Dalam perjalanan melewati Frankfurt akhir tahun lalu, penulis menempati kabin yang tersedia khusus untuk keluarga dan anak. Secara kebetulan duduk di depan penulis seorang perempuan setengah baya yang ternyata kepala sekolah Walddorf untuk anak berbakat di Frankfurt am Main, sebuah sekolah pendidikan dasar khusus dengan inti pendidikan bertema lingkungan.

Tema anak berbakat saat ini di Jerman semakin intensif didiskusikan terutama dengan berbagai pandangan kritis untuk memajukan pendidikan dan progress akan pentingnya reformasi pendidikan dasar di negara tersebut. Pasangan keluarga pun tidak luput didukung dan didorong oleh pemerintah ini untuk memiliki dan melahirkan anak berkualitas, mengingat merosotnya jumlah penduduk aslinya dan cukup kritis bila diprediksi untuk waktu tiga hingga lima tahun ke depan.
Dalam perjalanan, sang kepala sekolah telah cukup cepat memperhatikan putri penulis, yang kala itu baru saja memasuki kepala enam. Komentar Ibu tersebut cukup mengesankan, walau pun tidak mengejutkan, karena analisanya tidak berbeda jauh dari yang penulis telah amati selama ini. Ibu kepala sekolah tersebut membuka diskusi hangat dan memberikan berbagai informasi penting, tentang apa yang perlu penulis perhatikan untuk situasi dan kebutuhan khusus anak, demi menghindari masalah „aspirasi dan kebutuhan anak yang tidak tertangani secara dini“. Kendala sebagai orang asing yang tinggal di negara maju di Eropa juga tidak luput dibahas oleh ibu ini. Ketika penulis mengemukakan kesulitan, terutama bagaimana menjawab pertanyaan ajaib namun sebenarnya sangat ilmiah, jawaban dari Ibu inilah yang mengejutkan penulis. Selanjutnya berbagai hal mengejutkan terus penulis alami dan amati setelah mengikuti saran dan strategi dari beliau.

„Bagaimana bila semua manusia punah dan bisa ada lagi di bumi ini?“
Dari pengalaman penulis, sering anak-anak, tidak terkecuali, mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol, namun sebenarnya kritis dan membutuhkan jawaban ilmiah mendalam. Anak-anak pun tidak akan pernah merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh orang dewasa, biasanya cukup sedikit puas bila mereka berdiskusi dengan sesama temannya.
Apa reaksi orang dewasa ketika anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan hebat nan ajaib? Seperti apa jawaban yang diberikan untuk mengulas habis pertanyaan-pertanyaan spontan dari anak-anak? Apakah orang dewasa, dalam hal ini orang tua, setelah itu masih membuka diskusi lanjutan untuk membahas pertanyaan sang anak? Bagaimana seharusnya orang dewasa atau orang tua bersikap dalam menghadapi situasi dimana anak memiliki segudang pertanyaan ajaib?
Penting diperhatikan bahwa ada pertanyaan-pertanyaan anak yang memang tidak perlu ditanggapi serius, namun sering pertanyaan anak kecil, terlebih lagi bila disadari kalau anak memiliki kemampuan lebih untuk memahami lingkungan sekitar, tidak boleh diabaikan begitu saja. Seorang anak, apakah berbakat atau tidak, selalu mengungkapkan kebijakan pengetahuan yang dia miliki dan terasah karena dorongan fantasi maupun dukungan lingkungan tempat dia berada. Jangan heran pula, bila anak berceloteh menggemaskan, setelah tidak mendapat jawaban memuaskan dari orang tua. Otoritas sebagai orang tua, yang pada akhirnya karena kewalahan diwujudkan dalam kalimat yang mengunci imajinasi anak, sering kali menjadi pembatas untuk mengetahui sejauh mana anak memahami pertanyaan yang telah diajukannya.
