Triangulasi dalam Kisah Awuwukha

Wednesday, June 11, 2008
By Moyo

Oleh Victor Zebua

Kisah Awuwukha yang dipublikasi Jajang A. Sonjaya (Ama Robi Hia), baik di buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” maupun di tulisan lepas “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala Untuk Bekal Kubur”, mendapat respon di artikel “Kisah Awuwuka Pemburu Kepala” yang ditulis Victor Zebua di situs ini. Keduanya, Sonjaya dan Zebua, sejatinya sama-sama melihat hal yang sama bahwa boleh jadi kisah Awuwukha itu mengalami distorsi.

Untuk meningkatkan validitas kisah Awuwukha, saya menyarankan daya triangulasi perlu optimal digarap. Menanggapi saran itu, di ruang komentar Sonjaya menulis “Dalam penelitia semacam ini tidak perlu menggunakan triangulasi karena yang dicari buka kebenaran melainkan pemahaman pribadi saya pada apa yang saya amati.” [sic].

Bila pengamatan (penelitian) dimaksudkan untuk kekayaan intelektual pribadi, tentu hasilnya tidak perlu diwacanakan. Namun, karena ‘pemahaman pribadi seorang peneliti pada apa yang diamatinya’ itu dipublikasi, kemudian menjadi kekayaan intelektual untuk konsumsi publik, maka wajar bila mendapat respon orang lain. Aspek ini diulas E. Halawa* di artikel “Batu Yang Enggan Bercerita – Catatan Ringan Untuk Ama Robi Hia” di situs ini.

Dua buku yang menjadi rujukan dalam saran saya, karya M.G.Th. Thomsen dan Bambowo Laiya, tertulis dalam daftar referensi buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” karya Sonjaya. Karena beliau merujuk buku tersebut, saya mengira beliau melakukan triangulasi, namun triangulasi itu ‘belum optimal digarap’. Frase ‘belum optimal digarap’ inilah yang merupakan substansi dari saran saya, bukan tentang ‘perlu-tidaknya triangulasi’.

Ternyata Sonjaya mengaku tidak memerlukan triangulasi. Bila demikian adanya, apa fungsi buku Thomsen dan Laiya dalam daftar referensi buku beliau? Jawabannya tentu ada pada sang pembuat daftar referensi. Saya justru melihat kedua buku itu memiliki nilai strategis sebagai pemicu triangulasi dalam penelitian Sonjaya di Sifalagö Gomo.

Triangulasi Lima Generasi
Dalam publikasi Sonjaya disebutkan masa hidup Awuwukha ‘lima generasi yang silam’. Sumber data ini adalah ingatan informan. Saya menyarankan data tersebut dikonfirmasi pada sura nga’ötö (silsilah keluarga), karena menurut penelitian Thomsen masa hidup Awuwukha adalah ‘tujuh generasi yang silam’ [buku “Famareso Ngawalö Huku Föna Awö Gowe Nifasindro (Megalithkultur) ba Danö Nias”].

Wacana yang muncul bukanlah sekedar kebenaran dari angka 5 atau 7 (lima atau tujuh generasi yang silam) itu. Justru perbedaan angka itu merupakan sebuah ‘batu uji’ validitas kisah Awuwukha versi informan dalam rangka menuntun upaya sang peneliti memahami masyarakat Nias di kawasan Gomo. Bila sebagai peneliti Sonjaya mengacu data masa hidup Awuwukha ‘lima generasi yang silam’, bagaimana beliau mendeskripsikan realitas sosial masyarakat Nias di Sifalagö Gomo pada saat itu?

Hanya berselisih satu generasi, yaitu empat generasi yang silam, masyarakat Sifalagö Gomo menciptakan legenda Tödö Hia. Pendukung legenda ini adalah masyarakat beragama modern (lihat artikel “Tödö Hia Walangi Adu” di situs ini). Perbedaan yang hanya satu generasi mengindikasikan kurun waktu kehidupan yang relatif sama. Bila demikian, realitas sosial pada saat itu adalah masyarakat pemburu kepala (dalam kisah Awuwukha) dan masyarakat beragama modern (pendukung legenda Tödö Hia). Dua bentuk masyarakat tersebut hidup berdampingan atau bercampur. Masyarakat campuran seperti ini, bila pernah ada di Sifalagö Gomo, belum mendapat perhatian dalam publikasi Sonjaya.

