*Sebuah Resensi Buku

Judul Buku: Melacak Batu Menguak Mitos, Petualangan Antarbudaya di Nias
Penulis: Jajang A Sonjaya (Ama Robi Hia)
Penerbit: Kanisius dan Impulse, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Tebal: 147 halaman

Nias dikenal sesungguhnya bukan hanya karena hasil pertanian dan pariwisatanya saja, melainkan juga karena pernah digoyang gempa dahsyat 8,7 Skala Richter pada 28 Maret 2005 lalu, padahal tiga bulan sebelumnya terimbas tsunami Aceh (26 Desember 2004). Meskipun demikian, Nias masih menyimpan kekayaan purbakala yang sangat mengesankan.

Tercatat dalam sejarahnya bahwa sejak masa kolonial, Nias sudah dikenal oleh para peneliti asing sebagai tempat yang unik dan eksotis. Kebanyakan penelitian yang dilakukan di bidang antropologi, arkeologi, sejarah, agama dan bahasa. Salah satu objek penelitiannya yang masyhur terletak di daerah Teluk Dalam di mana terdapat peninggalan arkeologis yang mengagumkan seperti ombo batu (lompat batu), daro-daro (kursi batu) dan nitaro’o (menhir).

Dari sisi topografisnya, Pulau Nias berupa dataran rendah dengan bukit-bukit di bagian tengahnya. Mata pencaharian penduduk pedalaman adalah pertanian dan perladangan, sedangkan di pesisir sebagian besar nelayan. Nias terdiri atas gugusan pulau besar dan kecil jumlahnya 132 pulau yang terletak di sebelah Barat Sumatera Utara. Pulau Nias sendiri merupakan pusat administrasinya. Untuk mencapai Nias, kita bisa berangkat dari Medan menuju ke Gunung Sitoli menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh 55 menit.

Sedangkan dari aspek bahasanya tergolong dalam rumpun Austronesia dengan ciri dialeknya yang bernada tinggi di akhir kata. Seperti ucapan salam ya’ahowu yang intonasinya berbeda dengan punten di Sunda atau kulo nuwun di Jawa. Cara pengucapannya seperti pekik merdeka dengan nada keras dan intonasi naik di bagian akhir. Lalu sebenarnya dari mana asal suku Nias?

Buku hasil penelitian ini mempersembahkan potret petualangan yang mengesankan yaitu menyusuri daerah Boronadu (boro: awal, adu: patung) yang diyakini sebagai asal suku Nias. Orang-orang Nias kebanyakan meyakini bahwa Boronadu adalah tempat manusia Nias pertama turun dari langit. Sekarang nama itu berubah menjadi Desa Sifalago Gomo terletak di Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan. Sangat terpencil, dikelilingi gunung-gunung sehingga suasana kekunoannya masih sangat terasa.

Di Boronadu terdapat banyak batu megalitik (mega: besar, lithos: batu > artefak batu besar) seperti lompat batu di Teluk Dalam—yang gambarnya pernah menghiasi uang kertas rupiah kita. Sayangnya, batu-batu megalitik tersebut sekarang sudah tidak digunakan lagi untuk aktivitas keseharian dan religi, tetapi hanya sebagai tempat menjemur pakaian atau biji cokelat, salah satu hasil perkebunan utama penduduk sana saat ini.

Jajang A. Sonjaya, penulis yang juga dosen muda Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini bisa dibilang hebat, setelah dua tahun bergaul dengan orang Nias pedalaman, ia mendapat kehormatan dengan dikukuhkan menjadi marga Hia dengan nama Ama Robi Hia (ama: bapak, robi: anak pertamanya, hia: marga orang tua angkatnya).

Ia berhasil melampaui tahap demi tahap cara membaur dan bergaul dengan masyarakat lokal di pedalaman Nias. Sulit dibayangkan, sebab begitu banyak peneliti yang menyerah di Nias, bahkan ada yang dibunuh karena gagal berbaur dan menghargai orang Nias. Pengakuan yang tulus terpancar dari kesulitan yang ia hadapi di masa penjajagan awal, “seluruh warga desa beragama Katolik dan Kristen, sedangkan saya Muslim” (hlm. 18). Di sinilah letak “kehebatan” Jajang, kebimbangannya hilang ketika sirih pertama masuk ke dalam mulutnya. Itulah kunci pertama agar orang luar bisa berbaur dengan orang Nias.