Setiap anak sangat membutuhkan dan sangat penting ditanggapi dan tidak diremehkan, ketika melontarkan satu pendapat atau pertanyaan. Sangat penting pula menanggapi anak dengan serius, sekalipun pertanyaannya luar biasa tidak masuk akal orang dewasa. Ini juga salah satu cara memenuhi kebutuhan anak untuk dihormati. Para orang tua pasti sudah sering mengalaminya dan menanggapi dengan bermacam reaksi. Tidak heran pula cerita-cerita anak tidak akan didengar sepenuhnya, karena anak berceloteh tidak henti. Ketika jawaban yang telah susah payah dijelaskan panjang lebar tetap tidak bisa diterima dan dipahami oleh anak, bukankah ini juga menjengkelkan?
Anak-anak yang melampaui inteligensi anak seumurnya, biasanya mengajukan pertanyaan sambungan dan telah memiliki segudang argumen lanjutan untuk mematahkan jawaban yang telah diberikan.
Para orang tua jangan terpancing untuk mengarang-ngarang jawaban dan mengada-ada, terutama bila pertanyaan mereka sangat mendasar. Menghindari memberi jawaban saat itu, demi memberikan jawaban yang memuaskan pada anak, menjadi satu alternatif penting untuk membuka diskusi selanjutnya dengan anak. Orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk ini. Ajukan jadwal diskusi bersama di akhir pekan untuk satu jam saja, dimana dalam rentang waktu itu, anak berhak untuk didengar dan orang tua benar-benar terkonsentrasi hanya untuk berdiskusi dengan anak. Bila waktu satu jam ini sulit dicapai, mulailah dengan waktu paling minimal. Janjian seperti ini menghindari anak mengganggu „kesibukan“ orang tua di hari kerja. Kedua belah pihak juga pasti telah memiliki persiapan pribadi dengan tema yang telah disepakati. Atur pula strategi dan disiplin bersama melalui kesepakatan untuk tidak menginterupsi lawan bicara. Dengan demikian anak belajar untuk menunggu dengan sabar sampai tiba waktunya dia boleh berbicara dan mengajukan pertanyaan atau pendapat. Anak pada dasarnya belum memiliki kemampuan untuk mengontrol pembicaraannya dan selalu berniat memotong percakapan di rumah, kemudian menguasai diskusi selanjunya. Ini pun merupakan bagian dari refleksi akan kebutuhannya. Usaha untuk mewujudkan strategi pengaturan tersebut di atas, hanya bisa diperoleh dari didikan di dalam rumah dan di sekolah atau di organisasi di kemudian hari sebagai tambahannya.
Selanjutnya seperti lumrah terjadi, celoteh anak memang tidak bisa dijadwalkan dan dikontrol seratus persen. Artinya, dia bisa saja datang dan mengajukan pertanyaan dimana saja dan kapan saja, saat sarapan, ketika baru saja membuka mata di pagi hari atau ketika sedang mandi. Bila orang tua memang dalam waktu itu berada di dekat anak, namun tidak bisa menjawab segera atau berkonsentrasi penuh, sementara anak butuh segera berceloteh dan bicara, biarkan saja anak mengungkapkan isi hatinya sambil memancing pembicaraan dengan strategi dengan pancingan: “Hmm…oya…lalu..kemudian..selanjutnya…seperti apa maksudmu…?“
Sikap pro-aktif dari orang tua sangat diharapkan tanpa mengecualikan kemampuan masing-masing anak. Semakin dini sikap pro-aktif orang tua dipraktekkan, semakin bagus bagi perkembangan anak, terlebih bagi anak yang tidak cukup mampu mencapai target lumrah anak sebayanya. Sering kali jawaban dengan kata-kata tidak dibutuhkan secara intensif oleh anak. Kelemahan dalam banyak sistem pendidikan yang pernah dipraktekkan adalah banyaknya waktu belajar di dalam ruangan tidak sepadan dengan melihat dan mempraktekkannya di luar ruang sekolah. Berbagai konsep ilmu yang diajarkan di bangku sekolah hampir bisa dikatakan tidak memberikan pemahaman dasar secara logis, bagaimana sebuah teori itu berfungsi atau bagaimana sejarah itu terjadi. Percobaan-percobaan yang dilakukan secara sederhana, tidak berbiaya banyak dan sebenarnya telah tersedia di sekitar kita, jauh lebih ampuh untuk menjawab keingintahuan anak, tanpa-susah payah. Kunjungan ke sebuah tempat yang memungkinkan memberi informasi mengenai sebuah tema sepatutnya dilakukan dalam beberapa waktu sebagai pengganti pemberian suplemen di dalam ruangan sekolah. Kunjungan tidak perlu pula harus ke tempat jauh dan mahal. Percobaan-percobaan atau mengunjungi tempat yang cocok dengan tema yang ingin diketahui memberikan kesempatan pada anak untuk menjawab sendiri pertanyaannya, berpikir kritis dan mendorong mereka menjelaskan kembali dalam bahasa yang dimengerti. Sekali lagi, setiap anak tanpa kecuali wajib mengalami hal ini. Inilah sikap pro-aktif orang tua yang diharapkan oleh anak. Anak pun dengan sendirinya di kemudian hari membuat percobaan pribadi sendiri dan suatu saat tidak ngotot lagi untuk mendapat jawaban panjang lebar dari orang tua.