Karena Sonjaya memilih data masa hidup Awuwukha ‘lima generasi yang silam’, fokus penelitian beliau terarah pada masyarakat campuran di Sifalagö Gomo. Namun hal ini bisa dihindari bila dilakukan triangulasi terhadap data versi informan. Boleh jadi masyarakat campuran itu tak pernah ada. Inilah arti penting data versi Thomsen. Data itu berfungsi sebagai pembanding, sekaligus pemicu inspirasi dan kreativitas sang peneliti, untuk secara mandiri mencari sumber lain yang relevan dan relatif handal, misalnya sura nga’ötö, ketimbang ingatan informan.

Triangulasi Tujuh Generasi
Selanjutnya, bila mengacu Thomsen bahwa Awuwukha hidup ‘tujuh generasi yang silam’, analisis isi kisah Awuwukha kian menarik. Pada saat itu masyarakat di Sifalagö Gomo belum beragama modern. Apakah Awuwukha menganut kepercayaan tradisional molohé adu? Bisa dijawab ‘ya’ bila sebelum beragama modern, masyarakat Nias dipahami sebagai pemuja roh yang bersemayam dalam patung. Namun bisa pula dijawab sebaliknya.

Menurut Sonjaya, binu untuk menyiapkan minum, membuat sirih pinang, meladeni makanan, menjaga, dan menjadi tukang pijat Awuwukha di alam baka. Hal ini sesuai pandangan eskatologis penganut molohé adu bahwa ‘kehidupan’ di alam baka identik dengan kehidupan di alam fana. Oleh karena itu di alam baka Awuwukha memerlukan fasilitas yang dipunyainya seperti saat dia hidup di alam fana. Binu berfungsi sebagai ‘bekal kubur’ Awuwukha. Sampai di sini diketahui, para informan Sonjaya menceritakan kisah Awuwukha dari sudut pandang (point of view) penganut molohé adu.

Keadaan menjadi kontradiktif ketika diceritakan pula bahwa ‘pada waktu-waktu tertentu, misalnya ketika hendak menyelenggarakan pesta adat, tengkorak si tokoh itu (Awuwukha) disembah’. Isi cerita di bagian ini tidak sesuai dengan tradisi molohé adu. Para penganut molohé adu tidak menyembah tengkorak orang tua, melainkan menyembah adu zatua (patung orang tua). Oleh karena itu, anggapan bahwa Awuwukha menganut kepercayaan tradisional molohé adu menjadi goyah. Boleh jadi Awuwukha bukan penganut molohé adu.

Dalam buku “Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia” Laiya mengungkapkan upacara famaoso döla (pengangkatan tulang-tulang kembali). Upacara ini pernah hidup di kawasan tengah dan selatan Nias. Masyarakat pendukung upacara famaoso döla berharap orang mati akan bangkit atau lahir kembali. Hal ini berbeda dengan kepercayaan penganut molohé adu. Penganut molohé adu berpikir, roh orang mati tetap hadir di tengah-tengah kehidupan orang hidup. Bila kisah Awuwukha dijelaskan lewat sudut pandang masyarakat pendukung upacara famaoso döla, tentu motif Awuwukha meminta binu bukanlah ‘bekal kubur’, melainkan ‘ingin dilahirkan kembali ke alam fana’.

Kisah Awuwukha ternyata dapat dijelaskan lewat dua sudut pandang, yaitu sudut pandang masyarakat penganut molohé adu dan sudut pandang masyarakat pendukung upacara famaoso döla. Keduanya digabung dalam kisah Awuwukha oleh para informan Sonjaya. Hal ini mengindikasikan ada dua bentuk masyarakat di Sifalagö Gomo tujuh generasi yang silam. Mereka hidup berdampingan dan bercampur. Masyarakat campuran seperti ini, bila pernah ada di Sifalagö Gomo, barangkali tak terlintas dalam pemikiran seorang peneliti bila dia mengabaikan daya triangulasi dalam penelitiannya.

