Toyako, Jepang – Pertemuan bersama antara negara-negara maju dan sedang berkembang para hari Rabu sepakat bahwa perubahan iklim merupakan “salah satu dari tantangan-tantangan global yang besar di zaman ini” dan berjanji untuk mendukung usaha PBB untuk menyelesaikan kesepakatan baru iklim pada tahun 2009. Negara-negara maju mengatakan mereka mendukung tujuan jangka panjang dan menengah untuk mengurangi gas-gas rumah kaca, tetapi tidak memberikan target apapun.

Kesepakatan ini datang sehari setelah Kelompok Delapan, kelompok negara-negara industri maju yang terdiri dari AS, Jepang, Inggris, Jerman, Perancis, Kanada, Italia dan Russia, menetapkan suatu tujuan untuk mengurangi sebanyak 50% emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global pada tahun 2050.

Kelompok yang beranggotakan 16 negara itu mengeluarkan pernyataan final di sela-sela pertemuan puncak G8 di Jepang bagian utara.

“Kami mendukung suatu visi bersama untuk aksi kerjasama jangka panjang, termasuk target global jangka pajang untuk pengurangi emisi, yang mendukung pertumbuhan, kesejahteraan, dan aspek-aspek lain pembangunan berkelanjutan,” kelompok itu mengatakan.

Tetapi negara-negara berkembang yang diundang pada pertemuan itu tidak siap untuk menerima pengurangan emisi sampai 50% pada tahun 2050.

Kelompok yang diperluas itu mencakup negara-negara G8 dan Australia, Brazilia, Cina, India, Indonesia, Korea Selatan, Meksiko, and Africa Selatan. Ke 8 negara yang disebut terakhir diundang untuk duduk semeja dengan negara-negara anggota G8.

Pernyataan hari ini juga berjanji mendukung usaha yang dipimpin PBB untuk menyelesaikan pakta baru pemanasan global pada akhir tahun 2009.

Para pecinta lingkungan mengutuk pernyataan itu sebagai ‘tak berarti’ karena tidak memiliki target.

“Prakarsa ini sia-sia saja dan tidak menyumbangkan apa-apa terhadap pembicaraan-pembicaraan di PBB,” kata Antonio Hill, dari kelompok bantuan Oxfam International.

Negara-negara berkembang seperti Cina dan India telah mengkritik pernyataan posisi Kelompok Delapan (G8) karena gagal menyatakan secara jelas komitment negara-negara kaya, dan sikap ini terefleksi pada kurangnya target jangka panjang dalam komunike kelompok yang diperluas.

Bush mendesak pertemuan G8 untuk menghimpun negara-negara yang paling banyak menyumbang terhadap gas-gas rumah kaca.

Para pengkritik menyerang pengelompokan ini, karena tidak melibatkan negara-negara kepulauan yang akan sangat menderita akibat pemanasan global melalui kenaikan permukaan laut.

Dalam pernyataannya, G8 tidak menyebutkan secara khusus basis pengurangan 50% yang diusulkan, padahal pengurangan emsisi aktual dan efek terhadap lingukngan akan sangat tergantung pada basis yang nanti akan ditetapkan. Pengurangan dari level emisi tahun 2005 misalnya, akan sangat jauh dari pengurangan yang didasarkan atas level emsisi tahun 1990 – level yang disebutkan dalam Protokol Kyoto.

“Untuk memiliki makna, target jangka panjang harus memiliki tahun basis, ia harus didukung oleh aksi sasaran-sasaran jangka menegah yang cukup ambisius,” kata Marthinus van Schalkwyk, Menteri Lingkungan dan Pariwisata Afrika Selatan. “Sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan G8, target jangka panjang adalah slogan kosong.” (YHN, 9 Juli 2008)

Facebook Comments