Pertanyaan Tak Terjawab, Tanya Kembali Kepada Anak!
Dalam diskusi cukup lama, sang kepala sekolah ini berbagi tips pada penulis. Bila pertanyaan tetap tidak bisa terjawab, coba sarankan anak untuk memberi waktu untuk dapat dipikirkan ulang, terserah berapa lama waktu yang disepakati, sambil memberi dia kesempatan untuk menjelaskan pertanyaannya secara konkret. Satu hal mengejutkan yang disarankan oleh Ibu Kepala Sekolah ini, yaitu, mengembalikan pertanyaan itu kepada anak dan menanyakan kepadanya apakah anak memiliki jawaban atau ide. Sang kepala sekolah menjelaskan bahwa anak-anak yang berkemampuan lebih, biasanya memiliki fantasi tersendiri terhadap pertanyaan yang ada dikepalanya dan biasanya mereka memiliki jawaban tersendiri, ilmiahnya: mereka memiliki teorinya sendiri, dan mereka sanggup menjelaskan dengan baik jawaban mereka. Anak-anak ini tidak peduli apakah orang dewasa menerima penjelasan mereka atau tidak! Akan tetapi, sejauh pengalaman penulis berkomunikasi dengan banyak anak, selain anak sendiri tentunya, ternyata hal-hal mengejutkan selanjutnya lebih memberi dampak penasaran atau „surprise“. Strategi ini kemudian penulis praktekkan pada anak, terutama pada sederetan pertanyaannya yang penulis tidak bisa jawab. Sungguh menakjubkan bahwa anak kecil bisa memberikan jawaban fenomenal hingga berupa penjelasan prinsip teologis atau filosofis. Dari hal ini penulis belajar banyak lebih konkret, bahwa anak tidak perlu dicecoki dan didoktrin dengan keras, karena anak memiliki konsep kebijakan sejak lahir dan memahami filosofi dari lingkungan hidupnya sehari-hari dan berkemampuan mengimplementasikan norma-norma yang telah diterimanya. Ini pun berlaku dalam konsep logik dan ilmu pengetahuan eksak. Jangan pula mengira bahwa tema penciptaan dan konsep Keilahian yang ada di Alkitab atau di Kitab Suci lainnya tidak dipahami pada anak. Dalam hal ini penulis sempat berpikir bahwa pengungkapan mengenai Genesis masihlah teramat cepat dan berat, bila dijelaskan secara konkret pada anak kecil. Penulis tidak pernah mengira demikian, hingga mengalami sendiri dan “dikuliahi” oleh anak sendiri mengenai teori penciptaan.
Hal ini pun membuat penulis gregetan dengan rasa penasaran tidak henti untuk memperhatikan dan mendengar apakah reaksi dan jawaban yang dimiliki oleh anak-anak untuk pertanyaan baru atau untuk tema yang sedang hangat.
„Bagaimana bila semua manusia punah dan bisa ada lagi di bumi ini?
Beginilah jawabannya dalam bahasa anak kecil yang disampaikan kepada penulis:
manusia dari dulu dan untuk selamanya ada dan menghuni semua kota dan semua bumi.
Kalau semua manusia tidak ada lagi di seluruh kota dan dimana-mana,
maka Tuhan tahu cara paling baik supaya manusia bisa muncul lagi bumi ini.
Dia (Tuhan) akan membuat lagi manusia yang baru, Dia tahu caranya,
karena Tuhan itu sangat penyayang.
