<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Batu Yang Enggan Bercerita – Catatan Ringan Untuk Ama Robi Hia</title>
	<atom:link href="http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/</link>
	<description>A website of Nias people, culture and current affairs</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 16:41:33 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: J. A. Sonjaya</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22855</link>
		<dc:creator>J. A. Sonjaya</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Oct 2010 03:16:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22855</guid>
		<description>Baik, Ama. Terima aksih informasinya. Saya akan coba bertanya ke Pastor atau ke Pak Natauli Duhi jika hendak ke Nias nanti.

Ya&#039;ahowu!

Ama Robi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Baik, Ama. Terima aksih informasinya. Saya akan coba bertanya ke Pastor atau ke Pak Natauli Duhi jika hendak ke Nias nanti.</p>
<p>Ya&#8217;ahowu!</p>
<p>Ama Robi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: E. Halawa</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22569</link>
		<dc:creator>E. Halawa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Oct 2010 05:30:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22569</guid>
		<description>Ama Robia,

Saya tidak tahu dimana Amada Anselmus bertugas sekarang. Silahkan tanyakan kepada P. Johannes Hammerle.

Ya&#039;ahowu,
E. Halawa</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ama Robia,</p>
<p>Saya tidak tahu dimana Amada Anselmus bertugas sekarang. Silahkan tanyakan kepada P. Johannes Hammerle.</p>
<p>Ya&#8217;ahowu,<br />
E. Halawa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: J. A. Sonjaya</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22504</link>
		<dc:creator>J. A. Sonjaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 04:43:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22504</guid>
		<description>Pak Halawa yang baik, ya&#039;ahowu!

Terima kasih atas responnya. Saya senang Ama bisa memahami maksud saya. 

Saya memang mengangkat persoalan di Nias (Gomo-red) secara apa adanya dengan perspektif interpretif-reflektif. Saya menyimpan bukti-bukti penting dalam bentuk rekaman video, seperti tentang boli niha, mangai binu, dll. Saya menyimpannya baik-baik siapa tahu kelak ada yang membutuhkan dan mau mendiskusikannya.

Mengangkat Nias apa adanya bukan berarti ingin membuka &quot;aib&quot; Nias. Memamng ini bukan hal mudah karena mungkin akan berbenturan dengan mereke-mereka yang tidak sependapat dan tidak menemukan fakta itu di kampung halamannya. Untunglah Pak Agus Mendrofa dan Pak Melkhior Duha selalu membesarkan hati saya untuk menulis Nias apa adanya. Sebenarnya, jika kita meletakkannya pada ruang dan waktu yang tepat (kontekstual), saya rasa akan banyak pembaca/pemerhati Nias (semoga orang Nias sendiri)yang bisa belajar dari Nias, belajar bahwa ada yang berbeda di antara anak-anak negeri ini yang secara kenegaraan dan kebangsaan diseragamkan (seragam baju sekolahnya, seragam makanannya, seragam sinetronnya, dan banyak lagi). Dari Nias, sesungguhnya, saya sedang mengkampanyekan pentingnya multikulturalsime, sebuah faham yang mendudukkan perbedaan dalam kesederajatan. Karenanya, saya sangat berterima kasih pada sahabat-sahabat dan keluarga di Nias yang telah membukakan pintu untuk saya untuk melihat keberagaman Indonesia.

Terima kasih atas sarannya. Saya sudah sangat ingin ke Nias. Semoga saya bisa bertemu beliau Amada Pastor Anselmus. Tapi, di mana saya bisa menemui beliau?

Ya&#039;ahowu!

J. A. Sonjaya (Ama Robi)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Halawa yang baik, ya&#8217;ahowu!</p>
<p>Terima kasih atas responnya. Saya senang Ama bisa memahami maksud saya. </p>
<p>Saya memang mengangkat persoalan di Nias (Gomo-red) secara apa adanya dengan perspektif interpretif-reflektif. Saya menyimpan bukti-bukti penting dalam bentuk rekaman video, seperti tentang boli niha, mangai binu, dll. Saya menyimpannya baik-baik siapa tahu kelak ada yang membutuhkan dan mau mendiskusikannya.</p>
<p>Mengangkat Nias apa adanya bukan berarti ingin membuka &#8220;aib&#8221; Nias. Memamng ini bukan hal mudah karena mungkin akan berbenturan dengan mereke-mereka yang tidak sependapat dan tidak menemukan fakta itu di kampung halamannya. Untunglah Pak Agus Mendrofa dan Pak Melkhior Duha selalu membesarkan hati saya untuk menulis Nias apa adanya. Sebenarnya, jika kita meletakkannya pada ruang dan waktu yang tepat (kontekstual), saya rasa akan banyak pembaca/pemerhati Nias (semoga orang Nias sendiri)yang bisa belajar dari Nias, belajar bahwa ada yang berbeda di antara anak-anak negeri ini yang secara kenegaraan dan kebangsaan diseragamkan (seragam baju sekolahnya, seragam makanannya, seragam sinetronnya, dan banyak lagi). Dari Nias, sesungguhnya, saya sedang mengkampanyekan pentingnya multikulturalsime, sebuah faham yang mendudukkan perbedaan dalam kesederajatan. Karenanya, saya sangat berterima kasih pada sahabat-sahabat dan keluarga di Nias yang telah membukakan pintu untuk saya untuk melihat keberagaman Indonesia.</p>
<p>Terima kasih atas sarannya. Saya sudah sangat ingin ke Nias. Semoga saya bisa bertemu beliau Amada Pastor Anselmus. Tapi, di mana saya bisa menemui beliau?</p>
<p>Ya&#8217;ahowu!</p>
<p>J. A. Sonjaya (Ama Robi)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: E. Halawa</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22395</link>
		<dc:creator>E. Halawa</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 01:34:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22395</guid>
		<description>Talifusõgu Ama Robi Hia,

Saya membutuhkan beberapa hari untuk membaca dengan baik komentar Anda (no. 11) yang merupakan tanggapan atas tulisan saya di depan.

Tidak berlebihan kalau kini saya mengatakan: J.A. Sonjaya alias Ama Robi Hia adalah seorang peneliti yang rendah hati, peneliti yang menganggap ‘catatan-catatan’ atau bahkan ‘kritik yang pedas’ terhadap hasil penelitiannya merupakan hal yang positif, yang menyambutnya dengan baik, dengan segala kerendahan hati. Alih-alih Anda menutup mata dan memalingkan wajah dari tulisan saya, Anda malah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencoba menanggapinya dan melihat unsur-unsur konstruktif dari padanya.

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengadakan permenungan. Saya salut, Anda ternyata serius menggeluti bidang Anda, dan karenanya mau meluangkan waktu untuk berefleksi dan akhirnya memberikan tanggapan positif, melakukan langkah-langkah perbaikan atau menindaklanjutinya dengan usaha-usaha nyata sebagaimana Anda beberkan di depan.

