MEDAN – Menteri Dalam negeri (Mendagri) Mardijanto mengemukakan, menyongsong berakhirnya tugas Badan Rekonstruksi & Rehabilitasi (BRR) NAD–Nias, maka Pemerintah Pusat dan daerah akan memanfaatkan serta mendayagunakan potensi masyarakat.

Dia mengemukakan itu dalam sambutannya pada acara pertemuan lembaga donor, pengelola dan stake holder BRR Aceh–Nias di Hotel Grand Angkasa, Medan, Kamis (15/5).

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Bapenas Paskah Suzeta, Gubsu Rudolf M. Pardede, Bupati Nias Binahati B. Baeha, Bupati Nias Selatan dan sejumlah duta besar negara donor dan pimpinan Bank Pembangunan Asia, Bank Dunia dan Multi Donor Fund.

’’Setelah usainya BRR, maka peran Pemerintah akan nyata, dan bersama masyarakat dalam daerah membangun. Bukan seperti selama ini atau sebelumnya dengan sebutan membangun daerah,’’ kata Mendagri.

Sehubungan dengan itu, katanya, diharapkan Pemerintah Daerah Nias tetap menjalin hubungan baik dengan segenap elemen masyarakatnya.

Lebih jauh Mardijanto mengatakan, dalam percepatan pembangunan daerah, terutama Nias, maka memang diperlukan adanya keterpaduan. Selain itu, perlu insentif, disisentif serta apresiasi.

Karena kelanjutan pembangunan Nias setelah berakhirnya tugas BRR akan dilakukan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maka dimintakan supaya segera dilakukan inventarisir rencana-rencana yang belum selesai dilaksanakan oleh BRR.

’’Hal ini terkait dengan perubahan dewasa ini, yakni pembangunan tetap mengedepankan masyarakat, sementara yang berbaju coklat (aparat pemerintah) berada di belakang guna memberikan dorongan-dorongan,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Nias Binahati B. Baeha memaparkan, sebelum Tsunami dan Gempa Nias kondisi Nias bagaikan hampir-hampir tak bernafas. Nias, ketika itu merupakan salah satu dari enam daerah di Sumut yang tertinggal.

’’Namun, setelah Tsunami dan gempa, kemudian NGO-NGO atau LSM-LSM maupun BRR melakukan aksi bantuan kemanusiaan, sehingga menjelang berakhirnya tugas tersebut pada April 2009, maka sudah cukup banyak perbaikan infrastruktur,’’ kata Binahati.

Namun, lanjutnya, hingga kini diperhitungkan masih sekitar 35 persen lagi akibat-akibat Tsunami dan gempa di Nias 2004 yang hingga kini harus diselesaikan. Sementara, pada Desember 2008 kegiatan fisik BRR sudah habis.

Selain itu, ujar Binahati lagi, masih ada aset BRR yang perlu diperbaiki dan diteliti kembali, sehingga dengan demikian sangat diharapkan Bappenas bisa melanjutkan rehabilitasi atau pembangunan Nias pasca BRR.

Dia juga mengatakan, Pemkab Nias sendiri sudah menyiapkan dana APBD untuk pemeliharaan, akan tetapi harus pula mendapat bantuan dari Pemerintah Pusat maupun Pemprovsu. Sekaitan itu, maka perlu adanya sekretariat bersama.

Sedangkan dari pihak BRR Aceh–Nias melalui rilisnya memaparkan, meskipun sudah banyak hasil yang dicapai dalam pembanguna kembali Kepulauan Nias pasca gempa bumi, masih diperlukan upaya percepatan pembangunan ekonomi dan SDM. Terlebih karena sebelum gempa bumi, Kepulauan Nias merupakan wilayah relatif terbelakang dibanding dengan wilayah lain di Sumut dan Indonesia.

Kepala Badan Pelaksana BRR Aceh–Nias Kuntoro Mangkusubroto mengemukakan, saat ini Kepulauan Nias akan memasuki fase penerapan pembangunan seiring dengan mulai dilakukannya proses pengakhiran masa tugas BRR. Dalam fase tersebut peran Pemda baik Nias, Nias Selatan maupun Pemprovsu semakin penting.

Disebutkannya, pertemuan antarstakeholder rekonstruksi Kepulauan Nias kali ini sangat penting untuk memberikan masukan dalam proses pembangunan Nias berkelanjutan serta membantu Pemprovsu, Pemkab Nias, Nias Selatan memformulasikan institusi dan organisasi yang dapat men jamin kelancaran transisi program rekonstruksi dan juga kaitannya dengan berkelanjutan dukungan donor dan Pemerintah Pusat pasca BRR.

Sementara, capaian rekonstruksi sampai April 2008 terbangun 13870 unit rumah dan 3200 unit lagi akan selesai Juni 2008. Kemudian, lebih dari 200 km jalan hotmix, 300 km lagi dalam proses penanganan berikut 24 jembatan telah selesai, 4 pelabuhan sudah selesai dikerjakan, dan peningkatan lapangan terbang Gunung Sitoli, Pulau Telo serta air strip di Teluk Dalam yang akan selesai tahun ini.(m34) (Waspada, 16 Mei 2008)

Facebook Comments