Bukankah itu bagus, Mama?“
Sara Duha (2007, 5 Tahun)

Jawaban Anak untuk Tema Penting dan Krusial di Masa Mendatang
Dari pengalaman konkret tentang „tanya kembali pada anak“ yang baru berbulan ini dipraktekkan, ada beberapa pemahaman yang penting sekali perlu dibagikan kepada orang-orang tua dimana saja. Daftar pertanyaan „unsolved or not be solved“ secara berkala ditanya kembali kepada anak melalui pertanyaan terbuka, misalnya: „apakah kamu masih ingat, kalau beberapa waktu lalu kamu bertanya….mungkinkah kamu punya ide, karena ibu/bapak tidak bisa menjelaskan lebih baik…?“.
Saat ini tema langkanya sumber energi (listrik dan matahari), lingkungan hidup (air minum, tanah, angin, dll), pendidikan dan sekolah, bencana alam dan kehidupan penduduk di daerah rentan bahaya, agama, merupakan tema yang sering dibahas di media elektronik. Perhatikan pula film-film anak yang mengirim beberapa pesan secara tidak langsung mengenai lingkungan, paham religius atau kekerasan. Belajar dari strategi yang baru tadi, pelibatan anak untuk lebih aktif lagi dan siap mendiskusikan tema yang sedang terjadi dalam keseharian semakin dilengkapi dengan mendorong anak berpikir untuk mengemukakan ide yang dia miliki. Tidak jarang kejutan baru pasti dialami, selain karena jawaban yang akan diberikan, juga karena anak akan berpikir konseptual untuk terinspirasi dan berorientasi untuk mencari jalan keluar. Orang tua jangan segan pula untuk menstimulasi anak dengan dukungan positif seperti:“kamu tidak perlu jawab sekarang, tetapi pasti menarik bila kamu memiliki jawabannya atau kamu mungkin suatu hari punya pendapat menarik, bagaimana kita bisa keluar dari masalah ini“. Anak setiap hari pun terinspirasi untuk mau mencari jawaban.

Anak-anak Kecil di Nias: Pengungkap Solusi Bagi Masa Depan Kepulauan Nias
Ketika mengajar sebagai guru sekolah minggu dan guru les privat di Jakarta selama empat tahun, kemudian mengajar kembali di sekolah minggu selama lima tahun di beberapa desa di Nias dan dibarengi sebagai tenaga pengajar sukarela di salah satu TK Kristen di Gunungsitoli selama kurang lebih setahun, penulis melihat dan mengalami secara langsung bagaimana anak-anak di desa dan di kota besar tidak berbeda banyak dalam hal keingintahuan. Realitanya adalah anak-anak dari desa kecil jauh lebih penasaran untuk ingin tahu lebih banyak di banding dengan anak-anak di kota. Jelas salah satu penyebab adalah terdapatnya jurang sumber informasi yang sangat besar, di mana anak-anak perkotaan memiliki tingkat kemudahan yang sangat tinggi untuk menjangkau informasi yang ingin diketahui.
Ada hal yang namun sering terluput dari perhatian orang tua dan orang dewasa, bahwa anak-anak pada hakikatnya berkemampuan menilai lingkungannya, baik secara imajiner maupun secara eksak.
Masalah krusial yang saat ini sangat intensif diberitakan di seluruh negara maju mengenai Asia adalah masalah bencana alam dan pengrusakan lingkungan hidup. Selain itu tema hangat mengenai penghematan pemakaian energi, merupakan hal menarik lainnya bagi anak, karena mencakup kebutuhan bukan hanya negara maju, melainkan negara miskin pula. Tema-tema ini memang relevan bila ditarik sebagai garis penghubung untuk situasi di Nias dalam kaitannya dengan peranan para anak di Nias yang saat ini sedang bertumbuh.