Dari pihak saya, tulisan saya yang Anda komentari ini adalah sebentuk ungkapan rasa terima kasih saya kepada Anda yang bersusah payah menggali sesuatu dari alam Nias sana untuk konsumsi publik. 

Sebenarnya saya bisa saja mengambil jalan pintas, aman dan memberikan kenyamanan kepada semua pihak - kepada saya pribadi, kepada Anda, dan kepada pemerhati budaya Nias. 

Supaya saya dicap ‘santun’ kepada pihak tamu (baca: Anda) dan terkesan menghargai karya yang keluar dari pemikiran Anda, maka sepotong kalimat berikut cukup bagi saya untuk menyenangkan dan menyejukkan semua pihak: &lt;i&gt;Ama Robi Hia, kami - orang Nias - sangat berterima kasih kepada Anda, yang telah bersusah payah menghasilkan sebuah karya tentang Nias; semoga kiranya ke depan Anda menghasilkan karya-karya lain tentang Nias&lt;/i&gt;.

Membaca kalimat di atas memang menyejukkan dan membesarkan hati, akan tetapi saya yakin Anda sependapat dengan saya, bahwa kalimat semacam ini bermakna &lt;i&gt;nihil&lt;/i&gt;.

Banyak pihak yang masih merasa terganggu dengan sorotan kritis atas karya-karya mereka dan bahkan melihat catatan-catatan kritis sebagai sebuah bentuk kecemburuan, rasa iri atau bahkan kebencian terhadap mereka dan karya yang mereka hasilkan. Sebenarnya kepada mereka ini pesan saya adalah: sebaiknya berhenti berkarya, karena karya yang hanya ingin disanjung tidak memiliki tempat yang layak dalam dunia penelitian.

Akhigu Ama Robi, teruskanlah karya Anda di bidang penelitian.

Ya’ahowu

E. Halawa
PS: Kalau Anda ke Nias lagi, jangan lupa menjumpai seorang imam Katolik asal Jerman yang sudah lanjut usia, Amada Pastor Anselmus. Beliau ini sangat fasih berbahasa Nias (varietas tengah. Sekedar ilustrasi: apabila Anda orang Nias seperti saya, lalu belum melihat wajah beliau, tetapi Anda mendengar suaranya, maka Anda akan berpikir, beliau ini Ono Niha, melalui logat kentalnya dan istilah-istilah yang barangkali hanya Anda bisa dengar lewat obrolan di warung kopi atau di harimbale. Beliau ini memfokuskan diri dalam karya kerasulan saja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Talifusõgu Ama Robi Hia,</p>
<p>Saya membutuhkan beberapa hari untuk membaca dengan baik komentar Anda (no. 11) yang merupakan tanggapan atas tulisan saya di depan.</p>
<p>Tidak berlebihan kalau kini saya mengatakan: J.A. Sonjaya alias Ama Robi Hia adalah seorang peneliti yang rendah hati, peneliti yang menganggap ‘catatan-catatan’ atau bahkan ‘kritik yang pedas’ terhadap hasil penelitiannya merupakan hal yang positif, yang menyambutnya dengan baik, dengan segala kerendahan hati. Alih-alih Anda menutup mata dan memalingkan wajah dari tulisan saya, Anda malah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencoba menanggapinya dan melihat unsur-unsur konstruktif dari padanya.</p>
<p>Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengadakan permenungan. Saya salut, Anda ternyata serius menggeluti bidang Anda, dan karenanya mau meluangkan waktu untuk berefleksi dan akhirnya memberikan tanggapan positif, melakukan langkah-langkah perbaikan atau menindaklanjutinya dengan usaha-usaha nyata sebagaimana Anda beberkan di depan.</p>
<p>Dari pihak saya, tulisan saya yang Anda komentari ini adalah sebentuk ungkapan rasa terima kasih saya kepada Anda yang bersusah payah menggali sesuatu dari alam Nias sana untuk konsumsi publik. </p>
<p>Sebenarnya saya bisa saja mengambil jalan pintas, aman dan memberikan kenyamanan kepada semua pihak &#8211; kepada saya pribadi, kepada Anda, dan kepada pemerhati budaya Nias. </p>
<p>Supaya saya dicap ‘santun’ kepada pihak tamu (baca: Anda) dan terkesan menghargai karya yang keluar dari pemikiran Anda, maka sepotong kalimat berikut cukup bagi saya untuk menyenangkan dan menyejukkan semua pihak: <i>Ama Robi Hia, kami &#8211; orang Nias &#8211; sangat berterima kasih kepada Anda, yang telah bersusah payah menghasilkan sebuah karya tentang Nias; semoga kiranya ke depan Anda menghasilkan karya-karya lain tentang Nias</i>.</p>
<p>Membaca kalimat di atas memang menyejukkan dan membesarkan hati, akan tetapi saya yakin Anda sependapat dengan saya, bahwa kalimat semacam ini bermakna <i>nihil</i>.</p>
<p>Banyak pihak yang masih merasa terganggu dengan sorotan kritis atas karya-karya mereka dan bahkan melihat catatan-catatan kritis sebagai sebuah bentuk kecemburuan, rasa iri atau bahkan kebencian terhadap mereka dan karya yang mereka hasilkan. Sebenarnya kepada mereka ini pesan saya adalah: sebaiknya berhenti berkarya, karena karya yang hanya ingin disanjung tidak memiliki tempat yang layak dalam dunia penelitian.</p>
<p>Akhigu Ama Robi, teruskanlah karya Anda di bidang penelitian.</p>
<p>Ya’ahowu</p>
<p>E. Halawa<br />
PS: Kalau Anda ke Nias lagi, jangan lupa menjumpai seorang imam Katolik asal Jerman yang sudah lanjut usia, Amada Pastor Anselmus. Beliau ini sangat fasih berbahasa Nias (varietas tengah. Sekedar ilustrasi: apabila Anda orang Nias seperti saya, lalu belum melihat wajah beliau, tetapi Anda mendengar suaranya, maka Anda akan berpikir, beliau ini Ono Niha, melalui logat kentalnya dan istilah-istilah yang barangkali hanya Anda bisa dengar lewat obrolan di warung kopi atau di harimbale. Beliau ini memfokuskan diri dalam karya kerasulan saja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: J. A. Sonjaya</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22394</link>
		<dc:creator>J. A. Sonjaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 00:09:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22394</guid>
		<description>Terima kasih Kak Esther,
Komentarnya sangat menyejukkan saya. Apabila kita bisa membacanya dengan cara berpikir mereka waktu itu, kisah tentang Awuwukha bagi saya bukan sejarah kelam, karena itulah salah satu cara orang Nias bertahan hidup, membangun masyarakatnya, dan menjunjung harga diri. Justru saya bangga pada orang Boronadu yang mau secara jujur mengakui adanya itu.

