Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan mengatakan Amerika Serikat adalah sebuah ancaman bagi perdamaian dunia. Nelson Mandela mengatakan hal itu dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Newsweek – 6 tahun lalu, tepatnya 10 September 2002.

Dalam kesempatan itu dia juga mengatakan, Amerika telah melakukan berbagai kesalahan dalam politik luar negerinya, antara lain dengan mendukung habis-habisan Shah Iran yang akhirnya mencetuskan Revolusi Iran. Dukungan dana dan senjata Amerika pada kelompok Mujahidin di Afganistan juga telah melahirkan kelompok ekstrimis Taliban.

Tetapi aksi Amerika yang paling mencelakakan menurut Nelson Mandela adalah sabotase terhadap keputusan PBB tentang penarikan mundur Uni Soviet dari Afganistan.

“Karena yang dikatakan (Amerika) adalah: bila Anda takut veto dalam Dewan Keamanan PBB, maka Anda boleh pergi mengambil sikap sendiri dan melanggar kedaulatan negara lain. Itulah pesan Amerika kepada dunia.”

“Ini jelas sebuah keputusan yang didorong oleh keinginan George W. Bush untuk menyenangkan industri senjata dan minyak di Amerika.”

Ketika ditanya apakah ada masalah rasial di PBB, Nelson Mandela mengiyakan.

“Unsur itu ada. Dalam kenyataannya, banyak orang mengatakan secara diam-diam, tetapi mereka tidak memiliki nyali untuk menyampaikannya secara terang-terangan, bahwa ketika Sekretaris Jenderal adalah orang kulit putih, Amerika dan Inggris tidak ‘keluar’ dari garis PBB. Tetapi ketika Boutros Boutros Ghali atau Kofi Annan menjadi Sekretaris Jenderal, mereka (Amerika dan Inggris) tidak menghormati PBB. Mereka menyepelekannya. Ini bukan pendapat saya, tetapi yang dikatakan oleh banyak orang.”

Dia menyebutkan wakil presiden Dick Cheney dan menteri pertahanan Donald Rumsfled adalah orang-orang yang memberikan saran-saran yang menyesatkan kepada Presiden Bush.

Terhadap Bush sendiri, Nelson Mandela memiliki pandangan yang cukup positif.

“Kesan saya Presiden Bush adalah orang yang bisa diajak bicara / berunding. Orang-orang di sekitarnyalah yang merupakan dinosaurus yang tidak ingin melihat Presiden Bush menjadi bagian dari dunia modern. Satu-satunya orang yang ingin menolong Bush menjadi bagian dari dunia modern adalah Menteri Luar Negeri Jendral Colin Powel.”

Secara khusus Nelson Mendela menyampaikan keberatannya atas rencara Amerika dan sekutunya untuk menyerang Irak pada tahun 2003.

“… Scott Ritter, mantan inspektur persenjataan PBB yang berada di Baghdad, telah mengatakan tidak ada bukti sama sekali bahwa Irak mengembangkan persenjataan pemusnah massal. Baik Bush maupun Tony Blair belum menyampaikan bukti-bukti bahwa senjata macam itu ada (dimiliki Irak). Tetapi kita tahu Israel memiliki senjata pemusnah massal. Tidak ada yang berbicara tentang itu.”

Dalam wawancara itu Nelson Mandela juga mengungkapkan kesan khususnya terhadap Wakil Presiden Dick Cheney.

“Ia (Dick Cheney) menentang keputusan mengeluarkan saya dari penjara (tertawa). Mayoritas anggota Kongres AS mendukung pembebasan saya, tetapi dia menentangnya.” (Newsweek)

Facebook Comments