Berangkat dari situasi di Nias yang memang pada kenyataannya rawan berbagai kerusakan alamiah dan buatan, merupakan daerah terisolir bukan hanya dalam konsep lokal dan nasional, namun secara global, serta memiliki kekhususan kebutuhan tersendiri, penulis diingatkan melalui pengamatan tahunan dan diskusi dengan kepala sekolah tersebut akan peran penting anak kecil di Nias. Dalam era ini bisa dikatakan bahwa Kepulauan Nias berada dalam masa sangat rentan, selain karena situasi alam, juga karena pengaruh perubahan yang mengikuti bencana-bencana tadi. Mari perhatikan bahwa dalam lima tahun terakhir, ada banyak dukungan dan konsep yang mencapai Nias melalui proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Maka, masa tiga tahun mulai dari sekarang sangat penting sebagai masa perubahan besar untuk mendorong dan menanamkan visi bagi anak-anak kecil sebelum mereka memasuki masa remaja untuk melihat Nias, tempat mereka hidup dan tinggal, sebagai sebuah tempat yang membutuhkan perhatian serius dari mereka di masa 10 tahun kemudian untuk menggali dan mewujudkan kebijakan lokal yang tepat guna dan tepat sasaran, demi kelangsungan kehidupan selanjutnya di Kepulauan Nias.
Secara „genetis“ penulis berkeyakinan, bahwa Suku Ono Niha memiliki anugerah kemampuan alamiah untuk mengkonsep kebutuhan lokalnya. Pola didikan dan pewarisan informasi secara lisan sebenarnya memancing daya ingat yang kuat dan daya imajinasi serta pola karya atau kerja yang memang sarat dengan pola konstruksi, dimana pola konstruksi tidak bisa terbentuk begitu saja tanpa penuh kalkulasi dan survei. Ini pun pada masa lampau dilakukan tanpa tulisan, hanya secara simbolis baik dalam bentuk gambar maupun penyampaian secara turun-temurun.
Penulis melihat dan berpendapat, bahwa membicarakan hal ini pada anak secara realistis, terbuka dan memfasilitasinya dengan informasi yang ada tanpa harus berbiaya tinggi, ternyata sangat ampuh untuk mendorong anak mencoba memikirkan strategi yang perlu dilakukan dalam menghadapi bencana alam dan mengajukan saran untuk masalah energi. Jawaban yang kelihatannya tidak masuk akal dan sekaligus tertanamnya visi dalam diri anak untuk menjadi bagian dalam mencari jawaban akan kesulitan semua orang tanpa kecuali (dalam hal ini digambarkan sebagai kesulitan anak-anak lainnya seperti dirinya sebagai Ono Niha) menyimpulkan sebuah pendapat meyakinkan, bahwa semakin dini pemberian stimulan dan penanaman visi melalui diskusi, maka hal tersebut menjadi peluang yang semakin besar pula bagi anak untuk ikut pro-aktif menjawab tantangan masalah lingkungan dan sekitarnya.
Pada akhirnya, untuk menutup bagian ini, penulis sangat berterima-kasih, apabila para orang tua, pendidik, orang dewasa dan para simpatisan pendidikan di Kepulauan Nias telah dan berkomitmen bergerak sejak dini membentuk anak sebagai penemu solusi dan pelaksana visioner bagi masa depan Nias. Anak-anak di Nias yang kelak bertumbuh dewasa pasti memiliki solusi terbaik dan konsep pemikiran mereka pun pasti lebih luwes dan praktis dibanding bila mereka mengadopsi konsep dari luar diri mereka yang tidak mengakar dari pengalaman kehidupan kesehariannya. Hal ini terwujud tidak dengan sendirinya, tetapi melalui usaha aktif sejak sekarang, ba li Niha ufa’ema: „da ta fangaösö-ngaösö ita zatua, fatua so wa abölöda, ena’ö tedou fa’aboto ba dödö ndraonoda, hadia manö ngawalö zi so ba khöda, ba hadia manö ngawalö zalua ba Danö Niha. Yaso fa’ahakhö dödö Lowalangi, ya’itugu tenönö-nönö fa’abölö ba fa’atua-tua ndraonoda ga ginötö mifönada. Ha ya’ita, ba ha ndraonoda zi tola mogamö ba wama’anö mbanuada. Fefu ngawalö zi no so ba ginötö ia’da’a ba Danö Niha, ba ha nönö-nönö. Ya böi arörö ita“. (Oleh: Noniawati Telaumbanua; Sumber: Kumpulan Perjalanan dan Studi di Eropa).

Wina-Ulm-Karlsruhe, 17-18 Mei 2008.

Facebook Comments