Saya sepaham dengan Kak Esther untuk mencari cikal bakal Nias di tempat lain, selain Boronadu, mengingat, dating (pertanggalan menggunakan C-14) yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan di Borondau hasilnya ternyata tidak terlalu tua. Apalagi saya juga mendengar ada beberapa versi mitos asal-usul manusia di Nias. Mari kita lacak bersama.

Tentang tulisan-tulisan orang Nias, menurut pemahaman saya, sampai zendeling datang pada awal abad ke-19 di Nias, orang Nias belum memiliki tradisi menulis. Hanya tulisan-tulisan terbatas yang terkait dengan bahasa pasar. Karenanya, menelusuri sejarah Nias sejatinya kita mulai dari tradisi tutur. Saya mengkoleksi tulisan-tulisan tentang Nias. Tulisan orang Nias Asli yang tertua yang saya miliki baru dari pertengahan abad ke-20. Jika ada yang memiliki lebih tua dari itu, saya sangat berharap bisa mengkopi dan membacanya.

Ya&#039;ahowu!

J. A. Sonjaya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih Kak Esther,<br />
Komentarnya sangat menyejukkan saya. Apabila kita bisa membacanya dengan cara berpikir mereka waktu itu, kisah tentang Awuwukha bagi saya bukan sejarah kelam, karena itulah salah satu cara orang Nias bertahan hidup, membangun masyarakatnya, dan menjunjung harga diri. Justru saya bangga pada orang Boronadu yang mau secara jujur mengakui adanya itu.</p>
<p>Saya sepaham dengan Kak Esther untuk mencari cikal bakal Nias di tempat lain, selain Boronadu, mengingat, dating (pertanggalan menggunakan C-14) yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan di Borondau hasilnya ternyata tidak terlalu tua. Apalagi saya juga mendengar ada beberapa versi mitos asal-usul manusia di Nias. Mari kita lacak bersama.</p>
<p>Tentang tulisan-tulisan orang Nias, menurut pemahaman saya, sampai zendeling datang pada awal abad ke-19 di Nias, orang Nias belum memiliki tradisi menulis. Hanya tulisan-tulisan terbatas yang terkait dengan bahasa pasar. Karenanya, menelusuri sejarah Nias sejatinya kita mulai dari tradisi tutur. Saya mengkoleksi tulisan-tulisan tentang Nias. Tulisan orang Nias Asli yang tertua yang saya miliki baru dari pertengahan abad ke-20. Jika ada yang memiliki lebih tua dari itu, saya sangat berharap bisa mengkopi dan membacanya.</p>
<p>Ya&#8217;ahowu!</p>
<p>J. A. Sonjaya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: esther gn telaumbanua</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22117</link>
		<dc:creator>esther gn telaumbanua</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Sep 2010 18:11:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22117</guid>
		<description>Andai  ada sebuah  referensi lain yang mengatakan pusat peradaban Nias bukan bermula di Boronadu, mungkin kesanalah orang merujuk memulai pengenalan itu. Adakah tulisan asli dari orang Nias asli dan dengan perspektifnya sebagai orang Nias tentang mite-mite, sejarah dan budayanya yang lebih utuh dari referensi yang ada? 
  
Sangat minim  dan tidak mudah bagi saya menemukan referensi pemikiran orang Nias asli dengan utuh. Lebih banyak referensi itu saya temukan melalui hasil upaya dan karya orang non-Nias dan orang dari luar Nias.  Karena keterbatasan diri saya (sebagai orang Nias) padahal kerinduan mengenal  Nias dan dimensi kehidupannya  sangat kuat pada diri saya, saya mulai dengan mencoba memahami karya yang ada dan walaupun dengan perspektif orang lain yang terbatas. Tak ada soal bagi saya, yang utama adalah saya mendapatkan informasi dan mengambil bagian yang positif darinya, dan dijadikan pintu untuk mengenal lenih dalam. Sebagai manusia saya selalu menyadari bahwa belum tentu saya mampu mengenal dan menggambarkan tentang diri saya secara utuh dan benar, karena itu perlu juga mendapat pandangan dari orang lain. 

Sejarah adalah dimensi kehidupan yang sangat jujur, karena ia bercerita apa adanya tentang apa yang telah terjadi. Dalam menguak sejarahpun kita harus jujur bahwa ada bagian yang baik dan indah, namun ada sisi-sisi yang mungkin kelabu. Karena itu, membaca cerita &#039;seram&#039; kisah Awuwukha, misalnya,  tidak akan mengurangi rasa hormat saya terhadap Nias, kalau itu memang bagian dari dimensi kehidupannya.  Kekuatiran yang berlebihan tentang dimensi  dalam sejarah, terutama untuk tujuan penelitian, akan membatasi kita untuk  mengenal Nias dengan utuh. Orang Batak pernah dicap &#039;kanibal&#039; ketika  misionaris  terbunuh di tanah itu, tetapi bagian sejarah ini justru  mendorong semangat membaharui diri dan kehidupan yang lebih maju di tanah itu di kemudian hari.  Bagi saya, cerita bahwa ada peneliti yang tewas di wilayah penelitiannya di era Nias yang lebih maju seperti saat ini merupakan sebuah sejarah yang lebih menyeramkan dari kisah Awuwukha. 

Sungguh tidak mudah untuk menguak seluruh dimensi kehidupan Nias dalam waktu dan ruang yang terbatas apalagi oleh orang yang non-Nias, namun menurut saya langkah awal ini baik. Oleh orang Nias sendiripun hal itu sangat tidak mudah dilakukan, dan kalaupun mudah belum tentu  mau melakukannya.  Karena  penulis buku adalah non-Nias walaupun metode yang digunakan sempurna, tentu ada warna lain dan ini sangat wajar. Andai ada  orang Nias yang bersedia memfasilitasi dan bersedia mendampinginya meneliti dalam keberadaan wilayah Boronadu yang ada pada waktu itu, mungkin Ama Robi Hia akan lebih terbantu berkarya dengan lebih sempurna sesuai kemauan orang Nias. Di bagian ini, saya menghargai Bapak JA Sonjaya (Ama Robi) atas niat baiknya melakukan penelitian di Nias dan menuangkannya dalam buku. Saya sudah membaca &quot;Melacak Batu Menguak Mitos&#039;. Dengan segala keterbatasan yang mungkin ada (seperti yang disebut para pemberi respon), saya pribadi terkesan dan berterima kasih untuk adanya buku itu. 

Bila ada kelemahan dalam  buku karya Ama Robi, saya mendorong orang Nias, kita, untuk menghadirkan buku baru yang menceritakan Nias dan dimensi kehidupannya  dengan lebih benar dan utuh, sebagai &#039;protes&#039; ilmiah yang objektif  dan lebih bertanggungjawab terhadap buku Ama Robi ini.  Ya’awohu. 

