Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian III)

Wednesday, June 4, 2008
By nias

Oleh: Noniawati Telaumbanua

Tulisan pada bagian ketiga ini mengulas singkat beberapa hal utama mengenai situasi geografi Kepulauan Nias. Karena ruang yang tersedia terbatas, penulis sangat menganjurkan para pembaca untuk melihat beberapa buku yang berkaitan dengan tema yang ditulis, sehingga para pembaca bisa diinformasikan secara langsung dan lebih lengkap mengenai wilayah pantai Barat khususnya Perairan Nias. Hanya sejumlah foto yang berhubungan akan ditampilkan dalam artikel ini dan sedang diedit untuk ditampilkan bersamaan dengan artikel. Mohon dimaklumi apabila kualitas gambar sangat kecil demi kemudahan penayangan berita bagi para netter.

Fakta Geografi
1. Wilayah dan Perairan
Kepulauan Nias (Gbr. 1) berada dalam wilayah administrasi Propinsi Sumatera Utara dan memiliki dua daerah administrasi kabupaten, Nias dan Nias selatan. Kepulauan Nias terdiri dari 132 gugusan pulau dengan pulau terbesar yaitu Pulau Nias.

Gbr. 1: Wilayah Daratan dan Perairan Nias – Sumber: Google Earth, On Line 02 Juni 2008

Wilayah kedua kabupaten dikelilingi perairan Samudra Hindia di pantai barat Sumatera, sekitar 85 mil dari kota pelabuhan terdekat Sibolga. Kepulauan dengan panjang sekitar 120 Km dan lebar sekitar 40 Km terletak antara 0◦12’-1◦32’ Lintang Utara dan 97◦-98◦ Bujur Timur (BPS Kabupaten Nias 2000). Gugusan pulau di daerah khatulistiwa ini berbatasan wilayah dengan Pulau-pulau Banyak (Propinsi Nangroe Aceh Darussalam) di bagian utara, Kabupaten Kep. Mentawai (Propinsi Sumatera Barat) di sebelah selatan, Pulau-pulau Mursala (Kabupaten Tapanuli Tengah) di bagian timur (Duha & Telaumbanua 2004, hal. 9). Secara keseluruhan Kepulauan Nias memiliki luas wilayah sekitar 5500 Km2 atau sekitar hampir 8% dari luar wilayah propinsi Sumatera Utara.

Hingga pada keadaan tahun 2001 (BPS Kab. Nias), Kepulauan Nias yang dahulunya terdiri dari satu kabupaten dengan ibukota Gunungsitoli terdiri dari:
Kecamatan: 22 Kecamatan
Desa/Kelurahan: 657 Desa/Kelurahan (6 Kelurahan dan 651 Desa)
Lorong pada Kelurahan: 26 Lorong

Dengan diresmikannya kabupaten baru di Nias melalui Undang-undang No. 9 Tahun 2003 pada tgl. 25 Februari 2003 (BPKP 2003 & DEPKUMHAM 2003), yakni Kabupaten Nias Selatan dimana Teluk Dalam sebagai ibu kotanya, serta memiliki delapan kecamatan (BPS Kab. Nisel 2007), yaitu:
1. Kecamatan Teluk Dalam
2. Kecamatan Pulau Pulau Batu
3. Kecamatan Hibala
4. Kecamatan Lahusa
5. Kecamatan Gomo
6. Kecamatan Amandraya
7. Kecamatan Lölöwa’u
8. Kecamatan Lölömatua.

Jumlah kecamatan di Kepulauan Nias terus bertambah dengan terbukanya kesempatan pemekaran lanjutan di tingkat desa dan kecamatan terutama di Kabupaten Nias (Lihat BPS Kab. Nias 2007 bdk. Duha & Telaumbanua 2004).

2. Keadaan Topografi
Sejatinya wilayah daratan di Kepulauan Nias merupakan daerah terumbu karang, dihutani oleh rawa, hutan bakau atau mangrove dan pohon kelapa. Hutan mangrove hingga April 2007 semakin menipis jumlahnya, dimana daerah yang masih memilikinya hanya pada beberapa tempat tertentu di utara Pulau Nias spt. Teluk Belukar (Gbr. 2) dan daerah Pulau-pulau Batu. Usaha untuk penanaman kembali sudah mulai terlihat baik secara pribadi maupun organisasi, contohnya bisa dilihat pada beberapa ruas jalan dari Teluk Dalam menuju Pantai Lagundri.

Gbr. 2 : Hutan Bakau/Mangrove di Teluk Belukar – Foto: NTbanua (Sept. 2006)

Terumbu-terumbu karang terlihat mengalami penyusutan selain karena perlakuan buatan dalam aksi pemanfaatan hasil laut seperti pemanenan terumbu dan atau pemanen ikan melalui bom laut, juga karena serangan bencana alam yang tetap intensif terjadi seperti gempa yang mengubah ketinggian tanah dan menyebabkan terumbu karang kehilangan genangan air laut (Gbr. 3 & 4).