Kalau biasanya di daerah lain, tamu selalu dijamu dengan minuman, lain halnya di Nias, tamu disodori sirih (terdiri dari: daun sirih, pinang muda, gambir, kapur dan tembakau) yang diletakkan dalam wadah kaleng. Selain itu, tamu harus menghadapi hidangan daging babi dan minuman keras yang menjadi “menu” keseharian orang Nias.

Bagaimana Jajang melewati “tantangan” itu? Ini pilihan sulit yang berhasil diatasinya, “saya mencoba memahami arti segelas air itu (minuman keras) dari perspektif si pemberi, karena dari perspektif saya sudah jelas bahwa saya harus menolaknya” (hlm. 21). Hanya dalam waktu 2 bulan, ia sudah merasa benar-benar menjadi orang Nias: makan sirih, mengikuti pesta-pesta adat, menghadiri upacara kematian, ke Gereja setiap hari Minggu, mandi telanjang di sungai, menari maena dan fabaluse, bermain ukulele bersama anak-anak muda, pergi ke pasar di pusat kecamatan setiap Jumat, menyadap karet, memetik cokelat, mengajar SMP Boronadu, dsb.

Di balik aktivitas kesehariannya itu, Nias juga memiliki “kisah” yang khas tentang eksistensi perempuan. Sebagaimana diakui oleh Jajang, “perempuan nias itu cantik-cantik, kulitnya kuning dan matanya tajam” (hlm. 105). Tetapi dalam kenyataannya, “kecantikan” itu tidak menjadi kelebihan orang Nias, sebab mereka berada dalam posisi sangat marjinal. Perempuan di sana sangat takut terhadap laki-laki. Di Nias, diharamkan bagi laki-laki untuk bersentuhan dan melirik perempuan. Jika itu terjadi, bisa-bisa nyawa taruhannya.

Perempuan Nias adalah entitas yang eksklusif yang harus dijaga pihak keluarganya dari laki-laki. Di Nias perempuan itu dibeli. Setidaknya ada 28 syarat yang harus dipenuhi seorang laki-laki yang mau menikahi perempuan Nias yang semuanya berupa persembahan babi—yang jika saya kalkulasikan bisa mencapai 50-an juta rupiah. Sangat berat bukan? Itulah mengapa banyak pemuda Nias yang mencari perempuan di luar daerah, baru kemudian diajak hidup di Nias.

Hidup perempuan Nias sungguh berat. Suatu malam dalam perjalanan membelah hutan dan gunung melewati jalan setapak yang terjal, perempuan dibebani sesuatu yang sangat berat. Mereka harus membawa ransel dan semua barang milik anggota rombongan pelayat. Selain itu, pada aktivitas hidup sehari-hari, misalnya saat pergi ke ladang menyusuri sungai dan harus naik ke punggung gunung, seorang ibu dan anak perempuannya harus bekerja keras membawakan semua bekal yang dibutuhkan termasuk makanan dan minuman. Sedangkan kaum laki-laki hanya membawa golok di pinggang mereka. Sesampainya di ladang, mereka masih harus mencari talas, mengambil cokelat dan mengumpulkan sayuran.

Saat pulang pun beban ibulah yang paling berat karena masih harus mengusung cokelat di atas kepala sambil menenteng sayuran. Sesampainya di rumah, kaum laki-laki sudah bisa istirahat. Sedangkan perempuan masih harus menyiapkan wadah dan menjemurnya untuk keesokan harinya, menanak nasi dan memasak untuk makan malam.

Itulah rutinitas perempuan di Boronadu. Tiada hari tanpa bekerja. Kaum perempuan baru dikenang dan dihargai ketika mereka sudah tiada. Di balik eksotismenya, selarung pemarjinalan kaum hawa di Nias tak kuasa disanggah. Potret kehidupan perempuan Nias adalah buktinya.

Buku ini menyiratkan pesan moral penting bahwa untuk bisa menghargai budaya sendiri, seseorang harus bisa menghargai budaya orang lain. Inilah saya kira petualangan orang Jawa-Sunda-Islam yang berhasil menjadi bagian dari orang Nias-Katolik-Kristen. Meskipun sudah rahasia umum, jika sebagai peneliti seseorang seringkali dituduh sebagai “bersikap pura-pura” belaka—tentusaja apalagi kalau bukan untuk mendapatkan data. Saya kira sosok Jajang dengan sendirinya melampaui hal itu, meski ia mengaku persinggahan temporernya itu hanyalah sebuah dongeng dalam bagian hidupnya. (Media Indonesia, 14 Juni 2008).

Catatan Lihat Artikel-artikel terkait di Kategori “Budaya”.

Facebook Comments