/Esther Telaumbanua</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Andai  ada sebuah  referensi lain yang mengatakan pusat peradaban Nias bukan bermula di Boronadu, mungkin kesanalah orang merujuk memulai pengenalan itu. Adakah tulisan asli dari orang Nias asli dan dengan perspektifnya sebagai orang Nias tentang mite-mite, sejarah dan budayanya yang lebih utuh dari referensi yang ada? </p>
<p>Sangat minim  dan tidak mudah bagi saya menemukan referensi pemikiran orang Nias asli dengan utuh. Lebih banyak referensi itu saya temukan melalui hasil upaya dan karya orang non-Nias dan orang dari luar Nias.  Karena keterbatasan diri saya (sebagai orang Nias) padahal kerinduan mengenal  Nias dan dimensi kehidupannya  sangat kuat pada diri saya, saya mulai dengan mencoba memahami karya yang ada dan walaupun dengan perspektif orang lain yang terbatas. Tak ada soal bagi saya, yang utama adalah saya mendapatkan informasi dan mengambil bagian yang positif darinya, dan dijadikan pintu untuk mengenal lenih dalam. Sebagai manusia saya selalu menyadari bahwa belum tentu saya mampu mengenal dan menggambarkan tentang diri saya secara utuh dan benar, karena itu perlu juga mendapat pandangan dari orang lain. </p>
<p>Sejarah adalah dimensi kehidupan yang sangat jujur, karena ia bercerita apa adanya tentang apa yang telah terjadi. Dalam menguak sejarahpun kita harus jujur bahwa ada bagian yang baik dan indah, namun ada sisi-sisi yang mungkin kelabu. Karena itu, membaca cerita &#8216;seram&#8217; kisah Awuwukha, misalnya,  tidak akan mengurangi rasa hormat saya terhadap Nias, kalau itu memang bagian dari dimensi kehidupannya.  Kekuatiran yang berlebihan tentang dimensi  dalam sejarah, terutama untuk tujuan penelitian, akan membatasi kita untuk  mengenal Nias dengan utuh. Orang Batak pernah dicap &#8216;kanibal&#8217; ketika  misionaris  terbunuh di tanah itu, tetapi bagian sejarah ini justru  mendorong semangat membaharui diri dan kehidupan yang lebih maju di tanah itu di kemudian hari.  Bagi saya, cerita bahwa ada peneliti yang tewas di wilayah penelitiannya di era Nias yang lebih maju seperti saat ini merupakan sebuah sejarah yang lebih menyeramkan dari kisah Awuwukha. </p>
<p>Sungguh tidak mudah untuk menguak seluruh dimensi kehidupan Nias dalam waktu dan ruang yang terbatas apalagi oleh orang yang non-Nias, namun menurut saya langkah awal ini baik. Oleh orang Nias sendiripun hal itu sangat tidak mudah dilakukan, dan kalaupun mudah belum tentu  mau melakukannya.  Karena  penulis buku adalah non-Nias walaupun metode yang digunakan sempurna, tentu ada warna lain dan ini sangat wajar. Andai ada  orang Nias yang bersedia memfasilitasi dan bersedia mendampinginya meneliti dalam keberadaan wilayah Boronadu yang ada pada waktu itu, mungkin Ama Robi Hia akan lebih terbantu berkarya dengan lebih sempurna sesuai kemauan orang Nias. Di bagian ini, saya menghargai Bapak JA Sonjaya (Ama Robi) atas niat baiknya melakukan penelitian di Nias dan menuangkannya dalam buku. Saya sudah membaca &#8220;Melacak Batu Menguak Mitos&#8217;. Dengan segala keterbatasan yang mungkin ada (seperti yang disebut para pemberi respon), saya pribadi terkesan dan berterima kasih untuk adanya buku itu. </p>
<p>Bila ada kelemahan dalam  buku karya Ama Robi, saya mendorong orang Nias, kita, untuk menghadirkan buku baru yang menceritakan Nias dan dimensi kehidupannya  dengan lebih benar dan utuh, sebagai &#8216;protes&#8217; ilmiah yang objektif  dan lebih bertanggungjawab terhadap buku Ama Robi ini.  Ya’awohu. </p>
<p>/Esther Telaumbanua</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: J. A. Sonjaya</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-2/#comment-22048</link>
		<dc:creator>J. A. Sonjaya</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Sep 2010 01:33:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-22048</guid>
		<description>Talifuso yang saya hormati, Ya&#039;ahowu!

Setelah dua tahun lebih sedikit saya merenungkan dan memutar otak atas saran Pak Halawa dan berbagai kritik kepada saya yang mengikuti saran tersebut, saya sekarang sudah menemukan sedikit titik terang jawaban. Ketika saya diam bukan berarti saya kebal dan menghindr dari kritik, justru ketika itu saya sedang berpikir, belajar, dan berusaha menemukan jawabannya. Saya tidak mau tergesa-gesa merepon karena saya memang belum menemukan jawabannya. Terima kasih atas saran Pak Halawa dan kritik saudara-saudara terhadap beberapa tulisan saya. Melalui media ini, izinkan saya memberikan respon.

Pertama: Judul Buku saya adalah Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Jika Saudara-saudara membaca dan memahami keseluruhan isi buku itu dari awal sampai akhir, saya yakin Saudara-saudara mengerti akan maksud dan keterbatasan saya menulis Boronadu. Ketika saya pertama kali mengijakan kaki di Nias, yang saya dengar di Nias adalah lain kampung lain adat. Maka, saya memilih satu tempat yang dianggap sebagai cikal-bakal orang Nias. Atas saran tokoh-tokoh Nias dan berbagai referensi yang saya baca, maka jatuhlah pilihannya ke Boronadu. Orang Boronadu sangat kaget melihat kedatangan saya karena mereka tidak pernah kedatangan peneliti yang tinggal di sana lebih dari seminggu. Saya juga kaget bagaimana bisa suatu tempat yang dipercaya sebagai tempat turunnya manusia pertama dari langit dan banyak ditulisa dalam berbagai sumber di Nias tidak pernah diteliti secara mendalam. Untuk pertama kali saya tinggal di sana dua bulan, lalu berkunjung ke sana berkali-kali setiap ada libur. Datang bukan sebagai peneliti lagi, tapi sebagai anak Boronadu yang mengunjungi ayah dan saudara-saudaranya, sekedar untuk menghadiri pesta atau memberi nama adiknya yang lahir (sekarang saya di sana punya adik bernama Jason Hia), sekedar untuk menjalin ikatan keluarga karena saya merasa bahagia ketika berada di tengah mereka--suatu perasaan yang tak pernah saya dapatkan di tempat lain. Sungguh!