Masyarakat Pendukung
Dari uraian di atas dapat diketahui, di balik teks kisah Awuwukha terkandung cerita tentang tiga bentuk masyarakat yang kemungkinan besar pernah hidup di Sifalagö Gomo. Ketiga bentuk masyarakat itu adalah: masyarakat beragama modern (pendukung legenda Tödö Hia), masyarakat penganut molohé adu (pemuja adu zatua), dan masyarakat pemburu kepala (pendukung upacara famaoso döla).

Berasal dari masyarakat manakah Awuwukha? Inilah pertanyaan yang seyogianya dicari jawabannya secara cermat oleh peneliti yang ingin mencapai pemahaman yang lebih dalam dan luas tentang Nias. Artinya, ‘inilah realitas sosial yang perlu ditangkap oleh seorang peneliti kualitatif di Sifalagö Gomo’. Tingkat kesulitan penelitian mungkin akan menjadi relatif tinggi, karena realitas sosial yang hendak diteliti bukan ‘potong lintang’ (sedang terjadi) melainkan retrospektif.

Beberapa peneliti boleh jadi enggan bersusah-payah menjelajahi dan mengkaji ‘arkeologi’ sesuatu masyarakat yang ditelitinya. Bila data etnografis berhasil diperoleh, sudah dirasa memadai. Kemudian sang peneliti melakukan kegiatan penafsiran dan menarik kesimpulan atas data-data tersebut. Pola kerja seperti ini mengabaikan aspek dinamika dan transformasi masyarakat pada suatu zaman maupun dari zaman ke zaman. Sering terlupakan bahwa data etnografis senantiasa berhubungan dengan konteks masyarakat pendukungnya. (*)

5 Responses to “Triangulasi dalam Kisah Awuwukha”

  1. 1
    Fatizaro Harefa Says:

    Artikel Pak Victor Zebua menarik sekali analisisnya. Terlihat 3 bentuk masyarakat Nias pada jamannya yakni pendukung upacara famaoso dõla, pemuja adu zatua, serta pendukung legenda Tõdõ Hia.

    Sebagai tambahan info, di artikel Pak Indra Yudha judulnya “Sejarah Tari Balanse Madam” ada lagi bentuk lain masyarakat Nias yg mereka migrasi ke Padang pada abad ke-16 yakni pendukung tarian Balanse Madam.

  2. 2
    nasrun zega Says:

    Kayaknya lho… Jajang A. Sonjaya blm pas pakai semiotika Barthesian (form-concept-signification)… beliau rancu mengurai mitos yg dimulai dari fenomena riil berupa batu megalitik, lebih terpukau sama cerita partisipan. Dlm ‘Mythologies’ Roland Bartehs bilang… “Jika saya bermaksud menguraikan mitos-mitos, maka saya harus dapat mengidentifikasikan konsepnya”… ahh… akhirnya kita cuma disuguhi aforisme (serpihan teks)… alamak 🙂

  3. 3
    Andrian Giawa Says:

    Mangkanya Andrew Beatty yg neliti Gomo n hslkan ‘Society and Exchange in Nias’ th 1992 dia bilang: “The many social changes of the last sixty to seventy years in the Upper Susua make it impossible to establish an agreed picture of past practice. (And, of course, we may not hypostatize the past as informants are apt to do.)” (p.119) Yahh ati2 ajalah ngambil simpulannya Bang. GBUs.

  4. 4
    Fadel Waruwu Says:

    Tambah wawasan menarik diskusi ini saohagolo.

  5. 5
    Dharma Kelana Putra Says:

    Maaf, numpang nimbrung. Saya juga pecinta budaya Nias. Satu hal yang menarik yang saya tangkap adalah ketika seseorang telah melakukan owasa, maka semua kata-katanya menjadi hukum. Apakah ini berarti bahwa apapun yang ia katakan menjadi suatu aturan dan menciptakan agama bagi anak-cucu dan warga masyarakatnya??
    Trims..

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30