Gbr. 3 dan 4: Terumbu karang di daerah Batu Atöla dan Pantai Lagundri, Kab. Nias Selatan – Foto: NTbanua (Maret 2007)

Sekalipun daratan di Pulau Nias sekitar 50% merupakan daerah berbukit-bukit sempit dan pegunungan terjal (Duha & Telaumbanua 2004, hal. 9), hampir keseluruhannya berada di bawah ketinggian 600 m dari permukaan laut (Gbr. 5).

Gbr. 5: Peta Permukaan Tanah Pulau Nias – Sumber: UNOSAT 2005

Pada gambar terlihat bahwa daerah dengan warna abu-abu merupakan daratan tertinggi yang mencapai ketinggian antara 500m hingga 700m dari permukaan laut Struktur permukaan tanah berbongkah-bongkah dan membentuk banyak sekali aliran sungai atau sumber mata air.
Kondisi ini yang menyebabkan ketidakmudahan untuk membangun infrastruktur jalan yang lurus, lebar dan kokoh. Kondisi ini juga yang memicu pemusatan aktifitas niaga hanya di daerah pinggir pantai saja.
Perairan bebas yang mengelilingi kepulauan ini menakdirkan pula bahwa jumlah dan ragam hasil laut sangat tinggi, namun lalu lintas perairan dari dan ke pulau ini beresiko tinggi. Wilayah yang sejajar dengan pulau Sumatera ini terkesan tersendiri di tengah laut dan tidak diapit oleh pulau lain dalam jarak dekat, sehingga lalu lintas laut terkesan tidak terlindungi terutama dari ancaman angin kencang di lautan bebas Samudera Hindia.

3. Iklim
Daerah ini merupakan daerah bercurah hujan tinggi, seperti halnya daerah khatulistiwa, memiliki suhu udara panas sekitar 25◦C-30◦C. Hujan angin sering melanda daerah ini rata-rata 20-an hari per bulan dan disertai kelembaban yang tinggi hingga 95% (Duha & Telaumbanua 2004, hal. 9). Panas yang terjadi pun kini sangat terik, berbeda sangat jauh di tahun 1970 ketika rumah masih berbahan kayu dan beratap palem dan mulai memanas dalam tahun 1980 ketika rumah beton mulai memenuhi kota dan desa. Sebelum tahun 1980 lahan hijau masih banyak terlihat di pinggir pantai. Pada Maret-April 2007 temperatur udara pernah mencapai sekitar 37◦C-39◦C, dimana dari pengamatan penulis pada Juni 2005, Agt.-Sept. 2006 dan Maret-April 2007 terlihat bahwa kisaran perubahan peningkatan temperatur terjadi cukup tinggi sejak gempa Maret 2005. Perubahan cuaca secara mendadak dalam sehari semakin jelas terlihat dalam kurun waktu tersebut di atas dan tidak lagi mengikuti alur musim seperti tahun-tahun yang telah lalu.

4. Diskusi: Tinjauan Alternatif
Karakter yang telah disebutkan di atas memang kurang atraktif dan tidak memudahkan seperti:

  1. tanah tetap berada dalam kondisi labil dengan struktur tidak kuat,
  2. tanah berkadar garam sangat tinggi, merupakan tantangan dalam pertanian
  3. curah hujan tinggi yang mempengaruhi hal seperti pemanenan hasil pohon seperti getah karet,
  4. pengaturan waktu dan sirkulasi bertani,
  5. singkatnya proses pembusukan produk pertanian,
  6. dibutuhkannya perhatian ekstra untuk pengolahan produksi pertanian khususnya yang membutuhkan proses pengeringan melalui sinar matahari,
  7. kemungkinan pengembangan budi daya laut secara buatan di pinggiran pantai seperti budidaya rumput laut, kerang dan mutiara, akibat pengaruh angin kencang,
  8. cuaca yang menyenangkan berpengaruh pada pelayanan jasa pariwisata, dll.

Dari informasi singkat ini, beberapa hal yang memenuhi persyaratan sebagai produksi andalan (bdk. Duha & Telaumbanua 2004, hal. 13-24) dan aksi perekonomian yang intensif di wilayah ini adalah hasil laut, produk tanaman keras dan hutan (karet dan kayu berat), pengolahan alternatif hasil alam tanpa bergantung dengan sinar matahari seperti pengeringan melalui proses pengasapan, pelayanan telekomunikasi dan jasa transportasi berkualitas tinggi, import, pemanfaatan dan pengelolaan air / perairan, energi angin, dlsb.

Pertimbangan untuk mendorong terus usaha penghijauan dan usaha untuk memperlambat kekeringan sebenarnya memberi peluang yang tinggi akan tersedianya sumber air tawar bukan hanya untuk penduduk di daerah ini, melainkan pula untuk daerah lain di luar Nias, dimana sumber air bersih saat ini sudah kritis di beberapa tempat seperti kota besar di Sumatera dan Jawa atau di belahan dunia lainnya seperti Afrika atau Eropa (Gresh dkk. 2007, hal. 19).