Kedua, karena saya hanya punya waktu terbatas di Boronadu (total tinggal 48 hari dan menjalin hubungan melalui telepon 2 tahun, ini waktu yang sangat sedikit untuk sebuah penelitian), maka saya hanya ingin melihat Nias dari Boronadu sebagai jendelanya. Jadi, tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa saya melakukan generalisasi secara nomotetik (mereka kemungkinan hanya membaca sepotong buku saya, atau hanya mengomentari komentar orang lain tentang buku saya). Dari awal saya mengatakan bahwa ini tentang Boronadu yang dianggap sebagai cikal bakal Nias. Jika ada yang ingin konfirmasi atas tafsir saya tentang Boronadu, saya mengundang Saudara datang ke kampung saya, bertemu dengan orang tua dan beberapa tetua yang kesulitan menyampaikan kisah sejarah pada generasi berikutnya karena orientasi kebudayaan mereka sudah berubah. Ini yang mendorong saya segera menerbitkan buku, agar makin banyak orang yang mau mengikuti jejak Pak Halawa, Pak Nataauli Duha, Pak Pastor Johanes, Pak Melkhior Duha, Pak Victor Zebua, dll, untuk peduli pada kebudayaan Nias. Tentu saja pilihan saya ini berdampak banyak, salah satunya saya terkesan buru-buru. Makanya saya membatasi buku saya dengan sub judul : PETUALANGAN ANTARBUDAYA DI NIAS. Sub judul ini yang tidak pernah dibahas secara mendalam oleh siapa pun setelah 2,5 tahun buku saya terbit. Padahal sub-judul itu, sebagaimana dibahas dalam pengantar dan ucapan terima kasih saya, berisi perspektif saya dalam melihat Nias. Seperti yang SOF LLASE katakan, bahwa saya memilih jalur IDEOGRAFIK dengan cara penafsiran REFLEKTIF-INTERPRETIF, jadi sifatnya subjektif (bahkan intersebjektif, di mana subjektifitas saya diletakkan pada subjektifitas orang Boronadu). Pilihan jalur ini bukan semata karena alasan akademis, karena tidak mungkin saya memilih ranah positivistik yang bersifat objektif, karena hanya orang Nias asli yang bisa melakukan itu. Saya memang melakukan kesalahan besar dengan meng-upload tulisan &quot;Orang Nias: Mereka Memburu Kepala untuk Belak Kubur&quot; di blog perkuliahan saya. Saya meng-upload itu semata-mata untuk bahan diskusi kuliah di kelas saya yang akan saya hapus setelah satu atau dua minggu (Blog itu saya sediakan khusus untuk menunjang perkuliahan). Saya tak menduga bahwa tulisan itu akan dibaca oleh banyak orang Nias. Memang akan sangat bahaya ketika mereka tidak mengkaitkan tulisan itu dengan buku Melacak Batu, karena tulisan itu menjadi lepas dari konteks. Saya sungguh minta maaf untuk keteledoran ini.

Ketiga, untuk Pak Halawa, tentang belajar Bahasa Nias. Masukan Bapak sudah memperkuat ide kami untuk mengembangkan kursus bahasa daerah di UGM yang ditujukan bagi para peneliti yang hendak terjun ke daerah dengan latar bahasa dan budaya yang berbeda. Sebenarnya, sebelum saya terjun ke Nias pertama kali, saya didorong untuk belajar Bahasa Nias selama 3 bulan di Yogya. Tapi saya tidak bisa memanfaatkan ini dengan baik karena saya sibuk mengajar dan urusan penelitian di tenmpat lain. Hanya mahasiswa S-2 yang saya dampingi di Boronadu yang bisa belajar bahas Nias di Yogya dengan cukup baik. Terus terang, saya sangat malu ketika bertemu Pak Pastor Johanes. Beliau sangat fasih bicara bahasa Nias, sedangkan saya waktu itu baru bisa mengucapkan ya&#039;ahowu! Lucunya lagi, apa yang saya pelajari di Yogya ternyata sangat beda dengan yang saya dengar di Gomo, sebab yang mengajari saya bahasa Nias waktu di Yogya adalah orang Gunungsitoli, misalnya tentang perbedaan ono alawe dan si alawe. Terima kasih Pak Halawa, tentang bahasa ini memang menjadi salah satu penentu dalam penelitian kebudayaan.

Keempat, Saya mohon maaf, jika tulisan saya ternyata menyinggung orang Nias. 2,5 tahun ini, saya melakukan refleksi dari saran dan komentar saudara-saudara. Bahkan saya seringkali sulit tidur karenanya. Memang, sangat tidak adil melihat seseorang dan masyarakat tertentu dari ukuran-ukuran kita sendiri. Makanya, dari awal buku sudah saya tegaskan bahwa buku Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias berisi dongeng tentang saya yang belum tahu apa-apa tentang Nias. Sayangnya kalimat itu tidak dicetak tebal oleh penerbit, karena, tulisan-tulisan tentang Nias yang objektif dan orisinil hanya bisa lahir dari orang-orang Nias Asli, bukan dari orang-orang seperti saya yang hanya sekejap tinggal di sana. Dari buku-buku itulah orang seperti saya yang mencintai Nias tapi belum tahu apa-apa tentang Nias bisa belajar.
Ni

Saya masih ingin terus menjalin hubungan dengan orang Boronadu dan terus berkarya bersama mereka. Lain kampung lain adat, maka mari kita ungkap keberagaman Nias agar kita bisa belajar lebih dalam tentang siapa kita dan untuk apa kita ada.

Ya&#039;ahowu!!

