*”Berhasil atau tidak, itu urusan belakangan.”

Di tengah keraguan dan olok-olok dari berbagai pihak, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan tetap mendukung pengembangan energi alternatif, termasuk proyek “blue energy”. “Presiden terus mendukung terobosan teknologi,” kata juru bicara kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng di kantor Presiden kemarin.

Menurut Andi, dukungan juga akan diberikan kepada setiap penemuan yang berguna. “Baik (dalam bidang) energi, bibit unggul, teknologi informasi dan komunikasi, maupun perangkat lunak dan lainnya,” katanya. “Soal berhasil atau tidak, itu urusan belakangan.”

Meski begitu, Andi menyatakan tidak tahu-menahu perihal rumus dan teknologi “blue energy” yang dipresentasikan Joko Suprapto dan didukung Heru Lelono, anggota staf khusus Presiden. “Saya tidak tahu. Itu bukan bidang saya,” ujarnya.

Ia mengatakan selama ini Presiden Yudhoyono sering diberi tahu ada terobosan atau penemuan baru, meskipun risetnya sedang dijalankan. “Banyak yang dipresentasikan di depan Presiden,” katanya. Dan soal tindak lanjutnya, “Silakan dijalankan pihak swasta, lembaga riset, atau perorangan.”

Seperti diberitakan sebelumnya, Joko Suprapto, yang berasal dari Nganjuk, Jawa Timur, mengklaim menemukan sumber energi alternatif berbahan baku air. Setelah mendengarkan paparan mengenai gagasan ini di kediamannya di Cikeas, Presiden menabalkan sebutan “blue energy” untuk proyek ini.

Heru Lelono bercerita, pada Desember tahun lalu Joko dan dirinya sempat membawa lima kendaraan berbahan bakar alternatif air ke konferensi internasional tentang perubahan iklim di Bali. Presiden Yudhoyono melepas keberangkatan tim itu dari Cikeas.

Pada akhir April 2008, kata Heru, Joko kembali bertemu dengan Yudhoyono. Dia berjanji pada 18 Mei akan menunjukkan mesin berbahan bakar alternatif kepada Presiden.

Kabarnya, Joko sempat berangkat dari Surabaya menuju Jakarta, dengan memboyong semua peralatannya pada 6 Mei lalu. Namun, setelah ditunggu-tunggu, dia tak muncul. Berita mengenai “hilangnya” Joko itu sempat membuat geger hingga polisi mengerahkan Detasemen Khusus 88 Antiteror untuk mencarinya.

Polisi kemudian menemukan Joko di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Umum Daerah Soedono, Madiun. Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian RI Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira mengatakan Joko menderita sakit jantung.

Ketua Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Tumiran mengaku prihatin dan menganggap klaim Joko yang dipercaya Presiden itu telah menyesatkan masyarakat. “Ini hal yang memalukan karena presiden kita lebih mempercayai hal-hal seperti ini,” ujarnya kemarin di Yogyakarta.

Menurut Tumiran, sebelum masuk ke Presiden, sebuah temuan seharusnya memperoleh verifikasi dulu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, atau Kementerian Riset dan Teknologi sebagai asisten pemerintah di bidang penelitian. “Harus dibuktikan secara ilmiah.”TOMI | NININ DAMAYANTI | BERNARDA RURIT

Misteri Energi dari Nganjuk
Joko Suprapto dan blue energy memang misterius. Joko dikenal kaya di Nganjuk, Jawa Timur. Tukang membuat trafo dan pemilik bengkel mobil ini bukan cuma kaya dan sanggup menggelar pertunjukan wayang kulit tiga kali sebulan—padahal, sekali memanggil ki dalang, butuh setidaknya Rp 50 juta. Dia juga bisa meyakinkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa dia mampu membuat blue energy, pengganti minyak. Inilah kisah lelaki yang ternyata, menurut petinggi UGM, bukan lulusan Universitas Gadjah Mada seperti yang ditulis banyak media:

  1. 2001: Mulai meneliti di rumahnya, di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso, 15 kilometer dari Nganjuk.
  2. 2005: Penelitian selesai, tapi belum sempurna.
  3. 2006: Februari, bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kabarnya mendapat sokongan dari Presiden.
  4. 2007 November-Desember: Diuji coba ke Bali dengan lima mobil, dilepas Presiden dari rumah pribadinya, Cikeas, Bogor. Tim ke Bali dipimpin Heru Lelono, Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi dan Pengembangan Daerah, yang juga komisaris utama perusahaan yang mengembangkan blue energy, yaitu PT Sarana Harapan Indo Group.
  5. 2008 Akhir April: Joko bertemu dengan Presiden, berjanji memperlihatkan karyanya pada Mei.
  6. 6 Mei: Joko, dengan membawa peralatan temuannya, dijadwalkan sampai ke Jakarta dengan pesawat terbang, tapi tidak muncul di Bandara Soekarno-Hatta. Kabar ia menghilang pun merebak.
  7. 23 Mei: Joko menyatakan diri tidak hilang, melainkan berada di rumah sakit karena masalah jantung.
  8. 25 Mei: Presiden dilaporkan memberikan maaf kepada Joko.
  9. 27 Mei: Rumah Joko di Nganjuk dijaga militer. UGM menyatakan Joko Suprapto bukan alumni mereka. Presiden menyatakan tetap mendukung blue energy. Soal ilmiah-tidaknya, kata juru bicara Istana, Andi Mallarangeng, “Saya tidak tahu itu, bukan bidang saya.”

Kontroversi Versi Pakar
Karena Joko Suprapto tutup mulut sampai sekarang. Awalnya, dia bilang blue energy terbuat dari air, belakangan meralatnya menjadi terbuat dari hidrokarbon, senyawa yang mirip minyak. Karena sumber energi itu masih gelap, banyak ahli ragu terhadapnya. Tapi ada juga yang mencoba meraba teknik Joko:

Unggul Priyanto – Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Unggul menduga air yang disebut-sebut Joko itu dipecah lewat reaksi elektrolisis untuk mendapatkan hidrogen. Hidrogen dicampur dengan bahan lain, seperti batu bara atau minyak bakar. Yang menjadi masalah adalah elektrolisis. “Butuh energi listrik. Dari mana listrik itu didapat?” katanya.

Bambang Prihandoko – Pakar di Pusat Penelitian Fisika LIPI.
Ia mencontoh profesor Jepang yang menggunakan air murni, memecahnya untuk mendapatkan hidrogen, dan hidrogen menjadi bahan bakar. Masalahnya, hidrogen saat dibakar suhunya sangat tinggi, lebih dari 3.000 derajat Celsius. (Sumber: Koran Tempo, 28 Mei 2008).

Facebook Comments