde Dewan Keamanan PBB atas Iran karena tidak mau menghentian program nuklirnya, katanya.

“Jelas bahwa Iran belum mampu menyempurnakan teknik pengayaan, dan sebagai hasil langsung dari sanksi-sanksi PBB, kemampuan Iran untuk mendapatkan teknologi atau bahan-bahan penting untuk program misilnya telah ditekan,” kata Burn.

Sebagai tambahan dari pembatasan akses Iran terhadap proliferasi teknologi dan produk-produk sensitif, Burn mengatakan bahwa pejabat-pejabat kunci Iran yang terkait juga telah diblok dari sistem finansial internasional dan perjalanan mereka dibatasi.

Operasi dari bank-bank Iran juga telah dibatasi, katanya.

Burns juga meminta kepada Iran agar memikirkan ulang secara sungguh-sungguh kebijakan-kebijakannya yang “provokatif” dan “mengancam” dan mengambil jalur “kooperatif dan konstruktif.”

“Sampai hal itu dilakukan, AS dan komunitas internasional tetap memiliki komitmen menjawab tantangan-tantangan Iran,” katanya.

Sementara itu para anggota legislatif AS menyampaikan keprihatinan akan ambisi nuklir dan ujicoba misil Iran dan mendesak pemerintahan Presiden Bush untuk meningkatkan usah-usaha diplomatik untuk mengakhiri ambisi nuklir Iran.

“Setiap hari Iran maju selangkah lebih dekat kepada titik di mana ia bisa memproduksi uranium kelas senjata untuk membuat bom nuklir,” kata Howard Berman, ketua panel urusan luar negeri DPR AS.

“Tak seroang pun mengetahui kapan itu terjadi, tetapi mayoritas ahli memperkirakan itu akan segera,” katanya. “Beberapa meramalkan akhir tahun ini.”

Ketua panel urusan luar negeri Senat AS Joseph Biden menghimbau pemerintahan Bush untuk mengadakan perundingan langsung dengan Iran seperti yang ia lakukan dengan Korea Utara yang menuju pada komitmen mengakhiri program nuklir negara komunis tersebut.

Iran bersikeras program nuklirnya semata-mata dimaksudkan untuk memproduksi energi tetapi Barat mengkuatirkan ini akan menjurus kepada pembuatan bom nuklir.

AS tak pernah mengesampingkan aksi militer untuk membom fasilitas nuklir Iran.

Burn mengatakan Washington akan menempuh “diplomasiyan tegar, memaksimumkan tekanan kepada Iran pada banyak titik sehingga Iran akan membayar mahal sebagai akibat dari pembangkanannya terhadap kehendak masayarakat dunia, secara khusus dalam isu nuklir.” (AFP)

Facebook Comments