J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Talifuso yang saya hormati, Ya&#8217;ahowu!</p>
<p>Setelah dua tahun lebih sedikit saya merenungkan dan memutar otak atas saran Pak Halawa dan berbagai kritik kepada saya yang mengikuti saran tersebut, saya sekarang sudah menemukan sedikit titik terang jawaban. Ketika saya diam bukan berarti saya kebal dan menghindr dari kritik, justru ketika itu saya sedang berpikir, belajar, dan berusaha menemukan jawabannya. Saya tidak mau tergesa-gesa merepon karena saya memang belum menemukan jawabannya. Terima kasih atas saran Pak Halawa dan kritik saudara-saudara terhadap beberapa tulisan saya. Melalui media ini, izinkan saya memberikan respon.</p>
<p>Pertama: Judul Buku saya adalah Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Jika Saudara-saudara membaca dan memahami keseluruhan isi buku itu dari awal sampai akhir, saya yakin Saudara-saudara mengerti akan maksud dan keterbatasan saya menulis Boronadu. Ketika saya pertama kali mengijakan kaki di Nias, yang saya dengar di Nias adalah lain kampung lain adat. Maka, saya memilih satu tempat yang dianggap sebagai cikal-bakal orang Nias. Atas saran tokoh-tokoh Nias dan berbagai referensi yang saya baca, maka jatuhlah pilihannya ke Boronadu. Orang Boronadu sangat kaget melihat kedatangan saya karena mereka tidak pernah kedatangan peneliti yang tinggal di sana lebih dari seminggu. Saya juga kaget bagaimana bisa suatu tempat yang dipercaya sebagai tempat turunnya manusia pertama dari langit dan banyak ditulisa dalam berbagai sumber di Nias tidak pernah diteliti secara mendalam. Untuk pertama kali saya tinggal di sana dua bulan, lalu berkunjung ke sana berkali-kali setiap ada libur. Datang bukan sebagai peneliti lagi, tapi sebagai anak Boronadu yang mengunjungi ayah dan saudara-saudaranya, sekedar untuk menghadiri pesta atau memberi nama adiknya yang lahir (sekarang saya di sana punya adik bernama Jason Hia), sekedar untuk menjalin ikatan keluarga karena saya merasa bahagia ketika berada di tengah mereka&#8211;suatu perasaan yang tak pernah saya dapatkan di tempat lain. Sungguh!</p>
<p>Kedua, karena saya hanya punya waktu terbatas di Boronadu (total tinggal 48 hari dan menjalin hubungan melalui telepon 2 tahun, ini waktu yang sangat sedikit untuk sebuah penelitian), maka saya hanya ingin melihat Nias dari Boronadu sebagai jendelanya. Jadi, tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa saya melakukan generalisasi secara nomotetik (mereka kemungkinan hanya membaca sepotong buku saya, atau hanya mengomentari komentar orang lain tentang buku saya). Dari awal saya mengatakan bahwa ini tentang Boronadu yang dianggap sebagai cikal bakal Nias. Jika ada yang ingin konfirmasi atas tafsir saya tentang Boronadu, saya mengundang Saudara datang ke kampung saya, bertemu dengan orang tua dan beberapa tetua yang kesulitan menyampaikan kisah sejarah pada generasi berikutnya karena orientasi kebudayaan mereka sudah berubah. Ini yang mendorong saya segera menerbitkan buku, agar makin banyak orang yang mau mengikuti jejak Pak Halawa, Pak Nataauli Duha, Pak Pastor Johanes, Pak Melkhior Duha, Pak Victor Zebua, dll, untuk peduli pada kebudayaan Nias. Tentu saja pilihan saya ini berdampak banyak, salah satunya saya terkesan buru-buru. Makanya saya membatasi buku saya dengan sub judul : PETUALANGAN ANTARBUDAYA DI NIAS. Sub judul ini yang tidak pernah dibahas secara mendalam oleh siapa pun setelah 2,5 tahun buku saya terbit. Padahal sub-judul itu, sebagaimana dibahas dalam pengantar dan ucapan terima kasih saya, berisi perspektif saya dalam melihat Nias. Seperti yang SOF LLASE katakan, bahwa saya memilih jalur IDEOGRAFIK dengan cara penafsiran REFLEKTIF-INTERPRETIF, jadi sifatnya subjektif (bahkan intersebjektif, di mana subjektifitas saya diletakkan pada subjektifitas orang Boronadu). Pilihan jalur ini bukan semata karena alasan akademis, karena tidak mungkin saya memilih ranah positivistik yang bersifat objektif, karena hanya orang Nias asli yang bisa melakukan itu. Saya memang melakukan kesalahan besar dengan meng-upload tulisan &#8220;Orang Nias: Mereka Memburu Kepala untuk Belak Kubur&#8221; di blog perkuliahan saya. Saya meng-upload itu semata-mata untuk bahan diskusi kuliah di kelas saya yang akan saya hapus setelah satu atau dua minggu (Blog itu saya sediakan khusus untuk menunjang perkuliahan). Saya tak menduga bahwa tulisan itu akan dibaca oleh banyak orang Nias. Memang akan sangat bahaya ketika mereka tidak mengkaitkan tulisan itu dengan buku Melacak Batu, karena tulisan itu menjadi lepas dari konteks. Saya sungguh minta maaf untuk keteledoran ini.</p>
<p>Ketiga, untuk Pak Halawa, tentang belajar Bahasa Nias. Masukan Bapak sudah memperkuat ide kami untuk mengembangkan kursus bahasa daerah di UGM yang ditujukan bagi para peneliti yang hendak terjun ke daerah dengan latar bahasa dan budaya yang berbeda. Sebenarnya, sebelum saya terjun ke Nias pertama kali, saya didorong untuk belajar Bahasa Nias selama 3 bulan di Yogya. Tapi saya tidak bisa memanfaatkan ini dengan baik karena saya sibuk mengajar dan urusan penelitian di tenmpat lain. Hanya mahasiswa S-2 yang saya dampingi di Boronadu yang bisa belajar bahas Nias di Yogya dengan cukup baik. Terus terang, saya sangat malu ketika bertemu Pak Pastor Johanes. Beliau sangat fasih bicara bahasa Nias, sedangkan saya waktu itu baru bisa mengucapkan ya&#8217;ahowu! Lucunya lagi, apa yang saya pelajari di Yogya ternyata sangat beda dengan yang saya dengar di Gomo, sebab yang mengajari saya bahasa Nias waktu di Yogya adalah orang Gunungsitoli, misalnya tentang perbedaan ono alawe dan si alawe. Terima kasih Pak Halawa, tentang bahasa ini memang menjadi salah satu penentu dalam penelitian kebudayaan.</p>
<p>Keempat, Saya mohon maaf, jika tulisan saya ternyata menyinggung orang Nias. 2,5 tahun ini, saya melakukan refleksi dari saran dan komentar saudara-saudara. Bahkan saya seringkali sulit tidur karenanya. Memang, sangat tidak adil melihat seseorang dan masyarakat tertentu dari ukuran-ukuran kita sendiri. Makanya, dari awal buku sudah saya tegaskan bahwa buku Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias berisi dongeng tentang saya yang belum tahu apa-apa tentang Nias. Sayangnya kalimat itu tidak dicetak tebal oleh penerbit, karena, tulisan-tulisan tentang Nias yang objektif dan orisinil hanya bisa lahir dari orang-orang Nias Asli, bukan dari orang-orang seperti saya yang hanya sekejap tinggal di sana. Dari buku-buku itulah orang seperti saya yang mencintai Nias tapi belum tahu apa-apa tentang Nias bisa belajar.<br />
Ni</p>
<p>Saya masih ingin terus menjalin hubungan dengan orang Boronadu dan terus berkarya bersama mereka. Lain kampung lain adat, maka mari kita ungkap keberagaman Nias agar kita bisa belajar lebih dalam tentang siapa kita dan untuk apa kita ada.</p>
<p>Ya&#8217;ahowu!!</p>
<p>J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dian hulu</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-17995</link>
		<dc:creator>dian hulu</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 06:03:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-17995</guid>
		<description>Sy bs ikuti isi diskusi ini.. asyiek n mencerahkan. silahkah lanjutkan berdiskusi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sy bs ikuti isi diskusi ini.. asyiek n mencerahkan. silahkah lanjutkan berdiskusi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: t. ganumba</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-17779</link>
		<dc:creator>t. ganumba</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 13:59:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-17779</guid>
		<description>Peneliti kebdayaan Nias perlulah kehati-hatian sebab Nias yg terlihat sekarng adalh budaya bersifat kronologis -tak terjadi bersamaan. Jangan serampangan digabung-gabungkan produk masa lalu -masa lalu itu eranya berbeda-beda- utk dipahami kt semua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Peneliti kebdayaan Nias perlulah kehati-hatian sebab Nias yg terlihat sekarng adalh budaya bersifat kronologis -tak terjadi bersamaan. Jangan serampangan digabung-gabungkan produk masa lalu -masa lalu itu eranya berbeda-beda- utk dipahami kt semua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sof Lase</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-3056</link>
		<dc:creator>Sof Lase</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 16:16:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-3056</guid>
		<description>Jajang A. Sonjaya meneliti Boronadu dgn manhaj al-fikr (paradigma) interpretif. Penelitian INTERPRETIF bersifat IDEOGRAFIS. Penafsiran data dan kesimpulan di penelitian jenis ini berlaku partikularistik Boronadu. Wilayah penelitian Boronadu tak bisa direpresentasikan begitu saja dgn seluruh wilayah GEOGRAFIS Nias. Jadi mengherankan kalau Sonjaya menarik induksi dan kesimpulan NOMOTETIS mengatas-namakan Nias.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jajang A. Sonjaya meneliti Boronadu dgn manhaj al-fikr (paradigma) interpretif. Penelitian INTERPRETIF bersifat IDEOGRAFIS. Penafsiran data dan kesimpulan di penelitian jenis ini berlaku partikularistik Boronadu. Wilayah penelitian Boronadu tak bisa direpresentasikan begitu saja dgn seluruh wilayah GEOGRAFIS Nias. Jadi mengherankan kalau Sonjaya menarik induksi dan kesimpulan NOMOTETIS mengatas-namakan Nias.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mathias J. Daeli</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-3055</link>
		<dc:creator>Mathias J. Daeli</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 15:01:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-3055</guid>
		<description>Kritik itu indah bagi yang berpikir tenang. Sebab dengan demikian dia memperoleh bahan gratis untuk pengembangan.