Tindakan preventif untuk menanam dan menyediakan kembali area hutan mangrove sebenarnya merupakan alternatif murah dan aman, walau tidak secepat dan seindah tatanan beton. Hutan ini mendorong pula kelanjutan kehidupan biota laut dan daratan di sekitarnya. Adanya hutan bakau memang memicu beberapa hal seperti nyamuk dan ular berbisa. Pengaturan penempatan area hutan bakau patut dipertimbangkan untuk tidak dijadikan pula sekaligus sebagai wilayah pemukiman, membutuhkan strategi estetika sebagai sarana pariwisata alam, ditempat pada beberapa „sudut“ strategi yang sangat rawan banjir dan terjangan air laut terutama tsunami. Selain itu strategi untuk memperkuat tanah yang berbukit-bukit ini sangat penting diperhatikan di wilayah berpenghuni sebagai langkah antisipasi longsoran akibat pergesekan lempengan kulit bumi.

Dalam hal terumbu karang, ini cukup dilematis, karena kerusakan terumbu karang terjadi pula tidak hanya disebabkan oleh gempa dan tsunami yang lalu serta penangkapan ikan dengan bantuan ledakan bahan kimia, akan tetapi karena pengaruh global, seperti peningkatan suhu air laut. Hanya saja penduduk dan petinggi daerah setempat memang perlu secara sadar mengawasi perlakuan tidak wajar terhadap terumbu karang ini. Terumbu karang merupakan satu dari perhatian utama sektor pariwisata internasional selain berselancar dan berenang untuk daerah pulau-pulau.

Cuaca yang berubah-ubah perlu diantisipasi dengan baik dan hati-hati karena selain menyangkut kenyamanan pendatang dan pengunjung juga berkaitan erat dengan faktor keamanan transportasi. Perubahan cuaca ini tidak hanya terjadi di Nias, namun bukan berarti merupakan hal yang permisif bagi dinas transportasi untuk tidak memperhatikan mutu pelayanan bagi pendatang . Sektor pertanian dan perikanan yang merupakan sektor terpenting di daerah ini membutuhkan sarana yang didukung oleh kemampuan penduduk setempat untuk secepat kilat beradaptasi dengan situasi cuaca dan alam terkini dengan dukungan alat modern yang tidak harus selalu bergantung pada situasi alam seperti mesin, bibit unggul, dlsb. (NTbanua 2008)

Daftar Pustaka

  • BPS Kab. Nias 2000: Nias Dalam Angka
  • BPS. Kab. Nias Selatan 2007: Nias Selatan Dalam Angka
  • Duha, Restu J. & Telaumbanua, N. (2004): Prospektif dan Wacana Pemekaran Kabupaten Nias Menuju Pembentukan Propinsi Tanö Niha, Gunungsitoli: PT Bumindo Mitrajaya
  • Gresh, Alain dkk. (2007): Atlas der Globalisierung, Atlas Globalisasi, Paris: Le Monde diplomatique
  • Situs BPKP – http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/uu/2003/09-03.pdf, diakses tgl. 01 Juni 2008
  • Situs DEPKUMHAM – http://www.djpp.depkumham.go.id/kerja/ln.php?j=uu&t=2003, diakses
    tgl. 01 Juni 2008
  • Situs UNOSAT – http://unosat.web.cern.ch/unosat/freeproducts/indonesia/ UNOSAT_nias _
    elevation_A4_200dpi.jpg, diakses Sept. 2005

2 Responses to “Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian III)”

  1. 1
    Yasi Says:

    Terima kasih atas informasi geografis P. Nias. Sebenarnya adalah hal yang cukup menantang orang Nias sendiri untuk hidup berdampingan dengan alam dan mensiasati alam tanpa harus merusaknya.Jepang dengan kondisi geografis yang juga terbatas sumber daya alamnya bisa muncul sebagai kekuatan ekonomi dunia. Apakah Nias bisa maju? Jawabannya bisa!!! Andaikata semua ‘stakehoders’ di Nias memiliki visi yang kuat dan didukung oleh SDM yang berkomitment dan berintegritas tinggi untuk mewujudkannya. Ibu Noni sudah memulai dengan beberapa kajian/tulisan yang informatif untuk kita. (saya meng-apresiasi hal tsb). Kenyataanya masih dibutuhkan lagi pemimpin yang visioner untuk Nias dan kerjasama (bukan sama-sama kerja)dari orang Nias untuk pembangunan Nias. Perjalanan masih panjang tapi dengan kerja keras dan tekad yang kuat akan mampu mewujudkan kemajuan di P.Nias. Yaahowu

  2. 2
    Pendidikan Untuk Penduduk Pulau Terpencil > Kasus Pendidikan di Pulau Mursala - Campur | IMADIKLUS - IMADIKLUS Says:

    […] http://niasonline.net/2008/06/04/kepulauan-nias-konsekuensi-sebuah-ketidakstabilan-dan-ketidakpastia… […]

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30