Kalau tidak ada penelitian maka ilmu pengetahuan berjalan di tempat. Penelitian mengenai Nias, baik malah sangat baik demi  pengembangan dunia kehidupan di Nias sendiri khususnya dan umat manusia pada umumnya. Karena itu marilah kita mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian di Nias, baik dari luar Ono Niha dan Ono Niha yang memiliki kesempatan.

Dihindari penelitian yang hanya bertujuan : ilmu demi ilmu, kebanggaan peribadi sang peneliti, dan yang hasilnya hanya dicocok-cocokkan sehingga tidak dimengerti oleh orang Nias sendiri. Penarikan kesimpulan penelitian hendaklah rasional terkait dengan Nias. 

Saohagolo. Ya&#039;ahowu !

Ama Ugi Daeli</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kritik itu indah bagi yang berpikir tenang. Sebab dengan demikian dia memperoleh bahan gratis untuk pengembangan.</p>
<p>Kalau tidak ada penelitian maka ilmu pengetahuan berjalan di tempat. Penelitian mengenai Nias, baik malah sangat baik demi  pengembangan dunia kehidupan di Nias sendiri khususnya dan umat manusia pada umumnya. Karena itu marilah kita mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian di Nias, baik dari luar Ono Niha dan Ono Niha yang memiliki kesempatan.</p>
<p>Dihindari penelitian yang hanya bertujuan : ilmu demi ilmu, kebanggaan peribadi sang peneliti, dan yang hasilnya hanya dicocok-cocokkan sehingga tidak dimengerti oleh orang Nias sendiri. Penarikan kesimpulan penelitian hendaklah rasional terkait dengan Nias. </p>
<p>Saohagolo. Ya&#8217;ahowu !</p>
<p>Ama Ugi Daeli</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: roni</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-3054</link>
		<dc:creator>roni</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 12:33:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-3054</guid>
		<description>Seseorang seringkali merasa hati curiga &amp; takut terhadap kritik. Tak ia hiraukan lagi tentang apa isi kritik yg ditujukan padanya. Malahan ia bertanya-tanya pada rumput yg bergoyang: kenapa aku dikritik?; kenapa orang lain tak mendorong &amp; membantuku?; kenapa orang-orang tega mencerca karyaku habis-habisan?... Karna bertanya-tanya terus langkahnya terhenti, ia berputar-putar di alam pikirnya sendiri, parno, frustasi, sampai menutup diri dari dunia yg indah ini... Reaksi yg elegan &amp; rasional menghadapi kritik bukanlah &quot;bertanya&quot;... tapi &quot;menjawab&quot; atas hal-hal apa yg dikritik... disitu pasti ada secuil langkah maju... Saya mimpi ilmu-pengetahuan menyangkut Nias senantiasa didorong oleh adanya kritik, karna saya tau ilmu-pengetahuan tumbuh &amp; berkembang subur karna indahnya tradisi kritik. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang seringkali merasa hati curiga &amp; takut terhadap kritik. Tak ia hiraukan lagi tentang apa isi kritik yg ditujukan padanya. Malahan ia bertanya-tanya pada rumput yg bergoyang: kenapa aku dikritik?; kenapa orang lain tak mendorong &amp; membantuku?; kenapa orang-orang tega mencerca karyaku habis-habisan?&#8230; Karna bertanya-tanya terus langkahnya terhenti, ia berputar-putar di alam pikirnya sendiri, parno, frustasi, sampai menutup diri dari dunia yg indah ini&#8230; Reaksi yg elegan &amp; rasional menghadapi kritik bukanlah &#8220;bertanya&#8221;&#8230; tapi &#8220;menjawab&#8221; atas hal-hal apa yg dikritik&#8230; disitu pasti ada secuil langkah maju&#8230; Saya mimpi ilmu-pengetahuan menyangkut Nias senantiasa didorong oleh adanya kritik, karna saya tau ilmu-pengetahuan tumbuh &amp; berkembang subur karna indahnya tradisi kritik. <img src='http://niasonline.net/nox/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nata</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-3052</link>
		<dc:creator>Nata</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 09:39:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-3052</guid>
		<description>Ya&#039;ahowu kembali Pak Halawa dan bapak/ibu/sdra/i yang selalu berdiskusi dalam website ini.
Saohagölö pak Halawa, kapan ke Nias lagi? 

Ya, tentu saja kita sangat terbuka untuk berbagai hal ril yang sifatnya untuk Nias tanpa melihat batas-batas teritorial Nias itu sendiri. 

Justru saya melihat bahwa sesungguhnya kita punya banyak potensi, tapi kita belum mengeksplor potensi itu. 

Misalnya, saya mimpi dan ingin sekali jika para pakar yang berkomentar di Web ini melakukan penelitian langsung ke lapangan. Dari hasil itu, orang atau publik bisa juga belajar bagaimana hasil penelitian yang berkualitas sebagaimana kita selalu kritik.

Saya punya keyakinan bahwa sejago apa pun hasil penelitian sosial dan budaya pasti ada kelemahannya dan ketidak-objektifannya. Keyakinan saya itu, bisa bubar, jika suatu saat ada suatu hasil penelitian yang sempurna dan tidak pernah berakhir kebenarannya/keberlakuannya yang ditentukan oleh publik. 

Nah, tentang penelitian Sonjaya, saya pikir  pasti juga banyak kelemahannya. Tapi, Adakah di antara kita yang bisa melakukan penelitian yang lebih baik dari beliau? Saya tunggu dan siap membantu. Kalau boleh, jangan hanya penelitian literatur, atau menganalisa pendapatnya/kayanya orang.
Kita boleh tidak setuju kalau Pak Sonjaya melakukan penelitian di Börönadu, lalu mengambil kesimpulan bahwa begitulah Nias. Saya rasa Pak Sonjaya juga berpikir demikian.

Namun, kita tidak boleh juga mengklaim bahwa penelitian yang hanya meliputi Börönada atau skop wilayah yang terbatas, tidak benar dan tidak boleh mengatasnamakan Nias. Bahkan jika hanya di satu dusunpun, masih tetap Nias. 

Salam, Saohagölö.

Mari kita dorong dan bantu orang-orang yang mau meneliti Nias. Dari sana, pasti ada secuil yang baik, positif dan berguna.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya&#8217;ahowu kembali Pak Halawa dan bapak/ibu/sdra/i yang selalu berdiskusi dalam website ini.<br />
Saohagölö pak Halawa, kapan ke Nias lagi? </p>
<p>Ya, tentu saja kita sangat terbuka untuk berbagai hal ril yang sifatnya untuk Nias tanpa melihat batas-batas teritorial Nias itu sendiri. </p>
<p>Justru saya melihat bahwa sesungguhnya kita punya banyak potensi, tapi kita belum mengeksplor potensi itu. </p>
<p>Misalnya, saya mimpi dan ingin sekali jika para pakar yang berkomentar di Web ini melakukan penelitian langsung ke lapangan. Dari hasil itu, orang atau publik bisa juga belajar bagaimana hasil penelitian yang berkualitas sebagaimana kita selalu kritik.</p>
<p>Saya punya keyakinan bahwa sejago apa pun hasil penelitian sosial dan budaya pasti ada kelemahannya dan ketidak-objektifannya. Keyakinan saya itu, bisa bubar, jika suatu saat ada suatu hasil penelitian yang sempurna dan tidak pernah berakhir kebenarannya/keberlakuannya yang ditentukan oleh publik. </p>
<p>Nah, tentang penelitian Sonjaya, saya pikir  pasti juga banyak kelemahannya. Tapi, Adakah di antara kita yang bisa melakukan penelitian yang lebih baik dari beliau? Saya tunggu dan siap membantu. Kalau boleh, jangan hanya penelitian literatur, atau menganalisa pendapatnya/kayanya orang.<br />
Kita boleh tidak setuju kalau Pak Sonjaya melakukan penelitian di Börönadu, lalu mengambil kesimpulan bahwa begitulah Nias. Saya rasa Pak Sonjaya juga berpikir demikian.</p>
<p>Namun, kita tidak boleh juga mengklaim bahwa penelitian yang hanya meliputi Börönada atau skop wilayah yang terbatas, tidak benar dan tidak boleh mengatasnamakan Nias. Bahkan jika hanya di satu dusunpun, masih tetap Nias. </p>
<p>Salam, Saohagölö.</p>
<p>Mari kita dorong dan bantu orang-orang yang mau meneliti Nias. Dari sana, pasti ada secuil yang baik, positif dan berguna.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yo'el Hia</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-3050</link>
		<dc:creator>Yo'el Hia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 08:00:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-3050</guid>
		<description>Pada prinsipnya kita senang budaya Nias digali, sehingga menjadi salah satu modal untuk memajukan Nias sejajar dengan daerah-daerah lain melalui budayanya. Tetapi mohon kepada saudara-saudara peneliti jangan melihat Nias dengan hanya satu sisi,karena bisa saja muncul persepsi yang salah bagi orang lain.
Harapan saya mohon budaya Nias ini diangkat untuk menambah informasi bagi orang lain tentang Nias.
Terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pada prinsipnya kita senang budaya Nias digali, sehingga menjadi salah satu modal untuk memajukan Nias sejajar dengan daerah-daerah lain melalui budayanya. Tetapi mohon kepada saudara-saudara peneliti jangan melihat Nias dengan hanya satu sisi,karena bisa saja muncul persepsi yang salah bagi orang lain.<br />
Harapan saya mohon budaya Nias ini diangkat untuk menambah informasi bagi orang lain tentang Nias.<br />
Terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mathias J. Daeli</title>
		<link>http://niasonline.net/2008/06/02/batu-yang-enggan-bercerita-%e2%80%93-catatan-ringan-untuk-ama-robi-hia/comment-page-1/#comment-3047</link>
		<dc:creator>Mathias J. Daeli</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 01:02:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://niasonline.net/?p=1909#comment-3047</guid>
		<description>Memang, apa yang telah dilakukan Saudara J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia) di Boronadu, tidak semua orang dapat melakukan. Tetapi setelah membaca tulisan “Orang Nias - Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”, saya menjadi bertanya : Apa yang menjadi tujuan penelitian/pengamatan Saudara Sonjaya di Boronadu ? Sadarkah Saudara J.A. Sonjaya bahwa orang Nias tidak dapat dilihat dan dinilai hanya dari Boronadu saja ? Sadarkah J.A. Sonjaya bahwa hasil penelitian budaya  harus dimengerti dan difahami karena dihayati  oleh kelompok masyarakat yang ditelitinya ? Alangkah tidak benarnya, kalau, karena saya melihat di Garut permainan adu domba(domba benaran, bukan arti kiasan) langsung saya tarik kesimpulan Sunda senang adu domba.   

Sekali lagi harapan kita, termasuk Saudara J.A. Sonjaya, komentar-komentar yang disampaikan terhadap tulisan Saudara Sonjaya menjadi bahan perenungan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang, apa yang telah dilakukan Saudara J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia) di Boronadu, tidak semua orang dapat melakukan. Tetapi setelah membaca tulisan “Orang Nias &#8211; Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”, saya menjadi bertanya : Apa yang menjadi tujuan penelitian/pengamatan Saudara Sonjaya di Boronadu ? Sadarkah Saudara J.A. Sonjaya bahwa orang Nias tidak dapat dilihat dan dinilai hanya dari Boronadu saja ? Sadarkah J.A. Sonjaya bahwa hasil penelitian budaya  harus dimengerti dan difahami karena dihayati  oleh kelompok masyarakat yang ditelitinya ? Alangkah tidak benarnya, kalau, karena saya melihat di Garut permainan adu domba(domba benaran, bukan arti kiasan) langsung saya tarik kesimpulan Sunda senang adu domba.   </p>
<p>Sekali lagi harapan kita, termasuk Saudara J.A. Sonjaya, komentar-komentar yang disampaikan terhadap tulisan Saudara Sonjaya menjadi bahan perenungan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

